Melahirkan Setelah 163 Kilometer

Melahirkan Setelah 163 Kilometer

Share This:

Siapa sih yang tidak resah bin gelisah jika setelah menikah belum dikaruniai anak? Sementara yang tidak menikah, malah ada anaknya. Ups!

Setahun setelah menikah, istri saya memang belum hamil. Perutnya belum terisi. Kalau terisi makanan dan minuman jelas tiap hari, tetapi kalau diisi jabang bayi, belum terealisasi.

Langkah Awal

Masa setahun itu tidak saya biarkan berlarut-larut. Cukuplah yang larut itu kopi dan juga malam. Saya harus mengambil tindakan bersama istri. Sebab, kalau dibiarkan, jangan sampai dua tahun, tiga tahun, empat tahun, waduh, menikah ‘kan tujuannya untuk mencari keturunan.

Waktu itu, tahun 2011-2012, belum ada dokter kandungan yang tetap di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, tempat kami tinggal. Jadi, kami memutuskan untuk pergi ke Kendari saja yang merupakan ibukota provinsi. Di sana jelas ada beberapa dokter kandungan yang bagus. Alhamdulillah, beberapa juga perempuan.

Kami mendatangi Dokter Suhartini, Sp.OG. Lokasinya di Kelurahan Lepo-lepo, tepatnya di Rumah Sakit Hati Mulia. Dekat dengan rumah paman saya di BTN Kehutanan. Tapi, waktu itu, seingatku, kami tidak bermalam di rumah paman. Kami mencari penginapan sendiri. Mungkin agar lebih romantis atau siapa tahu, bisa berbuah dan jadi, begitu di Kendari.

Datang Sore, Dilayani Malam

ibupedia-dr-suhartini-spog (1)

Namanya ibukota provinsi Sulawesi Tenggara, pastilah lebih banyak penduduknya. Begitu juga dengan calon penduduknya, tidak kalah banyak. Hal itu dibuktikan dengan antrian yang berjubel di tempat praktik dr. Suhartini.

Kami datang sore hari, mendaftar melalui prosedur yang ada. Menunggu satu menit, dua menit, hingga berjam-jam, belum juga dipanggil masuk ke ruangan dokter. Sampai tiba waktu Maghrib, saya bilang ke istri, mau sholat dulu, cari masjid di dekat situ.

Baca Juga: Cara Mengatasi Anak Berkelahi Menurut Shireen Sungkar, Apa Saja Itu? 

Sekitar jam setengah tujuh malam, kami akhirnya dipanggil. Alhamdulillah. Kini saatnya mulai menapaki jalan untuk menjemput takdir anak kami.

“Dari Bombana ya?” Kira-kira begitulah pertanyaan sapaan dari dr. Suhartini.

“Iya, Dok,” jawabku cukup singkat.

“Hem, jauh juga. Baik, Ibu terakhir kali haid tanggal berapa?”

Istri saya terlihat bingung. Dia lupa tanggal berapa. Apalagi saya. Akhirnya, dikira-kira saja tanggal tersebut. Kami pun menerima.

Dari tanggal itu, dokter menyusun tanggal-tanggal khusus agar kami berhubungan intim. Selisih dua hari-dua hari. Bila cara ini masih belum berhasil, maka terpaksa harus ada pemeriksaan sperma dan sel telur. Katanya dokter, hal itu cukup sakit bagi istri saya. Semoga saja tidak sampai, deh!

Wah, Waktu Apa Ini?

Begitu sampai di penginapan, berdasarkan catatan dokter, melihat tanggal-tanggal berhubungan itu, saya jadi berpikir, “Ini apaan sih? Masa berhubungan harus pakai tanggal-tanggal ini? Kalau nafsunya pas tidak tanggal itu bagaimana? Masa harus menunggu besoknya?”

Setelah pulang di Bombana, ternyata saya tidak menuruti nasihat dokter. Saya langgar saja tanggal-tanggal tersebut. Dicek dengan test pack yang dijual bebas di apotik, ternyata… Alhamdulillah, hamil juga! Masya Allah, luar biasa ini. Penantian kami selama setahun terbayar sudah. Tentu saja ini juga bukti keberhasilan saya sebagai seorang suami, hehe…

Perjalanan Menanti Si Buah Hati

Menjalani bulan demi bulan, memang cukup panjang. Saat awal kehamilan, istri sering mengeluh mual, kadang muntah. Ya, memang begitulah adanya. Wajar. Normal.

Kami menyempatkan periksa di dr. Indra di Kendari juga. Awalnya saya kira, ini dokter laki-laki. Eh, ternyata perempuan! Namanya saja dr. Indra Magda Tiara, Sp.OG, M.Kes. Sama dengan di dr. Suhartini, kami harus tetap antri.

ibupedia-dr-indra (1)

Ketika kami datang, selalunya sampai malam. Pernah juga kami periksa di dr. Indra mendapatkan giliran terakhir. Pulang dari tempat prakteknya jam setengah satu dini hari.

Saat itu, tahun 2012, belum ada taksi online di Kendari. Biasanya sih mengandalkan mobil angkot yang berwarna biru, punya strip hitam atau pink di sampingnya. Orang Kendari mengenalnya dengan pete-pete.

Kami pulang memakai taksi saja. Balik ke hotel, berdua menikmati kebahagiaan bersama istri. Saya pun jadi berpikir, ternyata kota Kendari produktif sekali ya? Tidak hanya produktif kerjanya, tetapi juga untuk menghasilkan keturunan. Alhamdulillah, itu hal yang patut disyukuri. Akan lahir tunas bangsa-tunas bangsa baru yang siap untuk mengabdi di negara ini. Terdengar normatif, tetapi semestinya memang begitu bukan?

Pada bulan kelima, kami periksa, sekalian untuk mencari tahu jenis kelamin bayinya nanti apa? Pakai alat USB. Eh, salah, USG. Kalau USB itu mah flashdisk, hehe..

“Anaknya laki-laki,” begitu kata dokter cantik yang selalu segar tiap malam ini. Dokter ini praktik dari sore hingga tengah malam, tetapi penampilannya masih tetap segar. Tidak tampak mengantuk atau lelah, atau bahkan bosan dan jenuh. Dia menjalani profesinya dengan sangat profesional. Kami puas di situ.

Saya merasa senang dengan istri. Anak pertama Insya Allah laki-laki. Awal yang baik, lah. Sebab, di pikiran kami, anak pertama akan menjadi pemimpin bagi adik-adiknya. Laki-laki adalah figur yang tepat.

Menjelang kelahiran, ibu saya datang dari Jogja. Kota tersebut memang kota kelahiran saya. Alhamdulillah, kedua orang tua saya masih tinggal di sana sampai sekarang.

Ibu saya menghubungi, sebelumnya bertanya kapan HPL atau Hari Perkiraan Lahir? Saya menyebutkan sekitar awal bulan Juli 2013. Oke, beliau menyiapkan tiket dan segala macamnya.

Lalu, bagaimana dengan bapak saya? Kok tidak ikutan juga? Rupanya, beliau masih ada pekerjaan sebagai PNS di Jogja. Ibu bisa bebas pergi ke Bombana karena profesinya ibu rumah tangga.

Bulan Juli 2013 pun tiba. Seperti yang diperkirakan dokter, awal bulan, istri saya mulai mengeluh perih. Dia memegang perutnya dengan cukup kuat. Ketika itu, saya masih tinggal di rumah mertua. Menempati kamar pada deretan kamar-kamar kost di samping rumahnya.

Kamar-kamar kost itu memang menjadi kenangan indah bagi saya. Sebab, di situlah dulu saya ngekost. Bapak kost yang juga bapak istri saya, sering datang ke kamar saya, mengajak ngobrol. Kadang, saya juga diajak masuk ke ruang tamunya. Disuguhi dengan gorengan dan secangkir teh. Saya tidak tahu ternyata itu adalah bentuk pendekatan orang tuanya ke saya. Dari situ, pas saya betul-betul tertarik dengan anak keduanya, prosesnya sangat-sangat dimudahkan. Alhamdulillah.

Baca Juga: Saat Anak Terjatuh, Hati-hati dengan Ucapan Tidak Apa-apa

Tengah malam, sekitar jam setengah satu, istri sudah mengeluarkan darah. Waktu itu tanggal 7 Juli 2013. Semuanya sudah tidur. Istri membangunkan saya dan mengatakan kondisinya yang berdarah. Saya pikir, ini sudah waktunya melahirkan. Saya pun mempersiapkan pakaian dan segala sesuatu yang mungkin diperlukan di sana. Pakaian-pakaian bayi juga sudah saya miliki.

Oleh karena tidak ada mobil, maka saya antar istri ke rumah sakit dengan sepeda motor saja. Jalan ke rumah sakit belum semulus sekarang. Yah, meskipun sekarang juga tidak mulus-mulus banget, sih. Tanah Bombana itu termasuk tanah merah. Lembek ketika kena hujan, berdebu waktu kering. Aspal-aspal yang ada sebagian besar retak atau bahkan berlubang. Itu keadaan sekarang, bagaimana ketika tahun 2013? Silakan bayangkan sendiri ya!

Sepeda motor saya jalankan dengan hati-hati. Menghindari “ranjau” yang ada. Ranjau yang saya maksud di sini adalah lubang jalan sekaligus kotoran sapi. Yah, sapi ‘kan memang tidak berakal. Mana bisa dia dilarang untuk buang kotoran di jalan? Yang harus dilarang itu pemiliknya. Dan, memang sampai sekarang juga begitu sih. Daerah sekitar rumah sakit cukup banyak sapi yang berkeliaran.

Datang Ketika Sepi

ibupedia-rs-bombana (1)

Rumah sakit sekitar jam satu dini hari sangatlah sepi. Saya mencari bagian obgin. Masuk melalui pintu yang tidak terkunci. Melongok ke dalam, ada satu ruangan agak sempit. Di situ ada beberapa perawat yang sedang tidur. Saya membangunkan mereka dengan mengetuk pintu. Ada yang terbangun. Bertanya apa keperluan saya?

“Istri saya mau melahirkan.”

Dari yang satu membangunkan lainnya. Mereka mengambil tindakan. Menempatkan istri saya ke bangsal. Ada tempat tidur yang kosong. Istri saya ditempatkan di situ. Masih dengan menahan sakit. Saya pun mendampinginya dengan setia.

Daerah rumah sakit tersebut jelek sinyalnya. Sampai sekarang pun begitu. Makanya, saya mau menghubungi ibu atau mertua saya juga cukup kesulitan. Tapi, biarlah dulu, menunggu sampai Subuh. Mungkin mereka akan datang setelah Subuh. Saya sempatkan tidur lagi, istri juga bisa tidur, meskipun saya tahu, dia pasti menahan nyeri.

Adzan Subuh yang mengalun mesra dari masjid sekitar rumah sakit membangunkan saya. Kalau saya ke masjid, kok rasanya tidak tega ya meninggalkan istri sendiri? Saya pun sholat saja di situ, mengajak istri untuk sholat berjamaah. Belakangan saya tahu, bahwa darah yang sudah ke luar itu namanya nifas. Semestinya tidak usah dulu sholat. Apalagi kondisinya sedang lemah dan kesulitan.

Terbit matahari, ibu dan mertua betul-betul datang. Berikut saudara-saudara ipar saya. Mereka menanyakan kondisi terakhir. Saya pun memperlihatkan yang ada saja. Tadi malam beberapa perawat memeriksa istri dengan memasukkan tangan mereka ke vagina. Menghitung sudah pembukaan ke berapa? Oh, ternyata begitu ya caranya?!

Tahun 2013, di Bombana cuma ada dokter kandungan residen. Artinya seorang dokter yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi seorang dokter spesialis. Kalau tidak salah ingat, dia itu perempuan berambut pendek dan pakai rok selutut. Dia juga sudah memeriksa istri. Namun, pada akhirnya, dia menyimpulkan begini,

“Maaf, Pak, istri Bapak harus caesar!”

“Apa?!” Jreng, jreng, jreng! Eh, itu ‘kan mirip sinetron ya? Tidak sampai seperti itu, lah. Yang jelas, saya, istri, mertua, dan orang tua kaget semua. Kok bisa sih sampai mau caesar?

“Iya, Pak, melihat dari pemeriksaan yang saya lakukan, istri Bapak memang harus caesar.”

Apakah pinggul istri saya sempit? Apakah kepala bayi di atas? Apakah kaki bayi di bawah? Saya masih bertanya-tanya, kok bisa ya mau caesar?

Pada akhirnya, keputusan dokter memang harus diterima. Tapi, yang lebih susah lagi adalah pernyataan dokter selanjutnya, “Untuk caesarnya tidak bisa di sini, Pak. Mesti di Kendari.”

“Apa?? Kendari??!!!” Jreng, jreng, jreng. Lah, sinetron lagi! Ini juga tidak sampai begitu, lah. Pernyataan dokter tersebut yang paling mengagetkan. Istri saya sudah dalam pembukaan keempat, harus dirujuk lagi ke Kendari untuk dioperasi caesar. Duh, bagaimana caranya ke sana? Menggunakan transportasi pada umumnya jelas tidak mungkin.

“Kami menyediakan ambulans, Pak. Kalau Bapak mau bawa istri ke sana, ambulans kami telah siap.” Kata dokter lagi.

Mobil ambulans tersebut tidak ditanggung BPJS. Bayarnya 700 ribu rupiah. Selain mobil itu sendiri, disediakan sopir, plus satu perawat/bidan yang siap mengambil tindakan darurat di jalan, seandainya nanti mau melahirkan sebelum sampai di rumah sakit. Oh, ya, rumah sakit yang dituju adalah Rumah Sakit Abunawas. Itu adalah rumah sakit pemerintah daerah.

Pertimbangan dari Orang Tua

Rencananya, ambulans akan berangkat jam dua siang. Makanya, saya pulang dulu bersama ibu saya. Saat mempersiapkan baju lebih banyak lagi, ibu saya memberikan pertimbangan,

“Gimana, jadi toh dibawa ambulans?”

“Iya, Bu, jadi.”

“Tapi kok mertuamu maunya naik mobil angkot saja?”

Mobil angkot adalah istilah untuk mobil pribadi yang dijadikan angkutan umum. Biasanya berjenis MPV atau Multi Purpose Vehicle, tetapi platnya kuning. Kamu pasti sudah tahu merek-mereknya yang terkenal, lah. Saat itu, kalau tidak salah, tarifnya lima puluh ribu rupiah perorang.

Mertua tadi menyuruh saya untuk membawa istri naik mobil angkot saja. Selain pertimbangan ongkos yang lebih murah, mobil juga berangkat lebih cepat. Tidak harus menunggu jam dua siang.

Sekilas dan sekelebat, saya mau menerima usul tersebut. Agar istri saya cepat sampai di Kendari dan mendapatkan pertolongan segera. Namun, ibu saya berkata lain,

“Jangan, Riz, naik mobil ambulans saja! Kalau naik mobil angkot, posisinya akan duduk. Istrimu sudah kepayahan mau duduk. Dia mestinya baring saja.” Tentunya, karena sama-sama orang Jawa, maka ibu saya bicara dengan bahasa aslinya.

Saya diam saja. Berpikir. Menimbang-nimbang.

“Selain itu, naik mobil ambulans ada perawatnya. Nanti kalau ada apa-apanya, siap membantu. Kalau naik mobil angkot, siapa yang mau tolong?”

Hem, benar juga yang dikatakan ibu saya. Janganlah terlalu dipikirkan tentang uang 700 ribu rupiah itu! Masa saya mau jadi orang pelit dalam urusan begini? Ini darurat, Insya Allah uang segitu akan digantikan nanti di masa yang akan datang.

Saya kembali ke rumah sakit. Mengiyakan untuk memakai ambulans saja. Segala administrasi dan dokumen mesti dipersiapkan. Saya diberikan juga surat rujukan. Profesi saya sebagai seorang PNS membuat istri secara otomatis menjadi anggota BPJS.

Menjelang jam dua siang, mobil ambulans sudah siap di depan unit UGD. Unit ini berada di bagian paling depan dari rumah sakit tersebut. Sirine sudah menyala lampunya, tetapi tanpa suara.

Dan, inilah momen ketika istri saya dikeluarkan dari bangsal. Dia dibawa dengan kursi roda. Di tangannya sudah ada selang infus. Ya Allah, terharu saya melihatnya. Saya berusaha menahan air mata menyaksikan penderitaannya saat mau melahirkan. Wajahnya tampak lelah karena kurang tidur dan terus menahan sakit.

Baca Juga: 6 Cara Merapikan Lemari Pakaian Anak

Ketika akan dimasukkan di ambulans, tidak ada kursi tengah di situ, hanya brangkar/tandu, dia sempat menjerit. “Sakittt…!” Kalau tidak salah begitu jeritannya. Sempat pula dia menangis. Aduh, ya Allah, kali ini saya tidak kuat lagi menahan air mata. Bahkan ketika saya menulis ini, tanpa terasa ke luar air mata teringat momen tersebut.

Perlengkapan dimasukkan. Sopir laki-laki siap, seorang perawat atau bidan berjilbab yang masih muda juga siap. Parasnya lumayan cantik juga. Aduh, kenapa juga mata ini masih agak susah dijaga di saat momen sentimentil seperti ini?

Mobil ambulans berjalan pelan-pelan. Saya bersama mertua perempuan. Istri saya berbaring ke kiri. Menghadap ke pintu ambulans. Lho, sepertinya mau baring ke kanan atau kiri tetaplah menghadap pintu, deh!

Demi menahan sakitnya, istri saya mencengkeram pahanya kuat-kuat. Dalam perjalanan tersebut, dia tidak menjerit, tidak berteriak, tidak juga tampak menangis. Dia seperti itu karena ada laki-laki yang bukan mahrom. Siapa lagi kalau bukan sopir ambulans? Khawatir suaranya akan menimbulkan fitnah. Begitulah pemahaman dan pemikirannya.

Sempat singgah di rumah mertua sebentar untuk menjemput adik ipar saya yang perempuan. Ketika itu, dia masih duduk di bangku SD, mau SMP. Mengambil pakaian atau apalah yang tertinggal juga.

Ibu saya pulang dari rumah sakit diboncengkan oleh adik ipar laki-laki saya. Keluarga istri berkumpul di depan rumah mertua. Saat ambulans meninggalkan mereka dan saat saya melihat mereka, saya tidak kuasa lagi untuk menahan air mata. Wajah mereka tanpa suara, tetapi saya yakin dalam hati, mereka berdoa untuk keselamatan istri dan bayi yang akan dilahirkan nanti.

Memilih Jalan Lebih Jauh

Untuk menuju ke Kendari, dari Bombana melewati satu kabupaten yang bernama Konawe Selatan. Ada dua jalur yang bisa dipilih. Satu adalah melewati Andoolo. Satu lagi melewati Palangga. Lewat Andoolo lebih dekat, tetapi jalanannya lebih jelek. Sedangkan kalau ke Palangga, lebih jauh, tetapi jalannya lebih halus. Yah, tidak sehalus pipi Syahrini sih, tetapi cukup nyaman kok untuk dilewati.

Itu sebenarnya kalau kondisi normal. Ini dalam keadaan darurat, membawa istri yang sudah kesakitan. Mau lewat Andoolo atau Palangga, semuanya menyakitkan. Namun, mau bagaimana lagi? Risiko tetap harus ditempuh. Konsekuensi mestilah dijalani. Saya serahkan saja urusan ini kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sopir memilih yang kedua. Palangga. Pertimbangannya jalan itu tadi. Kecepatan mobil itu sudah dibuat cukup pelan. Biasanya, mobil dari Bombana ke Kendari membutuhkan 3-4 jam. Jam tiba di Kendari akan saya tulis nanti.

Sebelum sampai di Kendari, saya mengajak istri untuk bicara. Bagaimana keadaannya? Apakah makin sakit? Saya juga mencoba mencari yang segar-segar untuk dijadikan topik pembicaraan. Namun, semuanya susah. Kelu lidah saya. Menatapnya menahan sakit seperti itu, tidak bersuara, tidak menangis, justru saya yang menangis. Saya tidak bisa menutupi wajah saya yang menangis di depan mertua dan ipar. Mereka tahu saya menangis, begitu juga dengan mertua saya.

Saya tidak terlalu peduli lagi dengan ungkapan “laki-laki tidak boleh menangis”. Lho, kalau laki-laki tidak boleh menangis, mengapa Allah menciptakan kelenjar air mata juga bagi laki-laki? Berarti menangis itu tidak terlarang bagi laki-laki. Yang penting, menangis karena apa dulu? Ya ‘kan?

Melihat istri yang cuma mencengkeram paha kanannya, ingin saya mengurangi penderitaannya. Namun, dengan cara bagaimana? Pakai cara apa? Sementara hal itu bukanlah penyakit. Itu adalah reaksi wajar perempuan mau melahirkan. Tapi mengapa harus menempuh perjalanan penuh penderitaan semacam itu? Ketika di rumah sakit saja, sudah kewalahan, kini ditambah berlipat-lipat dengan perjuangan dalam perjalanan jauh. Subhanallah..

Perjalanan tersebut memang terasa sangat lama. Apalagi sebelum sampai di Kendari, mesti melewati jalanan berbukit-bukit yang dikenal dengan daerah Wolasi. Namanya berbukit-bukit, pastilah juga berbelok-belok. Jika naik mobil, biasanya istri saya mabuk di daerah ini. Apakah saat itu akan terjadi juga? Alhamdulillah, tidak sampai terjadi. Istri saya dalam kondisi berbaring ke kiri. Begitu terus sejak tadi masuk.

Waktu lewat Wolasi itu juga cukup lama, karena jalanan sempit. Selain itu, sering lewat truk-truk besar, otomatis mobil jadi lebih lambat lagi. Saya yang waktu itu belum bisa menyetir mobil sama sekali, hanya mengikuti saja pak sopir.

Sesekali perawat atau bidan di depan, samping sopir, menengok ke belakang. Tentu dia melihat istri saya, bukan kepada saya. Mau ngapain juga saya dilihat-lihat, ya ‘kan?

Waktu Maghrib telah datang. Siang mulai diselimuti malam. Saya belum sholat Maghrib, nanti saja, ‘kan terhitung musafir juga. Sebelum tiba di Kendari, saya melihat ke istri lagi. Betul-betul tidak ada suaranya. Air mata saya tidak lagi ke luar. Sudah tumpah ruah tadi dalam perjalanan. Dalam hati saya yang seakan-akan tercabik-cabik, saya teringat kenangan bersama istri.

Pernah karena berbuat kesalahan, saya marahi dia. Saya berseru dengan cukup keras. Dia sampai ketakutan mendengarnya. Bahkan sempat pula menangis sedikit. Namun, dia tetap sabar menerima amarah dari saya.

Kenangan itu membekas lagi di pikiran saya. Kini istri yang terbaring tidak bisa apa-apa, hanya menanti pertolongan dari Allah melalui tangan-tangan bidan nanti agar anak pertama saya bisa lahir selamat.

Saya jadi menyesal, amat sangat menyesal. Mengapa dulu saya sampai memarahinya ya? Bukankah seharusnya, semestinya, dan sewajarnya, serta seyogyanya saya berperilaku baik kepadanya? Hanya gara-gara kesalahan sepele, saya marah. Nyatanya, dia hanya mendengar. Tetap sabar menghadapi kata-kata saya yang cukup keras.

Ketika itu, saya yang merasa kalah, amat sangat kalah. Tidak mampu mengendalikan emosi. Istri saya melakukan kesalahan dalam usaha untuk menjadi istri yang terbaik untuk saya. Menjadi istri yang sempurna untuk saya.

Itulah yang kembali mengalirkan air mata saya. Dia berupaya untuk menjadi satu-satunya pujaan hati saya. Pada akhirnya, saya pun meneguhkan hati untuk mencintainya dan makin mencintainya. Dia sudah sangat kepayahan, sudah sangat lemah, demi menampung calon anak saya. Ya, Allah, jadikanlah saya selalu mencintai istri saya.

Keadaan tersebut akan selalu saya ingat juga. Nantinya akan saya ceritakan ke anak saya, “Nak, ummimu hebat lho! Dia bisa menahan sakit yang luar biasa berat sejak dari Bombana sampai ke Kendari. Naik ambulans dari jam dua siang sampai jam delapan malam. Tidak berteriak, tidak menjerit, diam saja, Nak, cuma mencengkeram pahanya saja. Hebat toh ummi, Nak?”

Malam Pertaruhan di Kendari

Jam delapan lebih sepuluh menit, mobil ambulans tiba di depan Rumah Sakit Abunawas yang sekarang menjadi RSUD Kota Kendari itu. Jalanan kota Kendari sudah diterangi oleh lampu-lampu jalan yang cukup banyak. Bidan atau perawat yang di ambulans tadi mengajak saya untuk mengurus sesuatu. Saya menyerahkan surat rujukan tadi. Hanya beberapa menit, saya lalu menuju ke bangsal tempat istri saya.

Satu perjuangan sudah dilalui, Alhamdulillah. Namun, masih ada perjuangan selanjutnya, yaitu: apakah anak saya akan lahir dengan selamat? Istri dibawa ke bangsal yang di situ ada sembilan tempat tidur. Berjajar tiga-tiga. Tempat tidur keras, ada pelapis warna hijau. Ruangan itu yang dipakai untuk melahirkan.

Paman saya sekeluarga datang tidak lama setelah itu. Adik bibi saya menanyakan, “Apa kamu bawa sarung?”

“Sarung?”

“Iya, sarung, buat persiapan melahirkan.”

“Aduh, nggak bawa, Tante.”

“Aduh, ya sudah, tunggu dulu ya!”

Saya baru tahu juga, ternyata mesti pakai sarung untuk menutupi bagian sensitif. Maklum, anak pertama, belum ada pengalaman sama sekali. Adik bibi saya sepertinya pulang lagi untuk mengambil atau mencari sarung.

Kondisi saya sangat lelah. Dari Bombana memakai baju koko warna biru lengan panjang. Otomatis gerah dan panas. Namun, saya tidak bisa mandi saat itu. Kondisi sedang genting. Jadi, saya tahan saja rasa lengket di punggung dan bagian depan.

Bidan yang memeriksa dari rumah sakit tersebut memberitahukan, “Oh, ini normal ji! Tidak ji sampai caesar.” Katanya dengan logat Sulawesi, pakai kata sandang “ji”.

Dalam hati, saya mengucapkan “Alhamdulillah.”

Wah, bidan Rumah Sakit Abunawas yang ini joss betul! Pengalaman dan ilmu yang sangat melengket di kepalanya mampu menyimpulkan istri saya tidak akan caesar. Itu yang jelas harus dihargai.

Pembukaan masih belum saatnya. Masih dibutuhkan beberapa pembukaan lagi agar benar-benar lahir bayi. Sebenarnya, teknik yang sering dipakai ibu-ibu mau melahirkan adalah jalan-jalan kaki. Tidak perlu jauh-jauh, cukup di situ saja.

Baca Juga: 4 Hal Penting yang Dipelajari Anak Perempuan dari Ayahnya

Saya mengajak istri untuk jalan kaki. Paling tidak, bergerak sedikit agar persalinan nanti lebih lancar. Namun, istri saya betul-betul lemas. Tenaganya terlihat habis betul. Perjalanan selama 6 jam lebih sedikit menguras energinya. Ya sudah, saya pun istirahat di salah satu kasur yang ada. Tidur.

Terbangun tengah malam, saya lihat istri sudah menjerit-jerit kesakitan. Sekitarnya ada beberapa bidan dan perawat. Ada yang pakaian biru, ada juga yang pakaian biasa. Istri paman saya ada di situ. Dia ini cukup berpengalaman mendampingi perempuan yang akan melahirkan. Bukan bidan juga sih, hanya membantu mengatur jalannya napas dan mengejannya.

Saya teringat slogan Suami Siaga. Makanya, saya di situ dan melihat proses persalinan istri. Lampu sorot dinyalakan mengarah ke tempat utama untuk melahirkan. Tabung oksigen sudah disediakan juga. Istri dimasukkan selang oksigen di hidungnya.

Dari tadi istri saya diam saja, tetapi kali ini sudah tidak bisa diam. Berteriak, menjerit, menangis, campur jadi satu. Saya hanya melihat, tidak bisa juga memberikan aba-aba macam istri paman yang saya panggil “bulek” itu. Meskipun dia orang Bugis dari Enrekang, tetapi saya memanggil dengan panggilan Jawa. Biar saja, sudah sejak dulu saya panggil seperti itu.

Ketika makin mendekati kelahiran, saya malah disuruh ke luar oleh bulek. Lho, kenapa saya malah ke luar? Awalnya saya tidak mau karena teringat Suami Siaga itu tadi. Namun, karena bulek memaksa, maka saya pun ke luar. Begitu di luar, eh, tidak lama lahir juga anak pertama saya. Hal itu terdengar dari suara tangisannya.

“Alhamdulillah, ya Allah, anak saya lahir…”

Saya masuk kembali. Melihat istri sedang dijahit vaginanya. Ini jelas bukan lubangnya yang dijahit, melainkan lukanya habis melahirkan.

Ada yang mengatakan ke saya bahwa saya disuruh ke luar tadi karena ada sesuatu pandangan dari bidan/perawat itu yang semestinya tidak saya lihat ketika dia membungkuk membantu mendorong perut istri saya. Oalah, karena itu toh! Ya, sudah, tidak apa-apa kalau memang begitu alasannya. Ketika saya melihat ada bayi terbungkus sarung, adik bulek saya yang termuda mengatakan, “Ini anakmu.”

ibupedia-kelahiran-raihan

“Masya Allah…”

Anak saya gembul pipinya. Matanya sipit. Dibungkus dengan sarung batik. Saya mengatakan ke bidan, “Mau saya kasih sari kurma.”

Hal itu berdasarkan petunjuk dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Namanya tahnik. Mengoleskan kurma ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir.

“Jangan, Pak, nanti bayinya biru!” Larang bidan.

Saya diam dulu. Menunggu mereka ke luar. Sudah sepi, saya tetap lakukan tahnik tersebut. Mengambil sari kurma yang lengket dan manis, saya oleskan ke langit-langit mulut anak saya. Reaksinya seperti mau muntah, tetapi tidak jadi. Dia cuma mengecap-ngecap menggemaskan.

“Apaan sih bayi biru segala? Ini kan petunjuk nabi, tidak mungkin salah,” kata saya dalam hati.

Sebelum ditahnik, saya mengadzani anak saya. Dia diam saja, tidak menangis. Ya Allah, betapa lucunya kamu, Nak..

Tidak lupa, saya menemui istri. “Bagaimana keadaanmu?”

Dia tampak makin kelelahan. Dari tadi dia belum makan apa-apa. Agak lama sebelum melahirkan tadi, saya menawarinya makanan yang dibawa keluarga paman. Namun, dia menolaknya.

“Alhamdulilah,” jawabnya sambil tersenyum manis. Ah, istri saya ini memang sudah cantik dari sononya kok. Dia tidak mengenakan jilbab panjangnya. Saya biarkan saja, meskipun di situ ada juga laki-laki.

Di bangsal tersebut, ketika ada ibu mau melahirkan, laki-laki yang bukan keluarganya disuruh ke luar. Setelah melahirkan, baru boleh masuk lagi. Saya menemani istri sebentar, menutupkan kain jilbab ke rambutnya. Meskipun tidak sempurna, masih terlihat rambutnya, tetapi itu mendingan. Lebih baik daripada terbuka sama sekali.

Saya juga menemani istri untuk ke kamar mandi. Membawakan infusnya, memapahnya dengan perlahan-lahan. Untuk adegan ini, ada ibu saya yang masuk. Dia melihat istri saya begitu kecil dan kurus. Sementara saya agak jauh lebih tinggi. Namun, hal itu bukanlah masalah. Kami tetap saling mencintai kok!

Saat perasaannya sudah mulai nyaman, istri pun tidur. Keluarga paman dan ibu pamit pulang. Mertua saya bermalam di rumah ipar saya yang perempuan. Ipar saya yang ini adalah kakak istri saya. Punya rumah di Kendari, masih mengangsur juga sih.

Semua sudah pulang, giliran saya untuk beristirahat. Saya tidur di samping anak saya. Dia juga tidur. Masya Allah, kembali saya mengucapkan syukur dan bertambah syukur, bayi mungil ini lahir juga ke dunia ini. Perjuangan cukup panjang dan melelahkan dari Bombana ke Kendari. Bukan proses melahirkan atau persalinan biasa, karena mesti menempuh jarak 163 kilometer. Tidak sampai melahirkan di jalan, karena itu mungkin lebih rawan lagi.

Saya masih belum menamainya. Belum terpikir mau memberi nama apa? Ya, sudah, itu nanti saja dulu, saya istirahat saja dulu. Capek badan, capek pikiran, tetapi hati puas. Anak yang saya nanti-nantikan setelah setahun pernikahan, kini betul-betul hadir di depan mata.

Nah, bapak saya sebenarnya memberikan usulan nama, yaitu: Raihan Khairul Anam. Namun, saya rasa, nama tersebut sudah jamak dipakai.

Baca Juga: 7 Kiat Tepat Menjemur Bayi di Bawah Sinar Matahari

Demi menghargai bapak, saya tetap memakaikan nama Raihan. Untuk belakangnya, saya mencari di aplikasi nama bayi dari Playstore. Saya tidak tahu, bahwa ada situs yang bisa memberikan nama bayi terbaik dengan artinya pula.

Ada yang bagus, dipikir-pikir, diterawang-terawang, dibayangkan nanti cocok apa tidak, disimpan dulu. Cukup lama saya berpikir. Sendiri pula. Ini adalah hak prerogatif saya sebagai seorang ayah.

Sampai akhirnya, saya menemukan nama yang cocok. Nama yang cukup panjang, lebih panjang daripada nama saya. Orang tua memberikan saya nama dengan tiga kata, maka anak saya juga tiga kata. Ketemulah nama itu: Raihan Malik Dhiyaulhaq.

Apakah nama sekadar nama saja? Tanpa arti? Oh, tentu tidak dong! Kalau zaman dulu sih iya, nama sembarang saja tanpa arti, hanya dibuat berdasarkan keadaan setempat. Sekarang sudah zaman modern, mestilah memberi nama anak harus dengan ilmu, plus kreativitas.

Nama Raihan artinya wangi. Malik itu berarti raja/pemimpin. Dhiyaulhaq dari kata “dhiyaul” artinya pembela, sedangkan “haq” artinya kebenaran. Jadi, nama anak pertama saya diartikannya begini: Seseorang yang namanya harum karena menjadi pemimpin yang membela kebenaran. Semoga saja, dari nama itu menjadi doa yang terwujud dalam kenyataan. Aamiin…

Ada yang Sedikit Aneh

Raihan lahir pada tengah malam. Berangkat dari Bombana pada tanggal 7 Juli. Saya kok merasa Raihan itu lahir lewat dari jam 12 malam ya? Berarti terhitung tanggal 8 Juli. Saya melihatnya di jam dinding ruang persalinan, menunjukkan jam setengah satu dini hari.

Saya merasa heran. Ternyata, setelah saya mengambil surat keterangan lahir dari rumah sakit, Raihan dinyatakan lahir pada tanggal 7 Juli. Lho, kok bisa? Apakah karena saya salah lihat jam di ruang persalinan?

Namun, saya menerima saja tanggal kelahiran Raihan itu. Kalau tanggal 7 bulan Juli, berarti bisa ditulis, lahir tanggal 7 di bulan ketujuh. Angka tujuh dobel. Wah, ini mantap! Lebih mantap lagi seandainya tanggalnya begini: 07-07-2007. Kan seandainya, jelas tidak akan pernah terjadi. Sesuai kenyataan saja, Raihan memiliki tanggal lahir yang unik.

Ah, pada akhirnya semua berwujud nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu besar nikmat dari-Nya, tidak terhitung jumlahnya. Anak adalah amanah dari-Nya. Suatu saat bisa diminta lagi, suatu saat pula bisa diminta pertanggungjawaban kita. Siapkah kita?

Demi menjadi orang tua yang terbaik, maka kita memang perlu belajar dari yang terbaik. Saya baru tahu ada platform tempat belajar parenting dan ilmu keluarga lainnya di ibupedia.com.

Salah satunya, yang menarik bagi saya adalah periode bayi umur 1-2 tahun. Isinya adalah bentuk perkembangan bayi yang mesti diperhatikan dan dicermati orang tua.

Mengulik menu lainnya, mulai dari konsepsi, kehamilan, kelahiran, balita, kesehatan, keluarga, infografis, nama bayi, dan lain sebagainya. Ketika Raihan lahir, saya merasa sangat kurang ilmu seputar bayi. Sekarang, tidak boleh lagi begitu. Saya mesti menyisihkan waktu untuk belajar bersama istri tercinta. Selain itu adalah kewajiban, istri saya juga sedang hamil anak ketiga sekarang.

Apakah saya akan menulis cerita anak kedua dan ketiga sama dengan cerita saya seputar kehamilan dan persalinan anak pertama? Ada baiknya ditunggu saja. Sambil menunggu itu, yuk, kita lahap habis ilmu tentang bayi dan balita serta dunia parenting pada umumnya demi masa depan anak-anak kita melalui ibupedia.com!

Baca Juga: 3 Tips Mengenalkan Uang ke Anak Sesuai Fase Umur

Share This:

40 Comments

  1. Master Rizki… Penuh perjuangan dan pengorbanan. Ingin mempunyai keturunan. Alhamdulillah… dari berdoa kpd Allah serta usaha berobat ke dokter kandungan. Luar biasa tulisan serta pengalaman yg tdk terlupakan

    1. Iya, bu guru… Ada perjuangan memang untuk mendapatkan keturunan. Karena kita nggak selamanya di dunia ini, mesti ada penerusnya.

  2. Wah terasa ikut capek dan lelah membayangkan perjalanan ratusan kilometer dalam kondisi badan sudah lemah. Selamat atas kelahiran putranya. Bung Rizky ….. hilang sudah rasa lelah itu…..
    Salam sukses selalu.

  3. MasyaAllah perjuangan yg cukup menegangkan,semoga kedepannya tdk ada lagi drama seperti itu,semoga Pemerintah lebih perhatian untk daerah” yg masih kurang alkes apalagi daerah yg terpencil,untk lebih mengurangi angka kematian ibu & anak.
    MasyaAllah nama yg sangat bangus.
    Di tunggu kelanjutan untk anak” selanjutnya.

    1. Alhamdulillah, sekarang sudah ada dokter kandungan yang menetap di Bombana sini Bu. Jadi, sudah lebih berkembang dibandingkan dulu.

  4. Saya sangat menikmati tulisan dan ikut larut dalam jalan ceritanya. Saya membayangkan bagaimana kalau saya yang mengalami. Alhamdulillah akhirnya perjuangan terbayar dengan lahirnya sang buah hati.

    1. Setiap ibu akan mengalami hal yang berbeda ketika persalinan. Semuanya akan menjadi cerita indah manakala sang buah hati sudah lahir dengan selamat.

  5. Masya Allah perjuangan luar biasa untuk mendapatkan buah hati sampai terlahir. Semoga ananda menjadi perhiasan yang indah untuk kedua orang tuanya.

  6. Perjuangan yang begitu panjang tapi alhamdulilah Pak Rizky.. . Atas kelahiran putranya.. Srmoga tumbuh jadi ansk yang solih.. Aamiin

  7. Pengalaman yg seru mengharu biru. Ikut menitikkan . Ikut prihatin krn istrinya harus menempuh perjalanan jauh begitu beratnya. Qodarullaah tdk samoai dioperasi.

  8. Semoga sehat selalu anaknya ya mas dan bahagia bersama keluarga kecilnya. Cerita yang sangat menginspirasi

      1. Selamat atas kelahiran anaknya ya kak, pasti terharu banget setelah penantian panjang, dan sebagai suami ternyata siaga juga ya. Mesti gak bawa persiapan sarung saat istri melahirkan,hehe.

  9. Hampir sama seperti saya pak, setelah usia pernikahan 3 th 7 bulan baru lahir buah hati pertama kami. Karena tugas kami jauh di pedesaan, ketika sudah memasuki masa cuti saya titipkan istri saya di tempat mertua diibukota propinsi, selain akses ke rumah sakit dekat dan mudah juga supaya secara psikologis istri saya lebih kuat karena ditunggui orang tuanya. Ketika sudah waktunya melahirkan sudah ditunggu hampir sehari semalam masih juga bukaan empat. Karena istri saya sudah tidak tahan lagi maka diambil keputusan untuk dilakukan SC. Saya mengalami betul apa yang pak Rizki alami kecuali yang mengantarkan ke rumah sakit, karena ketika istri saya sudah saatnya melahirkan saya masih di dusun. Ketegangan, haru, bersyukur, buah hati yang ditunggu-tunggu selama ini hadir. Sungguh anugerah dari Allah yang sangat luar biasa. Selamat ya Pak, semoga nanti bertambah keturunan yang berikutnya.

  10. Wahh luar biasa sekali perjalanannya, Pak. Karena pernah mengalami masa penantian dan melahirkan, g akan komen banyak deh. Hehe

  11. Hmmm, urusan mengeksekusi nafsu pun dijadwal. Bisa spaneng kalo nggak kesampaian, hahaha… Ternyata nggak nurut kata dokter, malah bisa hami. Alhamdulillah ya setelah penantian satu tahun, akhirnya membuahkan hasil juga.

    Belajar tentang parenting memang penting banget, biar kita bisa mengatasi permasalahan dengan tepat. Nice sharing Mas…

    1. Bener tuh, dikasih tanggal-tanggal berhubungan. Tapi, kalau udah nafsu, nggak pakai tanggal-tanggalan, haha..

  12. Kisahnya panjang. Hehe..saya kira dokternya laki juga. Sekisah melahirkan bisa jadi tulisan sangat panjang ya. keren. Hehe

  13. Saya menikmati sekali untaian kata Mas Rizky, seperti yang sudah-sudah. Membaca ini, jadi pengen punya anak juga. Sudah hampir 3 tahun menikah, cuma memang belum dikasih rezeki sama Allah. Yang penting tetap berbaik sangka pada-Nya, hhe

  14. Alhamdulilah anak pertama saya juga laki-laki. Suami begitu bahagia. Tapi, saya pribadi sebenarnya tidak membeda-bedakan baik laki-laki maupun perempuan, saya tetap akan menyayangi dan berusaha merawat sepenuh hati. Mungkin suami juga memiliki pemikiran yang sama dengan kaka. Biar adiknya nanti punya benteng kuat setelah ayah mereka.

    1. Anak laki-laki dan perempuan memang punya keunikan sendiri-sendiri, jadi mari syukuri saja yang ada. Sip!

  15. wah seru banget baca kisah mas rizky ini. anak saya ditahnik samaa suami saya pun pakai sai kurma, karena ga nemu kurma. Kami pun melakukannya diam-diam tanpa sepengathuan nakes. tapi basic kami juga eksata, jadi paham ini tidak berbahaya dan sunnah nabi lagi hehe.

    1. Jelaslah, tidak ada sunnah nabi yang berbahaya. Justru ini lebih bagus untuk kesehatan bayi. Mungkin mereka yang menentang, karena belum paham saja, hehe..

  16. Baik menjadi seorang ayah atau ibu sama2 berat ya, semuanya butuh kerjasama, termasuk saat istri melahirkan suami harus siap mengayomi.

  17. tanggal lahirnya cantik berurutan dan mudah diingat dan arti nama yang diberikan juga baik…

    pasti akan menjadi anak yang baik pula dimasa depannya… amin.. amin,.

    1. Aamiin kak.. Makasih doanya. Saya doakan juga kakak dan semua yang komentar di sini, aamiin..

  18. MasyaAllah, tabarakallah buat kelahiran buah hatinya mas. Saya juga baru melahirkan. Saya hamil kemarin saya juga rajin baca-baca artikel di ibupedia.

    1. Memang sangat lengkap ilmu parenting dan keluarga di ibupedia. Baca dari web sama IG-nya, sama-sama lengkap.

  19. Selamat atas kelahiran bayinya, dan perjuangannya sangat menginspirasi. Selanjutnya tinggal belajar parenting untuk membesarkan dan mendidik anak.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.