3 Tips Mengenalkan Uang ke Anak Sesuai Fase Umur

3 Tips Mengenalkan Uang ke Anak Sesuai Fase Umur

Share This:

Apakah ada yang mengira bahwa mengenalkan uang ke anak bisa bikin anak jadi suka jajan? Suka beli makanan-makanan yang penuh dengan pengawet, pemanis buatan maupun serba instan itu? Eits, tunggu dulu!

Mengenalkan uang ke anak sejak dini memang perlu karena mereka pasti akan butuh uang. Mungkin untuk uang jajan atau uang sakunya. Membelikan kita barang kebutuhan rumah tangga di warung terdekat. Mengajarkannya menabung maupun bersedekah.

Lalu, bagaimana tips mengenalkan uang ke anak tersebut? Tips kali ini diambil dari buku Kecil-kecil Jago Finansial yang ditulis oleh Riawani Elyta dan Risa Mutia.

1. Pada Umur Balita

Pemahaman awal tentang uang diajarkan di usia balita ini. Dikenalkan saja tentang jenis uang, ada uang kertas, ada juga uang logam. Boleh juga ditambahkan dengan nama-nama mata uang negara lain. Kalau Indonesia ‘kan rupiah. Coba kalau mata uang Senegal, tahu nggak? Hehe…

Proses mengenalkan uang ke anak berikutnya pada umur balita adalah melatih memakai uang untuk beli di warung terdekat atau pedagang keliling yang mendekat. Wah, sama-sama berakhiran at!

Baca Juga: Gara-gara Satu Anak Tanpa Masker, Satu Keluarga Harus ke Luar dari Pesawat

Biasa ‘kan ada penjual siomay yang lewat, bakso, bubur, atau bahkan remote tivi. Masa anak diajarkan buat membeli remote tivi? Untuk bertransaksi dengan makanan-makanan ringan semacam itu, tetap harus dengan pengawasan ya! Berapa uang yang dia pegang? Mungkin hanya kecil saja, seribu atau dua ribu, maksimal lima ribu masih boleh, lah.

Seperti anak saya, yang diberikan uang kecil saja. Bukan uang monopoli maupun uang mainan, meskipun itu juga bisa dinamakan dengan uang kecil, karena bentuknya yang memang kecil.

Apakah mengenalkan uang ke anak pada poin pertama ini juga kaitannya dengan menabung? Bisa juga diletakkan sebuah celengan di rumah. Bentuknya yang lucu-lucu bagi anak, lah. Misalnya: gambar-gambar kartun, tetapi lebih baik yang tidak ada wajahnya ya. Atau gambar-gambar pemandangan, seperti itulah.

Agar lebih meresap ke hati anak, ucapkan saja ke mereka, “Nak, ini selain menabung, juga untuk bersedekah ya?! Nanti kalau sudah terkumpul, kita kasihkan ke orang-orang miskin.”

Begitu Insya Allah lebih baik. Jika menabung saja, maka itu untuk keperluan pribadi si anak. Sedangkan jika bersedekah, maka untuk kepentingan orang lain juga.

2. Fase Pendidikan Dasar Antara Usia 6-12 Tahun

Usia seperti ini, kemungkinan besar anak sudah masuk sekolah. Hem, masih fase Sekolah Dasar, lah, masa kuliah S2? Kan tidak mungkin. Hehe..

Kalau masuk sekolah, maka mengenalkan uang ke anak dengan memahamkan ke mereka secara lebih kompleks. Apakah itu? Apakah kompleks perumahan? Wah, meskipun tinggal di kompleks perumahan, tetapi ini cuma kompleks kaitannya dengan uang.

Anak dapat diajarkan tentang nilai uang. Jumlahnya jika digabung. Hal yang tidak kalah penting adalah pembagian keuangan secara sederhana saja. Misalnya, dari uang lima ribu yang kita kasihkan ke anak, itu untuk apa saja? Berikanlah bayangan kira-kira kalau untuk beli ini, ini dan ini akan cukup. Jangan beli yang itu, nanti tidak cukup!

Lanjut, pada poin pertama tadi, mengenalkan uang ke anak melalui konsep menabung, hendaknya tetap dipertahankan di sini. Sebab, anak sudah mendapatkan “pendapatan” melalui uang saku tadi.

3. Fase Remaja Usia 13-17 Tahun

Namanya remaja atau anak muda, kemungkinan besar daya pemahamannya sudah cukup bagus. Informasi yang didapatkan pun sudah lumayan melimpah. Apalagi dengan perkembangan teknologi sekarang, remaja sudah mengakses dari berbagai sumber. Selain itu, pergaulannya juga meluas. Mungkin tidak hanya teman sekelasnya, tetapi sudah merambah satu sekolah, antarsekolah, antardaerah, kecuali antariksa. Halah, mau ketemu alien apa?

Meskipun demikian, jangan biarkan anak remaja kita melangkah sendiri ya! Tetap pandu dan perhatikan mereka. Pada fase ini, yang sering menjadi masalah adalah komunikasi antara orang tua dan anak. Makanya, orang tua jangan lepas tangan. Ini bukanlah atraksi naik sepeda. Jangan sampai remaja kita mendapatkan informasi yang salah dari internet atau temannya, tanpa kita menjelaskan yang benar kepada mereka.

Saat usia remaja ini, mengenalkan uang ke anak tersebut bisa mulai diajarkan tentang investasi. Tadi menabung sudah, sedekah sudah, sekarang investasi. Anak remaja perlu dipahamkan tentang investasi yang benar, dan mana investasi yang salah. Tanda investasi itu benar adalah dilindungi oleh OJK alias Otoritas Jasa Keuangan.

Ada banyak investasi yang bisa diajarkan ke anak remaja kita. Seperti: investasi tanah, emas, surat berharga, saham, obligasi, sampai dengan reksadana. Cek lebih dalam tentang investasi tersebut, dan usahakan terhindar dari praktik-praktik yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kalau agama lain, ya, terserah mereka saja toh.

Kesimpulan

Uang memang bukan segala-galanya, tetapi ternyata segala-galanya butuh uang. Uang bisa membantu meraih kebahagiaan, bisa juga menyebabkan kesedihan yang tak bertepi. Wuih.

Anak-anak yang nantinya Insya Allah akan menjadi dewasa sangat perlu diberikan literasi yang cukup tentang keuangan. Harapannya, mereka akan lebih bijak dalam menggunakan uang, jangan terlalu boros, juga jangan terlalu pelit. Orang tua juga mesti mengajarkan bahwa uang itu letaknya di tangan saja, jangan di hati. Sebab, kalau sudah di hati, maka bisa menghalalkan segala cara untuk meraih uang.

Jadi, mengenalkan uang ke anak sesuaikan dengan kondisi dan fase umur mereka. Setuju? Kasih komentar di bawah ya!

Baca Juga: 3 Sikap Memanjakan Anak Remaja yang Perlu Orang Tua Tahu

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.