3 Dampak Asap Rokok Bagi Balita

3 Dampak Asap Rokok Bagi Balita

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Saya memang punya beberapa teman yang perokok. Sudah banyak kali pula, mereka merokok di dekat saya. Namun, sebenarnya saya ini ingin menjadi seperti pom bensin. Lho, maksudnya?

Kalau tidak salah ingat, dulu ada seorang artis yang awalnya memang seorang perokok. Dia perempuan lagi. Namun, setelah menyadari kesalahannya, dia menjadi anti dengan rokok. Bahkan, orang-orang yang mendekati dan merokok, akan dia tegur. Mirip seperti pom bensin bukan? Saya juga ingin seperti itu. Cukup makna filosofis mencegah dari asap rokok, bukan yang kaitannya dengan menaikkan harga BBM lho!

Nah, teman saya yang perokok itu ada yang punya anak kecil. Mungkin ada yang masih bayi, balita, masuk TK, SD, dan sebagainya. Saat di tempat kerja, dia merokok, saya jadi membayangkan, apakah di rumah juga? Secara wajar dan dapat dipastikan, bahwa di rumah pun begitu. Lalu, bagaimana dengan anak-anaknya? Istrinya? Kucingnya? Ikan cupangnya? Apakah mereka terganggu juga? Saya kok yakin, keluarganya pastilah terganggu.

Asap rokok memang bisa menyebar ke mana-mana tanpa harus disuruh. Selain itu, asap tersebut bisa menempel di baju, badan, bahkan perabotan rumah. Jika ada anggota keluarga yang tinggal bersama si perokok, maka peluangnya sangat besar untuk menjadi perokok pasif. Biasanya si ayah yang merokok atau disebut perokok aktif, maka istri dan anak-anaknya yang jadi perokok pasif. Hem, atau dibalik saja ya?

Merokok ini memang tidak bagus. Saya mendengar sendiri dari seorang perokok berat bahwa dia tidak bisa menghentikan kebiasaannya tersebut. Mungkin kalau sudah mati, baru bisa benar-benar berhenti merokok bukan? Eh, bukan pakai kata “mungkin”, karena pasti berhenti. Tidak pernah bukan ada jenazah dikuburkan dengan rokok-rokoknya? Masa dengan alasan, “Ini masih satu slop, tanggung, buat menemani di sana!”

Meskipun saya bukan keluarga mereka, tapi saya bisa merasakan bahwa keluarga itu menderita. Meskipun yah tidak ditampakkan, tetapi dalam hatinya, mereka menghendaki si ayah atau siapapun di situ yang merokok untuk berhenti, soalnya pastilah ada dampaknya, terutama untuk anak balitanya. Nah, apa saja itu?

Akibat Asap Rokok Bagi Balita

Apakah ada dampak rokok bagi balita yang positif? Setahu saya tidak ada, kecuali kepanjangan dari positif itu yaitu: pokoknya hisap terus secara aktif. Agak maksa sih, tapi tidak apa-apa, lah. Murid kalau tidak dipaksa, tidak mau maju ke kelas juga kok! Ya ‘kan?

1. Infeksi Paru-paru

Organ paru-paru adalah untuk pernapasan. Hal ini sudah diterangkan dalam pelajaran Biologi zaman dulu. Kamu tidak bolos toh?

Asap rokok dapat berdampak pada balita sampai menyebabkan pneumonia, bronkitis, atau bronkiolitis. Apa itu pneumonia? Ini adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Gejalanya bisa mulai dari yang ringan sampai berat. Penderita pneumonia biasanya batuk berdahak, demam, dan sesak napas. Nah, saat balita terkena seperti itu, kira-kira si ayah yang perokok merasa kasihan atau tidak ya? Oh, pneumonia ini bisa disebut juga dengan paru-paru basah.

Sedangkan bronkitis adalah iritasi atau peradangan di dinding saluran bronkus. Itu adalah pipa saluran yang menyalurkan udara dari tenggorokan ke paru-paru. Si kecil yang mengalami bronkitis akan batuk berdahak. Ini pasti akan merepotkan orang tuanya karena jadi rewel. Saat tengah malam, anak balita terbangun lalu batuk-batuk berdahak, si ayah masih tidak kasihan?

Kalau bronkitis itu menyerang saluran udara antara tenggorokan dan paru-paru, sedangkan bronkiolitis menyebabkan radang dan penyumbatan di bronkiolus. Itu adalah saluran pernapasan terkecil di paru-paru.

Bayangkan jika ada anak balita mengalami sekaligus tiga penyakit itu. Kasihan, sungguh kasihan. Dia masih kecil, tetapi sudah terkena penyakit yang cukup berat. Sekali lagi, bagaimana perasaan si ayah ya? Kan gara-gara dia yang merokok hingga anaknya yang balita jadi korban.

2. Infeksi Telinga

Tadi membahas infeksi yang terjadi di paru-paru, rupanya dampak asap rokok bagi balita adalah bisa menyebabkan infeksi telinga? Lho, yang betul? Bukankah orang yang merokok di dalam rumah itu merokoknya di mulut? Kenapa telinga yang terkena?

Ternyata, suhu yang ada pada telinga bagian tengah dalam memang cenderung hangat serta lembab. Akibatnya, bakteri di tempat tersebut lebih mudah berkembang biak. Perlu diingat, bahwa suhu di situ adalah temperatur, bukan suhu yang ahli di dunia persilatan dan dunia jual beli online.

Jika balita yang menjadi perokok pasif terkena infeksi telinga, maka harus segera mendapatkan pengobatan khusus. Kira-kira, bagaimana perasaan si ayah atau siapapun keluarganya yang merokok dan tinggal dalam satu rumah itu saat mengantar anak balita ke rumah sakit? Masih mau merokok?

3. Perkembangan Janin Bisa Terganggu

Bukankah peringatan rokok dulu memang bisa menyebabkan gangguan kehamilan dan janin? Yang terganggu ini adalah janin istrinya, masa si perokok atau si ayah misalnya punya janin? Yang ada mungkin dulu penggemar grup band rock Janin Roses! Itu maksudnya Gun N Roses. Halah…

Kalau si ibu yang hamil merokok, maka dampak asap rokok tentu dapat mengalir ke janinnya. Apa saja sih selain mengganggu perkembangan janin? Rupanya dapat menyebabkan kelahiran bayi prematur, berat badan bayi yang lahir rendah, bahkan sampai ada kemungkinan terjadi SIDS (sindrom bayi mati mendadak). Selain itu, dapat menyebabkan keguguran, bayi dalam kondisi cacat setelah lahir, detak jantung yang meningkat pada janin, sampai dengan gangguan plasenta seperti: solusio plasenta dan plasenta pervia.

Masih Mau Merokok?

Banyak dampak buruk asap rokok untuk anak balita dan keluarga secara umum, tetapi mengapa masih belum berhenti juga? Salah satunya memang karena ketagihan. Ini tentu tidak ada hubungannya dengan tagihan listrik, telepon, dan PDAM lho!

Bagaimana tidak, mereka belajar sejak lama untuk bisa merokok. Padahal, merokok itu awalnya memang tidak enak. Saya sendiri pernah mencoba merokok waktu SMP dan SMA. Hanya sekadar mencoba, satu atau dua hisap saja. Setelah itu, rokok tersebut saya buang beserta semua isi bungkusnya. Namanya remaja, rasa ingin tahunya besar toh?

Para perokok itu tidak mau berhenti karena berada di lingkungan para perokok juga. Bahkan, ada satu instansi yang rata-ratanya saya lihat isinya adalah para perokok dan tidak mau sholat. Dobel banget dosanya bukan?

Mereka yang berada di lingkungan perokok cenderung untuk tetap merokok karena merasa ada temannya. Bahkan, mereka tidak takut mati. Soalnya, kalau mati, kan bisa pinjam korek temannya. Begitulah bahasanya.

Namun, marilah kita berpikir. Kebahagiaan keluarga itu ‘kan memang saat berkumpul di rumah. Itu dalam urusan atau perkara dunia, lebih nyaman lagi tentu kalau bisa berkumpul di dalam surga. Berkumpul untuk bersenang-senang selama-lamanya, hidup abadi di sana.

Jika merokok sekarang, bukankah itu memang hukumnya haram, ya ‘kan? Malah ada yang menganalogikan dengan bunuh diri. Yang namanya bunuh diri itu jelas arahnya ke neraka, bukan ke surga. Jadi, buat apa bunuh diri sekarang secara perlahan-lahan? Apakah hidupnya memang tidak bahagia? Merokok dikatakan bisa membuat bahagia, di neraka kok cari bahagia? Oh, atau sebelum benar-benar jadi penghuni neraka, belajar dulu akrab dengan api ya?

Yuk, jadi orang tua yang tidak egois. Tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi menyiksa anak dan istrinya. Secara logika, kita mau dong bersama anak-anak kita sampai mereka dewasa. Saya masih ingat, ada keuntungan orang yang merokok. Pertama, rumahnya aman, karena tiap malam selalu batuk-batuk, maling pun pikir-pikir kalau mau beraksi, karena tuan rumah selalu terbangun.

Kedua, mengentaskan kemiskinan. Banyak pekerja di pabrik rokok, jadi katanya bisa membantu ekonomi. Kalau untuk urusan ini, saya teringat seorang pelawak Jogja. Jika dia menjadi caleg atau kepala daerah begitu, visinya adalah menaikkan taraf kemiskinan. Dari yang awalnya di bawah garis kemiskinan, menjadi pas di garis kemiskinan!

Dan, yang ketiga adalah awet muda. Nah, sampai di sini, masih mau merokok? Masih mau mengorbankan anak-anak kita yang masih balita? Padahal kita berusaha untuk punya anak, betapa banyak orang tua tidak punya anak, kok sekarang sudah punya anak, mau dibikin celaka dan sakit? Hem dan hem…

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.