Saat Anak Terjatuh, Hati-hati dengan Ucapan Tidak Apa-apa

Saat Anak Terjatuh, Hati-hati dengan Ucapan Tidak Apa-apa

Share This:

Namanya anak-anak, ada saatnya memang terjatuh. Dan, biasanya terjatuhnya ya ke bawah. Ada orang tua yang mengatakan, “Tidak apa-apa, Nak.” Apakah ini benar diucapkan saat anak terjatuh?

Anak yang terjatuh bisa disebabkan oleh banyak hal. Mungkin dia jatuh sendiri, sedang berlari mengejar saudara atau temannya. Bisa juga dijahili temannya, atau sedang mengejar hewan kesukaan. Asalnya hewan tersebut memang pantas untuk dikejar, seperti kucing. Susah ‘kan kalau anak sedang mengejar semut!

Dapat juga, anak terjatuh dari sepeda. Mungkin baru belajar pakai sepeda, ketakutan, dan akhirnya tidak mau mengayuh lagi. Ini pernah saya alami. Saya sedang belajar naik sepeda yang agak besar. Pas takut mengayuh lagi, eh, saya jatuh ke kiri lagi. Bukan ke kanan. Padahal, mestinya seperti yang dikatakan oleh para motivator, kita harus berprinsip kanan daripada kiri. Ah, bingung deh!

Baca Juga: Tidak Lagi Dianggap Anak dan Dicoret dari Kartu Keluarga? Ini Contohnya!

Orang tua yang mencoba bijak, berusaha untuk menenangkan si anak. Caranya dengan mengatakan, “Tidak apa-apa, Nak.” Atau dalam kalimat lain, “Halah, gitu aja nggak usah menangis.” Dalam kalimat lain pula, “Jangan menangis, Nak, itu cuma luka kecil.”

Ekspresi Wajah

Kan kelihatan wajah anak jika sedang kesakitan saat anak terjatuh itu. Mana mungkin dia tertawa terbahak-bahak, lalu bapaknya bertanya, “Kenapa, Nak?” Si anak menjawab, “Habis jatuh ini, Pah, hahaha…” Kalau ini yang aneh anaknya atau bapaknya ya?

Secara umum, saat anak terjatuh, dia akan menunjukkan ekspresi sakit sekaligus bingung. Seperti pada dua paragraf di atas, langsung menenangkan, ternyata justru tidak tepat. Tidak baik. Kurang fundamental. Ini istilah yang membingungkan orang tua juga.

“Pertama-tama, orang tua harus menyatakan yang jelas dengan membuat pernyataan seperti, ‘Bunda melihat Kakak/Adik jatuh dari sepeda ‘ atau ‘Ayah tahu Kakak/Adik takut ketika jatuh,’. Validasi apa yang dirasakan anak dengan mengatakannya, bukan mengesampingkannya,” kata Dr. Karol Darsa. Beliau ini adalah seorang psikolog yang memiliki spesialisasi pada bidang trauma. Pernyataannya dikutip dari PureWow.

Saat anak terjatuh, contohnya lututnya yang terhantam tanah, maka kondisi anak perlu dipahami oleh orang tua. Anak-anak membutuhkan hal tersebut. Bagaimana caranya? Dr. Karol menjelaskan lagi bahwa kuncinya adalah menjaga suara tetap netral. Artinya suara di sini adalah suara orang yang mengetahui anak tersebut terjatuh. Bisa orang tua, saudara, tetangga, maupun kerabat. Orang yang dewasa yang menemukan mesti tenang dan jangan menunjukkan kepanikan.

Memvalidasi Perasaan Pada Anak

Ketika tenang itulah, maka katakan kepadanya bahwa kita akan membantunya, selalu akan ada di sampingnya. Lukanya coba dilihat, apakah termasuk luka yang parah atau tidak? Cari tahu tentang luka tersebut, sambil tetap tenang. Cool.

Mengapa harus tetap tenang? Sebab, anak adalah peniru yang baik dari orang tuanya. Jika orang tuanya terlihat panik, maka anak akan belajar bahwa jatuh atau terluka itu hal yang menakutkan. Padahal, dalam hidup ini, jatuh atau terluka itu hal yang biasa.

Menangis saat anak terjatuh itu bukanlah suatu masalah. Orang tua cukup memeluknya dan berilah ucapan ketenangan. Tambahkan pula, lukanya akan diperiksa dengan baik.

Ketika orang tua justru mengatakan, “Ah, gitu aja kok nangis?” Maka itu sama saja dengan mengabaikan atau merendahkan perasaan si anak. Pada akhirnya itu akan menimbulkan “luka” pada mentalnya.

Saling Memahami

Jatuh, selama itu masih kategori aman, maka orang tua perlu mengambil sikap untuk menenangkan si anak. Nyatanya, jatuh itu memang sakit. Nyatanya, jatuh itu memang menimbulkan luka. Bayangkan orang tua sendiri yang mengalami seperti itu, lalu ada yang bilang, “Halah, cuma gitu aja, santai saja, Bro!” Bukankah hal itu sangat menyakiti perasaan? Orang yang sakit butuh dikuatkan, tetapi bukan dengan cara seperti itu. Orang dewasa seperti orang tua itu patut mengerti, bahwa anak-anak lebih butuh untuk didampingi, belum bisa mandiri.

Baca Juga: 3 Tips Mengenalkan Uang ke Anak Sesuai Fase Umur

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.