Aku Bukanlah Pelakor [Diangkat Dari Kisah Nyata]

Aku Bukanlah Pelakor [Diangkat Dari Kisah Nyata]

Share This:

Sebuah kisah nyata. Bagaimana aku tidak sedih, tuduhan sebagai pelakor sempat tersemat. Aku yang masih belum menikah ini, mendapatkan tuduhan keji seperti itu, justru bukan dari orang lain. Tapi, dari bagian keluarga besarku sendiri. 

Itulah membuatku jadi semakin sedih. Bukankah setiap orang itu memang ada keluarganya? Bukankah pula setiap orang itu pasti berasal dari sebuah keluarga? Dan, bukankah pula, tempat kembali setiap orang itu adalah keluarga setelah berkelana atau beranjangsana untuk mencari sekeping dunia? Harta yang paling berharga adalah keluarga. Begitulah soundtrack dari sinetron “Keluarga Cemara”. Sekarang sinetron tidak pernah kutemukan yang sangat bagus seperti itu. Ya, sejak negara api menyerang!

Bagaimana ceritanya aku bisa dituduh seperti itu? Apakah kamu mau tahu? Baiklah, kalau banyak di antara kamu yang memang ingin tahu, bahkan sampai kepo, inilah dia awalnya. Kisah nyata ini berasal dari sini.

Pernikahan Sepupu

Pernikahan
Hal yang Menjadi Bagian Terindah Hidup Seseorang adalah Pernikahan

Aku tinggal di sebuah pulau yang cuma bisa dijangkau dengan kapal. Kamu tidak perlu tahu tempat itu. Yang jelas, tempat itu ada di Indonesia. Begitu saja. Nah, ada acara pernikahan oleh keluarga besarku, di wilayah daratan. Otomatis, aku ke sana dengan kapal kayu. Diteruskan dengan mobil angkutan umum yang lumayan menguras tenaga. Lelah. Seperti itulah safar atau perjalanan jauh. Bagian dari adzab atau siksaan. Senyaman-nyamannya alat transportasi, tetap rasa lelah itu selalu muncul.

Kisah ini memang sudah lama, tapi masih terngiang-ngiang dalam pikiranku. Itulah makanya, perlu dituliskan seperti ini, agar kamu yang membacanya bisa lebih tahu. Juga menjadi hikmah bagi orang lain agar yang seperti ini tidak terjadi lagi. Setuju `kan kamu?

Waktu itu, aku jadi lebih mengenal keluarga besar di wilayah lain. Ya, dengan acara itu, rupanya jadi bisa menambah silaturahim. Sebenarnya sih begitu. Idealnya sih silaturahim itu bisa terjalin dengan erat. Tapi, awal mulanya adalah ketika pamanku alias omku melihatku. Dia langsung menarikku waktu acara akad nikah. Terus, dia bilang ke penghulu, “Pak, ini saya mau menikah juga. Ini calon istriku!”

WHATSSS!!!

Apa dia bilang? Aku calon istrinya? Tidak salahkah itu? Apakah ini mimpi? Aku kenal dia juga tidak, baru tahu ada omku yang seperti itu. Tiba-tiba, dia ingin menjadikanku istrinya? Astaga, cobaan apa ini?

Ya, sejak kejadian aneh itu, aku mulai merasa tidak nyaman. Omku itu terus mendekatiku. Meskipun, aku tahu dia itu kerabat, tapi kelakuan anehnya makin terlihat. Suatu malam, aku ingin ke luar makan malam bersama saudara-saudara yang lain. Dia melihatku ke luar. Nah, rupanya, dia meminta izin untuk mengajakku makan. Cuma berdua! Awalnya aku tidak mau, tapi setelah berbagai bujukan dan rayuannya kepada keluarga, aku pun diizinkan untuk makan berdua dengannya. Tapi, ada syaratnya, aku ingin mengajak juga adikku.

Ketika berada di restoran itu, dia mulai kegatelan. Bagaimana bisa? Temannya melihat dia makan dengan aku dan adikku. Temannya menyapa sekadar basa basi. Dia memperkenalkan aku dengan cara begini, “Perkenalkan, ini calon istriku!”

YA ALLAH…

Ini orang kenapa tingkahnya kok makin tidak karuan? Menebar fitnah ke orang lain bahwa aku sudah akan jadi miliknya secara halal? Namun, itu masih bisa kutahan dengan sabar. Kejadian berikutnya lebih dahsyat lagi. Tetap simak ya…!

Chat Demi Menjaga Perasaan

whatsapp
Chat Whatsapp Bertubi-tubi Menghantamku

Omku masih bergerilya untuk mendapatkanku. Oh, ya, perlu kamu tahu, dia itu sudah menikah dan punya anak. Tapi, aku mendapat kabar bahwa dia akan bercerai dengan istrinya. Keduanya adalah pegawai. Aku tidak tahu masalah yang menjadi penyebab hubungan pernikahan mereka retak.

Rupanya, aku juga tahu bahwa dia sudah dua kali menikah. Yang pertama lebih singkat daripada sekarang. Aku heran, menikah kok jadi seperti dipermainkan ya? Padahal menikah itu adalah sesuatu yang sakral dan sangat erat kaitannya dengan agama seseorang.

Bagaimana cara om itu melancarkan serangan? Kalau dekat, dengan bertemu, kalau jauh, lewat serangan udara. Tentu ini dengan pesawat, tapi pesawat telepon alias HP. Dia berhasil mendapatkan nomorku. Dan, dia selalu berusaha untuk meneleponku. Hampir tiap hari, dia melakukan hal itu. Istrinya pun tampak curiga, dengan orang yang sering ditelepon oleh suaminya.

Aku sebenarnya capek diserang seperti itu. Kadang, aku tidak angkat teleponnya. Rupanya, yang tadinya plan A, diubah jadi plan B. Dia telepon ibuku dan meminta bicara denganku. Alhasil, ibuku pun menyerahkan alat itu ke aku. Dan, akhirnya aku pun melayani pembicaraan teleponnya.

Tidak cuma lewat serangan lisan, tapi juga tulisan. Lewat apa? Seperti kamu juga yang sering pakai, yaitu: Whatsapp. Dia chat denganku juga dalam waktu yang tidak sedikit. Tapi, karena aku sebenarnya sudah bosan, jenuh dan jengkel dengan pendekatannya yang justru tidak membuat simpati, maka aku membalas chat itu dengan sewajarnya. Secukupnya. Sering dengan “ya” atau “tidak”. Cuma itu.

Aku tetap membalas chat itu untuk menjaga perasaannya. Kasihan `kan kalau chat tidak dibalas, apalagi sekali lagi, dia masih termasuk keluarga. Namun, urusan menjaga perasaan ini, justru malah melukai perasaan. Ketika ada orang yang melabeliku dengan “pelakor”. Perebut laki-laki orang!

Istrinya Ikut Menyerang dengan Marah

Marah
Marah yang Salah Tempat Selalu Menimbulkan Keburukan

Pasangan suami istri yang aneh! Bahkan bisa dikatakan kurang masuk di akal! Kalau bukan keluargaku, mungkin aku sudah maki-maki mereka. Tapi, mereka berada karena hubungan pernikahan, kaitannya juga dengan hubungan darah. Istrinya menemukan aku chat dengan laki-laki itu. Dan, tanpa berpikir panjang, aku disemprot dengan kata-kata yang luar biasa pedas, menusuk ke dalam hati.

“Kamu ini jangan ganggu suamiku ya! Kenapa kamu ini kelakuannya macam begitu? Sadar, kamu ini seorang muslimah!”

Begitulah, kalimat-kalimat yang tidak terkontrol, layaknya senapan mesin, memberondongku bertubi-tubi. Aku sangat sedih. Apa salahku? Tuduhan pelakor itu adalah tuduhan yang sama sekali tidak berdasar. Apakah aku ini tampak merebut suami orang? Kalau ada bukti, tunjukkan yang mana? Kalau ada saksi juga, silakan ajukan!

Rupanya, istrinya alias tanteku menuduhku selalu chat dengan omku. Astaga, aku sudah mengatakan bahwa aku chat demi menjaga perasaannya. Kasihan jika tidak dibalas, nanti dikira tidak menjaga silaturahim. Aku pun menjelaskan bahwa aku sudah blokir nomor WA suaminya. Tapi, tanteku masih tidak percaya. Terus menghantamku dengan telak. Ya Allah, ujian ini begitu berat kuhadapi.

Urusan itu makin diperpanjang dengan “promosi” lewat media sosial. Status-statusnya menyudutkanku, makin aku dianggap sebagai pelakor. Luar biasa ngawurnya!

Habis istrinya memarahiku seperti orang kesetanan, berikutnya suaminya masuk lagi. Yang ini dia mengatakan minta maaf, menyesal dan menyayangkan istrinya berbuat seperti itu. Bahkan sambil menangis-nangis. Astaga, air mata buaya! Justru karena kelakuanmu itu, semuanya jadi begini! Dia masih tidak sadar.

Akhirnya, demi menjaga perasaanku sendiri yang sudah tercabik-cabik dan terkoyak-koyak, aku memblokir juga tanteku itu. Ya, aku blokir kedua pasangan mengherankan itu. Apakah itu dianggap memutuskan tali silaturahim? Aku kira tidak, karena jika kubuka lagi, serangan itu masih akan muncul.

Perasaanku yang lebih penting. Makanya, aku tidak mau seperti itu. Apalagi, waktu itu, aku masih dilanda sakit. Ya, sakit di badan, sakit juga di hati. Ya Allah, aku menyerahkan urusan ini kepadamu.

Pesanku lewat tulisan ini, hati-hatilah dengan urusan perasaan, cinta, atau apapun namanya. Apalagi menyangkut dengan urusan rumah tangga orang lain. Sebutan pelakor itu cukup tajam mengiris perasaan. Beneran!

Salah seorang penulis ternama mengatakan bahwa tidak semua bisa dianggap pelakor. Dikatakan sebagai pelakor, kalau suami menceraikan istri pertama, terus memilih si perempuan baru. Meskipun ini juga kondisional. Tidak semua digeneralisir.

Sedangkan kalau istri pertama masih dipertahankan dengan baik, lalu juga memilih yang kedua dengan proses halal, maka itu namanya PELOPOR. Sementara yang masih baik-baik saja dengan istrinya tanpa ada gangguan, maka itu bisa disebut dengan Peserta Rakor.

Lain lagi, dengan pelakor kaitannya dengan urusan pekerjaan. Maka, di sini namanya pegawai lambat berkantor. Sering telat! Apakah kamu seperti itu? Maaf, aku coba menghibur diri.

Semoga ceritaku ini bermanfaat untuk kamu, Sahabatku semua. Silakan share juga kisah ini, agar menjadi pembelajaran untuk tidak terulang lagi. Aamiin..*

Baca Juga: Sepeda Cinta [Terinspirasi Dari Kisah Nyata]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Share This:
error: Content is protected !!