Press "Enter" to skip to content

[Kisah Fiktif] Ke Mana Suamiku?

Admin
Share This:

Biasanya, jika sudah malam begini, suamiku pulang dari masjid, sehabis sholat Isya berjamaah. Biasanya pula, dia datang membawakan aku sesuatu. Paling sering, dia memberiku goreng-gorengan. Ya, meskipun murah dan mudah didapat di mana saja, tetapi tetap bernilai istimewa bagiku. Oh, suamiku, di manakah dirimu sekarang?

Aku menikah dengannya tidak lewat proses pacaran. Aku yang telah bernadzar untuk bercadar setelah lulus kuliah, tidak pernah memperlihatkan wajah kepada laki-laki lain yang bukan mahromku sejak saat itu. Aku hanya akan menghadiahkan wajah cantikku ini kepada suamiku kelak. Biarlah, hanya suamiku dan keluargaku saja yang tahu wajahku. Dan, tentu saja, cuma suamiku yang bisa menikmati wajah ini. Namun kini, di manakah dia berada?

Suamiku adalah seorang aktivis dakwah. Dia aktif di sebuah organisasi Islam yang cukup terkenal di negeri ini. Dia duduk sebagai ketua yang membidangi ekonomi dan pengembangan usaha. Kesibukannya di luar memang menjadikanku bangga. Betapa cukup susah mencari pemuda zaman sekarang yang mau menggunakan waktunya untuk berdakwah.

Baca Juga: Renungan Penuh Hikmah Saat Mengambil Uang di ATM

“Berapa nomor HPmu, Sayang?” Tanya suamiku waktu itu. Aku bersyukur karena suamiku baru tahu nomor HPku setelah menikah. Bayangkan itu! Jarang bukan seperti yang kualami itu?

Aku juga mulai merasakan indahnya pacaran setelah pernikahan. Benar juga seperti yang dikatakan dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang penulis muda. Pacaran itu memang lebih enak bila sudah resmi dan sah, secara agama dan negara. Kita bisa bebas berpacaran, mulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, sampai yah – kau tahu sendiri kan? Tidak perlu takut ditangkap aparat atau patroli. Soalnya memang sudah ada bukti otentiknya.

Aku makin merasakan hidupku ini berarti sesudah menikah. Aku jadi menemukan ketenangan hidup bersama pasangan yang kucintai. Canda-candanya, tawa-tawanya, cubit-cubitan kecilnya benar-benar berkesan bagiku. Ini yang tidak kudapatkan sebelum menikah. Pokoknya, susah memang kalau belum menikah!

***

Hanya, kenangan itu berubah pelan-pelan seiring berjalannya usia pernikahan kami yang menginjak dua tahun. Kami memang belum dikaruniai anak, meski kami selalu berusaha dan berdoa. Suamiku sudah jarang lagi aktif di organisasi agamanya. Dia pernah bilang kepadaku,

“Suci, aku itu tidak mau lagi berdakwah untuk organisasi.”

“Kenapa begitu, Bang? Bukankah organisasi itu hanya sarana saja?”

“Tidak, Suci. Organisasi itu kurasa malah jadi tujuan dakwahku. Organisasi itu malah membebaniku untuk memasukkan sebanyak-banyaknya orang ke dalamnya. Itu yang kupusingkan sekarang.”

“Tapi kan, Bang, dakwah itu akan lebih tertata kalau dengan organisasi. Dengan organisasi, maka ada pembagian kerja kan?” Kukeluarkan ilmu aktivisku dulu waktu di kampus.

“Tidak bisa begitu, Istriku. Organisasi itu hanya akan ditumpangi orang-orang tertentu saja. Kau lihat ‘kan, sudah banyak organisasi Islam yang lain tumbang karena masalah pertentangan kepentingan di dalamnya? Juga karena ada masalah politik? Aku tidak mau seperti itu, Suci. Aku ingin berdakwah, ya, semata-mata karena Alloh Subhanahu Wa Ta`ala, bukan demi organisasi.”

“Jadi, maunya Abang ini keluar dari organisasi begitu?”

Suamiku mengangguk.

“Terus, bagaimana dengan rencana organisasi untuk membangun sekolah dan pesantren penghafal Qur`an? Apakah itu juga mau Abang tinggalkan?”

Suamiku masih diam.

“Bang, jalanlah dengan organisasi itu. Biarlah Alloh nanti yang membalas semua amal dan kerja Abang.” Kudekati suamiku, lalu kupeluk dia dari belakang.

“Tetap tidak bisa, Suci. Tidak bisa!”

***

Sejak saat itu, suamiku mulai berubah. Telepon-telepon atau SMS-SMS dari kawan-kawannya sesama ikhwan atau ikhwah tidak dihiraukannya. Aku juga tidak mungkin menjawab panggilan mereka karena mereka bukan mahromku. Lalu, mereka bertanya melalui istri-istrinya – teman-temanku juga, mengapa suamiku berubah? Kukatakan saja bahwa suamiku sedang butuh penyegaran. Beban kerjanya di organisasi mungkin dirasa makin berat.

Baca Juga: 5 Ciri Penting Jika Anda Cerdas Atau Pintar

Perubahan pada diri suamiku tidak hanya saat dia mulai keluar dari organisasi, tetapi juga dari kebiasaan barunya. Setelah sholat Isya, dia makan malam denganku. Lalu, satu jam kemudian, dia pergi lagi. Ketika kutanya, dia cuma menjawab, “Aku menenangkan diri dulu.”

Hal itu terjadi selama beberapa malam. Ternyata, baru kutahu bahwa suamiku ke kuburan salah seorang imam masjid yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Anehnya, pemikiran imam itu tentang Islam berbeda dengan suamiku dan organisasinya. Mengapa sekarang, suamiku mau mendekat ke sana?

Suamiku juga mulai merokok lagi. Ini yang termasuk paling aneh. Dulu dia mengatakan bahwa rokok itu haram sesuai dalil, fatwa ulama dan hati nuraninya, sekarang kok mau dilakukannya lagi? Lalu, apa yang dia bilang?

“Kau tahu, Suci, rokok ini tidak akan bisa membawa penyakit bila tidak dengan izin Alloh. Makanya, kalau Alloh berkehendak aku kena penyakit, ya, kena penyakit, meskipun tidak dengan rokok ini. Banyak orang kena penyakit bukan karena rokok. Kalau takut dengan rokok, maka itu namanya syirik!”

Kurenungkan makin dalam, sungguh pemikiran yang bodoh! Dari siapa sih suamiku dapat penafsiran seperti ini?

Dia juga malas-malasan bekerja. Pekerjaannya sebagai tukang kue keliling sedikit demi sedikit ditinggalkannya. Katanya,

“Rezeki itu sudah dijamin sama Alloh, Suci! Kita tidak perlu susah-susah cari rezeki. Toh, rezeki itu akan datang dengan sendirinya. Tidak harus dengan bekerja. Kau lihat bukan, banyak orang yang bisa dapat rezeki, dapat uang, tanpa bekerja, karena kuatnya ibadah mereka?”

Aku cuma menggeleng-geleng. Suamiku memang sudah berubah pikiran. Sepertinya ada orang yang telah menyuntikkan racun pemikiran ke otaknya. Namun, siapa? Aku sendiri masih bingung.

***

Puncak dari itu semua adalah saat suamiku memutuskan untuk meninggalkanku. Katanya, dia mau menyebarkan Islam ke berbagai daerah.

“Islam ini tersebar sama manusia, Suci. Makanya itu, sebagai manusia, maka aku harus menyebarkan agama ini ke seluruh alam. Agama ini tidak akan berkembang kalau aku dan kau cuma tinggal dalam rumah busuk ini!”

“Tapi, Bang, apa kau mau meninggalkanku tanpa nafkah? Sementara Abang sendiri sudah lama tidak punya penghasilan karena tidak bekerja. Roti sudah diambil sama Mang Abul. Abang kini juga tidak punya uang, lalu bagaimana dengan belanja-belanja kita, Bang? Utang kita makin banyak, Bang! Apa Abang mau lari begitu saja?”

Suamiku itu malah tertawa-tawa saja!

“Kau jangan punya pemikiran yang kolot dan tolol seperti itu, Suci. Alloh itu menanggung rezeki setiap hamba-hambaNya. Kau lihat bukan, tidak ada makhluk melata di dunia ini yang tidak ada rezekinya? Semuanya ada! Kenapa kau ini musti bingung?”

“Iya, Bang, hewan-hewan itu tidak ada yang tidak ada rezekinya. Tapi Bang, hewan-hewan itu juga berusaha. Mereka juga bekerja untuk dapat makan. Sementara Abang, hanya santai-santai saja. Merokok terus! Nggak mau lagi kerja! Apa Abang ini derajatnya lebih rendah daripada hewan?” Makin emosi aku dibuatnya.

BRAKK!!!

Aku merintih kesakitan saat suamiku mendorongku dengan keras hingga menabrak meja kayu yang sudah reyot. Punggungku terasa sakit sekali. Kupegangi. Terasa seperti ada yang patah. Aku menangis keras.

“Camkan itu, Suci! Jangan takut dengan jaminan rezeki dari Alloh. Selama ada Alloh, maka selama itu pula rezeki akan mengalir untukmu. Aku mau pergi, Suci. Banyak orang yang menunggu untuk kudatangi untuk kukenalkan Islam. Banyak orang di luar sana yang tidak mengerti Islam. Makanya, mereka perlu kudatangi. Mereka adalah orang-orang yang bodoh tentang agama ini. Ini adalah panggilan tugasku, Suci. Selamat tinggal. Wassamualaikum.”

Suamiku meninggalkanku dengan luka amat kesakitan seperti itu. Dia langsung pergi tanpa memeriksa sakitku ini.

“Aduh, Ya Alloh, kenapa suamiku jadi begini?” rintihku. Lalu aku pun pingsan.

***

Memang benar yang dikatakan oleh suamiku dulu, rezeki itu selalu ditanggung oleh Alloh Subhanahu Wa Ta`ala. Tidak kita minta saja, Alloh begitu baik memberikan kita rezeki. Apalagi kalau kita meminta dengan doa yang tulus.

Sejak kepergian suamiku yang entah ke mana itu, aku menjalani hidup yang sunyi di rumah mungil ini. Aku sudah membuka cadarku, bahkan membuka jubahku. Bajuku kini biasa-biasa saja.

Aku bekerja sembarang untuk mencukupi kebutuhanku dan calon anakku ini. Rupanya, inilah titipan dari suamiku. Dia pergi meninggalkan beban yang makin bergejolak di dalam perutku. Astaqfirulloh, baru saja aku melakukan kesalahan. Anak ini bukan beban, tetapi dia adalah rezeki. Namun, apakah benar begitu? Lalu, kuatkah aku menanggung ini sendirian?

Kuputuskan untuk melanggar nadzarku dengan membuka cadar bahkan pakaian muslimahku semata-mata karena aku benci sekali dengan suamiku. Keluargaku yang dulu tidak menyetujuiku bercadar dan berjubah, kini mereka semakin senang kepadaku.

Rupanya, hanya karena masalah seperti ini saja, aku melanggar perjanjianku dengan Alloh Subhanahu Wa Ta`ala. Cuma karena suami yang minggat, aku melalaikan kewajibanku. Masih pantaskah aku menjadi istri yang baik? Ah, rupanya itu cuma angan-angan saja.

Selama tujuh bulan dia meninggalkanku, aku masih belum tahu dia berada di bumi mana? Sampai bulan ke berapa lagi aku terus menunggu? Aku juga tidak tahan dengan omongan tetangga yang melihatku sendiri dengan suami yang katanya punya kadar agama yang tinggi, tetapi malah meninggalkan keluarga.

Apakah Islam itu memang hanya untuk orang luar keluarga, sementara keluarga sendiri tidak berhak atas Islam itu? Makanya itu suamiku lebih memilih untuk menyebarkan dan mengajarkan Islam kepada orang luar yang tidak dikenalnya? Lalu, bagaimana dengan aku ini? Istrinya yang sah.

Bagaimana pula dengan keluargaku sendiri? Apakah dia sudah mengadakan pendekatan-pendekatan agar keluargaku memahami keinginanku untuk berbusana muslimah sampai bercadar juga? Ah, pertanyaan-pertanyaan yang makin sulit untuk kujawab.

Biarlah nanti suamiku yang akan menjawabnya. Kutunggu terus dia sampai pulang, yang katanya akan pulang membawa oleh-oleh tidak berupa barang, tetapi berupa iman dan amal sholeh. Mana? Mana itu, Bang?*

Cintai Pasanganmu Setulus Hati

Baca Juga: Aku Bukanlah Pelakor [Diangkat Dari Kisah Nyata]

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Share This:
error: Content is protected !!