Awalnya Berbahaya, Sekarang Jadi Berbahagia!

Awalnya Berbahaya, Sekarang Jadi Berbahagia!

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Ada seorang teman dalam sebuah majelis kecil, mungkin karena groginya, malah menyebut, “Hadirin yang berbahaya!” Jelas, yang lain tertawa. Padahal, maksud sebenarnya adalah: Hadirin yang berbahagia. Nah, apa sih bahagia itu?

Dalam hidup ini, kita selalu dihadapkan pada dua kondisi yang bertolak belakang. Bagaikan dua sisi mata uang. Mau mata uang besar atau kecil, pokoknya mata uang.

Ada senang, ada juga sedih. Ada tawa, ada tangis. Ada kaya, ada juga miskin. Tentu masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan kekurangan juga dua sisi yang berbeda.

Dalam diri setiap muslim, ketika menghadapi dua kondisi itu, kalau senang, bersyukur, berterima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika sedang ada kesulitan atau musibah, ya, cuma bersabar yang terbaik.

Baca Juga: Narsis dan Eksistensi Kita

Bersabar, tetapi jangan berpangku tangan, meskipun kita sedang berada di pangkuan ibu pertiwi. Jadi, apa yang bisa disimpulkan dari tulisan ini? Tunggu dulu, lebih baik kita minum dulu, karena masih ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan.

Penelitian Tentang Air

Bicara tentang minum, pastilah ada kaitannya dengan air. Mau air itu air galon, air hasil rebusan sendiri, air soda, air es yang dibeli di warung, maupun air zamzam sekalipun, tetaplah semuanya bisa diminum.

Mungkin kita ingat pada tahun 2003, ada sebuah penelitian air yang dilakukan oleh Masaru Emoto. Beliau adalah peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang. Pernah jalan-jalan ke sana? Coba deh sekali-kali. Hehe..

Dalam penelitiannya, ada satu keanehan pada sifat air. Ternyata, partikel molekul air bisa berubah-ubah. Hal itu tergantung dari perasaan manusia di sekelilingnya.

Secara tidak langsung, ada isyarat pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air dari ikatan hidrogen. Contohnya adalah gambar berikut ini:

sekarang-menjadi-berbahagia-penelitian-air-masaru-emoto

Meskipun hasil penelitian tersebut sampai sekarang masih kontroversial, tetapi setidaknya ada makna yang bisa ditangkap. Bahwa, manusia itu sebagian besar terdiri dari air, mencapai sekitar 60-70 %.

Lalu, Hubungannya?

Hubungannya, ya, baik-baik saja. Namun, ini jelas bukan jawaban yang tepat dari subjudul di atas. Ambil pemikiran sederhana saja, bahwa air bisa tampil cantik seperti itu cuma dengan kata-kata atau doa, apalagi dengan manusia.

Hanya, sangat disayangkan, mungkin lebih sering kita memberikan kata-kata yang kurang bagus terhadap diri sendiri. Merasa susah, tidak bisa, tidak mampu, bahkan menjurus kepada penghinaan seperti bodoh, maupun yang lebih kasar daripada itu.

Kalimat seperti, “Habis uangku” beberapa kali saya dengar dari rekan kerja saya. Dan, ternyata, kondisinya memang seperti itu terus. Ada gaji, ada pemasukan, tetapi seperti numpang lewat saja. Uang itu juga tanpa bilang, “Permisi, numpang lewat!”

Kata-kata buruk yang disematkan ke diri sendiri bisa membuat kristal-kristal air di dalam tubuh ikut buruk. Itu kalau dari diri sendiri, bagaimana ke orang lain?

Baca Juga: Balada Sebuah Koran

Tanpa disadari, berapa kali kita mengatakan ke orang lain dan menghinanya? Ke anak misalnya, pihak yang paling lemah dalam keluarga kita, apalagi jika masih kecil. Dasar anak nakal! Anak tidak sopan! Dan, lain sebagainya.

Pernah begitu? Itu semua kalimat-kalimat yang berbahaya. Dikatakan berbahaya karena jelas akan menurunkan kepercayaan diri pada sang anak. Bahkan, cap seperti itu akan terus melekat, meskipun mungkin orang tuanya meminta maaf.

Saat anak dikatakan “nakal”, ada kemungkinan dia justru membuktikan hal tersebut. Anak nakal, orang tua murka, nah, Allah bisa ikut murka. Bukankah murka orang tua juga bisa tersambung langsung ke marahnya Allah?

Makanya, ada sebuah saran. Ketika ada anak dengan berperilaku kurang bagus tadi, orang tuanya ridalah. Insya Allah, rida tersebut sampai juga ke rida Allah.

Selain itu, anak yang dikata-katai tidak bagus, maka dia akan mencontoh. Bukankah anak-anak itu adalah peniru yang ulung? Dia balas mungkin ke adik, teman sepermainan atau bahkan ke gurunya. Jelas itu suatu rantai keburukan yang terus berlangsung. Mau sampai kapan?

Jika orang tua sekarang pernah mengalami didikan orang tua dulu yang terasa kurang bagus, maka stoplah! Perbaiki pendidikan ke anak dengan lebih baik. Nantinya, Insya Allah, anak-anak kita juga akan meneruskan yang baik-baik.

Lalu, bagaimana caranya mengubah dari yang berbahaya tadi menjadi berbahagia? Inilah yang menjadi inti dari resume keenam pelatihan menulis bersama Om Jay dan PB PGRI.

Profil Narasumber

Dalam resume kali ini, narasumber atau pembicaranya adalah seorang guru yang luar biasa, berikut bannernya:

sekarang-menjadi-berbahagia-pelatihan-menulis

Beliau bernama Bambang Purwanto, S. Kom. Gr. Mempunyai tiga nama panggilan. Abang, jika di rumah. Ayah Salwa, waktu jadi pendongeng dan Mr. Bams, panggilan sebagai guru di SMP Taruna Bakti, Jawa Barat.

Agar lebih mengenal sosok beliau lebih dekat, berikut infografisnya:

profil-mr-bams-sekarang-menjadi-berbahagia

Tidak cuma guru biasa, bahkan beliau mengoleksi sejumlah prestasi:

prestasi-mr-bams-sekarang-menjadi-berbahagia

Sebagai penggiat literasi, beliau juga mendirikan rumah baca atau taman bacaan yang gratis dimanfaatkan oleh masyarakat. Saya pernah membaca sebuah buku, dengan kalimat seperti ini:

sekarang-jadi-berbahagia-gambar-1

Televisi, apa yang bisa diharapkan dari televisi sekarang? Yang siarannya makin tidak terkontrol itu? Aneka acara yang sungguh sangat jauh dari nilai-nilai moral yang ada.

Sedangkan buku, masih banyak nilai positif. Ketika seseorang membaca buku, maka dia diajak berpikir. Diajak untuk berkelana dalam pikirannya. Buku-buku yang hanya berisi tulisan, maka daya imajinasi pembacanya tentu berbeda-beda. Itulah nilai positifnya buku.

Mr. Bams ini juga mengajarkan kepada para muridnya di sekolah untuk membaca buku dan menulis melalui blog. Sudah cukup banyak blog yang beliau buat.

Baca Juga: 5 Manfaat Membuat Catatan Kecil

Blog atau website dapat digunakan untuk menuliskan apapun tentang kita. Bisa latar belakang, pendapat, saran, kritik, penilaian, atau apapun, selama itu relevan dengan kehidupan manusia.

Beliau menggunakan wordpress sebagai piranti untuk membingkai blog tersebut. Kamu tahu, wordpress itu ada dua? Pertama, yang pakai dotcom. Kedua, pakai dot org.

Jika pakai dotcom, di belakang URL website kita ada tambahan wordpress.com. Mirip dengan blogspot.com. Sementara wordpress dot org adalah yang digunakan untuk hosting berbayar biasanya.

Yang mana lebih bagus? Blogspot, WordPress.com atau WordPress.org? Kalau menurut saya sih, yang lebih bagus adalah segera membuat blog! Semuanya menawarkan kelebihan dan kekurangan. Jika dibandingkan terus, lah kapan mau bikin blog?

sekarang-jadi-berbahagia-gambar-2

Ini mungkin mirip dengan perdebatan sholat Subuh itu pakai qunut atau tidak? Tidak perlu dibenturkan, nanti kepalanya benjol!

Mau qunut atau tidak, semuanya ada dalilnya. Tinggal dicari yang mana lebih shohih? Yang masalah itu adalah suka membandingkan keduanya, tetapi malah tidak sholat Subuh! Halah…

Berbagi Kalimat Bahagia

sekarang-jadi-berbahagia-gambar-3

Mengenal metode blog atau cara menulis mungkin sudah banyak diulas dari blog para guru sebelumnya. Namun, hal yang paling saya ingat dari narasumber satu ini adalah tentang berbagi kebahagiaan, utamanya untuk keluarga.

Tiap Sabtu, beliau berbagi kata bahagia dengan istri dan anak perempuannya. Ketika hari Ahad, kalimat bahagia. Dan, hari Jumat, belajar Al-Qur’an, beliau melihat perkembangan bacaan dari sang anak.

Perpaduan yang lengkap sih menurut saya, pada akhir pekan, saling menerima dan memberi kebahagiaan itu kepada keluarga sendiri. Tidak cuma itu, berbagi kebahagiaan juga ke orang lain melalui blog.

Tentang mengucapkan kalimat yang tujuannya untuk membahagiakan orang lain, maka perlu diperhatikan momennya ya! Ada sebuah cerita dari Ustadz Zezen. Beliau ini adalah da’i yang berdosimili, halah salah tulis, berdomisili di Kendari, Sulawesi Tenggara. Begini ceritanya…

Ada pasangan suami istri. Suatu kali, suami ini ingin merayu istrinya. Ini pas uang suami sedang banyak. Malam hari, momen yang pas untuk meluncurkan rayuan, bukan? Hah, bukan?!

Suami tersebut memandang bulan purnama yang memang bersinar terang. Jadi, momennya memang pas, terang bulan. Tapi, martabaknya mana?

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

“Istriku,” kata si suami.

Istrinya langsung menoleh. Menampakkan wajah yang manis dan sedap dilihat. Oleh suaminya sendiri lho ya.

“Kamu lihat rembulan itu, Sayang?”

Istrinya menatap bulan bundar dan bulat itu. “Iya, aku lihat, Suamiku.”

“Coba lihat bulan itu! Dirimu lebih cantik daripada bulan itu, Sayang.”

Wah, wah, wah, jelas si istri jadi senyum manis sekali dan tersipu malu! Rembulan purnama saja sudah sedemikian indah, ternyata wajah istrinya lebih indah. Hem, boleh juga nih!

Lain waktu, keuangan sedang bermasalah. Suami melihat istrinya kok seperti gundah gulana? Tidak hanya gulana, tetapi juga garamna saking galaunya.

Suami melancarkan rayuan lagi. Memang si suami ini ingin lebih membahagiakan sang istri. Pertanyaan yang sama, “Sayang, kamu lihat rembulan itu?”

Istrinya melihat lagi ke bulan yang dimaksud si suami. Begitu dilihat, si istri balik menatap ke suami lagi. “Ya, lihat! Memangnya kenapa? Kamu kira aku ini buta apa, nggak bisa lihat bulan?!”

Wah, wah, wah, rayuan suami kali ini gagal! Error 100%. Rayuannya tidak mempan karena keuangan suami sedang sekarat.

Dari sini, kalimat motivasi dan positif itu sangat perlu! Tapi, lihat situasi ya? Situasi kalau di situ, siniasi kalau di sini.

Bagaimana dengan Diri Sendiri?

Seorang pembicara MLM pernah mengatakan bahwa motivasi itu menular. Arti lainnya, jika motivasi positif, itu menular, begitu pula yang negatif. Ohh, makanya yang positif itu juga cepat menular. Huss! Malah bahas corona.

Mr. Bams memberikan pelajaran yang berharga tentang kebahagiaan. Menurut saya, kebahagiaan itu memang pada dasarnya, ada pada setiap diri sendiri.

Rasa tersebut bisa muncul, bisa juga hilang, tergantung dari penggalian kita. Apakah kita sanggup menggali lebih dalam atau tidak?

Ada sebuah kalimat yang saya lupa dari mana, seperti ini:

sekarang-jadi-berbahagia-gambar-4

Berarti, kebahagiaan itu pada dasarnya berputar. Dari yang awalnya kita merasa galau atau sedih, dengan tersenyum sejenak, menjadikan hati sedikit merasa lega. Sedikit merasa bahagia. Apalagi ketika sudah merasa bahagia betul, bukan lagi senyum, sampai juga tertawa. Hahaha…

Namun, untuk bisa menjaga rasa bahagia itu, kita butuh dorongan. Kita butuh satu server yang sama.

Manusia itu berbeda dengan magnet. Pada magnet, kutub yang sama akan tolak-menolak, yang berbeda akan tarik-menarik.

Pada manusia, yang sifatnya sama, justru tarik-menarik. Yang berbeda, saling menolak.

Berada dalam satu kolam yang isinya orang-orang positif, maka kita akan ikut positif juga. Dan, itu saya temukan dalam kelas menulis online bersama Om Jay dan PB PGRI.

Apalagi di tengah guru-guru hebat, guru-guru yang berusaha dan berupaya untuk menjadi penulis mantap melalui blog-blog mereka. Sungguh ini sebuah komunitas yang tidak bisa dianggap sembarangan.

Berbagi ilmu setiap hari, berbagi motivasi, dan berbagi literasi, itu semua bisa terjadi di komunitas ini. Wah, akhirannya i semua!

Apalagi saya ditunjuk sebagai ketua oleh anggota grup yang lain, ini tentu amanah yang tidak boleh disia-siakan, meskipun saya bukan yang terbaik di antara mereka.

Setidaknya, blog yang sudah saya isi dengan berbagai tulisan sederhana ini dan penuh kekurangan di sana-sini mendapatkan tempatnya juga.

Dan, tulisan ini saya tutup tanpa perlu acara penutupan dan makan-makan. Yang bisa disantap dan dilahap bersama adalah kata-kata yang menambah ilmu dan pemahaman.

Selain itu, saling mengunjungi blog. Nah, mengunjungi website atau blog walking begini jelas bebas dari corona. Tidak perlu jaga jarak, cuci tangan, ditambah pakai masker, apalagi masker yang dipakai justru masker bengkoang.

Ditunggu komentar dari pembaca semua. Like dan share juga boleh. Sebab, like dan share itu gratis. Meskipun pada dasarnya, paket data internetnya, bayar masing-masing sih. Hehe…

Baca Juga: 7 Manfaat Apel Pagi

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

12 Comments

  1. Haduh….sekali baca resume kok punya senior. Bagus…tertata rapi….seperti ngajak dialog pembacanya….semoga sy bisa niru..modifikasi gaya pak boss

    1. Alhamdulillah, memang saya ingin ngajak bicara bunda, tapi hanya lewat tulisan dan sedikit gambar ini.

      Semoga ada kesempatan anggota grup bisa kumpul ya! 🙏

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.