Menulis Untuk Media Massa: Antara Kondisi Krisis dan Semangat Untuk Terus Eksis!

Menulis Untuk Media Massa: Antara Kondisi Krisis dan Semangat Untuk Terus Eksis!

Share This:

Sekitar tahun 2003, saat saya masih menjadi mahasiswa di Fisipol UGM, saya diajak ikut MLM. Sebuah perusahaan penghasil produk suplemen kesehatan dari China. Namanya ikut MLM, pastilah diberikan support semangat agar makin dahsyat. Seperti apa bentuknya?

MLM punya arti sebenarnya Multi Level Marketing. Sebuah jaringan pemasaran pemasaran dengan jenjang-jenjang tertentu. Namun, ada pula yang memberikan arti MLM itu adalah Mlebu Langsung Metu atau dalam bahasa Indonesianya, Masuk Langsung Ke luar. Siapa yang memberikan kepanjangan itu? Tidak salah, saya sendiri!

Agar lebih semangat menjalankan bisnis, setiap distributor, istilah untuk aktivis MLM dari perusahaan tersebut, mesti membaca buku motivasi. Nah, ada sebuah buku motivasi warna kuning dan harganya murah. Tapi, isinya bukan murahan.

Buku tersebut berjudul “Skill With People” karangan Les Giblin. Ini bukan orang Jawa, lho! Kalau orang jawa, bisa mengartikan skill itu artinya kaki. Oh, kalau itu jelas artinya sikil.

menulis-untuk-media-massa-buku-les-giblin
Inilah buku yang menjadi motivasi saya semangat untuk ikut MLM, meskipun sekarang tidak lagi aktif di sana.

Les Giblin ini juga bukan seorang guru les. Tapi, ilmu dari bukunya tetap bisa dipergunakan secara luas. Jadi, bukan hanya orang MLM. Tunggu, kalau satunya MLM, berarti satunya adalah SNG. Maksudnya apa itu, Mas? Ya, maksudnya, satunya MLM artinya Malam, satunya SNG artinya Siang. Pas banget ‘kan?

Nah, apa yang dikatakannya dalam buku itu? Intinya begini, di dunia ini tidak ada orang yang lebih dipedulikan daripada dirinya sendiri. Dan, itu merambah dalam percakapan antarorang. Bukankah kita sering melihat atau bahkan kita sendiri, bahwa topik pembicaraan adalah seputar saya, aku, diriku atau ane?

Sakit Gigi

menulis-untuk-media-massa-sakit-gigi
Kata Meggy Z, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Masnya yang sakit gigi ini tahu Meggy Z?

Contoh ekstrimnya begini. Seseorang yang menderita sakit gigi lumayan parah, sementara di belahan dunia lain sedang terjadi longsor, gempa bumi, banjir dan tanah longsor. Semua musibah itu bisa disingkat menjadi LGBT. Berarti memang benar bukan bahwa LGBT itu mengakibatkan musibah di bumi ini?

Nah, ketika seseorang sakit tersebut, maka dia lebih peduli dengan sakitnya sendiri. Melihat berita di TV atau media sosial, mungkin dia hanya berucap begini, “Ohh, di sana sedang terjadi bencana banjir?” Atau “Wah, tanah longsor lagi?” Atau “Wuih, ada tsunami! Aduhh, duh, sakit gigiku ini… Duhh….”

Baca Juga: [Coba Simak] 3 Alasan Ijab Qabul Diulangi

Ditambah jika dia tidak ada kepedulian sosial, maka dia akan tambah cuek bebek. Padahal bebek ketika sakit gigi, tidak cuek begitu ya? Eh, bebek punya gigi tidak sih? Hehe..

Bagaimana dengan bentuk percakapan? Seperti tadi yang sudah saya sebutkan, cukup banyak lawan bicara sedang mengutarakan pendapatnya, tiba-tiba ada yang memotong lalu mengucapkan begini, “Ah, itu salah, Bro! Menurut saya yang benar itu begini…”

Atau, “Kalau saya mikirnya, nggak gitu…”

Bisa juga seperti ini, “Saya jadi ingat buku yang saya baca kemarin, intinya pendapat saya itu semestinya…”

Pokoknya, berputar ke diri sendiri. Makanya, sesuai buku itu, untuk bisa menarik atau mengambil hati seseorang, usahakan orang itu berbicara tentang dirinya sendiri, “Ohh, jadi menurut Bapak bagaimana?”

Cara lainnya, “Bapak sudah memiliki putra berapa? Istri sudah berapa?” Eits, kok kalimatnya malah begini?

Pada intinya, buku tersebut mengajarkan bahwa pembicara yang terbaik justru lebih banyak diamnya. Ya, membiarkan lawan berbicara tentang dirinya dan kita duduk mendengarkan dengan baik. Maka kita bisa dikatakan pembicara terbaik, lho! Coba saja diterapkan! Ajaran ini masih work sampai sekarang.

Dalam Konteks Positif

menulis-untuk-media-massa-whatsapp
Whatsapp media untuk bisa komen, meskipun komen itu nama pelawak. Eh, kalau itu Komeng!

Ada sebuah – yah – semacam candaan yang menyebar melalui media sosial. Kira-kira kalimatnya begini: Sering-seringlah komen di grup Whatsapp agar orang lain tahu bahwa kamu ini masih hidup! Menurut kamu, kalimat tersebut bagaimana?

Mungkin ada benarnya. Mungkin tepat dan pas bahwa wujud eksistensi manusia itu memang perlu ditunjukkan. Dan, dikaitkan dengan kaidah di buku Les Giblin di atas, bahwa kita akan merasa bangga apabila nama kita dipublikasikan dan diapresiasi oleh orang lain. Tentunya, secara positif lho ya! Bukan dalam konteks menyebar aib.

Semasa masih sekolah, kita akan bangga apabila nama kita disebutkan sebagai juara satu dari atas oleh guru. Nanti ada tanya, juara satu dari bawah, Mas? Lah…

Lanjut ke pendidikan lebih tinggi, jika kita menjadi juara umum satu angkatan, begitu juga dalam konteks pekerjaan, kita dianggap guru berprestasi, pastilah ada rasa bangga luar biasa. Intinya, kembali ke nama kita.

Untuk bisa menghasilkan seperti itu, butuh yang namanya media. Alat atau sarana untuk mengabarkan ke orang lain bahwa kita bisa eksis secara positif dan menginspirasi.

Nah, kalau bicara media, ada dua jenis yang sering kita ketahui, yaitu: media cetak dan elektronik. Bagaimana kita bisa eksis melalui media cetak? Itulah yang menjadi inti dari resume ke-9 pelatihan menulis online bersama Om Jay dan PB PGRI ini.

Bersama Praktisi Atau Penulis Media Cetak

Pada hari Jumat (23/10) kemarin memang menjadi hari terakhir dalam satu pekan untuk materi pelatihan menulis bersama Om Jay alias Wijaya Kusumah, M. Pd dan PB PGRI. Dalam satu pekan, terbagi menjadi tiga hari, Senin, Rabu dan Jumat.

Siapa narasumber yang akan diambil resumenya ini? Beliau adalah Haji Encon Rahman. Berikut adalah bannernya:

menulis-untuk-media-cetak-1

Sesuai dengan judul tulisan, bahwa yang akan dibahas tentang menulis untuk media cetak. Beliau, Haji Encon, adalah praktisi yang sudah malang-melintang di dunia kirim-mengirim tulisan ke media massa.

Baca Juga: 5 Cara Cepat Menyelesaikan Skripsi

Haji Encon adalah seorang guru yang menjadi juara I prestasi nasional. Selain itu, beliau penerima penghargaan guru Indonesia di Thailand pada tahun 2017. Sudah pernah ke Thailand? Kalau saya sih sudah pernah melihat Thailand. Lewat televisi tentunya.

Orang yang berhasil itu pastilah memulai langkah kecil terlebih dahulu. Langkah seribu, dimulai dari langkah pertama, meskipun aslinya dua langkah saja, kalau bukan kanan, ya, kiri. Haji Encon menjadi seperti ini, tentu dimulai dari sesuatu yang memang telah dimulai. Lho, bagaimana sih kalimatnya ini?

Dari Membaca Koran

menulis-untuk-media-massa-koran-1

Bila ingin menjadi penulis yang berhasil menembus koran, maka biasakan untuk membaca koran. Begitu logikanya bukan?

Namun, Haji Encon tidak serta-merta begitu. Guru yang telah menghasilkan kurang lebih 500 artikel itu (coba tebak, sudah berapa kata hayo?), saat di SMP, menulis di mading alias majalah dinding.

Itu yang bagus, menyalurkan bakat menulis di majalah dinding. Sebab, banyak juga anak SMP yang justru menyalurkannya tetap ke dinding, tanpa pakai majalah. Entah itu hubungan cinta-cintaan dia dengan si anu. Menulis nama guru yang dibenci. Atau sekadar update status, bahwa dia pernah lewat di situ.

Rupanya, dari majalah dinding tersebut, orang lain terinspirasi. Jelas suatu kebanggaan juga, karena nama beliau bisa terpampang di situ. Namun, lebih kepada manfaatnya atau berbagi untuk orang lain.

Diinspirasi Orang Lain

menulis-untuk-media-massa-koran-2
Gambar oleh Michaił Nowa dari Pixabay

Seringkali kita sendiri tidak menyadari bakat yang dimiliki. Mungkin karena kita masih terkungkung dengan diri sendiri, akhirnya ada sesuatu yang seharusnya terlihat, jadi tidak terdengar. Lah..

Haji Entis adalah orang yang berjasa bagi kehidupan Haji Encon. Sebab, beliau telah mendorong Haji Encon untuk mencoba mengirimkan tulisan ke tabloid Mitra Desa. Tabloid ini adalah bagian dari grup Harian Pikiran Rakyat di Bandung.

Tulisan-tulisan Haji Encon berhasil dimuat. Dan, sebagai bentuk apresiasi, beliau mendapat honor. Mulailah dari situ, beliau makin mentereng dalam tulis-menulis di media ini. Hingga teman-teman gurunya memanggil “wartawan” bila sedang menerima honor menulis dari wesel yang dialamatkan ke sekolahnya.

Cukup banyak karya yang telah dibuat oleh Haji Encon. Ada cerpen, sajak, artikel, bahkan gambar kartun. Semuanya menghasilkan finansial yang lumayan.

Mengandalkan hasil honor tersebut, beliau mendaftarkan diri ke Bandung untuk mengikuti Sipenmaru atau ujian masuk perguruan tinggi negeri. Ternyata gagal! Akhirnya, beliau banting setir ke Universitas Pasundan, Bandung. Universitas swasta, mengambil jurusan Bahasa Indonesia.

Salah satu hal yang memotivasi beliau mengambil jurusan itu adalah penasaran dengan ilmu Bahasa Indonesia. Ternyata, memang sangat luas. Berbekal ilmu yang menunjang kepenulisan tersebut, jadilah beliau sebagai penulis di media cetak yang produktif sampai sekarang.

Hal yang Terlewatkan

menulis-untuk-media-massa-koran-3
Gambar oleh Lucia Grzeskiewicz dari Pixabay

Sewaktu saya mengikuti materi lewat Whatsapp, memang diajarkan tentang tips-tips agar tulisan kita menembus media massa. Misalnya: mulai dari media kecil dulu, tingkat lokal, jangan langsung media nasional.

Selain itu, juga harus tahan banting. Jika tidak dimuat, korannya saja yang dibanting! Wah, maksudnya bukan begitu! Kalau tidak dimuat, ya, coba lagi dong! Mirip dengan audisi penyanyi, Coba Lagi Awards.

Namun, ada hal yang memang tidak banyak dilakukan penulis pemula. Apa itu? Hal tersebut adalah mengkliping tulisan dari koran, baik itu tulisan sendiri maupun tulisan orang lain.

Baca Juga: Menyusun Skripsi? Apa Sih Arti Sesungguhnya dari SKRIPSI?

Kok mesti dikliping? Bukannya hal itu merepotkan? Kalau tulisan sendiri yang dimuat di koran, majalah atau tabloid, wajar karena kembali ke kaidah buku Les Giblin di atas. Namun, kok tulisan orang lain?

Sebenarnya, niatnya memang untuk belajar. Kita sebagai penulis paling tidak belajar juga dari orang lain. Bukan untuk mencontoh plek, tetapi mempelajari gaya bahasa, tata kata, penyusunan kalimat, pengaturan paragraf sampai dengan pemilihan judul. Ada satu lagi yang perlu.

Mengutip pernyataan Haji Encon yang disampaikan melalui voice note, bahwa tujuan kita mengkliping tulisan orang lain adalah untuk mengisi momen-momen tertentu. Kita tahu, dalam satu tahun selalu ada momen yang berulang. Misalnya: hari-hari besar nasional, hari libur nasional, maupun peristiwa-peristiwa yang mengiringinya.

Ketika kita mengkliping tulisan orang lain dari koran, maka di tahun berikutnya, kita bisa masuk dengan tulisan yang lebih segar, ibarat baru saja ke luar dari freezer. Mungkin bisa ditambahkan dengan fakta-fakta atau hal-hal terkini sehingga lebih aktual. Bukan tidak mungkin, kita akan mendapatkan honor dari situ.

Selain Itu, Apalagi?

menulis-untuk-media-massa-koran-4
Gambar oleh Andrys Stienstra dari Pixabay

Jangan mudah menyerah! Itu tips berikutnya dari Haji Encon. Sebetulnya, tips tersebut berlaku untuk semua hal jika kita ingin sukses. Mencoba sekali, gagal, bangkit lagi, coba lagi, gagal lagi, terus mencoba.

Seorang motivator pernah mengatakan “habiskan jatah gagalmu”! Apa artinya? Dalam hidup ini, kita menjalani takdir dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pastinya, ada takdir yang dirasa kurang bagus, padahal sebenarnya itu juga mengandung hikmah, sih. Kita menyebutnya dengan kegagalan.

Misalnya, untuk bisa menjadi penulis di media massa yang berhasil, kita diberikan jatah gagal sebanyak 30 kali. Maka, nikmati saja, jalani saja sebanyak 30 kali kegagalan tersebut.

Barulah, setelah usaha yang ke-31, tulisan kita bisa diterbitkan di media massa. Alhamdulillah, alangkah senangnya. Nama kita terpampang di media umum, dibaca orang lain dan Insya Allah menjadi kebaikan untuk semua.

Dengan menulis tiap hari. Itulah cara agar cepat menghabiskan jatah gagal kita. Kirim ke satu media, jangan berhenti, menunggu dimuat. Buat yang lain, kirim lagi. Jika kita sering melakukan hal itu, Insya Allah ada beberapa yang nyantol di media.

Ingat! Jangan mengirimkan tulisan yang sama ke dua media berbeda. Jika dimuat dua-duanya, maka kita bisa kena blacklist. Dicap sebagai penulis yang tidak beretika!

Selain itu, menulis tiap hari seperti tips dari Om Jay juga, menjaga semangat kita. Menjaga elastisitas otak kita untuk selalu berpikir. Nah, hasil dari pikiran itu terwujud dalam tulisan-tulisan yang bernas dan cerdas.

Pengalaman Pribadi

menulis-untuk-media-massa-koran-5
Gambar oleh PublicDomainPictures dari Pixabay

Rasanya kurang lengkap jika tidak menyebutkan pengalaman pribadi tentang menulis untuk media massa. Sekitar tahun 2008, waktu saya masih tinggal di Kendari, saya membaca koran Kompas. Koran tersebut langganan paman saya, tempat saya tinggal.

Lucunya, penerbangan Makassar-Kendari belum seperti sekarang yang bisa tiap hari beberapa kali. Waktu itu, cukup jarang. Sedangkan koran Kompas dikirim dari Makassar.

Keadaan seperti itu membuat koran sering datang terlambat. Berita hari ini atau terbit hari ini, dibacanya baru besok. Begitu seterusnya. Akhirnya, jadi basi. Kadang, dalam satu hari, belum ada koran masuk. Ah, mungkin tertunda karena faktor cuaca atau ada masalah pada maskapainya.

Namun, untuk rubrik Opini, tidaklah terlalu basi. Sebab, yang ditulis tidak selalu berkaitan dengan peristiwa aktual. Ada juga topik-topik umum yang bisa dimuat kapan saja.

Baca Juga: Sehat Q, Media Informasi Digital Lengkap Untuk Sehat A Sampai Z

Membaca tulisan-tulisan semacam itu, seperti Haji Encon, saya mulai menulis opini. Meminjam laptop milik saudara bibi saya, mengetik antara 2-3 halaman kuarto. Diprint, dikirimkan melalui pos ke harian Kompas.

Alhamdulillah, muncul surat balasan. Alhamdulillah lagi, tulisan saya ditolak! Ada lima surat saya terima. Bagusnya harian Kompas, tulisan saya dikembalikan utuh, tanpa saya membayar ongkos kirimnya. Plus surat dari redaksi yang menyatakan alasan ditolak. Rata-rata mengatakan: Naskah Anda belum bisa kami terbitkan. Begitu saja.

Sebagai penulis pemula, saya belum tahu tips dari Haji Encon ini. Ya, iyalah, ketemunya baru sekarang. Saya dengan PD-nya menembak media nasional yang bonafide. Alhasil, saking PD-nya tersebut, malah saya harus menerima kegagalan. Yah, seperti yang tadi saya tulis, menghabiskan jatah gagal saja.

Koran Lokal

Ada satu koran lokal di Kendari, Sulawesi Tenggara, yang menjadi media terbesar lingkup provinsi. Namanya Kendari Pos, bagian dari grup Jawa Pos. Media ini yang menjadi tempat bagi cukup banyak tulisan saya. Agar lebih mengena tulisan ini, berikut saya sertakan dokumentasi tulisan saya yang telah dimuat di harian Kendari Pos.

menulis-untuk-media-massa-2
Tentang sejarah koran, terutama membahas Kendari Pos sebagai media massa di Sulawesi Tenggara.

 

menulis-untuk-media-massa-3
Mendukung operasi lalu lintas dari kepolisian.

 

menulis-untuk-media-massa-4
Mengeluh tentang pemadaman listrik yang parah di Kabupaten Bombana melalui sebuah cerpen.

 

menulis-untuk-media-massa-5
Radio dakwah yang mulai beroperasi di Bombana dan berguna untuk masyarakat.

 

menulis-untuk-media-massa-6
Sosok Bob Sadino, pengusaha menjadi inspirasi bagi PNS.

 

menulis-untuk-media-massa-7
Mengupas tentang disiplin, terutama bagi abdi negara.

 

menulis-untuk-media-massa-8
Cerpen juga tentang pemadaman listrik.

 

menulis-untuk-media-massa-9
Motivasi untuk tidak takut gagal.

 

menulis-untuk-media-massa-10
Masih tentang pemadaman listrik, banyak inspirasi menjadi tulisan.

Dan, masih beberapa lagi bukti tulisan saya dimuat di harian Kendari Pos. Saya menulis seperti itu karena terinspirasi juga oleh teman kampus saya. Ketika di Fisipol UGM, saya mengambil jurusan Ilmu Administrasi Negara. Masuk tahun 2003. Teman saya, Jurusan Ilmu Sosiologi, angkatan 2004.

Ketika di perpustakaan kampus, dia menunjukkan artikelnya dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Jogja. Padahal hanya kolom kecil saja, dua kolom pendek saja. Dia cerita mendapatkan honor sebanyak lima puluh ribu rupiah.

Hem, ketika itu, uang lima puluh ribu sungguh sangat lumayan untuk menambah uang saku. Apalagi mahasiswa gitu lho! Dari situ, saya mencoba untuk mengirimkan tulisan juga ke harian yang sama. Namun, tidak dimuat sepertinya. Ah, dimuat atau tidak, tidak diberitahu, kita harus mengecek langsung di hariannya.

Orientasi ke Depan

menulis-untuk-media-massa-koran-6
Gambar oleh syu syu dari Pixabay

Dalam tulisan ini, tentang menulis untuk media massa, memang harus jujur bahwa industri koran itu sedang menuju kepada kematian. Menuju sakaratul maut.

Ini memang tidak bisa dimungkiri bahwa media berbahan dasar kertas memang akan punah, kalau bukan sekarang, pasti tahun-tahun mendatang. Kira-kira, apa alasannya? Apakah karena media online yang menjamur?

Baca Juga: [Ternyata Baru Tahu] Ada Hubungan Erat Antara Pelakor, Pelapor dan Pelopor

Pertanyaan itu juga pernah saya pikirkan. Apakah karena begitu banyak media berlandaskan internet, lalu membuat media massa kelimpungan? Ternyata, tidak selalu begitu. Saya mengambil bacaan dari harian Pikiran Rakyat, tetapi dalam bentuk digital. Apa kata harian ini yang menjadi target dari pengiriman tulisan Haji Encon?

Menurut Dahlan Iskan, surat kabar mendekati punah karena harga kertas yang kian mencekik. Selain itu, tidak ada proteksi yang jelas bagi industri yang ikut mencerdaskan masyarakat tersebut. Bisa dibaca lengkapnya di sini.

Untuk mengatasinya, perlu adanya pengurangan pajak pembelian dan penjualan koran. Dengan begitu, industri koran sedikit bisa bernapas lega karena kertas memang komponen terbesarnya.

Mempertahankan Media Massa

menulis-untuk-media-massa-koran-7
Gambar oleh fernando zhiminaicela dari Pixabay

Meskipun berada di media internet yang sangat gencar, tetap harus ada media massa yang eksis. Ada beberapa faktor yang melandasinya. Pertama, media massa merupakan pengontrol demokrasi. Kita tahu, demokrasi adalah asas dalam pergantian kekuasaan pemerintahan di negara ini.

Pemerintah perlu dikontrol, begitu juga dengan para wakil rakyat kita. Adanya media massa, menyajikan informasi yang valid. Menampilkan sisi yang berbeda dari persepsi umum yang beredar di masyarakat.

Pertanyaan selanjutnya, apakah media massa harus netral? Apakah media massa tidak boleh punya kepentingan? Menurut Alief Sappewali, jurnalis senior dari media online Rakyatku.com, bahwa setiap jurnalis itu pasti punya kepentingan. Karena dia adalah seorang manusia yang punya sisi-sisi tertentu.

Namun, kepentingan jurnalis tersebut adalah memihak kepentingan rakyat. Jadi, semestinya menulis itu berdasarkan hal-hal yang benar sesuai dengan rakyat, bukan kepentingan orang yang berkuasa.

Meskipun, dalam hal ini, godaan akan sangat besar. Peluang untuk menjadi media yang cuma stempel pemerintah akan selalu ada. Makanya, dituntut adanya profesionalisme media.

Media massa, atau media cetak, memang berbeda dengan media online. Mungkin kita pernah mendengar adanya istilah click bait. Istilah ini muncul ketika kita membaca sebuah judul yang bombastis, sangat menarik, memancing perhatian, tetapi isi tidak sesuai judulnya.

Banyak orang yang tertipu dengan judul click bait ini. Sekadar judul yang aduhai, tetapi isinya aduh, pusing hai! Bahkan media-media besar online cenderung menerapkan ini. Demi merajai kata kunci di halaman pertama Google, click bait dipakai untuk mendatangkan pengunjung. Untuk mengejar trafik website.

Hal tersebut beda dengan media massa. Terbitnya yang tidak secepat media online, justru menjadi semacam kontrol atau pembanding yang pas dengan berita-berita online yang berseliweran. Apalagi ditambah dengan tulisan-tulisan dari para tokoh dalam rubrik opini. Hadirnya media massa juga bisa menumpas yang namanya hoaks.

Terlalu cepat memang tidak bagus. Media online yang terburu-buru mengejar momen demi mendapatkan pengunjung sebanyak mungkin jelas tidak bagus. Akibatnya, masyarakat jadi tidak mendapatkan informasi yang utuh dan lengkap. Tugas media massa penting di sini.

Selain itu, seperti yang dijelaskan Haji Encon, bahwa menulis di koran bisa menambah angka kredit bagi guru. Ini poin kedua. Termasuk buku yang diterbitkan. Ini jelas berbeda dengan mengajukan kredit ke bank, lho! Karena hal itu termasuk riba dan sudah banyak yang meninggalkannya. Alhamdulillah.

Baca Juga: Renungan Penuh Hikmah Saat Mengambil Uang di ATM

Menulis di media massa menjadi simbol dari intelektualitas. Apalagi sifat tersebut mesti melekat pada diri seorang guru. Lho, bukannya guru adalah seorang pengajar, artinya tidak hanya mengajar, tetapi harus siap pula belajar. Wujud dari pengajaran itu tidak hanya kepada para muridnya, tetapi juga masyarakat umum melalui media massa itu tadi.

Kita rindu dengan tulisan dari para guru dan kaum intelektual kita yang mencerahkan dan menjadi sesuatu yang bermakna. Kasihan masyarakat kita ini dibanjiri dengan aneka macam informasi hingga susah dibedakan, mana yang palsu, mana yang asli, saking tercampurnya.

Membaca koran masih dianggap simbol membaca kebenaran. Dan, perlu kita ingat, bahwa tidak semua orang nyaman membaca berita di gawai. Mungkin karena matanya tidak sanggup, bikin perih, gaptek atau memang karena tidak punya gawai itu sendiri!

Sedangkan media massa, seperti: koran, majalah maupun tabloid relatif murah dibeli, juga mudah didapatkan. Jadi, masih ada peluang atau kesempatan untuk tempat menulis di media tersebut.

Kesimpulan

Ketika media massa mulai satu per satu gulung tikar, ujungnya adalah media digital. Sangat banyak kesempatan untuk bisa berbagi manfaat dan mendapatkan penghasilan pula dari media tersebut.

Akan tetapi, pada intinya sama saja. Mau menulis untuk media massa atau digital, prinsipnya tidak berbeda. Selalu harus punya sifat tahan banting, tidak mudah menyerah kalau ditolak. Sebab, media massa atau digital adalah sebuah industri. Pasti mengandalkan esensi media agar bisa dijual ke masyarakat. Kalau kontennya buruk, pasti tidak laku.

Selain itu, perlu dan harus belajar dari tulisan orang lain. Begitu banyaknya tulisan yang terbit atau muncul setiap hari. Membaca beberapa di antaranya, menjadi bekal yang menambah ilmu kita. Makin banyak ilmu, makin penuh isi kepala dan pikiran kita. Tuangkan ke dalam menulis. Sebab, menulis adalah simbol bahwa di dunia ini, kita masih eksis, sekarang dan seterusnya.

Baca Juga: 7 Manfaat Apel Pagi

Share This:

30 Comments

  1. Jujur, belum baca semua sampai bawah, hehe…karena mmng sudah sisa 5 Watt….😌
    Lalu lihat sekilas sampai bawah dengan gerak cepat, terlihatlah foto beberapa koran
    Alhamdulillah dan selamat sudah menjadi penulis koran juga
    Terimakasih di resumenya pasti ada tambahan ilmu lainnya 👍👍

  2. Tidak ada yg bisa saya pesen sdh rapi,, dan mungkin walau tdk diampiri nggak ngefek kaliiii,,, cuma bikin penuh aja,,, sulit ngitik tulusan orang yg profesional,,, sal sukses boooos

  3. Wah pak Rizky sebenarnya ndak usah jadi peserta tulen kayak kami yg msi pemula. Latar belakang dan pengalaman sangat banyak. Mohon arahannya selalu yaa buat para pemula menulis. Barakallah 🙏🙏🙏

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

12 − four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!