Tentang Film Joker di Bioskop: Orang Jahat adalah Orang Baik (dengan Gangguan Jiwa) yang Tersakiti

Tentang Film Joker di Bioskop: Orang Jahat adalah Orang Baik (dengan Gangguan Jiwa) yang Tersakiti

Share This:

Masih ngetren membahas film Joker di bioskop Indonesia. Tentang sosok musuh bebuyutan Batman. Sosok Joker adalah badut yang penampilannya bukan lagi lucu, melainkan jahat luar biasa. Bagaimana menganalisisnya?

Tentang film Joker di bioskop di berbagai tempat di Indonesia, kalimat yang santer terdengar di jagat medsos adalah:

Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti

Kalimat di atas sering menjadi kalimat pamungkas ketika orang menonton film Joker di bioskop. Katanya sih, dulunya Arthur Fleck (adakah plek hitam juga?), adalah orang baik. Namun, karena sering disakiti oleh orang lain, maka dia menjadi sosok yang jahat. Sekilas, kalimat tersebut benar atau tidak?

Kalau menurut saya, kalimat itu tidak sepenuhnya benar. Justru yang lebih pas adalah kalimat pada judul tulisan ini. Orang yang jahat itu sebetulnya orang baik dengan gangguan jiwa yang tersakiti. Lho, pakai gangguan jiwa? Lebih parah mana gangguan jiwa dengan gangguan sinyal internet? Hem, sepertinya kalau terlalu sering gangguan sinyal internet, bisa bikin gangguan jiwa juga. Haha..

Jika pada seseorang itu merupakan pribadi yang lemah secara emosi dan pikirannya, memiliki jiwa yang tidak stabil dan lemah konsep diri, maka bisa jadi dia akan menjadi jahat. Namun, tidak serta merta lho, berasal dari orang yang tersakiti. Contohnya: koruptor!

Melihat koruptor sekarang, siapa sih yang menyakitinya? Justru dia melakukan korupsi juga karena bukan ada yang menyakitinya. Mungkin yang menyakitinya adalah dirinya sendiri. Ingin tampil seperti orang kaya, di tengah gaya hidup yang menggila seperti jaman now. Agar hidupnya dianggap sejahtera dengan punya banyak uang, padahal itu sejatinya uang rakyat. Nah, kalau yang ini, pasti berasal dari konsep diri yang lemah.

Baca Juga: Bayar Sekarang Atau Nanti?

Untuk apa sih korupsi? Apakah dengan korupsi itu batin jadi tenang? Hidup jadi bahagia begitu? Saya yakin tidak akan seperti itu. Justru ketakutan demi ketahuan, eh, ketakutan demi ketakutan yang terus muncul. KPK selalu membayanginya.

Saya pernah punya tetangga di Kendari. Ketika sedang berada di depan masjid, dia mengatakan, “Sekarang kalau korupsi itu jangan sampai satu milyar. Cukup 999.999.999 saja.” Dia mengira bahwa dengan jumlah segitu, bisa menghindarkan diri dari KPK. Ckckck…

Nah, ada tetangga saya yang lain menanggapi. “Iya, jumlah segitu memang ndak kena KPK, tapi kan masih ada kejaksaan sama kepolisian.” Akhirnya, tetangga saya tadi malah tertawa. Benar juga sih! Yang bisa mengusut di bawah wewenang KPK adalah kejaksaan sama kepolisian.

Awas, Pengaruh Film Joker di Bioskop yang Kamu Tonton!

Tatapan Mengerikan Banget Ya?! Sumber: TheVerge.Com

Dari berita-berita online yang saya baca lewat koran, halah, lewat HP, rupanya anak kecil memang dilarang untuk nonton film seperti ini. Adegan kekerasan yang brutal, pembunuhan sadis, kepuasan diri setelah membunuh dan ketagihan selanjutnya, bisa memicu pikiran jelek dan jahat pada anak-anak. Jangan samakan film Joker kali ini dengan film kartun yang biasa mereka tonton.

Bahkan, tidak cuma anak-anak, orang dewasa pun bisa kena pengaruh buruknya. Apalagi jika ada di antara kamu yang punya pribadi (maaf) lemah emosi dan pikiran, wah, bisa terpancing itu untuk melakukan yang sama!

Jika misalnya kamu sering maskeran, terus ditambahi riasan lain sampai mirip Joker, apakah akan bisa berperilaku sama? Belum tentu dan semoga saja tidak. Meskipun raut wajah kamu sedang putih polesan layaknya Joker, tapi kan kamu ingin kulit yang cerah, bersih, glowing dan cantik? Saya teringat teman saya di Facebook dengan produk barunya lagi. Pakai kata “glowing” itu. Seperti biasa, tidak ada yang like, apalagi komen, terlebih share!

Baca Juga: Narsis dan Eksistensi Kita

Pengaruh film memang luar biasa, karena otak disiagakan dalam keadaan pasif. Apa yang terpampang di layar bioskop itu dapat masuk begitu saja tanpa harus permisi, karena awalnya sudah dipermisikan oleh si pembawa otak. Apalagi jika kamu terbayang-bayang dengan adegannya. Suatu saat, ketika kamu merasa emosi banget, merasa disakiti, terus kamu berbuat jahat bagaimana? Siapa yang mampu menjamin kita tidak berbuat seperti itu?

Jangankan film bioskop, berita-berita di TV saja bisa jadi inspirasi untuk berbuat kejahatan, kok! Terutama jika sering ditonton dan tidak ada tontonan lain. Bayangkan jika ada kasus semacam pembunuhan yang terinspirasi dari sinetron misalnya. Makin banyak berita seputar kriminal, maka peluang untuk diulangi akan terus terjadi. Hii, ngeri!

Dua Sisi Kehidupan Manusia

Tentulah kita tahu bersama bahwa ada dua sisi pada kehidupan manusia. Dan, dua sisi tersebut selalu akan berubah-ubah atau berbeda-beda. Seperti dalam pelajaran Matematika misalnya. Hari ini, segitiga sama sisi, dikasih PR lumayan, eh, besoknya Sisi malah tidak masuk! Beda sisi, kan?

Ketika melihat seorang tokoh yang berlaga di film, banyak memang yang mengidolakan tokoh baik. Protagonis istilahnya. Biasanya, pahlawan yang selalu menang melawan penjahat. Hem, kita lihat deh, tokoh baik di Indonesia. Contohnya: Fahri dalam novel Ayat-ayat Cinta.

Fahri adalah sosok yang terlihat sempurna sebagai laki-laki. Pintar, sholeh, ganteng, penuh dengan perjuangan dan digandrungi oleh beberapa perempuan. Tolong, jangan bandingkan saya dengan tokoh itu ya!

Saat diluncurkan tokoh itu, kok ada juga yang protes? Bang, kok tokoh Fahri jadi kayak malaikat begitu ya? Eh, yang komentar begitu mengaku heran, ada juga ya tokoh sesempurna Fahri. Lah, selama ini berarti dia sering menonton tokoh-tokoh yang buruk. Tokoh-tokoh yang jahat. Pada akhirnya, pikirannya akan dipenuhi dengan hal-hal semacam itu.

Baca Juga: Membaca Bagai Menonton Film Laga

Padahal, tokoh Fahri itu biasa saja di Timur Tengah sana. Kita bisa menemukan orang-orang luar biasa dengan akhlaknya yang sangat mengagumkan. Contoh: ketika akan berbuka puasa di Masjid Nabawi. Para penyedia sajian buka puasa akan mengajak orang yang lewat untuk memakan hidangannya. Bahkan, tidak jarang, orang yang lewat tersebut dicium keningnya ketika mau memenuhi ajakannya. Bersedekah menu buka puasa saja sudah pasti ke luar biaya, ditambah ajakan untuk menikmatinya.

Kalau kita melihat akhlak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, pasti akan terkagum-kagum dan menjadi yakin bahwa beliau adalah seorang nabi utusan Allah. Bahkan, akhlak beliau menjadi mukjizat dari Allah. Tidak akan mungkin akhlak manusia biasa akan persis sama dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Beneran.

Namun, melihat betapa cukup banyaknya orang baik di dunia ini, kok bisa-bisanya malah lebih pilih orang jahat? Bahkan mengidolakan orang jahat? Hem, ada yang salah dengan otaknya deh!

Kalau Bisa Jadi Baik, Kenapa Harus Jahat?

Menjadi Orang Baik itu Akan Lebih Ringan Langkahnya Setelah di Dunia Ini

Rasanya, sebuah film dihadirkan itu tidak akan seru bila isinya tokoh baik semua. Pastinya akan bosan. Penonton akan ke luar dari studio, meskipun filmnya belum selesai. Makanya, sebuah konflik itu kadang-kadang perlu ditampakkan. Tujuannya agar yang baik tampak baik, yang jahat kelihatan jahat. Atau, dalam kata lain, yang baik bisa mengalahkan yang jahat.

Sosok seperti film Joker di bioskop yang menyeramkan dan tingkah laku menggila dengan melakukan pembunuhan penuh kesenangan tentunya bukanlah tokoh yang perlu dicontoh. Meskipun ada orang yang menyukainya, bisa jadi dalam dirinya tersimpan sifat jahat itu.

Bukankah manusia itu beda dengan magnet? Kutub magnet yang sama akan tolak-menolak, sedangkan tidak sama akan tarik-menarik. Manusia? Ada sifat yang sama, justru saling berdekatan. Saling akrab. Sering bersama-sama. Mungkin bagi kamu yang suka dan mengidolakan tokoh Joker, hem, bagaimana dengan jiwamu sendiri? Sehat?

Meskipun setiap orang suka dengan orang baik, tidak mudah untuk jadi orang baik. Dalam hal ini, sabar harus lebih didahulukan. Saya ambil contoh, ada seorang bapak yang menghadapi sesuatu hal dari tetangganya. Apa itu? Rupanya itu adalah seekor binatang yang suka buang kotoran sembarangan.

Mau tahu binatang apa itu? Hem, rasanya kok kurang cocok disebutkan di sini ya? Silakan tebak dan bayangkan sendiri. Sebentar akan disebutkan. Hehe…

Nah, bagaimana awal mulanya? Binatang tersebut memang tidak dikurung, tidak dikandang, disebar begitu saja. Otomatis, dia bisa buang kotoran sembarangan. Percuma saja jika dipasang tulisan “Jangan Buang Kotoran Di Sini!” tetap dia akan buang kotoran di situ. Jangankan binatang, manusia saja sering melanggar kok! Dilarang injak rumput, eh, tetap diinjak juga.

Baca Juga: Apakah Hidup Anda seperti Kecoa Terbalik?

Si binatang, tunggu, atau lebih bagus mungkin sang binatang itu buang kotoran dengan semena-mena di pelataran rumahnya orang, yaitu: rumah tetangganya, si bapak itu. Bahkan, dua ekor binatang itu bermalam di situ. Secara otomatis tanpa manual, besok paginya, kotoran binatang cukup terlihat artistik di tanah milik si bapak yang sudah dilapisi semen.

Bapak itu yang notabene terkenal memang rajin, selalu membersihkan kotoran hewan-hewan itu. Menggunakan selang dengan air dari mesin bor yang jelas-jelas dengan listrik yang dibayar sendiri. Mana mungkin presiden mau bayarkan kan? Tiap hari begitu. Tiap pagi. Malah, pagi dibersihkan, siangnya begitu lagi. Hewan-hewan itu sangat suka meninggalkan status di rumahnya orang.

Protes Malah Dibilang Sombong

Bapak itu jelas lama-kelamaan protes dong! Masa bukan dia yang pelihara hewan-hewan itu tapi justru kena getahnya. Eh, hewan mana yang ada getahnya ya? Ah, lanjut! Dia bicara dengan si empunya hewan. Kebetulan berada di tempat lain, kotanya berbeda dengan daerah yang ditinggali si bapak.

Lewat chat mereka saling bicara. Awalnya, dikeluhkan bapak itu dengan kehadiran dua hewan yang tanpa bisa bilang permisi mau buang kotoran. Si bapak berencana untuk menyembelih dua hewan itu bersama tetangga lainnya. Lumayan, lah, disembelih, katanya sih dagingnya enak. Dia mengatakan ingin menyembelihnya. Ini hewannya lho, bukan si empunya. Hehe… Memangnya Joker..

Si empunya jelas melarang. Jangan bunuh binatang! Katanya. Situasi dan suasana mulai memanas, Pemirsa! Bapak itu bilang agar si empunya ambil saja itu binatang dan dibawa ke kota tempat tinggalnya. Eh, yang punya malah juga jadi tersinggung. Tiba-tiba dia mengatakan, “Wah, sudah sombong sekarang tidak mau berbagi lagi dengan tetangga.” Kira-kira seperti itu.

Kalau saya tanya ke kamu sekarang yang baca ini, maksud berbagi itu bagaimana ya? Kalau dalam penafsiran saya, itu adalah berbagi kotoran. Jelas ‘kan? Tetangga si bapak punya binatang, eh, kotorannya dibuang di rumah sebelahnya. Enak banget ya hidup seperti itu? Tapi justru yang punya mengatakan si bapak itu sombong! Usut punya usut, semoga tidak kusut, si empunya yang diajak chat itu adalah seorang ibu. Emak-emak. Ohh, pantas! Emak-emak adalah sosok yang tak terkalahkan.

Disinggunglah tentang mesin pompa yang pernah dibeli oleh si bapak. Katanya dulu, ibu empunya itu mau berbagi uang (patungan) untuk membeli pompa. Ujung-ujungnya tidak jadi! Bahkan, tidak sepeser pun dikeluarkan. Padahal ibu itu sekeluarga menikmati air dari mesin pompa baru itu.

Ketika disinggung itu, justru si ibu maunya memperbaiki pompa lama yang sudah diganti yang baru. Lho, iki piye toh? Sudah ada yang baru, kok, mau diperbaiki yang lama saja? Ini pikirannya bagaimana ya? Pada akhirnya, si bapak itu mengelus dadanya. Berharap sabar dan terus sabar menghadapi dua hewan itu. Tetangga berleha-leha dengan kota baru tempat tinggalnya, si bapak terus membersihkan kotoran dengan kerepotan. Bahkan di terasnya, juga muncul kotoran sang binatang.

Mau tahu binatang apa itu? Kalau tebakanmu adalah ayam, itu salar besah, eh, salah besar! Binatang itu adalah angsa! Ya, angsa. Kotorannya tidak seperti ayam yang baunya khas dan rasanya juga khas. Hoekk… Kotoran angsa itu seperti lumpur. Aromanya lebih busuk dan menjijikkan daripada ayam!

Jangan Cemen Jadi Orang Baik!

Ini awalnya bahas film Joker di bioskop, kok tiba-tiba bahas angsa? Sebenarnya cuma mau kasih contoh saja sih. Bahwa di dunia ini memang ada orang yang sombong bin pelit. Sudah sombong, pelit lagi. Niat awalnya mau sok pelihara binatang, tapi malah tetangganya yang disuruh merawat. Pakai bahasa berbagi dengan tetangga lagi.

Tidak hanya itu, tapi jelas masih banyak orang yang sebenarnya bermasalah dengan jiwanya sendiri. Terlihat baik dan tampil menarik, tetapi sejatinya batinnya rapuh. Lalu, dari situ, dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, makanya dia bisa menjadi tokoh jahat atau minimal berperilaku mirip-mirip jahat.

Baca Juga: 7 Kiat Meningkatkan Pengembangan Diri Secara Luar Biasa

Jika ada yang mengatakan bahwa tokoh jahat itu awalnya baik, cuma sering tersakiti, maka sebenarnya itu tanda dia sedang kurang iman. Coba lihat sejarah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau datang ke kota Thaif, tapi malah dilempari batu dan diusir oleh penduduk di sana. Beliau tidak marah, meskipun malaikat siap membantunya menggempur kota itu. Namun, beliau tetap mendoakan semoga dari keturunan mereka, ada yang menyembah Allah dan menjadi orang Islam yang baik.

Lihat pula generasi sahabat. Mus’ab bin Umair misalnya. Beliau tokoh pemuda, anak orang kaya. Ketika masuk Islam, beliau diboikot dan tidak lagi dianggap keluarga. Ketika beliau meninggal, tinggal kain sangat sederhana yang tersisa. Namun, beliau tidak menjadi jahat, tidak seperti Joker yang karena faktor keluarga pula, malah jadi tokoh pembela kejahatan.

Atau sosok Bilal bin Rabah. Karena beliau seorang budak, masuk Islam lagi, justru disiksa di padang pasir yang teriknya luar biasa. Ditambah lagi batu besar menghimpit dada dan perutnya. Beliau tidak mengeluh. Justru berkata, “Ahad, Ahad”. Jelas bukan karena hari itu hari Ahad, tapi simbol bahwa beliau mentauhidkan Allah, Tuhan yang Satu.

Wajar Joker Berperilaku Seperti Itu

Lho, wajar Joker berbuat kejahatan, apa setuju dengan kalimat pamungkas itu bahwa Joker aslinya baik, terus tersakiti jadi jahat? Jelas bukanlah. Joker bisa melakukan kejahatan pastilah karena dia tidak punya iman. Dia tidak menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Coba kalau dia punya Tuhan bernama Allah, maka dia bisa mencurahkan segenap perasaannya. Allah Maha Baik terhadap semua hamba-Nya. Mulai dari sejak dalam rahim, dapat makanan dari ibunya dan tidak perlu buang kotoran. Lalu ke luar jadi bayi, tumbuh jadi anak kecil, remaja, dewasa sampai meninggal dunia, semuanya diliputi dengan rezeki dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Orang beriman maupun orang kafir diberikan rezeki semua, nikmat semua. Meski orang kafir jelas menyekutukan Allah. Mereka tetap bisa menikmati hangatnya mentari pagi, bisa tidur dengan nyenyak, makan enak, bahkan harta yang berlimpah.

Saat kita yang jadi orang baik, terus disakiti, maka konsep yang pertama yakinilah bahwa itu adalah takdir atau kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jiwa kita harus dimurnikan dengan kaidah itu. Sekeras apapun kita berusaha, kalau itu bukan takdir Allah, pasti tidak akan terjadi.

Disakiti atau didzolimi jelas sebagai sebuah penggugur dosa. Makanya, tidak perlu jadi jahat karena pernah dijahati. Jadi orang jahat itu capek luar biasa. Betulan! Badan dan pikiran kita jadi lelah menjadi orang jahat atau punya sifat-sifat buruk. Karena sejatinya menjadi baik itu adalah fitrah kita sebagai manusia. Dilahirkan dalam keadaan suci, sama sekali tidak ada dosa warisan dari orang tua.

Nikmati saja perlakuan yang tidak menyenangkan itu – kelihatannya – lalu yakinlah bahwa ketika kita sabar, jelas suatu perbuatan luar biasa baik, dicintai oleh Allah pula. Sehatkan jiwa kita, karena penyakit jiwa ini bisa menyerang siapapun layaknya penyakit fisik.

Infografik

film-joker-di-bioskop

Baca Juga: Mencari Recehan Dunia, Aduhai Asyiknya!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!