Press "Enter" to skip to content

Membaca Bagai Menonton Film Laga

Admin
Share This:

Keterangan Buku:

Judul : Pulang

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Jumlah Halaman : 400

Cetakan : 2 (Oktober 2015)

Ketika membahas dunia mafia, geng, pertempuran sampai pembunuhan, kiranya tepat bila dituangkan dalam sebuah film. Kita bisa mengamati bahwa banyak sekali film yang mengangkat tema seperti itu. Asalnya bisa dari Amerika Serikat, Inggris, bahkan Korea Selatan. Sebut saja seperti: The Godfather, American Gangster, Kill The Irishman, The Rush Hour, Merantau,The Brandals dan lain sebagainya. Semuanya memiliki cerita, keunikan dan penggemarnya sendiri.

Kalau menonton film jenis triller atau menjual ketegangan, maka persepsi penonton akan disatukan dengan pembuat film, termasuk wajah pemain protagonis maupun antagonis, setting dan alur. Namun, bagaimana bila triller tersebut ada di dalam sebuah novel? Tentu hal ini akan menjadi menarik. Sebab, persepsi atau gambaran dari pembaca yang satu dengan lainnya akan berbeda.

Salah satu novel yang menyajikan ketegangan atau action adalah “Pulang” dengan penulisnya adalah Tere Liye. Sesuai dengan kebiasaan cerita-cerita novel Tere Liye, selalu saja ada unsur cinta, kasih sayang, kesetiaan, pengabdian, komitmen dan balas budi. Akan tetapi, novel yang satu ini memang sangat berbeda. Menceritakan sisi lain dari mafia, gangster, triad atau sejenis itu. Tentu saja, khas Indonesia.

Cerita dimulai saat kedatangan sekelompok pemburu di pedalaman rimba Sumatera yang dipimpin oleh Tauke Muda. Mereka akan berburu babi hutan yang telah banyak meresahkan warga. Para pemburu itu diterima oleh Bapak dan Mamak, panggilan untuk kedua orang tua Bujang. Anak yang dipanggil Bujang tersebut bukanlah nama sebenarnya. Kita akan mengetahui nama sebenarnya si anak yang saat itu berusia lima belas tahun saat cerita mau selesai. Bujang pun diajak berburu oleh Tauke Muda. Bapaknya mengizinkan, tetapi Mamaknya awalnya melarang. Setelah bujuk rayu suaminya, dia pun memberi izin.

Ketegangan sudah mulai terasa di awal cerita ini. Apalagi ketika Tauke Muda hampir mati terbunuh oleh seekor babi hutan yang sangat besar, hampir seperti seekor sapi dewasa. Untunglah Bujang berhasil mengalahkannya dengan tombak. Dari keberhasilan tersebut, Tauke Muda sangat tertarik dengan Bujang. Lalu, mengutarakan ingin mengasuhnya di daerah lain yang tentu lebih baik daripada di kampung itu. Bapak dan Mamak pun melepas anak satu-satunya tersebut. Hanya, Mamak berpesan supaya Bujang jangan pernah minum-minuman keras maupun makan daging babi. Sebuah pesan yang sangat bagus. Bujang sangat menjaga nasihat Mamaknya.

Saat Bujang sudah menjadi bagian dari keluarga Tauke Muda, barulah kita mulai diberikan pemahaman tentang kehidupan mafia. Ketika sudah dewasa, Bujang menjadi tokoh sangat penting dalam keluarga Tauke Muda. Kita mendapatkan istilah untuk mafia tersebut adalah shadow economy. Lucunya, Bujang diceritakan menemui calon presiden Indonesia dengan nomor urut dua. Bujang menjelaskan bahwa shadow economy bisa lebih dari 18-20 % GDP dunia. Di Indonesia bisa lebih dari 4.000 triliyun rupiah. Penguasa shadow economy bergerak dalam semua bisnis dan ada orang-orang tertentu yang digerakkan sebagai perpanjangan tangan mereka. Entah apakah data ini benar atau tidak, tetapi memang kita perlu merenung dan memahami. Kalau pun benar, maka ini seperti perkataan motivator kondang Indonesia, Tung Desem Waringin, bahwa 5 % orang dunia mengendalikan 95 % uang seluruh dunia. Sebaliknya, 95 % orang hanya berkutat di 5 % kekayaan dunia.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama tokoh utama. Jadi, kita sebagai pembaca seakan-akan menjadi Bujang. Ini tentu menarik karena kita bisa dibawa lebih mendalami dunia mafia atau dunia hitam. Nah, ketegangan besar dalam cerita ini diawali dari konflik antara keluarga Tong (yang dipimpin Tauke Muda) dengan keluarga Lin di Makau. Gara-garanya teknologi pemindai yang dikembangkan selama lima tahun terakhir di laboratorium Makau oleh keluarga Tong. Keluarga Lin dianggap mencuri teknologi yang bermanfaat untuk memindai tubuh hingga bagian terkecil tersebut. Perselisihan dua keluarga itu coba diselesaikan oleh Master Dragon, penguasa shadow economy di Asia Pasifik. Ternyata gagal, karena Bujang berniat untuk menyerang kasino, markas keluarga Lin di Makau dan mengambil kembali teknologi pemindai tersebut.

Nah, di sinilah keunggulan novel ini. Menceritakan dengan cukup gamblang, seru dan menegangkan tentang penyerbuan Bujang dibantu oleh tim terbaiknya, seperti: Yuki dan Kiko, si kembar yang berpenampilan khas turis, lalu ada White, mantan militer, yang menjadi pemilik restoran. Bujang berhasil membunuh Tuan Lin dengan senjata kartu nama yang dilemparkan ala ninja. Pembunuhan inilah yang menjadi dasar konflik besar menjelang akhir cerita.

Sebagai anak yang dididik dalam keluarga mafia, Bujang tidak cuma diajari cara berkelahi. Guru-guru beladirinya seperti Kopong yang menjadi kepala tukang pukul keluarga Tong, kemudian ada Guru Bushi yang mengajarkan tentang ilmu beladiri ninja dan samurai. Bujang juga diajari teknik menembak jitu dengan pistol oleh Salonga. Metode-metode pengajaran mereka cukup menarik untuk diketahui. Selain itu, sesuai kebijakan dari Tauke Muda yang telah menjadi Tauke Besar, Bujang diberikan pendidikan formal. Guru pertamanya adalah Frans dari Amerika yang memberikan dasar sekolah dasar dan menengah. Setelah itu, Bujang dikuliahkan sampai di Amerika Serikat dan berhasil menggondol dua gelar master. Hasil sekolahnya sangat berguna untuk memajukan bisnis keluarga Tong, baik legal maupun ilegal.

Tere Liye memasukkan tokoh Basyir sebagai sahabat dan tetangga kamar Bujang di dalam rumah keluarga Tong. Basyir adalah juga tukang pukul yang sangat menggemari penunggang kuda suku Bedouin di Afrika. Namun, tanpa terduga, Basyir ini adalah orang yang menjadi musuh besar bagi Bujang dan keluarga Tong. Setelah meninggalnya Kopong, Basyir membuat pasukan khusus bernama Brigade Tong. Awalnya untuk melindungi Tauke Besar, tetapi malah menjadi alat pengkhianatannya. Basyir berhasil membuat remuk Bujang dan Parwez, sahabat Bujang yang memegang perusahaan-perusahaan keluarga Tong. Bersama Tauke Besar, mereka bertiga berhasil melarikan diri, lalu ditolong oleh Tuanku Imam. Tokoh terakhir inilah yang menyebutkan nama asli Bujang, yaitu: Agam.

Alur campuran (linear dan flashback) berakhir ketika penyerbuan ke gedung tiga puluh lantai, pusat bisnis keluarga Tong yang telah dikuasai Basyir dan keluarga Lin. Seperti yang sudah diduga dalam setiap cerita laga, yang benar pasti akan menang mengalahkan yang jahat. Mungkin kita bingung, karena pihak benar di sini adalah mafia juga. Namun, sepertinya pengarang mendudukkan Bujang, White, Yuki dan Kiko serta Salonga sebagai tokoh-tokoh benar atau utamanya. Penyelesaian perang dengan Basyir dan keluarga Lin diselesaikan dengan cara yang tidak terduga.

Secara umum, novel ini memang sangat menarik. Tere Liye memang termasuk novelis jempolan dan sangat produktif. Ketika kita membaca buku-bukunya, serasa tidak akan pernah puas sebelum sampai di bagian akhirnya. Selain dunia mafia yang dikupas, novel ini juga menampilkan kisah pilu kedua orang tuanya Bujang. Mereka sampai terusir dari kampungnya sendiri karena nekad untuk menikah.

Namun, ada satu kelemahan dari novel berkaver hijau ini. Penulis yang menerapkan teknik bercerita orang pertama tokoh utama mengalami masalah saat menceritakan suasana penyerbuan terhadap Basyir. Bujang bisa melihat langsung suasana di atas maupun bawah gedung. Padahal, kalau dengan sudut pandang orang pertama, seharusnya tidak bisa. Sebab, penceritaan yang menggunakan “aku” maupun “saya” hanya seputar yang dilihat, didengar dan dialami oleh tokoh pertama. Akan tetapi, kelemahan itu tidak terlalu merusak bangunan novel secara keseluruhan. Tetap menarik untuk dibaca, disimak dan menjadi bahan referensi kita, terutama seputar dunia mafia atau shadow economy.*

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Kendari Pos, tanggal 7 November 2015.

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!