Generasi Strawberry: Tidak Strong dan Lembek Seperti Penyakit Beri-beri

Generasi Strawberry: Tidak Strong dan Lembek Seperti Penyakit Beri-beri

Share This:

Buah strawberry memang terlihat ranum dan segar. Namun, buah ini amatlah lemah di pohon. Tersenggol sedikit saja, langsung jatuh.

Begitulah yang disamakan dengan anak sekarang, namanya generasi strawberry. Generasi yang rapuh, lemah, dan cukup berbahaya bagi masa depannya.

Apa yang menyebabkan generasi strawberry seperti itu? Ternyata, hal itu dikupas dalam webinar tadi malam, Selasa (12/04/2022). Melalui Zoom dan diinformasikan dari channel Telegram Fatherman.

Tema webinar tersebut adalah “Peran orang tua dalam mendidik anak tangguh”. Nah, kalau tangguh ini, saya teringat dengan teman SMP. Namanya Tangguh Widiasto. Badannya memang kecil dan pendek, lebih pendek daripada saya. Namun, kalau diajak berkelahi, dia berani, sedangkan saya yang takut. Sepertinya orangnya memang nekat dan menangan.

Ada dua pembicara, yaitu: Ustadz Bendri Jaisyurrahman (praktisi Islamic parenting) dan Ayah Irwan (praktisi keayahan). Sedangkan saya kok malah merasa praktisi kepayahan?

Karena Ini

Menurut Ustadz Bendri yang menjadi pembicara pertama, generasi strawberry bisa rapuh disebabkan oleh HP. Lho, kok HP? Ya, jelas sekali, ini ada kaitannya dengan dunia media sosial kita.

Misalnya begini, kita tidak suka dengan orang. Tinggal blokir, unfriend, bahkan laporkan ke pihak medsos. Cara-cara yang semacam itu memang difasilitasi oleh si pembuat medsos. Jadi, mudah saja kita memutus hubungan dengan orang, mudah saja kita bertindak sesuai kehendak kita.

Itulah yang membuat kita jadi was-was. Generasi strawberry punya kecenderungan akal pendek. Ada masalah sedikit, langsung reaktif. Ada problem yang sulit diselesaikan, ujung-ujungnya nanti bunuh diri. Subhanallah.

Kelemahan generasi strawberry tampak dalam tiga hal, yaitu: pergaulan, pekerjaan, dan pernikahan. Dalam pekerjaan, belum tentu orang yang punya CV tebal, lalu dianggap profesional. Seperti yang dikatakan oleh teman Ustadz Bendri, seorang pegawai di bidang HRD atau SDM perusahaan.

“Ustadz Bendri, kalau ada fresh graduate, terus CV-nya tebal, maka saya buang ke tempat sampah saja!”

Yang diajak bicara alias Ustadz Bendri tentu saja kaget. “Lho, kenapa?”

“Iya, soalnya kalau setebal itu bukan karena pengalamannya banyak, tapi banyak resign. Pindah-pindah kerja.”

Ohh, jadi begono? Jika ada lulusan sarjana yang seperti itu, maka namanya adalah kutu loncat!

Begitu pula dalam urusan pernikahan. Betapa banyak pasangan anak muda yang cepat sekali ingin bercerai. Baru ada masalah sepele saja, langsung minta pisah. Padahal pernikahan itu ya memang begitu. Selalu saja ada masalah yang bisa muncul. Masa pernikahan selalu mulus-mulus saja? Pahanya istri sih mulus, tetapi sebaliknya kasar dan berambut tebal. Halah.

Menjadikan Anak Tangguh

Pada sesi kedua, Ayah Irwan diberikan kesempatan untuk tampil. Menampilkan presentasi dengan judul “Jadikan Anak yang Tangguh, Bukan yang Tanggung.”

Ayah Irwan mendasarkan ada tiga stres yang dihadapi oleh anak, antara lain: akademik, pengasuhan, dan pihak ketiga. Kalau akademik, jelas kaitannya dengan pihak sekolah. Pengasuhan, hubungannya dengan orang tua. Sedangkan pihak ketiga itu terdiri dari unsur pergaulan, media, dan lingkungan.

Satu hal yang disoroti dari pihak ketiga itu adalah media. Barang ini dapat mengubah akhlak, bahkan aqidah anak lho! Makanya harus sangat hati-hati.

Menurut Ayah Irwan, target anak yang tangguh adalah usia psikologis lebih matang daripada usia biologis. Artinya ya, mudah saja, kepribadian, sikap, sifat, dan pola pikir mungkin jangan sampai kalah oleh usia yang tercetak di biodata. Misalnya: sudah SMA, tapi pikirannya seperti anak SD. Itu ‘kan miris.

Lalu, bagaimana cara membuat anak tangguh? Ada tiga jawabannya. Pertama, tangguhkan orang tuanya terlebih dulu. Kedua, kenali dan pahami anak dengan pengasuhan yang patut. Dan, yang ketiga adalah kolaborasi, jangan berbuat sendiri atau bekerja solo.

Penjabaran Lebih Dalam Lagi

Agar bisa menjadi orang tua yang tangguh, ada lima hal yang perlu dijaga. Masing-masing adalah aspek spiritual, emosional, intelektual, sosial, fisikal. Sudah pas lima saja.

Sementara untuk tahap kenali dan memahami anak, dua hal yang berkaitan adalah pada tahap pertumbuhan dan perkembangan.

Adapun untuk kolaborasi, tiga hal yang melekat adalah: menyamakan prinsip pengasuhan antara suami dan istri, ayah dan ibu, menyepakati pola pengasuhan, dan menjalankan roadmap pengasuhan.

Dalam sesi diskusi, ada sebuah pertanyaan yang masuk dari peserta webinar. Bagaimana cara anak agar bisa mengendalikan nafsunya? Tentu saja di situ nafsu bisa bermakna banyak, tetapi lebih cenderung negatif sih.

Ustadz Bendri menjawab: penuhi kantong jiwa anak dengan penuh kasih sayang, penuhi anak dengan kemampuan berpikir, dan menjadikan anak punya roadmap. Nantinya, roadmap akan menjadi rundown. Anak yang tanpa rundown akan menjadi bingung menjalani hari. Paling-paling tidur saja, rebahan, main HP, mager, dan lain sebagainya.

Tanggapan Terhadap Webinar

Awalnya, saya tidak terlalu fokus dalam mengikuti webinar tersebut. Sebab, saya sedang menyapu kamar tidur yang Subhanallah, cukup kotor. Alhasil, perhatian jadi terpecah, meskipun tidak sampai piring ikut terpecah. Halah.

Saya menyukai kajian-kajian seputar parenting semacam itu. Blog ini pun punya niche seputar parenting, meskipun masih belum selengkap website lain.

Saat mengikuti webinar itu, saya sempat mengantuk. Padahal seperti biasa, kalau malam saya tidak makan nasi putih. Sudah kenyang makan kue, buah kurma, dan semacamnya.

Ujung-ujungnya dari acara tersebut adalah peserta diarahkan untuk membeli training online dengan judul Raising Our Children. Alamat webnya di: https://www.fatherman.id/roc

Saya belum memutuskan apakah akan ikut atau tidak, karena sudah sering ikut materi semacam itu, tetapi belum tuntas semua. Kalau e-course dalam format video, belum ditonton semua, rasanya jadi mubazir ‘kan?

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.