Belajar Tentang Pendidikan Seks dan Seksualitas Bersama Ferdiana Fachrudin, S.Psi

Belajar Tentang Pendidikan Seks dan Seksualitas Bersama Ferdiana Fachrudin, S.Psi

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Mungkin kamu nanya atau bertanya-tanya, pendidikan seksual itu seperti apa sih? Ada kata “seksual” di situ, tetapi ada juga kata “pendidikan”. Bagaimana cara memadukannya secara benar?

Biasanya, ketika mendengar kata “seksual”, sering konotasinya adalah hubungan seksual suami istri. Makanya, cukup banyak orang yang merasa risih membahasnya, apalagi dengan anak sendiri.

Selain risih, juga tabu, kaku, merasa kurang ilmu, bingung, sulit menjelaskan dengan bahasa anak, dan lain sebagainya, sebutkan sendiri ya!

Pertanyaan kamu telah terjawab melalui sebuah webinar atau Zoom meeting yang disponsori oleh Masjid Nurul Ashri, Deresan, Jogja pada Kamis (29/12/2022) yang lalu. Mulai dari 20.00 WIB. Kalau di tempatku sih, 21.00 WITA, karena saya tinggal di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Kalau kamu sendiri, tinggal di mana?

Pembicaranya adalah tokoh yang menurut saya dan mungkin kamu tentunya, luar biasa! Beliau ini sudah berpengalaman selama 14 tahun di dunia parenting dan psikologi. Mendalami dunia psikologi sejak lama dan fokus di situ.

Dari sini saja kita bisa belajar kepada beliau, bahwa untuk menjadi seorang ahli itu memang mendalami suatu ilmu. Jangan baru belajar satu ilmu, terus pindah ke yang lain. Kalau begitu terus, kapan pintarnya, ya ‘kan?

Beliau adalah Mbak Ferdiana Fachrudin, S.Psi. Seorang konselor dan fasilitator. Berpengalaman di banyak tempat untuk membagikan ilmu dan manfaat dari ilmunya. Coba lihat profil beliau di bawah ini! Boleh dicubit layar hape kamu biar gambarnya lebih terlihat besar.

pendidikan-seks-1

Awalnya Tidak Jelas

Membicarakan pendidikan seks memang awalnya tidak jelas. Namun, di sini yang dikatakan tidak jelas itu bukan saja materinya, tetapi layar yang menampilkan Mbak Ferdiana atau Mbak Nana juga tidak jelas. Blur, begitu istilahnya. Namun, istilah tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan babak blur lho! Jauh banget, lah.

Baca Juga: Cerita Sederhana Tentang Tukang Parkir Mobil

Saya merasa herman, maksudnya heran, kok bisa layarnya blur? Apakah sinyal dari HP saya yang ditheteringkan ke laptop?

Ternyata tidak juga, karena peserta lainnya juga menyatakan yang sama. Oh, mungkin dari Mbak Nana sendiri, di tempatnya yang sinyalnya bermasalah. Namun, it’s oke kok, acara dapat berjalan dengan cukup lancar. Oke, lanjut!

pendidikan-seks-2

Dimulai dengan Cerita

Beliau membuka pemaparan ilmunya dengan cerita. Namun, saya tidak bisa mengikuti seluruh cerita singkatnya, tetapi melihat dari respons para peserta, intinya adalah jangan memaksakan sesuatu kepada anak.

Hem, ini yang sebenarnya juga mendatangkan masalah antara orang dan anak, selain terkait dengan pendidikan seksual. Memaksa sesuatu kepada anak, awalnya ‘kan dari orang tua yang merasa paling berkuasa terhadap diri anaknya. Merasa paling tahu dengan keadaan si buah hati.

Padahal, tidak selalu begitu. Meskipun berasal dari darah dagingnya, anak tidak harus selalu sama dengan orang tua.

Saya teringat dengan sebuah cerita nyata. Sebuah keluarga antara orang tua, terutama sang ayah dengan anak perempuannya, anak bungsunya. Tadinya, si gadis tersebut ingin mengambil Sastra Korea, tetapi ayahnya langsung melarang dengan alasan, “Nanti kalau sudah lulus mau jadi apa?”

Dilarang ayahnya, si anak tersebut mulai mengurungkan niatnya. Mulai mengendurkan keinginannya. Dan, dia pun menuruti keinginan bapaknya untuk memilih jurusan Ilmu Sosiatri.

Menjalani kuliah, meskipun bukan pilihan hatinya yang paling dalam, tetapi anak tersebut mampu meraih prestasi. IP-nya tinggi, bahkan cumlaude.

Namun, memasuki tahap menulis skripsi, gadis itu kehilangan semangat. Dia teringat lagi bahwa jurusan yang diambilnya itu bukan pilihan hati. Bukan sesuai kata hatinya.

Mulailah dia malas kuliah. Skripsinya mulai terbengkalai. Berangsur-angsur, skripsi yang menjadi kewajiban mahasiswa tingkat akhir, walaupun tidak tahu akhirnya kapan, tidak lagi dilirik. Sampai akhirnya, ayahnya marah sekali.

Akan tetapi, berbeda dengan anaknya yang laki-laki, untuk anak perempuan ini, ayahnya memilih diam. Memilih untuk menceritakan ke sana kemari. Tidak mau menggunakan kekerasan untuk anaknya.

Sampai kini, mereka tidak baku bicara. Sang ayah punya keinginan bahwa ketika skripsinya selesai, bisa bekerja di kantornya. Namun, anaknya tetap menolak. Dia punya keinginan sendiri.

Sayangnya, keinginan tersebut masih labil, masih belum mantap, yaitu: keinginan untuk menjadi penulis dan desainer grafis. Dua kemampuan tersebut belum ditunjukkan dengan sebuah prestasi. Bagaimana orang mau percaya, ya ‘kan?

Hal yang Dirasakan Orang Tua Ketika Membicarakan Seksualitas

pendidikan-seks-25

Antara seks dan seksualitas memang dua kata yang berbeda. Namun, perbedaan bukan dari tulisannya lho ya! Sebelum membahas perbedaan dua kata itu secara benar, Mbak Nana memancing interaksi dengan para peserta dengan memberikan sebuah pertanyaan, “Apa yang Ayah Bunda rasakan jika membicarakan seksualitas?”

Jawabannya tidak perlu panjang lebar, plus tinggi, memangnya menghitung volume? Cukup dengan memberikan angka. Kalau angka 1 itu artinya biasa saja, sedangkan jika angka 10 artinya sangat tidak nyaman.

pendidikan-seks-4

Chat pun bertubi-tubi muncul. Bagaikan deret angka yang sangat cepat. Ada yang jawab 1, 2, 3, 5, sampai 10 pun mungkin ada.

Kalau yang jawab sampai 11 atau 20, menurut saya tidak ada. Jika muncul jawaban angka sebesar itu, kemungkinan si peserta sedang mengantuk berat!

Baca Juga: Tentang Uang Panai Sulawesi dan Mental Gratisan

Saya sendiri menjawab dengan memilih angka 6. Ya, menengah agak tinggi sedikit. Sebab, membicarakan seksualitas dengan anak itu memang ada ketakutan, yaitu: takut salah.

Bagaimana nanti jika dia punya persepsi lain? Bagaimana nanti jika dia sudah pernah mendengar seksualitas dari temannya atau HP yang pernah dia tonton? Ada rasanya seperti itu, tetapi saya berharap positif saja sih.

Nah, sekarang membahas tentang perbedaannya, apa sih seks itu? Dan, apa pula seksualitas itu? Seks rupanya berkaitan dengan jenis kelamin, ada laki-laki dan ada pula perempuan. Jenis kelamin yang ketiga itu tidak ada, itu adalah jenis kelamin yang dibuat-buat saja. Menyalahi kodrat dari Allah, ya toh?

pendidikan-seks-5

Seks dalam bahasa Inggris memang disebut dengan “sex” yang artinya jenis kelamin itu tadi. Menyangkut pula kualitas fisik, perbedaan struktur dan fungsi, perhatian dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya, tingkah laku, sampai hubungan seksual.

Sementara itu, seksualitas menyangkut dimensi yang lebih tinggi. Mulai dari dimensi biologis, sosial, psikologis, dan kultural sesuai jenis kelamin. Seksualitas juga menyangkut kepribadian sampai menunjukkan siapa diri kita? Siapa hayo, coba jawab!

pendidikan-seks-6

Sesi Jeda

Kalau dalam acara TV, macam ILC, Karni Ilyas mengatakan, “Kita rehat sejenak!” Artinya tentu saja, akan ada iklan yang muncul. Jika muncul iklan, maka secara refleks, kita akan mengganti channel, betul bukan? Belum pernah ada sepertinya, iklan yang muncul di TV-nya, terus ganti TV tersebut.

Iklan pada dasarnya adalah sesuatu yang wajar dalam dunia pertelevisian. Bila bukan dari iklan, darimana TV dapat pemasukan? Dari iuran TV macam zaman bapak kita dulu?

Mbak Ferdiana menyajikan jeda atau sesi istirahat sejenak kepada para peserta. Mungkin sesi tersebut sengaja diadakan untuk menurunkan tempo berpikir para peserta seputar seks dan seksualitas.

Membicarakan seks dan seksualitas memang bisa bikin mumet. Makanya, ditenangkan dengan sebuah jeda dari beliau. Pembicara ini tidak putar cuplikan film Hollywood atau malah Bollywood, nggak lah yauw! Beliau memutarkan sebuah murottal, QS Arrahman oleh Syekh Ismail Annuri.

pendidikan-seks-7

Banyak peserta yang memberikan responsnya. Ada yang teringat masa lalu, merasa bahagia, sejuk, adem, dan ada pula yang menangis. Masya Allah, mendengar murottal surah ini memang bisa membuat hati jadi lebih nyaman. Sebab, isinya bercerita tentang keindahan surga.

Siapa lagi yang bisa menceritakan surga sedetail itu selain Penciptanya sendiri, yaitu: Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Surga adalah sebuah tempat yang tidak pernah dilihat, didengar, maupun terbersit dalam hati manusia. Masya Allah, semoga kita bisa masuk ke sana nanti di akhirat. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Baca Juga: 3 Tips Mengenalkan Uang ke Anak Sesuai Fase Umur

Meskipun yang ditampilkan di situ adalah murottal dengan video pendek keindahan alam, tetapi jujur, suaranya memang kecil. Keluhan suara kecil itu diketik oleh para peserta di kolom chat.

Saya juga mendengarnya kecil, tetapi saya tidak menulis keluhan di kolom chat. Saya lebih memilih menulis di buku catatan kecil agar bisa membuat tulisan di blog ini, hehe..

Masuk Lebih Dalam Lagi

pendidikan-seks-26

Sebenarnya, ada hal yang menjadi masalah pada anak-anak kita. Sebuah fakta bahwa angka kejahatan seksual memang tinggi. Selain itu, anak terekspos dengan konten seksual di usia yang sangat dini.

Kita pasti tahu jawabannya, dari mana konten seksual itu muncul? Tentu saja yang pantas disalahkan adalah HP. Namun, yang lebih disalahkan selanjutnya adalah, siapa yang memberikan mereka HP? Bukankah kita juga? Jadi, siapa yang salah dong?

Konten seksual yang cukup berbahaya adalah LGBT. Penyakit yang satu ini memang sudah ada sejak zaman Nabi Luth alaihissalam. Kaumnya dibinasakan oleh Allah dengan cara dibalik tanahnya, lalu dilempari batu.

Hukuman atau adzab semacam itu menjadi hukuman pula untuk kaum LGBT sekarang ini sebenarnya. Mereka dijatuhkan dari tempat yang paling tinggi, lalu dilempari batu. Akan tetapi, hil yang mustahal jika diterapkan di negara kita, sebab di sini bukanlah syariat Islam yang utama. Alasannya pastilah melanggar HAM, dan bla bla bla lainnya.

Pada dasarnya, anak-anak tertarik dengan perkembangan tubuh mereka. Ini memang masih ada kaitannya dengan seksual dan seksualitas. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah dari siapa mereka mencari tahu? Apakah dari kita sebagai orang tuanya, teman, orang dewasa, atau apa? Atau siapa?

Mbak Ferdiana semakin dalam menjelaskan tentang seks dan seksualitas melalui gambar-gambar. Dimulai dari pertanyaan, “Apa yang menahanku selama ini, dalam hal ngobrolin seksualitas dengan anak?”

Ada lima gambar yang tertutup. Para peserta disuruh untuk memilih, dari nomor 1 sampai 5, angka berapakah yang akan keluar nantinya? Apakah angka itu yang dipilih atau yang ada di saku saya? Lho, kok malah ngomongin kuis?

pendidikan-seks-9

Lalu, setelah dibuka, gambar apa sih di dalam nomor-nomor itu? Nah, ini dia jawabannya!

pendidikan-seks-10

Angka 1 sampai 5 yang dipilih tadi, rupanya ada makna-makna yang terkandung di dalamnya tentang pendidikan seks. Ada seorang peserta yang bernama Bunda Ika yang mengungkapkan bahwa waktu kecil kurang bahagia, kurang menemukan figur ayah.

Dia memilih nomor 1, berarti kaki yang berlumpur. Ternyata, kalimatnya yang bagus, “Sekotor apapun, masih ada titik terang!”

Beberapa peserta ditanya oleh Mbak Ferdiana. Beliau mendengarkan dengan cukup fokus. Hal itu membuat peserta yang ditanya merasa nyaman. Apalagi ada yang mengungkapkan bahwa anaknya mendapatkan materi seksualitas dari temannya. Hal itu membuat ibu si anak ini marah.

Anaknya berpendapat, mengapa metodenya seperti itu? Kenapa tidak dibuat lebih menyenangkan? Oh, itu pandangan tentang hubungan seks ya? Padahal, jika anak tersebut sudah dewasa, maka hubungan seks itulah yang paling menyenangkan. Setuju atau setuju banget nih?

Pertanyaan berikutnya dari Mbak Ferdiana adalah, “Apa yang perlu kusiapkan untuk nyaman ngobrolin seksualitas dengan anak? Beliau menampilkan slide ini untuk para peserta:

pendidikan-seks-11

Apa yang paling banyak dipilih oleh peserta? Ya, saya sendiri juga tidak tahu. Namun, mereka kembali ditanya oleh Mbak Ferdiana, metode mana yang dipilih untuk bicara seksualitas dengan anak?

Baca Juga: 9 Perlengkapan Bayi Baru Lahir yang Lengkap dan Bisa Jadi Tidak Terpikirkan

Masih ada gambar lagi seputar paradigma. Begini penampakan gambarnya:

pendidikan-seks-12

Ternyata, itu adalah foto yang dibolak-balik saja. Ketika menjelaskan tentang makna dari gambar tersebut, Mbak Ferdiana sempat menceritakan tentang celana gemes. Ini adalah cerita beliau dengan anak perempuannya.

Yang dimaksud dengan celana gemes adalah celana yang sangat pendek sekali hingga pahanya kelihatan. Saking pendeknya, maka celana itu dipandang gemes atau menggemaskan itu.

Anak perempuan Mbak Ferdiana ingin memakai celana tersebut, tetapi tentu saja dilarang dong! Sampai anaknya masuk ke sekolah pondok dan bertemu dengan teman sebayanya. Eh, saat pulang, teman sebaya anaknya tersebut memakai celana gemes juga. Timbul pertanyaan dari si anak, “Kenapa dia bisa, sementara aku tidak bisa pakai celana begitu?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut, ada kaitannya dengan di bawah ini:

pendidikan-seks-13

Pada poin ketiga itulah, yang membedakan setiap keluarga, apalagi terkait dengan celana gemes yang dibolehkan oleh keluarga temannya, sementara di keluarga Mbak Ferdiana tidak.

Jadi, kunci dengan agama dan nilai-nilai keluarga itulah yang harus diprioritaskan dan dianut. Kalau keluarga tidak memliki kunci pada agama dan nilai yang positif, hem, seperti apa deh nanti jadinya?!

Tahapan Perkembangan Seks Anak

Menurut Sigmund Freud, ada lima tahapan perkembangan seks anak. Sebelumnya, kenal sama Sigmund Freud ini? Beliau ini terkenal juga dalam ilmu psikologi. Jika kamu kenal, kenalnya di mana ya? Hehe…

pendidikan-seks-14

Dari slide yang ditampilkan, terlihat bahwa tahapan perkembangan seks anak itu dimulai dari fase oral, ini usia dari 0-8 bulan. Pada fase ini, lebih banyak memang dikaitkan dengan mulut anak, yang notabene masih bayi itu. Sering bukan melihat ada anak bayi yang memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya?

Hal tersebut sampai orang tuanya lumayan kerepotan dan harus terus menjaga agar anaknya tidak memasukkan barang sembarangan atau bahkan berbahaya ke dalam mulutnya.

Meskipun namanya oral, tetapi istilahnya juga ada kaitannya dengan dunia orang dewasa, yaitu: oral seks. Suatu metode untuk memuaskan pasangan dan juga diri sendiri mungkin dengan mempermainkan kelaminnya. Mungkin dengan mencium, menjilat, maupun menghisap. Hiii…

Mengenal oral seks ini, memang cukup banyak pertentangan. Apalagi di kalangan umat Islam. Sebabnya, alat kelamin itu ‘kan konotasinya selalu kotor.

Memang di situlah tempat membuang kotoran, berupa air kencing dan lendir lainnya. Masa dimasukkan ke mulut yang notabene untuk berdzikir kepada Allah? Ya ‘kan? Apalagi cara tersebut memang berasal dari barat.

Lanjut lagi. Pada fase kedua, yaitu: anal, terjadi usia 8-18 bulan. Tahap ini, anak sudah bisa mengeluarkan dan menahan kotoran. Mereka bisa tidak langsung buang air besar, tetapi ada yang jebol juga.

Walaupun fase ini pada anak usia segitu, ada juga lho anak SD yang kelepasan BAB. Istilah Jawanya adalah ngebrok. Bahkan, orang dewasa pun ada. Setelah dia makan popcorn banyak-banyak, rupanya hasrat untuk BAB sedemikian menggebu-gebu, sampai meluncur tak sesuai waktu. Halah.

Tahapan setelah anal, yaitu: phallic, latency, dan genital. Pada tahap yang tertinggi, anak memang sudah mencari tahu tentang seksual orang dewasa, maupun bisa jadi bentuk tubuh orang dewasa.

Mereka mungkin akan membandingkan, antara orang dewasa tersebut dengan tubuhnya sendiri. Orang tua tetap perlu mengajarkan baik-baik kepada anaknya. Misalnya: ketika menyusui, anak perlu dijelaskan bahwa itu adalah bagian tubuh orang dewasa. Begitulah.

Mengenai menyusui ini, saya teringat sebuah kisah fiktif dari seorang pelawak Jogja. Katanya, dalam bus kota itu ada larangan untuk tidak mengeluarkan anggota badan. Ada seorang ibu yang menyusui. Ditegur oleh kondektur, “Bu, di sini tidak boleh mengeluarkan anggota badan!”

Apa jawab ibu itu? Ternyata dia menjawab, “Oh, tidak Pak, ini ketuanya kok!”

Tahapan Pendidikan Seksualitas dalam Islam

Masih ingat bukan beda antara seks dan seksualitas? Tentu beda dong pendidikan seks dengan pendidikan seksualitas. Perbedaannya ada di sini:

pendidikan-seks-15

Pembagiannya sesuai umur, dari usia 7-10, 10-14, 14-16, dan di atas 16 tahun. Untuk fase 7-10 tahun, ada adab meminta izin. Ini berkaitan dengan tiga waktu yang biasanya aurat orang tuanya terbuka, yaitu: setelah Subuh, tengah hari, dan sesudah Isya.

Waktu-waktu tersebut juga bisa dipakai untuk berhubungan seksual. Makanya, anak harus mengetuk kamar orang tuanya. Agar bisa diketuk, maka harus dikunci. Dan, agar bisa dikunci, maka harus ada pintunya. Jangan kamarnya cuma pakai gorden ya!

Rangsangan seksual bisa muncul pada usia 10-14 tahun, bahkan bisa lho kurang dari itu, apalagi memang sekarang, Subhanallah, tahu sendiri lah yauw! Saran untuk orang tua agar anak dijauhkan dari rangsangan seksual. Ini penting sebagai dasar anak dalam menjalani bagian kehidupan selanjutnya.

Baca Juga: Kisah Nyata: Ucapan Berbalik Kepada Diri Sendiri

Etika seksual antara umur 14-16 tahun misalnya menahan pandangan dari lawan jenis. Bisa juga mengajarkan untuk tidak bersalaman dengan sembarang orang, apalagi lawan jenis itu tadi.

Pada fase lebih dari 16 tahun, selama diberikan panduan tentang pendidikan seks dan seksualitas secara benar sejak kecil, maka Insya Allah akan lebih bisa menjaga diri.

Ketika Anak Bertanya Tentang Seks

Hal yang orang tua sering tidak sadari adalah ketika anak mulai bertanya tentang seks, apalagi jika sudah langsung menyangkut hubungan seks. Waow, itu hal yang sangat mengagetkan!

Apalagi di awal tulisan ini, banyak orang tua peserta webinar ini yang merasa malu, takut, bingung, galau, dan sebagainya seputar pendidikan seks kepada anak. Cara menjelaskannya hal yang dianggap tabu itu dalam bahasa anak memang tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa, ya toh?

pendidikan-seks-18

Pada mulanya, orang tua memang harus tenang. Tanyakan kembali yang dimaksud anak itu seperti apa? Sejauh mana pengetahuannya tentang seks?

Kalaupun tidak bisa dijawab saat itu, minta waktu dan buat waktu yang jelas, kapan bisa dijelaskan kepada anak? Mungkin orang tua akan mencari jawaban yang paling pas dan tepat terkait pertanyaan anak tersebut.

Sesi Diskusi atau Tanya Jawab

Paling bagus memang setelah pemateri mengemukakan materinya (yah, namanya juga pemateri). Ada beberapa pertanyaan yang saya catat:

1. Seksualitas untuk Anak Pesantren

Pertanyaan ini datang dari Jihan Yanti tentang mengenalkan seksualitas kepada anak pesantren dan menjelaskan LGBT. Soalnya dalam kenyataannya, anak pesantren kumpul sesama jenisnya. Nah, bagaimana itu?

Mbak Ferdiana menjawab bahwa tanggung jawab tentang pendidikan seks dan seksualitas itu adalah tanggung jawab orang tua. Saat di pesantren, anak-anak itu yang sudah menjadi santri adalah produk jadi dan telah tersaji. Makanya, ketika ada masalah, dilihat masa lalunya, bagaimana orang tua mendidiknya dahulu? Guru itu hanya bisa klasikal, artinya susah untuk mendidik anak satu persatu secara mendalam.

Jika anak-anak mau dimasukkan di pesantren, maka orang tua perlu memberikan batasan-batasan. Misalnya, tidur jangan satu selimut atau satu bantal. Tidak boleh memperlihatkan aurat yang paling pribadi, meskipun kepada sesama jenis. Tidak boleh memegang bagian tubuh yang sensitif. Dan masih banyak lagi.

2. Pembuatan Anak

Pertanyaan kedua datang dari Permatha Aike. Anaknya bertanya tentang pembuatan anak, apa pegangan tangan dan nempel-nempel terus bisa hamil?

Jawaban dari Mbak Ferdiana, perlu tanya balik, apa yang anak itu tahu tentang pembuatan anak? Jangan sampai sudah tahu informasinya. Kalau hanya pegangan tangan dan nempel-nempel, jelas tidak bisa hamil. Prosesnya lebih daripada itu.

3. LGBT dalam Keluarga

Ada kenyataan yang cukup miris, datang pertanyaan dari Azilia Humaira. Anak laki-lakinya berumur 13 tahun, belum puber/baligh, bagaimana cara menjelaskan seks dan LGBT? Dalam keluarganya, ada yang LGBT.

Baca Juga: Kenali Positif dan Negatif Pendidikan Anak Serba Boleh Semuanya Alias Yes Parenting

Perlu diterangkan pandangan Islam tentang LGBT, begitu tanggapan Mbak Ferdiana. Kira-kira menurut agama kita, LGBT itu benar atau salah? Jika dilihat secara lurus, memang LGBT itu salah. Metode untuk pendidikan seks anak memang menggunakan pertanyaan juga agar anak tersebut bisa berpikir.

4. Minta Adik

Bagaimana jika anak usia 4 tahun terus-menerus minta adik, padahal sudah punya adik umur 2 tahun? Begitulah pertanyaan dari Ummu Natsir.

Mbak Ferdiana dengan cukup sederhana, mungkin anak tersebut hanya ingin seru-seruan, hanya ingin rumahnya tambah ramai. Bisa jadi, anak tersebut memang sedang ingin diperhatikan perasaannya dan ingin juga dihargai. Jadi, sampai melontarkan keinginan seperti itu. Anak usia 4 tahun belum paham tentang hal-hal yang begituan terkait seks.

5. Menjelaskan Tentang Perkosaan 

Saya lupa namanya, alias tidak catat, tetapi pertanyaannya adalah bagaimana cara menjawab pertanyaan dari anak umur 12 tahun tentang perkosaan?

Untuk pertanyaan ini, sang narasumber kita memberikan saran untuk menghilangkan terlebih dahulu tabu dan saru. Berdialog seputar seks, sampai kejahatan seks seperti perkosaan itu memang lebih aman anak berbicara dengan orang tuanya.

Jika bukan dengan orang tuanya, maka anak akan mencari informasi di luar. Nah, informasi tersebut bisa benar, tetapi bisa juga salah. Bisa tepat, bisa juga sesat.

Saran dari Mbak Ferdiana, cicil pembicaraan seputar pendidikan seks dan seksualitas agar anak makin terbuka. Usahakan memakai bahasa yang ada di dalam Al-Qur’an dan ilmiah jika membahas tentang perkosaan. Jangan lupa untuk selalu minta pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

6. Anak Dibully

Kalau poin sebelumnya tentang perkosaan, yang ini mirip dengan perkosaan, tetapi lebih tepatnya adalah pembullyan. Pertanyaan seputar masalah yang menimpa anaknya bahwa anak tersebut celananya dipelorotkan oleh teman-temannya. Anak tersebut kesal. Bagaimana menghadapinya?

Pembicara berjilbab ini memberikan saran untuk menolong dulu anaknya. Salurkan dulu emosi atau perasaannya. Pastikan dia merasa aman. Cegah, jangan sampai terulang di kemudian hari.

Bullying semacam itu sejatinya memang tidak sederhana. Tidak hanya pada korban, pada pelaku pun sebetulnya dia merasa tidak nyaman.

Bisa jadi, si pelaku pernah diperlakukan begitu. Jadi, dia membalas kepada korban karena untuk membalas kepada pelakunya yang dulu mungkin tidak bisa. Wah, kalau yang ini, bisa jadi mata rantai yang tidak ada putus-putusnya!

Kedua anak, baik korban maupun pelaku, perlu untuk diselamatkan. Mereka pun perlu penanganan yang baik, jangan sampai menimbulkan masalah berikutnya yang lebih besar.

Senyum Anak Ceria

Dunia parenting, pendidikan keluarga, apalagi pendidikan seks dan seksualitas memang sangatlah kompleks. Oleh karena itu, dituntut bagi orang tua untuk selalu belajar, belajar, dan belajar. Meskipun orang tua sudah tidak lagi sekolah, tetapi ‘kan belajar itu berlaku seumur hidup.

Ada buku-buku yang cocok untuk dijadikan referensi seputar seksualitas sesuai rekomendasi Mbak Ferdiana. Ini dia yang mungkin cocok buat kamu ya:

pendidikan-seks-19

Menjadi orang tua pembelajar itu memang tidak mudah. Namun, hasil akhirnya sangatlah menyenangkan. Anak-anak jadi merasa nyaman dengan orang tuanya hingga membuahkan senyum yang sangat memikat seperti di bawah ini!

pendidikan-seks-20

Bagi kamu yang ingin belajar lebih banyak dengan Mbak Ferdiana atau Mbak Nana Fachrudin, bisa lihat berikut nomor kontak beliau.

pendidikan-seks-21

Semoga tulisan rangkuman materi ini bermanfaat ya! Yuk, jadi orang tua yang selalu belajar, apalagi seputar pendidikan seks dan seksualitas. Hilangkan dulu tabu dan saru, sebab ini intinya adalah pendidikan. Oke?

Dan, bagi kamu yang ingin mendapatkan tulisan terbaru saya berikutnya tentang parenting dan pendidikan keluarga atau materi seputar webinar semacam ini, silakan ketik di kolom komentar pada bagian bawah. Syukron. Terima kasih. Wassalam…

Baca Juga: 10 Perkataan yang Merusak dan Meruntuhkan Dunia Anak

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.