Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Sendiri Seperti Matahari Terbit Setiap Pagi?

Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Sendiri Seperti Matahari Terbit Setiap Pagi?

Share This:

Terbayang tidak, cara menerbitkan buku sendiri meski sekali seumur hidup? Saking mudahnya, bisa jadi matahari terbit akan kalah terang dibandingkan bukumu yang baru saja terbit. Tapi, bagaimana caranya? Boleh simak yang berikut ini!

Dalam sebuah karangan, pastilah terdiri dari unsur-unsur yang saling bertaut. Mulai dari huruf, kata, kalimat, paragraf, satu artikel utuh, hingga menjadi satu buku yang tersusun lengkap.

Tidak ada ceritanya, buku tanpa huruf di dalamnya, kecuali mungkin buku gambar. Ada pula buku yang isinya kurang hurufnya, tetapi lebih banyak angka yang berbicara. Apa itu? Dia adalah buku tabungan! Sebuah buku yang kadang alur ceritanya lebih seram daripada film horor paling mengerikan.

Bersama Pakarnya

Bagi kamu yang terpikir untuk membuat buku, pastilah berpikir, apa iya, buku saya ini bisa terbit dan betul-betul tercetak hingga dibaca orang? Apa iya saya ini bisa membuat buku layaknya para penulis terkenal sang idola tersebut?

Apa iya, buku saya nanti akan terpajang di toko buku dan perpustakaan di mana-mana? Apa iya, saya ini bisa menikah dengannya? Wah, harapan jomblo malah ikut nimbrung di sini!

Tanyalah kepada orang yang lebih tahu. Jelas dong, sesuai dengan peribahasa, malu bertanya sesat di jalan. Makna dari peribahasa tersebut tentunya bertanya kepada orang lain. Pasti, peribahasa ini lahir ketika belum ada Google Maps!

Pada resume sebelumnya, saya selalu menyertakan banner tentang tokoh atau narasumber yang dikupas ilmunya. Kali ini juga begitu. Ini dia bannernya, silakan diperhatikan dengan seksama.

cara-menerbitkan-buku-sendiri-1

Siapa Bapak Thamrin Dahlan, SKM, M. Si ini? Berdasarkan profil yang beliau bagikan di grup Belajar Menulis Gelombang 16, sebagai berikut:

  1. Purnawirawan Polri dengan pangkat terakhir Kombes (Pol);
  2. Dosen Akper Polri;
  3. D3 Akper Palembang;
  4. S1 FKM UI;
  5. S2 Pascasarjana UI;
  6. Blogger dan penulis, sudah menerbitkan 31 buku.

Kesan pertama membaca latar belakang beliau, tidak lain dan tidak bukan adalah: Masya Allah. Ini keistimewaan pelatihan menulis bersama Om Jay dan PB PGRI. Talenta-talenta berprestasi itu justru lebih kinclong di usia yang bisa dikatakan tidak lagi muda.

Ketika umur dikatakan pensiun atau mendekati seperti itu, justru semangatnya yang tidak mengenal kata pensiun. Semangat untuk belajar dan berbagi manfaat dengan orang lain, mendapatkan tempat yang layak pada umur lebih banyak.

Baca Juga: Pembelajaran Bagi PNS dari Sosok Bob Sadino

Hal itu sebenarnya menampar generasi muda sekarang yang lebih banyak mengeluh, galau, suka membulli dan hobinya cuma rebahan. Mereka terbiasa dengan dunia media sosial, tetapi memanfaatkannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Membuat status-status yang receh. Ditulis atau tidak, tetap tidak ada manfaatnya. Berkomentar dengan bahasa yang tidak santun. Misalnya: memakai kata bajay, eh, anjay. Plus kata-kata lain yang itu cuma ikut-ikutan.

Selain itu, mengulik lagi status mantan-mantan mereka padahal sudah tidak ada lagi ikatan pacaran. Buat apa seperti itu? Toh, selama berpacaran, tambah lagi hidup mereka tidak berguna. Bukankah lebih bermanfaat jika hidup ini diisi dengan kegiatan yang produktif?

Hobi rebahan di kasur, pindah ke sofa, berjalan sedikit, rebahan pula di ruang tamu, pas tidak ada tamu. Yang belum, rebahan di kamar mandi!

Jadi anak muda kok begitu? Malu dong sama yang lebih tua, tetapi masih berusaha mengisi hidup dengan lebih baik.

Mas, Mas, resumenya mana? Kok malah bahas anak muda terus? Sudah menunggu pembaca lho!

Oh, ya, maaf, maaf! Soalnya geregetan sih!

Momok Menerbitkan Buku

Sebagai orang yang belajar menulis juga, saya pernah membuat suatu tulisan tentang bisnis. Waktu itu, kalau tidak salah, saya masih kuliah. Tentu, kuliah di perguruan tinggi negeri lho! Bukan kuliah Subuh. Atau malah kultum yang cuma kuliah tujuh menit itu.

Saya masih ingat judulnya: Bisnis Spears. Judul lengkapnya saya lupa. Mengapa saya ambil judul itu? Ya, sebab waktu itu penyanyi Britney Spears masih sangat terkenal. Sekarang, mana orang kenal dengan nama itu.

Sekitar 200-an halaman lebih jika tidak lupa, saya bawa satu bundel ke sebuah penerbit ternama di Jogja. Saya memang asli Jogja, lahir sebagai bayi yang imut, mungil dan ganteng di sana. Imut dan mungilnya sudah hilang, gantengnya mungkin yang belum. Hehe..

Eits, jangan salah! Meskipun penerbit ternama, ternyata kantornya sempit. Mirip rumah biasa. Ketika itu, saya berpikir, penerbit kantor sempit begini, mesin cetaknya mana? Katanya penerbit, kok tidak ada percetakannya?

Saya belum tahu, ternyata penerbit tidak harus sama persis dengan percetakan. Kantor penerbit di situ, percetakannya di tempat lain. Ohh, begono!

Saya setorkan begitu saja satu bundel buku tersebut. Font tulisan pun bukan yang baku. Tanpa ada surat pengantar, sedikit intisari buku alias sinopsis, ini buku tentang apa dan lain sebagainya. Artinya, dengan kata lain, saya memang kurang sopan. Semestinya penulis pemula melakukan, yah, perkenalan karya lewat sinopsis, lah.

Sepekan saya cek, kabar yang saya terima: DITOLAK! Manusia macam mana sih yang tidak kecewa ketika ditolak? Apalagi sebagai orang yang baru berpikir ingin menjadi penulis hebat.

Tidak mau menyerah, saya bawa lagi ke penerbit lain. Kali ini, gedungnya lebih cetar membahana. Saya juga lihat di dalamnya, banyak buku bertumpuk. Termasuk pula penerbit mumpuni di negeri ini. Masih di kota Jogja.

Saya lupa namanya juga. Yah, begitulah saya, untuk hal-hal masa lalu, sering lupa. Tapi, yang susah adalah melupakan si dia. Halah, opo lho iki?

Ditolak juga pada akhirnya. Menyerah dong? Kalau membawa naskah seperti itu, memang tidak lagi. Namun, saya ganti dengan tulisan-tulisan kecil. Biasanya bentuk artikel maupun cerpen.

Alhamdulillah, dengan begitu, hasrat dan gairah menulis bisa terjaga sampai sekarang. Apalagi tergabung dalam grup belajar menulis bersama Om Jay dan PB PGRI.

Namun, pemikiran untuk menerbitkan buku, tentunya melekat pada diri seorang penulis, termasuk saya. Bahkan, seseorang itu bukan dikatakan sebagai seorang penulis kalau tidak punya buku! Pernah mendengar seperti itu?

Ketika ada yang mengaku, saya ini seorang penulis. Lalu, orang lain akan bertanya, “Penulis? Mana bukumu coba lihat?”

“Ehem, anu, belum ada!”

“Halah, kayak gitu kok ngakunya penulis? Haha…”

Nah, bisa membuat down lagi ‘kan? Apalagi jika dia kena lockdown. Sudah semangatnya down, dilock atau dikunci lagi, sampai tidak bisa berkutik dan berkotek-kotek. Tek, kotek, kotek, kotek, anak ayam turun berkotek. Malah lagu lama ini. Jaman jadul.

Solusinya?

Jika menerbitkan buku dianggap sebagai suatu hal yang menjadi bukti seseorang itu penulis, tentu orientasi pertama adalah bisa diterbitkan oleh penerbit mayor. Ini bukan istilah untuk penerbit militer lho ya! Atau malah penerbit yang belajar seni musik. Ada nada mayor, ada pula nada minor. Bukan itu.

Harapan seseorang kalau bisa diterima lamaran pada gadis pilihannya diterima bukunya di penerbit besar, semacam: Gramedia, Kompas, Mizan dan sebagainya, maka bukunya akan dibeli dan dibaca banyak orang.

Kalau sudah begitu, maka keinginan untuk menjadi terkenal tinggal menunggu waktu. Waow, terkenal ya? Ini ‘kan impian banyak anak muda sekarang. Makanya, dengan memanfaatkan medsos, mereka menempuh segala cara agar bisa terkenal. Salah satunya dengan membuat konten viral.

Baca Juga: Listrik: Hidup Segan, Mati Sudah Pasti

Namun, harapan besar, diimbangi dong dengan tantangan yang juga tidak kecil. Penerbit besar pastilah hanya menerima naskah-naskah berkualitas. Naskah-naskah yang sekiranya nanti akan laku di pasaran. Buat apa terima naskah ecek-ecek dan ujungnya nanti melempem di pasaran? Ya ‘kan? Penerbit ini ‘kan penjual juga pada dasarnya.

Apalagi yang memasukkan buku ke sana tidak cuma kita. Ada mungkin ratusan naskah yang masuk tiap harinya. Entah itu lewat hardcopy maupun softcopy. Editor akan menyeleksi, mana naskah yang bisa terbit dan mana yang harus dibuang saja? Jelas pekerjaan yang tidak mudah. Namun, di situlah nyawa penerbit itu bernaung.

Lalu, bagaimana dengan penulis yang tidak diterima naskah di sana-sini di penerbit ternama seperti saya dulu? Ada satu alternatif. Dan, tidak ada kaitannya dengan pengobatan alternatif.

Buku bisa diterbitkan lewat indie. Ya, lewat penerbitan indie, buku kamu bisa terbit, layaknya diterbitkan oleh penerbit yang lebih besar. Dan, caranya sudah sangat mudah pada era serba mudah sekarang ini. Bagaimana caranya?

Inilah yang dibahas pada kuliah belajar menulis bersama Om Jay dan PB PGRI pada Senin (19/10) kemarin. Tiap hari Senin, Rabu dan Jum’at, selalu saja ada pemberian materi seputar menulis. Mesti diresume di blog pribadi masing-masing. Hem, sebenarnya meresume itu kembali ke diri sendiri, sih. Menuliskan materi dan membingkai dengan bahasa sendiri, membuat pengetahuan jadi bertambah.

Lewat Sebuah Yayasan

Sebuah organisasi dengan nama Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) didirikan untuk membantu para penulis dalam menerbitkan karyanya. Yayasan ini berdasarkan inisiatif dari Bundo Kanduang rahimahullah, AKBP (P) Hj. Husna Darwis binti Hj. Dahlan, SH.

Beliau adalah mantan polwan. Selain itu, mantan notaris di Bogor. Ada keinginan yang kuat pada diri beliau, agar minat membaca dan menulis keluarga besar Petokayo dan masyarakat bisa meningkat.

Uni Husna yang telah memiliki perpustakaan bernama Kasidah di Jambi, punya wasiat sebelum meninggal. Beliau memberikan wakaf dana untuk kegiatan Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan. Yayasan tersebut mempunyai fokus untuk menerbitkan buku dengan ISBN (International Standard Book Number) Perpustakaan Nasional tanpa biaya.

Mengapa YPTD fokus membantu penerbitan buku bagi penulis? Sebab, bagi yayasan ini, buku adalah mahkota bagi seorang penulis. Berarti, bisa diartikan bahwa memang buku itu adalah hasil karya yang terlihat dan menjadi sebuah masterpiece bagi penulis.

Memang sih, menurut saya itu memang benar. Buku adalah mahkota bagi seorang penulis. Ini dapat diartikan bahwa buku memang tidak boleh dan bisa lepas dari penulis. Jadi penulis kok tidak mau baca buku? Jadi penulis kok tidak mau menyisihkan uangnya tiap bulan untuk beli buku? Penulis model apa itu?

Yang namanya penulis, memang perlu pula membaca hasil karya orang lain. Buku toh juga tidak mahal-mahal amat. Tiap bulan, menyisihkan 100-200 ribu perbulan, mungkin cukup. Atau banyak juga bisa baca buku gratis di aplikasi Perpusnas. Bisa diunduh di Playstore.

Seorang penulis yang banyak membaca buku, maka seakan-akan dia punya mahkota khusus. Bukankah mahkota itu memang letaknya di kepala? Buku yang banyak dibaca tersebut menjadi suatu modal sangat besar untuk bisa merangkai tulisannya sendiri. Meski awalnya mencontoh tulisan orang lain, tetapi suatu saat akan punya gaya menulis sendiri.

Sudah Berkiprah

cara-menerbitkan-buku-sendiri-3
Buku-buku yang Sudah Lahir dari YPTD.

Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan, awalnya saya kira Yayasan Pustaka, sudah membantu 36 buku para penulis. Padahal kegiatan ini baru dicanangkan pada tanggal 19 Agustus 2020.

Bagaimana dengan dasar hukum pendirian yayasan tersebut? Ada dua bukti yang menunjukkan legalitasnya. Pertama, akte notaris PPAT: Titin Etikawati, SH, M. Kn. Kedua adalah Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Nomor: AHU-0013926.AH.01.12 Tanggal 29 Juli 2019.

Mungkin di antara kamu ada yang bertanya, bukannya kalau cara menerbitkan buku sendiri itu memang butuh biaya? Bagaimana caranya kok bisa gratis?

Ternyata, dana penerbitan buku berasal dari wakaf keluarga. Mereka memang berkomitmen untuk memajukan gerakan literasi Indonesia. Luar biasa! Tidak ada yang membayar mereka. Nah, kesempatan bagi kamu ‘kan yang sebelumnya berpikir cara menerbitkan buku sendiri. Sekarang sudah ada tempatnya.

Lalu, bagaimana cara menerbitkan buku sendiri secara gratis di YPTD? Secara umum sih ada tiga program, yaitu:

  1. Jika ada penulis yang sudah memiliki naskah buku, maka bisa langsung dikirimkan saja ke email: [email protected]
  2. Cara mencicil bisa diterapkan dari artikel-artikel yang sudah ada atau sudah ditulis. Antara 40-50 artikel. Jika lebih, boleh juga, karena buku yang banyak isinya memang terkesan lebih lengkap.
  3. Jumlah halaman juga menentukan. Bila punya naskah dengan jumlah 150-200 halaman, maka inilah yang cocok diajukan ke YPTD.

Pada poin kedua dan ketiga, ingin menulis dan mencicil karya juga, tetapi lewat mana? Tidak mungkin ‘kan lewat website ini?

Ah, tenang saja. Sudah ada wadahnya kok dari YPTD. Kamu bisa ikut berpartisipasi mulai menulis buku melalui website: terbitkanbukugratis.id. Mungkin ada yang bertanya, kok bukan dotcom? Kok malah dot id?

Itu namanya TLD alias Top Level Domain. Jadi, setiap domain di dunia ini tidak ada yang sama persis. Kamu tidak menemukan nama website ini di manapun di dunia, selain di sini. Yang berbeda itu, belakangnya. Bisa diganti dengan dotnet, dot id, dot my dot id atau yang lainnya.

Baca Juga: Mengutamakan Bahasa Indonesia Untuk Menjadi Penulis Hebat (Resume 1 Pelatihan Guru Menulis)

Sekarang memang membuat domain sangatlah mudah. Banyak sekali akhiran. Misalnya dot club, dot website, dot shop, bebas pilih. Boleh dicek langsung di sini.

Naskah yang akan diterbitkan perlu dengan kriteria tertentu juga. Penjabarannya sebagai berikut:

  1. Ukuran kertas adalah A5, jadi bukan A4 atau malah A3 yang besar itu.
  2. Font tulisan yang dipakai standar saja, yaitu: 12. Jika punya angka favorit lain, jangan diterapkan di sini, kecuali mau buka penerbitan buku sendiri.
  3. Margin pada halaman adalah 1.5/1/1/1. Ini saya agak bingung, berarti urutannya dari kiri, bawah, kanan dan atas ya?
  4. Huruf yang digunakan adalah Times News Roman. Huruf standar juga dalam penulisan formal.
  5. Spasi standar adalah 1.5. Kalau dalam skripsi, setahu saya spasi 2 alias dobel.

Bisa jadi ada yang bertanya, bagaimana seandainya punya naskah kurang dari 150 halaman? Berapa jumlahnya? Apakah satu halaman saja? Waduh, itu mau bikin buku atau belajar mengetik saja?

Sebenarnya, aturan di dalam penerbitan oleh YPTD adalah minimal 150 halaman. Ini menjadi kaidah umum untuk buku orang dewasa, remaja juga masuk, lah. Nah, kamu sendiri mau menerbitkan buku ditujukan untuk siapa sih?

Menurut narasumber kemarin, lebih dari 150 halaman diperlukan agar buku bisa tegak dan mejeng di rak-rak perpustakaan atau rak lainnya. Tapi seandainya diarahkan untuk pasar anak-anak, buku tidak harus setebal itu. Apalagi buku mewarnai. Jika kamu punya kemampuan desain yang moncer, maka bisa dibuat buku semacam ini.

Setelah Jadi, Terus?

cara-menerbitkan-buku-sendiri-4
Salah satu dokumentasi penerbitan buku dari YPTD.

Buku yang diterbitkan oleh YPTD nantinya akan menjadi lima eksemplar. Untuk siapa saja itu?

  1. Dua buah untuk perpustakaan nasional. Wah, kalau buku kamu sudah masuk sini, maka aset kamu akan menjadi milik negara juga! Seluruh warga negara bisa membaca karya kamu tersebut, bahkan kalau perlu sampai pejabat pemerintahan. Presiden misalnya. Bisa juga ‘kan kalau memang bermanfaat dan bermutu?! Makanya, tulislah karya yang betul-betul luar biasa!
  2. Satu buku untuk penulis, tentunya dengan softcopy buku tersebut. Jika penulis tersebut ingin mencetak bukunya lagi, misalnya karena diminati banyak orang, aamiin, maka silakan dicetak di tempat mana saja. Mau percetakan punya teman, boleh. Punya atasan, mantap juga. Punya orang yang dulu meremehkan kamu karena dianggap tidak bisa menulis dan menerbitkan buku, juga boleh dan sekaranglah pembuktiannya, Gaes!
  3. Dua buku lagi, masing-masing untuk penyandang dana penerbitan dan YPTD.

Setelah buku terbit, Alhamdulillah, langkah yang tidak boleh dilupakan seorang penulis adalah promosi, promosi dan promosi. Mungkin, ini mungkin lho ya, orientasi pertama seseorang ingin menerbitkan buku di penerbit mayor adalah promosi akan dilakukan oleh si penerbit.

Dalam kata yang lain, penerbit tersebut punya jalur promosi yang luas, sehingga bukunya akan ditawarkan secara gratis. Si penulis hanya tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah plus rebahan, menunggu bukunya terjual dengan sendirinya. Menerima royalti tiap enam bulan misalnya, sementara penerbit berjibaku dengan buku dari penerbit lain.

Perlu dipahami bahwa penerbit itu punya banyak sekali buku. Ini jika penerbit mayor seperti yang saya sebutkan di atas.

Nah, karena banyaknya buku tersebut, maka kemampuan penerbit untuk mempromosikan setiap buku pastilah terbatas. Minimalnya, cuma dipajang di toko buku online milik penerbit.

Baca Juga: Awas, Jangan Sembarang Cabut Kabel Listrik, Akibatnya Bisa Begini!

Hasil karya dari penerbit ternama pasti akan lebih memprioritaskan penulis-penulis yang ternama juga. Katakanlah, Tere Liye, Dewi Lestari, Boy Chandra, Andrea Hirata, Dahlan Iskan dan nama-nama lain. Penulis pemula, apalagi yang bukunya baru perdana, mungkin tidak terlalu dilirik penerbit untuk dipromosikan secara lebih khusus.

Apalagi dengan penerbit indie semacam YPTD ini. Kemampuan promosi seorang penulis mesti harus diasah lagi. Sebab, pada dasarnya buku itu ‘kan milik penulis. Hasil pemikiran dan kerja keras penulis. Kalau memang isinya bagus dan bermanfaat, harus disebarkan ke seluruh penjuru alam semesta dong!

Sementara penerbit hanya membantu sewajarnya. Intinya tetap penulis yang bertanggung jawab. Apa editor juga? Editor juga sebatas membantu memperbaiki tata bahasa yang salah.

Kesimpulan

cara-menerbitkan-buku-sendiri-5
Bagian dari dokumentasi dari YPTD juga.

Menurut Thamrin Dahlan, buku adalah mahkota penulis. Meskipun namanya mahkota, jangan merasa minder yang tinggal di desa ya? Dikira mahkota itu hanya orang kota. Seharusnya untuk yang di desa mahdesa.

Buku memang hanya kumpulan kertas yang disatupadankan. Ada kaver, gambar, ilustrasi, daftar isi, dan perkakas lain di dalamnya.

Namun, orang membaca buku, pastilah ingin dapat ilmunya. Kalau tidak, dapat hiburannya. Jadi, kalau dikatakan buku itu adalah mahkota penulis, maka seorang penulis mesti mempersembahkan mahkota terbaiknya.

Mahkota itu juga bermacam-macam lho! Ada mahkota plastik yang sering dipakai mainan anak-anak perempuan. Atau mahkota bertahtakan berlian, emas, dan permata milik ratu atau raja. Yang mana mau disajikan kepada pembaca kita?

Salah satu jalan menampilkan mahkota terbaik adalah belajar untuk menulis dengan benar. Artinya, menghindari kesalahan penulisan. Tata bahasa, susunan paragraf, tanda baca, dan kaidah bahasa lainnya perlu sangat diperhatikan.

Malu dong kalau menampilkan sebuah tulisan dengan banyak kesalahan di sana-sini. Pembaca jadi jengah, pada akhirnya akan meninggalkan tulisan tersebut. Kalau sudah begitu, niscaya mahkota yang awalnya akan diperlihatkan, malah bubar di tengah jalan.

Selain menulis, kemampuan editing juga mutlak ada pada diri seorang penulis. Sebelum ditayangkan, lebih bagus diedit dan diedit lagi. Kasihan pembaca kalau banyak ditemukan kesalahan penulisan.

Pada subjudul ini, hampir lupa saya. Mengapa kok saya pilih menerbitkan buku sendiri seperti matahari terbit di setiap pagi? Sebenarnya ada nilai filosofis di situ. Matahari terbit pastilah membawa harapan baru. Setelah malam yang gelap, maka matahari sebagai penyaji semangat yang cerah.

Makanya, kita sangat tidak disarankan untuk tidur lagi setelah Subuh. Sebab, matahari muncul pertanda pula rezeki sedang dibagi-bagi. Katanya ingin kaya? Katanya ingin hidupnya mapan? Katanya ingin ini dan itu, lha kok pagi hari malah tidur lagi?

Namun, ketika matahari terbit, di belahan bumi lain sedang gelap. Berarti matahari tidak bisa menyinari sekaligus seluruh permukaan bumi.

Berbeda dengan buku. Dia bisa menjadi jalan kebaikan bagi seluruh penjuru bumi. Mau dibaca pagi, siang, sore atau malam, sama saja. Tidak ada yang berubah isinya. Berarti daya terangnya melebihi matahari bukan?

Selain itu, adanya kiprah YPTD dalam menerbitkan buku, maka ini juga jalan yang mudah bagi seorang penulis. Matahari terbit begitu mudahnya, begitu juga menerbitkan buku, begitu gampangnya. Tinggal kita mempersiapkan naskah terbaik dan diterbitkan untuk menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang. Aamiin.

Buku adalah mahkota penulis. Jika ingin menjadikan mahkota terbaik pada diri kita, maka YPTD menjadi salah satu solusinya. Ini juga menjadi jawaban cara menerbitkan buku sendiri. Apalagi secara gratis! Jadi, tunggu apalagi? Silakan menghubungi alamat berikut:

Thamrin Dahlan, SKM, M. Si

Ketua Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan

Hp. 0815 9932 527

Website YPTD :  terbitkanbukugratis.id

Email [email protected]

Baca Juga: Ditemukan Obat Baru Virus Corona: Telur Rebus!

 

Share This:

22 Comments

  1. Resumenya nikmat dibaca. Terdapat sub bab yang menceritakan pengalaman pribadi. Kemudian dikaitkan dengan materi resume. Ciamik !

    1. Makasih, Pak Brian. Ya, memang pernah ada juga pengalaman pribadi ingin menerbitkan buku ke penerbit mayor. Ternyata, malah ditolak. Hehe…

      Salam sukses juga buat Pak Brian. Makasih sudah berkunjung.

  2. Tulisan kali inj agak berbeda gaya kepenulisannyabdari sebelumnya. Salut bang. Bisa mengalirkan kata-kata dengan lancar dan jumlah yang banyak. Ini yang harus dipelajari oleh penulis pemula seperti kami.
    Sukses bang.

    1. Terima kasih banyak, Pak. Sebenarnya gaya menulis begitu-begitu saja kok. Tapi, mungkin kali ini dilihatnya berbeda.

      Okelah, makasih atas kunjungan Pak Tama.

  3. Super sekali biasanya kita membaca panjang membosankan kali ini kita membaca ingin terus dan terus! Daya magis penulisnya luar biasa

  4. MasyaAllah setiap membaca tulisannya pak ketua selalu muncul senyum, lalu serius lagi dan senyum lagi begitu seterusnya. Sangat penuh bumbu-bumbu tambahan yang membuat rasa resume semakin lebih enak dibaca. Memang OmJay gak salah pilih untuk dijadikan ketua, barokallah 👍👍

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

seventeen − 10 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!