#KamisMenulis: Hidup, Hirup, Hibuk

#KamisMenulis: Hidup, Hirup, Hibuk

Share This:

Malam yang dirasa cukup panjang. Namun, air mata tetaplah susah untuk tidak melayang. Teringatnya dengan sesosok laki-laki yang pernah dikenalnya. Ingin dilupakan, tetapi tidak bisa. Sulit.

Beberapa waktu yang lalu, dia ada masalah dengan laki-laki itu. Masalah yang tidak kecil. Masalah besar. Masalah yang menyita perhatiannya. Dan, dirasa mencoreng nama baiknya.

Dia hanyalah seorang gadis. Yang merindukan sosok laki-laki untuk jadi imam sekaligus suaminya. Namun, sampai kapan dia menunggu? Sampai kapan dia menanti? Sampai sekarang jodoh belum tampak di batang hidungnya.

Hanyalah dia laki-laki itu yang sempat menghuni hatinya. Meskipun membuatnya marah, tetapi dia tidak bisa membencinya. Dia mencoba untuk membenci, tetapi tidak bisa. Sama sekali tidak bisa. Entah kenapa. Namanya justru terus hidup di dalam hatinya. Karena memang tidak ada laki-laki lain yang dekat dengannya. Hanya laki-laki itu.

Putuskan Saja

Kabar hubungan antara dia dengan laki-laki itu pun pecah. Gurunya mengetahui hubungan yang tidak benar itu. Ada halangan yang membuat dia dan laki-laki itu tidak berjodoh. Paling tidak untuk saat ini.

Baca Juga: Sepeda Cinta [Terinspirasi Dari Kisah Nyata]

Menurutnya, laki-laki itu sendiri yang membongkarnya. Dia bercerita kepada gurunya. Padahal, gadis itu menanyai si laki-laki, dijawab tidak. Lho, jadi bingung, yang mana benarnya?

Atas saran gurunya, sudah putuskan saja. Gadis itu disuruh untuk ke luar grup yang sama dengan si laki-laki. Tanpa bilang pamit ke anggota grup, gadis itu pun pamit. Leave. Ke luar begitu saja. Laki-laki itu juga melihatnya. Namun, dia tidak bertanya lebih jauh. Dia sudah tahu jawabannya.

Malam Berganti Pagi

Sampai kapan dia mau menangis memikirkan laki-laki itu? Sementara mungkin laki-laki itu sudah bersama dengan perempuan lain lagi. Ya, dia sendiri yang bercerita, bahwa yang dia suka bukan cuma si gadis, tetapi memang beberapa perempuan lain.

Gadis itu tahu sifat laki-laki tersebut. Namun, lagi-lagi, dia sulit melupakan. Ah, apa sih maunya gadis itu? Dia maunya yang pertama, tetapi tidak akan bisa bagi si laki-laki.

Malam yang penat tadi membuatnya sulit tidur. Biasanya, ada pesan-pesan masuk dari si laki-laki ke HP-nya. Malam itu tidak ada dan dia memang mengharapkan jangan lagi ada. Cukuplah laki-laki itu yang membuat masalah, menyebarkan hubungannya ke gurunya.

Agar pikiran dan badannya terasa lebih segar, dia hirup udara pagi ini. Rasanya memang segar dan plong juga. Apalagi cuaca sedang cerah, tidak tampak hujan sama sekali.

Menyilet Waktu

Jika dia menganggur atau diam saja, maka pikiran ke laki-laki itu akan selalu ada. Makanya, dia mencoba untuk terus melakukan sesuatu. Berbuat dan bekerja sesuai dengan tugas-tugasnya. Dia berusaha untuk tetap sibuk dengan aktivitas sehari-harinya.

Harapannya, pikirannya ke dia, dia, dan dia akan bisa sirna. Ya, memang benar. Ketika hibuk itulah, pikirannya jadi terisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Lebih berguna untuk orang lain juga.

Namun, ketika malam datang, tatkala yang lain sudah tidur, dia kembali merenung. Menatap jumantara yang bertabur bintang tak terkira. Bulan tampil cantik di sana. Menggantikan kakaknya, matahari, untuk menyapa penduduk bumi. Berganti shift, berganti waktu. Siang, kakaknya menyapa, malam, adiknya yang mengambil tugasnya.

Sepi dan sunyi. Dia melihat ke luar jendela. Sengaja jendela itu dibuka lebar-lebar. Membiarkan angin malam masuk yang membelai wajahnya dengan lembut, meskipun wajah itu penuh jerawat. Ah, kenapa dia ingat lagi dengan laki-laki itu? Dan, kenapa dia tidak muncul malam ini lewat chat-chatnya yang kadang diselingi dengan canda, hingga membuatnya tertawa. Dia pun merasa rindu.

Dia alihkan pandangan. Dia bukan miliknya. Laki-laki itu sudah menjadi milik orang lain. Dari situ, dia kembali menangis. Entah apa sebenarnya yang dia rasakan? Yang jelas, dia ingin menangis saja. Dia belum menjadi milik orang lain. Masih menanti. Menunggu. Sampai kapan? Hanyalah air mata yang setia menemaninya. Merana.

Baca Juga: #AprilChallenge Huruf H: Hamil Dilihat dari Berbagai Sisi

hidup-hirup-hibuk

kamis-menulis

Share This:

39 Comments

  1. Nikmatilah sejenak cinta itu, kegalauan pikiran itu, karena itulah hidup
    dan bangkitlah kembali menghirup segarnya dunia nyata, sibukkan dengan akhiratmu niscaya pikiranmu akan kembali bersih.

  2. Huuf sulit memang tapi itulah cinta.. . Waktu yang ajan menjawabnya. Bertahan dan mengisi hari deng hal-hal positif niscaya hati akan berseri.

  3. Biarlah yang lalu menjadi kenangan,hidup harus tetap berjalan, semoga akan segera terwujud suatu harapan.

  4. Lupakan sesuatu yang tidak pasti meski sulit. Masih banyak laki-laki lain yang lebih segalanya!
    Cerita yang menguras emosi karena kebodohan perempuan oleh cinta yang tak pasti.

  5. Daripada bingung, dan belum ada respon, sama aku saja dek. Lumayan lah walau sudah tua, tapi punya gajian. He he he….

  6. Keren… Master Rizki, trimks share ilmunya. Pasti mencari kamus KBBI dulu hi… sama seperti ibu

  7. Tulisannya selalu enak dibaca. Menyiket waktu…. hibukan diri dengan yang bermanfaat. Nikmati hidup dengan menghirup udara segar.

  8. Walaupun fiksi, tetap saja ada ciri khas tulisan Mas Rizky yg bikin senyum2 sendiri. Btw, bagus ceritanya menggambarkan gadis yg gundah gulana..

  9. Walau fiksi, tapi ciri khas kocaknya Mas Rizky masih ada. Btw cerita yg menarik ttg gadis yg gundah gulana..

  10. Ceritanya mengalir saja …..enak diikuti, walau nuansanya sesak. Salam sukses. Salam literasi…

  11. Hay gadis,
    Hibukkan dirimu untuk membunuh waktu
    Jangan biarkan cinta tiada pasti
    menjauhkan dirimu dari menghirup aroma indahnya hidup ini

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!