Validkah Nilai Puasamu, Jika Tanpa Sholat?

Validkah Nilai Puasamu, Jika Tanpa Sholat?

Share This:

Alhamdulillah, bulan puasa Ramadhan memang mendatangkan kenikmatan tersendiri. Salah satunya adalah kantor saya di siang hari bebas dari asap rokok. Tapi, masih ada yang lebih memprihatinkan.

Saya tidak tahu, teman-teman kantor itu tidak merokok di kantor apakah berpuasa betul atau merokoknya sudah tadi? Sebab, saya dulu pernah punya teman, dia nyata-nyata merokok di siang hari bulan Ramadhan di kantor. Padahal badannya tinggi besar, mirip preman bahkan. Tapi, hanya menahan makan dan minum, dia tidak kuat. Terlebih menahan keinginan untuk merokok.

Saya juga jadi berpikir, berarti sebenarnya keinginan untuk merokok itu bisa dihentikan kok. Nyatanya, teman saya yang berkali-kali merokok bisa lama juga tidak merokok selama puasa ini. Hal itu membuat udara di kantor jadi lebih nyaman dan bersih. Meskipun, yah, debu masih ada, lah. Kalau dicek dengan mikroskop elektron, debu pasti masih kelihatan. Kalau Bedu tidak kelihatan di kantor saya, karena memang tidak ada nama Bedu.

Ini Bisa, Masa Itu Tidak Bisa?

Namun, cukup memprihatinkan dan membuat mengelus dada sendiri, saat panggilan adzan, kok masih ada ya yang tidak mau sholat? Mereka melewatkan ibadah yang juga sangat penting, bahkan perintah yang lebih greng daripada puasa. Sholat itu ibadah yang diterima Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala langsung. Jadi, kedudukannya memang tidak bisa diremehkan. Bahkan menjadi pembeda antara orang Islam dengan orang kafir.

Ibadah puasa dari Subuh sampai Maghrib, 12 jam lebih. Bisa kok menahan makan dan minum, serta berhubungan suami istri, tetapi sholat yang sekitar 5-10 menit tidak mampu?

Sepertinya hal itu sudah jadi kebiasaan, untuk tidak sholat. Mengakunya sih orang Islam, tetapi kok begitu ya? Berarti Islam KTP. Jangan-jangan nanti yang masuk surga cuma KTP-nya? Orangnya tidak masuk dan ketinggalan di neraka. Naudzubillah min dzalik.

Semestinya, kalau puasa bisa tahan lama, sholat ini juga perlu dan wajib untuk dilakukan. Sebab, apalah arti mengharapkan pahala puasa, tetapi meninggalkan dosa besar akibat tidak mau sholat. Ibaratnya, jualan telur mendapatkan untung lima ribu rupiah, tetapi ruginya seratus ribu! Kan sudah pasti tombok banyak itu.

Dalam Keadaan Lain

Saya pernah diberi amanah ceramah tarawih Ramadhan di sebuah masjid kecil dekat rumah sakit Bombana. Waktu itu, ada yang mengherankan, pas sholat Isya berjamaah, jumlah orang tidak terlalu banyak. Namun, meningkat ketika sholat tarawih.

Malah ada yang menggelikan, ada laki-laki dewasa baru datang ketika akan tarawih. Tadi sholat Isya ke mana, Bang? Sholat rawatib ba’diyah juga tidak. Namun, bisa pas muncul saat akan tarawih.

Berarti, ada kebalikan di situ. Ada yang terbalik. Ibadah yang menjadi ciri khas bulan Ramadhan, yaitu: sholat tarawih alias sholat malam yang diajukan waktunya begitu dikejar, sementara sholat wajib berjamaah malah tidak? Iki piye toh?

Saya juga pernah menemukan sebuah acara peringatan di masjid raya sini. Kalau tidak salah, peringatan maulid. Wuih, yang datang sangat membludak! Masjid sangat penuh dengan jamaah.

Waktu itu, saya masih belum menikah, masih sangat muda, imut tanpa amit-amit. Gadis-gadis remaja yang notabene jarang sekali kelihatan di masjid kelihatan bermekaran. Mereka mengenakan baju yang cukup seksi, jilbab atau mukenanya ditenteng begitu saja. Baru dipakai ketika di dalam masjid.

Jamaah membludak seperti itu, tidak ditemukan di sholat berjamaahnya. Kalau sholat Jum’at, memang cukup penuh, tetapi pas maulid, jamaah Jum’at bisa tersaingi.

Ada apa sebenarnya itu? Kok amalan yang justru lebih bernilai jadi dicuekin? Apa mengikuti tren saja? Sekarang dianggap trennya sholat tarawih, ikut sholat tarawih. Trennya ikut perayaan-perayaan macam maulid, juga menampakkan batang hidung. Apakah karena di situ banyak makanannya? Banyak minumannya?

Seandainya tiap orang yang sholat di masjid itu pas pulang diberi uang seratus ribu rupiah, kira-kira masjid bakal penuh apa tidak? Yakin dong, akan sangat-sangat penuh. Orang akan berebutan ke masjid karena yang didapatkannya nyata dan bisa dibelanjakan pula. Bukankah semua orang butuh uang?

Nyatanya tidak begitu. Orang sholat di masjid tidak mendapatkan uang langsung. Dapatnya pahala. Seperti apa bentuk dari pahala itu mana kita tahu? Kalau berharapnya pahala, maka itu sudah tanda keimanan. Iman itu juga bentuknya seperti apa, kita tidak tahu. Yang jelas, beribadah, ikhlas, caranya benar seperti yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka pahala Insya Allah akan kita dapatkan. Semoga saja dilipatgandakan Allah juga.

Ingat yang Satu Ini!

Mungkin kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang rutin sholat berjamaah di masjid. Tidak hanya ketika bulan Ramadhan, tetapi juga waktu-waktu biasa.

Ada satu yang harus kita perhatikan dan camkan baik-baik, jangan sampai muncul perasaan ujub atau bangga diri terhadap jamaah lain yang baru kelihatan di bulan Ramadhan ini. Misalnya, “Heh, si Ucup, baru sekarang sholat di masjid, kemarin ke mana saja kamu? Coba lihat aku ini yang sudah rutin di masjid!”

Jika ada suara hati seperti itu, maka mesti sangat hati-hati. Amal sholat kita bisa gugur tanpa disadari. Kita merasa lebih mulia daripada orang lain, lebih sholeh daripada orang lain.

Padahal, amalan kita yang dirasa banyak itu belum tentu diterima Allah, lho! Siapa tahu kita niatnya lain? Siapa tahu, kita sebut-sebut amalan tersebut di depan orang lain? Siapa tahu kita membicarakan orang lain yang tidak sholat di depan teman kita demi meninggikan diri kita yang sudah rutin sholat berjamaah di masjid?

Amalan fisik memang terlihat nyata. Sholat, bersedekah, membayar zakat, sampai dengan haji dan umrah. Namun, amalan hati sangat tidak terlihat. Yang tahu hanyalah kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika sholat, kita merasa bangga diri, siapa orang lain yang tahu? Tidak ada bukan? Yang tahu hanyalah Allah.

Dan, puasa itu sebenarnya juga bisa masuk amalan hati. Orang lain tidak akan tahu kita sedang berpuasa atau tidak? Ada memang yang lemas di bulan ini, rupanya dia habis sarapan sangat banyak tadi, tidak puasa sama sekali. Ada juga yang tetap bersemangat, bahkan lebih semangat daripada biasanya, padahal berada di bulan Ramadhan. Tergantung orangnya, tergantung juga jemurannya belum diambil, padahal mau hujan. Wah, siapa itu?

Share This:

18 Comments

  1. Jangan-jangan nanti yang masuk surga cuma KTP nya kah? Bikin tersenyum sendirian…..orangnya di neraka…. hehehe. Panas dong…. nauzubillah i min dzalik….untung yang menulis lucu ini juga ustadz ….jadinya bernilai artikelnya. Mantap Bung Rizky

  2. Saya mengamati beberapa tulisan pak Rizky selalu menyebut nama Bombawa, kok sama seperti saya tanpa sasar selalu menyebut nama Sumbawa…cinta daerah namun lebih mencintai Indonesia

    1. Saya bukan asli Bombana, Bu, hanya tinggal dan bekerja di sini. Istri dan anak-anak juga di Bombana. Yah, menyebutkan Bombana karena dekat dengan sehari-hari. Asli saya Jogja.

  3. Semoga kita benar-benar mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik. Iklas karena Allah dan amalan ubadah di bulan ramadhan dapatvmembawa kita lebih baik dan dapat meningkatkan ibadah di bulan-bulan setelahnya. Smg Islam kita bukan hanya Islam d KTP. Aamiin..
    Waah Pk rizky ternyata asli jugja ya.. Jk mudik berkenan pinarak ke Gunungkidul ya pak..hehe..

  4. Seminggu saya tidak BW ke blog sobat semua.
    Salah satu blog yang menginspirasi adalah blog Pak Rizki.
    Terimakasih pencerahannya…
    Bagaimana jika sholat isya tapi di rumah, jadi ketika sholat taraweh baru di masjid.
    atau ajakan sholat berjamaah dengan mencontohkan diri sendiri apakah tetap akan menggugurkan pahala. Hadeeehhh pikiran saya…
    Apapun itu jika kebaikan yang dilakukan, pasti akan dihitung kebaikan, mungkin begitu ya Pak Rizki.
    Sekali lagi terimakasih atas ilmuya

  5. Semoga kita tidak termasuk Islam yang hanya ada d KTP, semoga di berikan kesehatan hingga bisa menjalankan amalan-amalan di bulan Ramadhan dengan baik, puasa dengan baik sampi akhir Ramadhan aamiin…
    Pak Rizky asli jogja ya.. Waah kapan mudik bisa main donk ke Gunungkidul..

  6. Betul fenomena seperti ini memang sering terjadi di sekitar kita. Perlu penyadaran agar tidak salah menempatkan ibadah.

  7. Semoga kita tergolong pada orang yg ikut2an musinya tarawih ya tarawih, musimnya sholat tahajud itu sholat tahajud. Pak Rzky ilmunya sangat luar biasa dan selalu keren

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.