Cerita Mimpi yang Cukup Aneh

Cerita Mimpi yang Cukup Aneh

Share This:

Kamu pernah mimpi? Kalau pernah berapa kali? Saya tadi malam juga bermimpi, jelas ketika saya tidur. Seperti apa mimpi saya?

Biasanya, saya itu baru tidur menjelang tengah malam, atau bahkan lewat tengah malam. Soalnya, saya sering bekerja di depan laptop hingga sampai mau tidur.

Entah itu ngeblog, bikin desain, nonton video tutorial, atau sekadar chat dengan teman. Tadi malam, saya ingin tidur lebih cepat. Akhirnya, betulan bisa tidur jam setengah 10. Cukup awal menurut saya.

Alasannya

Oleh karena yang lalu sering begadang, maka otomatis waktu tidur saya jadi berkurang. Sejak siang, kepala saya pusing. Oleng kalau istilah di sini. Sampai mau tidur, masih pusing juga. Oh, ini akan berkurang Insya Allah dengan tidur. Jadi, deh, saya tidur lebih cepat.

Rupanya, saya bermimpi. Hem, mimpi yang terkait dengan kondisi saya sebelum tidur. Pusing dan sedikit menggigil. Saya saja tidur pakai jaket merah, pemberian dari kegiatan kantor.

Mimpi Positif Corona

Mimpi saya yang pertama tadi malam, saya dites corona. Hasilnya positif! Subhanallah, itu cukup mengagetkan seandainya benar-benar terjadi. Siapa juga sih yang mau terkena virus dari China itu?

Dalam mimpi tersebut, saya bersiap-siap untuk dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan. Selebihnya tidak jelas, apakah jadi dibawa atau tidak? Agak buram soalnya. Apa mungkin karena saya tidur nggak pakai kacamata ya?

Mimpi Teman Perempuan Hamil dan Melahirkan

Saya kenal seorang akhwat, sebut saja inisialnya S. Dia ini teman saya ketika sama-sama kerja sebagai tentor di Primagama Kendari. Dia pakai jilbab syar’i. Betul-betul syar’i, panjang, lebar, longgar, tidak tabarruj, dan pokoknya betul-betul karakter muslimah yang bagus, lah. Sekarang dia sudah pakai cadar.

Sempat dulu saya tertarik dengannya. Ingin menikahinya. Namun, dia menyatakan nada penolakan, karena tidak mau meninggalkan Kendari. Dia memang kerja di sana, sekarang sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi Islam negeri. Dan, aktivitasnya juga banyak di Kendari.

Saya sempat menyatakan keinginan ini pada tahun 2011. Saat itu, ya, kecewa juga sih, dia menolak. Namun, mau diapakan juga? Namanya bukan jodoh jika begitu.

Nah, tadi malam, saya melihat dia hamil, bahkan melahirkan. Ini yang membuat saya jadi merasa aneh, sebab dia itu belum menikah! Umurnya memang sudah di atas 30 tahun, tetapi jodohnya belum datang berkunjung.

Saya melihat kesakitannya melahirkan, dibantu oleh beberapa orang. Lho, lho, tunggu, saya di situ sebagai apa? Nah, ini yang juga membingunkan. Saya di situ berperan sebagai apa?

Istirahat yang Cukup

Alhamdulillah, hari ini bangun jam 3 lebih. Kepala masih terasa oleng atau pusing begitu bangun tidur. Namun, kucuekin saja, dan langsung kerja di depan laptop. Menyempurnakan landing atau salespage untuk produk digital.

Semoga saja mimpi saya yang bagian pertama itu tidak terjadi ya. Harus benar-benar jaga kesehatan. Saya juga sudah punya oxymeter. Alat ini bisa mengukur saturasi atau kadar oksigen dalam darah. Hasilnya seperti di bawah ini:

Setelah berpikir, saya jadi tahu, kenapa saya bermimpi terjangkiti corona. Siangnya, saya bertemu dengan teman saya, perawat dari Kecamatan Poleang Timur. Beliau adalah teman baik saya juga.

Bercerita bahwa beliau mengantar enam orang warganya yang kena corona. Awalnya, gejala flu dan batuk. Diperiksa di Puskesmas, dirapid, ternyata reaktif. Diswab, ternyata positif covid.

Dari situ, ditelusuri, ada beberapa teman si penderita itu yang kontak dan akrab sekali. Gejalanya juga batuk dan pilek. Diperiksa lagi, eh, positif juga. Begitu juga dengan tenaga kesehatan yang menangani, juga sama.

RSUD Bombana di Kelurahan Poea menjadi tempat perawatan orang-orang dengan gejala corona. Teman saya itu juga mengatakan bahwa flu dan batuk sekarang ini sebagian besar memang karena corona. Tapi, kalau tubuh masih sehat dan fit, hal itu tidak terlalu menjadi masalah.

Kondisi akan lebih berat jika ada penyakit penyerta atau komorbid, seperti: penyakit jantung. Hal itu bisa menyebabkan penderitanya meninggal dunia lho, Gaes! Kamu pasti sudah tahu banyak yang seperti ini.

Saya ketemu teman saya dalam rangka untuk memeriksakan istri saya. Dia sedang hamil. Minta di USG. Waduh, sayangnya, saya tidak bisa masuk karena mengajak dua anak saya. Satunya usia 8 tahun, satunya 4 tahun. Oleh perawat, tidak diperbolehkan masuk. Hem, ya, sudah, di luar saja. Tidak apa-apa, yang penting nanti istri saya mengabarkan hasilnya.

Minum Jamu Pagi

Peluang usaha atau bisnis yang bagus itu tidak hanya untuk mendapatkan uang, kok, tetapi juga bisa memberi manfaat bagi orang lain. Seperti seorang penjual yang satu ini, ibu penjual jamu yang lewat, orang Jawa, pakai motor matic. Saya membeli jamunya seharga sepuluh ribu rupiah. Ada kunir, kunyit, jahe, dan beras kencur. Alhamdulillah, segar sekali rasanya. Seperti ini penampakan jamunya:

Tidak ada rasa pahit-pahitnya. Segar, manis, dan bikin nyess di tenggorokan. Kalau penjual tersebut lewat, saya sering membelinya. Sebagai imun booster juga lho!

Oke, stay save ya buat semuanya. Pandemi ini memang mengajarkan kepada kita bahwa kesehatan dan kebugaran tubuh itu sangat-sangatlah penting.

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.