Zuhur: Antara yang Panas dan yang Lebih Panas

Zuhur: Antara yang Panas dan yang Lebih Panas

Share This:

Siang ini, Alhamdulillah, setelah sholat Jum’at yang notabene di waktu Zuhur, saya memakai sandal. Sandal itu berada di teras masjid. Ketika dipakai, wuih, panas sekali, Saudara-saudara!

Bagaimana tidak panas, sandal itu terjemur di luar masjid, tanpa terlindungi kanopi atau genteng yang lebih lebar lagi. Cuaca hari ini yang sangat terik. Membuat siapapun ingin segera berteduh dari panasnya sang mentari. Sedangkan bagi seorang gadis, dia ingin juga berteduh di hati seorang pemuda yang baik. Sayangnya pemuda yang baik itu telah menikah, yaitu: saya sendiri! Walah..

Waktu Zuhur, Waktu Jumat

Sering saya berpikir, ketika sholat Jumat, kok ditaruhnya di waktu zuhur ya? Bukankah godaan di waktu itu cukup banyak. Pertama adalah mengantuk. Waktu tidur siang memang ada di waktu zuhur. Tidak mungkin ‘kan tidur siang kok jam delapan malam?

Kedua, adalah rasa lelah setelah bekerja. Indonesia adalah mayoritas muslim, tetapi kalendernya Masehi, yah, mengikuti orang Nasrani sebenarnya. Waktu ibadah Nasrani adalah hari Minggu, libur. Leluasa beribadah. Sedangkan di Indonesia, waktu beribadah kaum muslimin adalah Jum’at. Justru hari ini malah dipakai bekerja.

Teman sekaligus guru saya juga, beliau kuliah di Madinah, di Arab Saudi sana, hari liburnya Jum’at dan Sabtu. Hari Ahad malah masuk. Oleh karena hari Jum’at libur, maka bisa leluasa beribadah. Bisa terbebas dari pekerjaan-pekerjaan duniawi. Datang ke masjid bisa di awal waktu. Datang dengan tanpa lelah bekerja. Hati jadi plong, badan pun jadi enak, dong!

Atau kalau Jum’atnya libur, bisa tidur siang dulu. Jadi, ketika nanti khutbah Jumat, tidak mengantuk lagi. Tidak perlu mencari tiang masjid untuk bersandar, yang notabene lama-lama bikin tertidur. Terbangun di antara dua khutbah. Dilihat mimbar sudah kosong dari khotib, langsung berdiri dan maju. Dipikirnya mau sholat, nyatanya khotib istirahat sejenak di antara dua khutbah. Jadi deh, dia dilihati khotib, dilihati pula jamaah.

Ketika hari Jumat dipakai bekerja, maka pakaian akan mengikuti pakaian kerja untuk sholat Jumat. Banyak PNS saat hari Jumat berpakaian olahraga, mungkin pada hari itu dia kerja bakti, mungkin juga olahraga, seperti senam dan sebagainya. Mungkin baju itu menjadi bau keringat. Makin siang, makin berkeringat. Dia tidak sempat pulang. Tidak bisa pulang karena mungkin rumahnya jauh. Jadinya, baju itu yang dipakai. Kaos itu yang dikenakan untuk menghadap Allah.

Padahal, sebelum sholat Jumat, disunnahkan memang untuk mandi. Ya, apa sih gunanya mandi? Pasti untuk menyegarkan tubuh, untuk membuat tubuh jadi bersih juga. Allah sudah pasti tahu bahwa waktu siang itu berkeringat. Jangankan beraktivitas, duduk-duduk saja bisa berkeringat kok. Terlebih jika duduk-duduknya pas di lapangan, di bawah sinar matahari langsung. Iya ‘kan?

Seandainya

Bagaimana seandainya dulu sholat Jumat itu berada di waktu Subuh? Kira-kira banyak orang yang bisa itu? Jangankan waktu Subuh, ketika waktu zuhur saja, masih banyak yang tidak mampu sholat Jumat kok. Mengenai orang-orang seperti itu, saya memang merasa sangat heran. Kalau sampai tidak sholat Jumat, itu lebih parah daripada tidak sholat lima waktu. Sholat Jumat cuma sekali sepekan, masih juga berat? Waduh, terus yang ringan apa dong? Maksiat?

Sebagai Latihan

Saat mengenakan sandal yang panas tadi, ketika telapak kaki kanan saya jadi tidak nyaman, di situlah saya mulai berpikir. Ini baru panas dunia, bagaimana nanti siksa di neraka yang paling ringan, mengenakan sandal dari batu kerikil neraka, lalu membuat otak mendidih? Subhanallah, itu sudah sangat mengerikan. Padahal itu yang paling ringan. Bagaimana yang paling beratnya?

Kalau dengan sandal yang kena panas matahari itu saja, saya sudah kepanasan, tentulah tidak sanggup dengan api neraka, siapa juga manusia yang sanggup sih? Kata KH. Zainuddin MZ rahimahullah, bagi orang yang merasa punya ilmu kebal, coba deh masuk ke dalam neraka. Coba pakai ilmunya itu, sanggup apa tidak menghadapi panasnya api neraka?

Eits tunggu! Sebelum membahas neraka, di padang Mahsyar juga sudah luar biasa mengerikan lho! Dikumpulkan sejak zaman manusia pertama, Nabi Adam alaihissalam sampai manusia terakhir yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam satu tempat. Ketika di lapangan stadion saja, sudah sangat banyak orang. Sumpek. Padat. Melelahkan. Apalagi ini seluruh manusia. Betapa luasnya tempat itu. Padang Mahsyar itu.

Tapi, tidak cuma berhenti di situ. Matahari didekatkan Allah dalam jarak satu mil. Begitu dekatnya. Akhirnya menimbulkan keringat bagi para manusia. Ada yang keringatnya semata kaki, selutut, setengah badan, ada juga yang tenggelam dengan keringatnya sendiri.

Ribuan tahun berada di tempat tersebut, menunggu kedatangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengadili. Kondisi manusia yang berdiri, capek, lelah, tidak bisa duduk. Pasti akan sangat tersiksa.

Kesimpulan

Melihat dan merasakan panas di dunia ini sudah membuat saya terbebani. Kalau ke luar rumah, ingin segera berteduh dan masuk ke dalam rumah. Begitu juga saat kembali ke kantor setelah istirahat di rumah, ingin segera masuk kantor. Duduk di meja saya dan menyalakan yang bisa membuat dingin ruangan.

Namun, sepanas-panasnya di luar, janganlah yang di hati ini juga panas. Apalagi ini masih bulan puasa. Sungguh akan sangat tersiksa, kalau luar dalam kita kepanasan. Ya ‘kan?

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!