Punya Cita-cita Menjadi Penulis? Simak Dulu Kisah Fiktif yang Satu Ini!

Punya Cita-cita Menjadi Penulis? Simak Dulu Kisah Fiktif yang Satu Ini!

Share This:

Resume ke-5 pelatihan guru menulis bersama Om Jay dan PB PGRI ini saya tulis dalam bentuk cerita fiksi. Jadi, bukan cerita yang sebenarnya. Tentang orang yang punya cita-cita menjadi penulis. Bagi yang penasaran, langsung ke bawah ini!

Pesantren itu sebenarnya masih belum terlalu ramai. Para santri masih banyak yang berada di kampungnya. Pimpinan pesantren belum memperbolehkan mereka untuk masuk. Pandemi corona, katanya.

Seorang pembina akhwat atau santri perempuan, sebut saja namanya Aisy, sedang galau luar biasa. Dari tadi, dia melamun, pandangannya menembus jendela. Meskipun dikatakan menembus begitu, tetapi kaca jendelanya tidak sampai pecah lho!

Makan terasa tidak nyenyak, tidur tidak enak. Wah, terbalik! Ini sih karena galau Aisy menular juga ke kalimat ini.

Beberapa santri akhwat yang ada di asrama itu sedang membaca Al-Qur’an. Ada yang menambah hafalan, ada pula yang mengulangnya. Begitulah aktivitas para penghafal Al-Qur’an, yang dikatakan dalam hadits, keluarga Allah di permukaan bumi.

Baca Juga: Resensi Buku: Novel HAMKA

Namun, Aisy justru menambah beban di pikirannya saja. Ada apa sih sebenarnya? Yuk, kita titipkan pertanyaan kepada teman satu asramanya. Sebut saja Susi. Ini betul-betul Susi, lengkapnya Susiwati, bukan Susilo!

“Kak Aisy, dari tadi kulihat kok diam saja? Kenapa sih?”

Aisy menoleh sedikit. Mukanya yang berjerawat lumayan parah terlihat dengan jelas. Susi sih tidak merasa heran Aisy punya jerawat sebanyak bintang di langit. Wah, betul-betul banyak kalau begitu!

Berarti kalau disamakan dengan bintang, maka jerawat yang besar dan menimbulkan bekas di wajah cukup dalam, seperti bintang jatuh alias meteor menghantam permukaan bumi. Hehe..

“Biasanya Kak Aisy makan banyak. Nasi saja bisa tambah-tambah, sekarang kok sedikit makan? Ada apa sih?” Kembali Susi bertanya. Bahkan, dia sedikit membelai rambut Aisy yang panjangnya sebahu. Eh, kok ada sedikit ketombe jatuh? Wah, ketombean juga Aisy ya?

“Hem, sebenarnya tidak kenapa-kenapa sih, Sus,” jawab Aisy sambil menghembuskan napas sedikit. Itu simbol dari kegalauan yang masih belum beranjak pergi. Mungkin belum dikasih uang saku si galau itu, makanya belum mau pergi.

“Pasti ada kenapa-kenapa ini kakakku sayang!” Susi menyimpulkan sambil mengedipkan mata sebelahnya. Sembari tersenyum, dia bertanya, “Pasti ada masalah. Ayolah, ceritakan ke saya, Kak. Siapa tahu saya bisa bantu.”

Aisy tersenyum, cukup manis. Tapi, senyumnya yang manis itu tidak sampai membuat Susi yang melihatnya langsung diabetes lho!

Dalam hati, tidak mungkin Aisy menceritakan semuanya. Dia sudah mencintai seorang laki-laki. Hanya, dan ini yang tahu Aisy dan Allah, laki-laki itu sudah punya istri. Sudah punya anak pula. Lho? Kok begitu? Bagaimana bisa?

Aisy sadar bahwa mencintai seperti itu jelas salah, tetapi dia tidak dapat membohongi kata hatinya. Sesuatu yang positif pada diri laki-laki itu yang membuat Aisy kesengsem sampai sekarang.

Kalau dia mengatakan yang sejujurnya ke Susi, wah, bisa gawat darurat! Nanti akan jadi fitnah. Bukankah fitnah itu lebih buruk daripada fitness?

Makanya itu, dia tidak menanggapi lagi pertanyaan dari Susi. Biarlah itu tersimpan dalam hatinya saja. Hem, atau mau jadi yang kedua? Aisy menggeleng dengan keras, dia tidak mau sama sekali.

Dia kembali menggeleng ketika terpikir untuk tidak mau menjadi pelakor. Pelakor yang artinya perebut laki-laki orang, bukan pegawai lambat berkantor.

“Kenapa menggeleng, Kak?” Susi bertanya lagi.

“Anu, pegel leherku.” Aisy malah jawab tidak jujur sambil memegang lehernya. Padahal dia sebenarnya tidak suka bohong, lebih sering jujur lho. Kalau bukan jujur kacang ijo, ya, jujur ayam. Heloo… Itu bubur!

Mendapatkan Pencerahan

cita-cita-menjadi-penulis-pencerahan-aisy

Jika ada orang yang bertanya, apa sih cita-cita Aisy sejak kecil? Jawabannya, Aisy punya cita-cita menjadi penulis.

Dia membuktikannya sekarang. Yah, meskipun belum ada buku yang diterbitkan, tetapi Aisy sudah memulainya lewat blog pribadi.

Dalam blog itu, sebagian besar atau hampir semuanya puisi. Ya, dia suka menulis puisi. Bosan juga sih, cuma bikin puisi terus. Makanya itu, dia mencoba mencari bacaan di internet.

Mengetik suatu kata kunci di Mbah Google, dia mendapatkan sebuah website yang domainnya cukup panjang. Website yang sepertnya nama lengkap seseorang. Dia membacanya,

“Rizky Kurnia Rahman dotcom? Blognya siapa ini?” Aisy pun penasaran. Dia klik web itu.

“Wow! Ini sih bukan blog biasa! Desainnya cukup menarik, tulisannya rapi.” Dia membaca beberapa tulisan dan ada komentar pengunjung lain seperti itu.

Baca Juga: Tantangan Menjadi Guru Profesional, Dibilang Kemaruk

Dia lihat ada profil sang penulis, Rizky Kurnia Rahman. Melihat profil itu, dia tersenyum saja. Entah apa maksudnya?

Pas dia sedang scroll, menemukan judul tulisan yang sama dengan sekarang, cita-cita menjadi penulis. Dia mulai menyusuri paragraf demi paragraf.

Inspirasi dari Ibu Setengah Abad

Aisy betul-betul merasa terkejut. Usianya baru sekitar 24 tahun, tetapi itu dikalahkan oleh seorang ibu yang produktif, meski usianya sudah setengah abad. Namanya Drs. Sri Sugiastuti, M.Pd. Dalam blog milik Rizky Kurnia Rahman, dia juga melihat ada banner semacam ini:

punya-cita-cita-menjadi-penulis-bu-kanjeng

“Ohh, Rizky ini seorang guru toh? Dia ikut pelatihan guru secara online bersama Om Jay dan PGRI. Ya, ya, ya,” Aisy mengangguk-angguk.

Pada tulisan itu, Bu Sri Sugiastuti punya nama panggilan akrab, Bu Kanjeng. Ibu yang satu ini sudah menerbitkan beberapa buku. Salah satunya buku ini:

cita-cita-menjadi-penulis-buku-bu-kanjeng

Ada lagi gambar-gambar di blog tersebut:

cita-cita-menjadi-penulis-contoh-buku-bu-kanjeng

cita-cita-menjadi-penulis-buku-bagian-dua-bu-kanjeng

Aisy mengangguk-angguk lagi. Hem, luar biasa ini ibu! Meskipun tidak semuanya karya solo atau tunggalnya, ada pula yang kolaborasi atau antologi. Namun, semangat dan kerja kerasnya untuk menerbitkan buku patut diacungi jempol.

Gadis itu mulai menemukan kepercayaan diri lagi. Galau di dalam dirinya berangsur-angsur luntur. Masa kalah dengan ibu-ibu atau emak-emak dengan usia yang senja? Lha dia sendiri masih muda? Masih belum menikah lagi!

Mencari Bekal Untuk Jadi Penulis

cita-cita-menjadi-penulis-bekal

Setelah melihat gambar di atas, Aisy memang berpandangan bahwa tulisan dari Rizky Kurnia Rahman tidak hanya berhenti pada buku-buku yang dimotori oleh Bu Kanjeng, tetapi juga tips-tips seputar menulis.

“Wah, ini dia yang kucari selama ini! Kiat-kiat menulis yang joss! Hem, apa saja itu ya?” Aisy berbicara dan bertanya ke diri sendiri. Waktu itu, dia memang sedang sendiri, masih di dekat jendela.

Dia membaca bagian pertama.

Kiat Menulis

Menurut Bu Kanjeng, ada empat langkah. Aisy menelusurinya satu per satu:

1. Banyak membaca

Kalau ini sih, Aisy sudah tahu dan memang percaya bahwa seorang penulis itu mesti banyak membaca. Bagaimana mungkin mau menyusun kata-kata bila tidak pernah membaca?

Ibaratnya seorang tukang bangunan. Mau menyusun batu bata dari atas ke bawah, eh, terbalik, bawah ke atas, mesti ada bahannya. Ya, batu bata itu sendiri, semen, air dan peralatan menyusunnya. Tidak ada satu, pasti susah.

Aisy berpikir, buku apa ya yang selama ini sudah dia baca? Apakah dari buku-buku tersebut, dia merasa cukup? Sambil memegang dagu, dia berpikir. Ah, tiba-tiba muncul pikiran laki-laki yang disukai Aisy. Weleh, selentingan iklan, nih!

2. Mulai Menulis

Baca buku sudah, semuanya sudah dilahap, lalu berikutnya apa lagi? Aisy membacanya pada poin kedua, yaitu: mulai menulis. Ini dia yang jelas dari langkah-langkah Bu Kanjeng.

Masa bahan bacaan tadi cuma disimpan di dalam pikiran? Nanti bisa jadi beku lho kalau tidak dicairkan dalam bentuk tulisan.

Aisy kembali membaca bahwa menulis itu bisa di banyak tempat. Salah satunya yang sedang ada di hadapan Aisy itu.

Baca Juga: [Dahsyat] 13 Kiat Mantap Cara Menang Lomba Blog, Langsung dari Ahlinya!

Blog atau website dengan domain nama lengkap Rizky itu dijadikan sarana menulis yang cespleng. Aisy sendiri juga punya blog, tetapi lebih sepi daripada kuburan. Ya, sepi kontennya, sepi pula pengunjungnya. Apalagi jelas tidak ada penghuni di alam kubur sana yang berkunjung ke blognya.

Selain lewat blog, dijelaskan Rizky bahwa menulis bisa lewat media sosial. Ya, Facebook, lah. Twitter, lah. Instagram, lah. Terserah, lah. Mau yang mana? Semuanya bolehlah.

3. Kirim, Dong!

Sudah ditulis dengan bahasa yang indah, melebihi Mbak Indah sendiri, langkah ketiga yang dibaca Aisy dari blog itu adalah mulai mengirim. Ke mana kirimnya? Lewat JNE, JNT atau sistem COD? Wah, memangnya belanja online?

Selama ini Aisy cuma masukkan tulisan di blog pribadinya. Belum pernah dia kirim ke mana-mana, apalagi ikut lomba. Kirim ke media atau penerbit buku apalagi.

Kok tidak pernah kirim? Bagi Aisy, dia beralasan tidak PD. Merasa rendah diri dengan tulisannya. Makanya, dia tidak mau banyak orang tahu. Lho, kok begitu ya?

4. Ayo, Menulis Terus!

Namanya penulis, ya, pekerjaannya menulis! Itu sudah pasti. Sama dengan Rizky yang tetap menulis, meski usianya belumlah setengah abad. Selama masih muda, sehat dan kuat, maka menulis mesti menjadi sesuatu yang rutin dan konsisten.

Oke, Aisy mulai mendapatkan pencerahan dari blog tersebut. Wah, blog yang bermanfaat! Katanya.

Aisy berhenti sebentar. Dia ambil dulu roti di dekat tempat tidurnya. Roti coklat yang sudah terbuka tadi, tetapi belum dihabiskan. Dia ingin menghabiskan semuanya. Tentunya, rotinya saja lho, bukan dengan plastiknya ikut dihabiskan!

Dia lanjut baca lagi. Kali ini, pada bagian lain di tulisan itu, tentang mencari ide.

Nah, ini dia yang pertama kali muncul ketika akan menulis. Orang yang tidak punya ide, pasti akan bingung mau menulis apa? Terutama jika akan menulis panjang.

Seringkali Aisy pun begitu. Dia tidak punya ide mau menulis apa, karena pikirannya dipenuhi kegalauan itu tadi. Jadi, pikiran normal dan warasnya tertutup oleh cinta yang tidak halal.

Namun, berkat blog dari Rizky tersebut, dia ingin berubah. Bukan berubah menjadi Power Ranger, melainkan menjadi pribadi yang lebih produktif. Percuma dong, suka menulis, tetapi tidak dikembangkan jadi lebih sukses!

Tentang ide itu tadi bagaimana? Aisy menemukan poin di tulisan Rizky, diawali lagi dengan banyak membaca. Bisa juga pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi.

Rizky memberikan tambahan, bahwa tidak selalu harus pergi ke tempat tersebut. Kalau ingin menulis tentang Korea Selatan misalnya, tinggal buka saja YouTube. Mencari video perjalanan orang yang pernah ke sana.

Dengan begitu, menghemat uang, tetapi bisa mendapatkan pengalaman yang kurang lebih sama. Bukankah intinya adalah deskripsi atau gambaran tentang tempat tersebut bukan?

Tentang judul, Rizky menulis dan Aisy paham bahwa judul haruslah menarik. Ah, Aisy teringat pada sebuah video di TikTok. Judul ini mirip dengan bahasa promosi.

Pada video tersebut, judul yang menarik, ini kalau tulisan berupa panduan sukses atau buku motivasi adalah: Bagaimana mendapatkan A, dalam waktu B, tanpa harus C?

A adalah sesuatu yang ingin diraih. B adalah jangka waktu yang ingin dicapai, tetapi sesingkat mungkin. Sedangkan C adalah halangan atau rintangan yang ingin disingkirkan.

Contohnya begini: Bagaimana bisa menulis lancar dalam waktu satu bulan saja tanpa harus tergantung mood?

Aisy berpikir lagi, tetapi kalau judul seperti itu, terlalu panjang, sementara Bu Kanjeng mengajarkan untuk tulisan yang pendek saja. Sebenarnya, jika judul yang pendek pun, tetap akan diminati orang, karena faktor si pengarang sendiri.

Buktinya mana? Aisy teringat dengan buku-buku novel karangan Tere Liye. Cuma dengan satu kata, seperti: Pergi, Pulang, Bumi, Bulan, Matahari, Komet dan lain sebagainya, tetapi larisnya luar biasa!

Wah, iya juga ya! Aisy mengangguk-angguk lagi. Selain harus pendek agar mudah diingat, kata Bu Kanjeng, harus juga sesuai dengan isi tulisan.

Tidak mungkin bukan, judulnya: Cara Membajak Sawah dengan Benar, tetapi isinya cara memakai aplikasi Powerpoint? Memangnya mau presentasi di hadapan kerbau dan orang-orangan sawah? Ah, ada-ada saja!

Bagaimana dengan lomba menulis? Nah, ini yang jadi ajang pembuktian untuk si penulis, apakah karyanya bisa diterima orang ataukah tidak?

Jika hasil tulisan sendiri, pastilah dikatakan bagus. Lha wong, tulisan dia sendiri. Namun, bagaimana ketika sudah dibaca orang lain? Ketika tulisan sudah dilempar ke publik, maka harus terima saran dan kritik dari para pembaca.

Hem, Aisy belum siap seperti itu. Tapi, dalam hatinya tertarik juga ikut lomba menulis, meskipun bukan dalam waktu dekat ini.

Pada blog Rizky sendiri, pada menu Tentang Saya, disebutkan bahwa beliau sudah pernah menang beberapa lomba.

“Wah, Masya Allah!” kata Aisy.

Ada lomba esai ketika dia kuliah, lomba resensi buku juara dua dari penerbit terkemuka nasional, lomba cerpen sebanyak tiga kali, terakhir juara dua nasional, bahkan dua lomba blog. Termasuk tiga buku antologinya bersama penulis lain sudah meluncur.

Aisy menduga bahwa Rizky ini memang haus prestasi. Atau, memang ingin lebih memotivasi diri agar menjadi penulis yang semakin baik dan baik lagi? Begitu mungkin ya?

Dalam resume yang ditulis Rizky dari materi Bu Kanjeng juga disebutkan bahwa even-even atau lomba menulis mampu melatih disiplin menulis dan mengasah otak untuk mencari ide. Tidak mungkin bukan, untuk mengasah otak, membeli batu asah di toko bangunan?

Saatnya Menulis

waktu-cita-cita-menjadi-penulis

Cita-cita menjadi penulis memang ingin diwujudkan. Aisy jadi makin tertarik. Tadi, kiat-kiat menjadi penulis sudah disebutkan. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah kapan waktu yang tepat untuk menulis?

Aisy sih sembarang saja mencari waktu menulisnya. Kapan ada waktu lowong di tengah amanah menjadi pembina pesantren, maka di situlah momen untuk menulis.

Baca Juga: Kenali Positif dan Negatif Pendidikan Anak Serba Boleh Semuanya Alias Yes Parenting

Namun, dia merasa, jika seperti itu terus, hasilnya tidak akan bagus. Pasti akan jalan di tempat. Begitu-begitu saja. Lalu, bagaimana bagusnya?

Menurut Rizky lagi, dalam menulis itu perlu target. Misalnya, mau jadi buku dalam waktu tiga bulan. Dari waktu tersebut, perlu dibagi-bagi lagi ke dalam target pekanan, hingga harian.

Jika tidak bisa memenuhi target pada hari itu, akan menjadi utang pada hari berikutnya. Makin banyak tertunda, makin banyak utang.

Memang sih, target tersebut cuma kaitannya dengan diri sendiri. Tapi, kalau tidak dipenuhi terus, kapan suksesnya? Kapan cita-cita menjadi penulis betul-betul terwujud?

Draf Perlu Apa Tidak?

draf-cita-cita-menjadi-penulis

Waktu untuk menulis sudah didapatkan, selanjutnya merangkai tulisan itu perlu kerangka begitu? Draf istilah kerennya.

Untuk menulis buku, memang hal itu diperlukan, sebagaimana dikatakan oleh Bu Kanjeng. Bisa ditulis atau dipikirkan saja juga boleh.

Jika memang sudah terbiasa menulis, maka tidak perlu pakai draf. Cukup mencari judul, lalu mulai merangkai tulisan. Ah, Aisy juga kadang begitu. Khususnya untuk tulisan-tulisan galau-bergalau.

Saat Mesti Diakhiri

saat-harus-diakhiri-cita-cita-menjadi-penulis

Membaca dan mempelajari resume yang ditulis oleh Rizky Kurnia Rahman, sungguh tanpa terasa. Maksudnya, setengah jam, terasanya tiga puluh menit!

Selesai sambil akhir, Aisy menutup gawainya. Adzan Dzuhur di masjid pesantren itu telah berkumandang. Mungkin lain waktu, dia akan berkunjung lagi ke blog tersebut.

Tulisan Rizky tadi tidak dikomentari oleh Aisy. Biarlah yang lain saja, yang mungkin para peserta pelatihan menulis tersebut.

Ah, untuk lebih menghilangkan galaunya, dia pergi ke kamar mandi. Ambil air wudlu. Sholat berjamaah. Rencananya nanti, dia akan menulis lagi.

Mulai bangkit lagi. Agar blognya tidak jadi sarang laba-laba, tetapi menjadi sarang pikiran yang mampu diraba.

Baca Juga: [Kupas Tuntas] Solusi Lengkap Masalah Keluarga Lewat Blog Satu Ini!

Share This:

12 Comments

  1. Ini, ketua kelas sekaligus senior saya. Mksh sdh kasih referensi baru meresume. Mksh jg atas kunjungan pak rizky ke blog saya…

  2. Resume yang mantap. Prolog tidak terlalu panjang dan lebih menonjolkan isi. Sedikit saran perbaikan untuk kata ‘adzan’, ‘dzuhur’ dan ‘wudlu’, menurut KBBI yang baku ‘azan’ ‘zuhur’, dan ‘wudu’. Tidak apa-apa juga jika memang menulis versi bahasa arabnya, tetapi jangan lupa dicetak miring. Sukses terus, Pak Ketua! Aku akan mengikuti jejak kesuksesanmu. Insyaallah. 🙏

    1. Oh, ya, lupa tadi dicek di KBBI. Kebiasaan menulisnya sejak dulu, Pak. Lupa juga dikasih miring tadi. 😁

      Btw, terima kasih sarannya, Pak. 🙏

    1. Alhamdulillah, makasih komennya Pak.
      Bikin betah lagi kalau sambil makan gorengan dan minum kopi. Hehe…
      Cuma saya nggak menyediakan ini. Hehe lagi.

  3. Mantap pak ketua satu ini.. Meskipun ceritanya sepanjang jalan kereta, tapi tidak terasa capainya.. Saking asiknya baca, eh sudah habis ceritanya. Pertanyaan dalam dada, Aisy itu siapa? Apakah nyata atau fiktif belaka pemirsa? Hahahaha

    1. Kalau itu sih rahasia negara, eh, rahasia penulis tentang sosok Aisy ini.
      Makasih sudah komen dan berkunjung di sini Bu. Salam sukses!

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

two × one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!