Berusaha Menjadi Guru yang Berwirausaha

Berusaha Menjadi Guru yang Berwirausaha

Share This:

Apakah menjadi guru yang berwirausaha itu diperbolehkan? Padahal ‘kan guru itu ya guru, wirausaha, ya, wirausaha. Kok digabung? Sebelum menjawabnya, saya akan sodorkan sebuah cerita nyata.

Sekitar tahun 2006 kalau tidak salah, waktu itu saya masih menjadi mahasiswa di Fisipol UGM. Setiap sholat Jum’at, berkumpul bersama teman-teman. Eits, bukan sembarang teman. Bukan teman kampus. Bukan pula teman sepermainan seperti lagu jadul dari duo Ratu.

Mereka adalah pengusaha muda. Aneka macam usaha yang mereka geluti. Namun, itu bukan pertemuan besar lho. Hanya bincang-bincang santai. Tempatnya di Masjid Kampus UGM. Pernah ke sana?

Boikot Produk

guru-yang-berwirausaha-bagian1

Saya kenal salah satunya. Namanya Heri. Saya memanggilnya Mas Heri. Dia ini pengusaha dengan fokus ke produk-produk pertanian. Skala usahanya sudah, Masya Allah, menembus ekspor. Artinya, dia carikan pembeli untuk produk-produk tersebut. Misalnya: rempah-rempah.

Heri cerita bahwa dia pernah menghadapi seorang mahasiswa culun yang dengan semangatnya ingin memboikot produk-produk Yahudi yang di Israel itu lho. Waktu itu memang cukup gencar aksi tersebut dengan tujuan untuk membantu rakyat Palestina. Mirip dengan kejadian sekarang, memboikot produk-produk Perancis.

Mahasiswa tersebut, sebut saja, Budi. Dia mengatakan ke Heri, “Sudah saatnya kita itu boikot produk-produk Yahudi. Kalau sudah begitu, maka kita bisa menyerang Yahudi secara ekonomi.”

Menanggapi hal itu, Heri tersenyum saja. Dia tidak langsung setuju, tetapi juga tidak langsung tidak setuju. Biasa saja sikapnya. Bukan pula sikap sempurna. Memangnya sedang upacara bendera?

Beberapa saat, Heri membalas dengan melemparkan pertanyaan semacam ini, “Sebenarnya bagus juga. Tapi, aku kasih alternatif, Mas. Bagaimana kalau kita jadi kaya raya terus kita beli saham-sahamnya orang Yahudi itu? Kalau sudah begitu ‘kan perusahaan-perusahaan itu jadi milik kaum muslimin!”

Eh, mendapatkan alternatif pemikiran dari Heri, si Yahudi, eh, si Budi bilang begini, “Wah, ya, berat! Mana mungkin kita bisa beli saham-saham mereka?”

Heri tertawa ketika menceritakan itu. Dia menertawakan si mahasiswa yang tidak mau berpikir besar. Memang sih, membeli saham atau menjadi pemilik dari perusahaan Yahudi berat luar biasa. Namun, bukan tidak mungkin dari orang Islam sendiri yang mampu mewujudkannya. Bisa saja ‘kan?

Berpikir Besar itu Luar Biasa

guru-yang-berwirausaha-berpikir-besar

Otak kita memang begini-begini saja. Kapasitasnya tidak melebihi ukuran kepala kita. Apakah otak itu pintar atau tidak, tergantung dari pemiliknya, dalam hal ini kita. Mau diisi dengan ilmu, bagus. Tidak diisi dengan ilmu, risiko tanggung sendiri.

Katanya, jika orang pintar itu perumpamaannya otaknya encer. Pernah dengar begitu ‘kan? Jangan kaget, ada sebuah humor di kota kelahiran saya, Jogja, bahwa otak encer itu tidak selamanya bagus. Sebab, jika sudah encer, maka nantinya akan ke luar lewat telinga. Hiii…

Salah satu penerapan dari berpikir besar adalah melalui jalur usaha alias bisnis. Lho, kok bisnis? Ya, karena bidang ini menjanjikan tantangan yang tidak mudah untuk sukses. Begitu banyak rintangan saat orang jadi pengusaha. Produk tidak laku, muncul banyak pesaing, iklan yang tidak “ngefek”, ditipu teman sendiri bahkan sampai masalah hukum.

Saking beratnya cobaan dan ujian jadi pengusaha, tidak semua orang mau dan mampu berwirausaha. Jumlah persentase pengusaha di negeri ini tidak sampai 10 %. Masih jauh lebih banyak yang menjadi karyawan atau pegawai.

Begitu juga ketika ada yang melihat atau mendengar guru yang berwirausaha. Lho, mana contohnya? Nah, waktu yang tepat bagi kamu untuk melihat salah satu profil guru yang berbisnis. Oh, oh, siapa dia?

Dari Kursus ke Kedai

guru-yang-berwirausaha-1
Foto Betti Risnalenni

Narasumber untuk kelas menulis online bersama Om Jay dan PB PGRI pada Rabu (30/10) kemarin adalah Ibu Betti Risnalenni. Bagaimana awal beliau berwirausaha?

Dimulai dengan kursus aritmatika tahun 1996. Beliau selanjutnya menulis buku pelajaran tersebut. Buku tersebut dijual sendiri dengan mengadakan pelatihan pada tahun 1998. Alhamdulillah, memiliki 24 cabang untuk daerah Bekasi saja. Itupun belum termasuk luar daerah.

Tahun 2003, ibu yang aktif ini mulai mendirikan sekolah TK dan TPQ. Dilanjutkan tahun 2004 dengan SD. Sampai sekarang sekolah tersebut masih eksis. Luar biasa bukan?

Tadi ‘kan disebutkan tentang bisnis pendidikan, terus sekarang masih musim pandemi, bagaimana bisnis beliau? Nah, ini dia! Kalau orang sudah berjiwa wirausaha, maka tetap akan terpikir untuk kreatif.

Terbukti, Betti Risnalenni mendirikan sebuah kedai di samping rumahnya. Kerja kerasnya berbuah manis. Beliau berhasil mendapatkan pelatihan UMKM gratis. Ada juga izin PIRT dan sertifikat halal MUI. Alhamdulillah.

Hikmah dari Kisah Ini

guru-yang-berwirausaha-2
Foto Betti Risnalenni juga

Sosok guru yang berwirausaha mungkin masih jarang. Sebab hal tersebut ibarat menyatukan otak kiri dan kanan. Otak kiri berkaitan dengan logika, sistematis, teratur, hitung-hitungan angka dan memang cocok dengan dunia akademis. Sedangkan otak kanan biasanya berkaitan dengan kreativitas dan hal-hal yang tidak terduga.

Memang sih, di era pembelajaran jarak jauh ini, seorang guru memang harus kreatif dan inovatif. Namun, konteksnya ‘kan memang pendidikan. Berarti, notabene lebih banyak menggunakan otak kiri.

Sedangkan dunia bisnis itu berbeda. Apalagi untuk tahap-tahap awal, sangatlah berat. Sudah banyak yang terjadi kok. Di antara 10 yang buka usaha, delapannya gagal. Dua yang bertahan, di lima tahun, tinggal satu yang masih bertahan.

Kesimpulan

Kisah tentang Betti Risnalenni ini bisa menjadi inspirasi bahwa seorang pengusaha itu bisa lahir dari berbagai latar belakang. Apalagi guru yang pangsa pasarnya luas.

Dan, yang unik dari profesi guru ini adalah, tidak ada yang namanya mantan guru, selama guru tersebut masih hidup. Bahkan, ketika anak didiknya sudah tua sekalipun, tetap akan menganggap gurunya di SD dahulu pemberi ilmunya. Ketika ketemu, akan menghormati dan takzim, layaknya murid yang masih kecil waktu di kelas.

Jika ada seorang guru yang berwirausaha, maka yang pernah menjadi murid tersebut, bisa dong membantu jualannya. Mempromosikan atau membeli dalam jumlah yang banyak. Dan, saya kira itu bentuk penghormatan kepada guru juga. Ah, menyenangkan memang menjadi guru ini. Terasa nikmat di dunia, sebelum nanti di akhirat, Insya Allah.

Share This:

11 Comments

  1. Masih tetap dengan gaya cerpen. Makin mantap ini pak ketua.. Selalu ada hitungan aritmatika kalau mau kasih cinderamata. Semangat terusss

  2. Padat bernas . Tapi ndak terlalu panjang seperti biasanya. Namun begitu ilmu baru tetap saya dapatkan. Ada ilmu lama yang diingatkan kembali fungsi belahan otak dalam kaitannya dengan profesi ganda seperti Bu Betty. Terima kasih banyak. Semangat berbagi 👋

  3. Padat meskipun ndak panjang seperti biasanya. Tetap ada ilmu yg diperoleh dari membaca naskah pak Rizky. Profesi ganda dan fungsi belahan otak kanan dan kiri. Terima kasih.

  4. Tumben p ketua kok tdk panjang nulisnya,,, nich terlanjur tak siapin bantal,, eee ternyata sudah nyampek,,, tops sukses selalu

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!