[Perlu Waspada] 10 Perkataan yang Merusak dan Meruntuhkan Dunia Anak

[Perlu Waspada] 10 Perkataan yang Merusak dan Meruntuhkan Dunia Anak

Share This:

Meruntuhkan dunia anak? Wah, bisakah terjadi seperti itu? Jawabannya, jelas bisa saja. Dunia anak yang masih rapuh alias belum kuat betul bisa runtuh cuma dengan beberapa kalimat atau perkataan saja. Bagaimana penjelasannya?

Kita tahu, anak-anak adalah sebuah fase dalam hidup manusia ketika belum banyak pengalaman. Setiap anak adalah peniru dari orang-orang sekitar, terlebih orang tua. Namun, boleh jadi orang tua yang masih belum sadar dan paham, dengan ucapannya sendiri, justru akan menenggelamkan keceriaan pada diri anak-anak.

Sebelum membaca lebih jauh tentang 10 perkataan yang meruntuhkan dunia anak, siapa sih yang mengatakannya? Oh, rupanya Amy Morin, seorang psikoterapis berkelahiran Skotlandia. Dia mengatakan ada lima kalimat. Terus apa saja kalimat itu yang perlu Ayah dan Bunda tahu? Baiklah, ini dia:

1. Kita Tidak Akan Bisa Melakukannya atau Membelinya

Pesimis. Itulah inti dari kalimat pada poin pertama ini. Mungkin kalimat ini akan dikatakan orang tua ketika anak meminta sesuatu. Entah itu beli makanan ringan di minimarket modern, jajan permen, coklat, sampai dengan Kinder Joy yang selalu ditaruh di meja kasir itu. Memang bisa bikin senewen bagi orang tua, mau bayar, sudah ada barang-barang yang dipilih, eh, anak-anak tambahkan langsung Kinder Joy. Hem, pintar juga yang punya minimarket ya…

Okelah, mungkin pada saat itu, kita memang tidak punya uang. Namun, untuk sesuatu yang penting bagi kehidupan anak sendiri, orang tua perlu memberikan pemahaman bahwa akan berusaha untuk mewujudkannya. Misalnya, berlibur ke Kutub Utara ketemu beruang. Walah, jangan bilang kita tidak bisa melakukannya! Kalau toh belum bisa ketemu beruang, paling tidak minum dulu susu Beruang. Haha…

Baca Juga: Balada Sebuah Koran

Optimus, eh, optimis sangat perlu diajarkan ke anak. Hidup ini akan selalu lebih baik bagi orang-orang yang terus berprasangka baik. Paling utama adalah prasangka baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lha, kalau kepada Allah saja sudah berprasangka jelek, lalu kepada orang lain, masa bisa baik? Hem, jangan mimpi deh! Apalagi di malam bolong, lho, maksudnya di siang bolong. Memangnya, siang itu yang bolong apanya ya?

Yuk, lanjut ke poin keempat. Halah, terlalu jauh…

2. Kamu Nak, Bikin Ayah Sama Bunda Jadi Marah!

Menurut salah satu motivator Indonesia, Tung Desem Waringin, perkataan “kamu membuatku marah” adalah level terendah. Kira-kira begitu, lah..

Lho, kenapa demikian? Begini, Bapak dan Ibu sekalian, Ayah dan Bunda, Abi sama Ummi, perasaan pada diri kita itu sebenarnya ditentukan oleh kita sendiri, lho! Seburuk apapun perkataan orang, sejelek apapun hinaannya, jika kita tidak mengizinkan diri ini marah, ya, tidak akan marah. Jika kita bawa santai saja, maka ya akan santuy. Begitu bahasa anak muda milenial.

Termasuk dalam hal ini adalah anak-anak. Jelas pemahaman mereka lebih sedikit dibandingkan kita yang sudah dewasa. Jadi, ketika anak-anak membuat kita marah, terus kita mengatakan ke mereka, dengan muka yang jelek karena saking marahnya, maka jelas itu bisa meruntuhkan dunia anak kita sendiri. Semestinya kan kita sebagai orang tua lebih mampu untuk mengendalikan diri. Bener ‘kan?

Ini memang tidak gampang, Ayah dan Bunda. Tapi, dibilang tidak gampang, bukannya tidak mungkin, lho! Yang penting kita mau terus mencoba untuk tidak marah atau kelihatan marah di depan anak. Kalau anak kita sendiri mencontoh kita, kan kita sendiri yang akan repot. Ya apa ya?

3. Abi dan Ummi Mesti Berangkat Kerja

Suami dan istri, ayah dan ibu bekerja dan mesti ke luar rumah semua, memang pada satu sisi menimbulkan dilema pada diri anak. Mereka jelas butuh waktu yang berkualitas untuk bermain dan bercanda bersama kedua orang tuanya. Tapi, rupanya waktu orang tua sendiri bukan hanya milik anak, melainkan milik kantor, perusahaan, bos dan lain sebagainya.

Bisa jadi, dalam suasana jengkel, terus menghindari berinteraksi sementara dengan anak, mengatakan mesti berangkat kerja atau mau pergi ke kantor atau apalah, yang penting intinya adalah bekerja di luar rumah.

Baca Juga: Narsis dan Eksistensi Kita

Lebih baik, tetap berusaha menampilkan wajah yang ceria di depan anak, bahwa Abi sama Umi berangkat untuk berjihad. Menjemput rezeki dari Allah. Kalau mencari rezeki, maka itu tandanya rezekinya hilang. Sedangkan jika menjemput, rezekinya sudah ada, tinggal diambil. Tentunya, dengan usaha dong. Salah satunya dengan bekerja. Cara lainnya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Agar tidak dianggap meruntuhkan dunia anak, yuk, kita cium anak-anak kita sebelum berangkat kerja. Meskipun awalnya atau sebelumnya jengkel setengah mati, tapi mereka tetap anak-anak kita. Jangan sampai kita meruntuhkan dunia mereka. Kitalah yang mesti memahami dunia anak tersebut. Yuk, poin selanjutnya.

4. Tidak Suka dengan Pekerjaan Ini!

Bosan dengan rutinitas yang dijalani oleh Ayah dan Ibu, oh, itu wajar saja kok. Berangkat mungkin jam setengah delapan pagi sampai di kantor, pulang jam empat sore. Dari hari Senin sampai Jum’at dengan rutinitas yang begitu menjemukan.

Namanya saja rutinitas, pastilah rutin. Namun, apapun pekerjaan kita, selama itu menghasilkan pendapatan yang cukup, maka mesti tetap bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukankah masih banyak orang yang masih butuh kerja, sementara kita sudah diberikan nikmat bisa bekerja dengan baik?

Ketika orang tua mengutarakan, termasuk mengeselatankan kepada anak bahwa dia tidak suka dengan pekerjaannya, terbukti menjalani rutinitas dengan terpaksa, maka dalam pikiran anak bisa muncul persepsi bahwa bekerja itu memang tidak menyenangkan.

Maka, sukailah pekerjaan kita! Ketika tidak suka dengan satu pekerjaan dan dirasa ada yang lebih baik, kenapa tidak dicoba saja yang baru itu? Itu jelas lebih baik daripada meruntuhkan dunia anak tanpa disadari atau tanpa disengaja.

5. Baik-baik Saja Kok!

Kondisi di dunia ini jelas terbagi ke dalam dua macam, yaitu: baik dan buruk. Keduanya bisa menimpa siapapun, tua atau muda, orang tua maupun anak-anak.

Boleh jadi, suatu saat, ada di antara anak kita yang ikut suatu lomba tertentu. Terus, kalah. Normalnya, perasaan anak itu akan sedih, bahkan menangis. Tugas kita sebagai orang tua adalah menghiburnya.

Nah, ketika menghibur ini, tidak jarang orang tua mengatakan, “Oh, semuanya baik-baik saja kok, Nak. Jangan khawatir!”

Sekilas kalimat tersebut tampak normal-normal saja, tapi sebenarnya tidaklah terlalu normal. Tetap yakinkan pada diri anak untuk bisa menerima apapun hasil dari usaha yang telah diikutinya. Ketika bicara baik-baik saja, sepertinya itu tidaklah terlalu sesuai dengan kenyataan. Makanya, ketika anak sedih, biarkan dulu. Setelah itu, beri motivasi agar dia bisa bangkit lagi.

Baca Juga: 5 Tips Ampuh Menghilangkan Malas

Itu adalah 5 kalimat yang dikemukakan oleh Amy Morin. Lalu, apakah ada tambahan kalimat lagi? Oh, tentu saja, agar tulisan ini lebih lengkap dan bermutu. Hehe… Baiklah, ini dia:

6. Kenapa Kamu Selalu Begitu Sih?

Kalimat seperti ini, penampakannya bisa dalam wujud seperti: “Kok kamu selalu nakal sih?”

Atau…

“Kok kamu tidak pernah mau dengar kata-kata Ayah sama Ibu sih?”

Hati-hati ya Ayah dan Bunda, bahwa kata-kata orang tuanya itu ketika marah bisa jadi doa lho! Kalau betulan, anak kita nakal terus bagaimana? Susah juga ‘kan? Makanya, yuk, kontrol perkataan kita, meskipun sedang marah-marahnya. Bukankah kita ini yang lebih dewasa daripada mereka?

7. Jangan Nangis Terus! Cengeng!

Anak mana sih yang tidak pernah menangis? Baik itu anak laki-laki maupun perempuan, pastilah pernah menangis. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja bisa menangis kok. Wajar dong karena setiap manusia dibekali dengan kelenjar air mata.

Tidak ada sebenarnya anak yang cengeng. Meskipun banyak menangis, sebenarnya itu adalah ungkapan perasaan atau emosi yang coba dikeluarkan dari diri mereka. Lebih baik, tanyakan dulu ke mereka, kok menangis, Nak? Pasti ada alasannya.

Jika anak sudah bisa berbicara, maka biasanya dia akan mengungkapkan alasannya. Asal, dia merasa nyaman bercerita lho, terlebih kepada orang tuanya sendiri.

Bila anak disuruh terus untuk jangan menangis atau diberi cap “Cengeng”, terutama kepada anak laki-laki, maka dampaknya dia akan menjadi sosok yang keras lho! Menangis adalah cara agar hati ini menjadi lebih lembut. Kalau tidak pernah menangis atau diajarkan untuk tidak menangis, bukankah batin ini akan lebih tersiksa, terutama pada diri anak?

Sabarlah wahai orang tua menghadapi anak yang sedang menangis atau bahkan suka menangis ya…

8. Pergi Sana, Jangan Ganggu!

Mungkin saja, ada saatnya kita bawa pekerjaan kantor ke dalam rumah. Sembur namanya. Aduh, lembur namanya! Ini bisa jadi terjadi pada guru-guru yang harus mengejar sertifikasi. Hehe… Betulkah?

Perkataan semacam ini, bisa jadi akan membuat anak menyingkir dan betul-betul tidak mengganggu Anda sebagai orang tua. Namun, dalam pikirannya akan terpatri bahwa anak itu adalah sosok pengganggu. Pada akhirnya, dia bisa anggap dirinya tidak berharga, bahkan di depan orang tuanya sendiri. Nah, kan jadi kasihan itu…

Jika sudah dewasa, mungkin saja dia akan beranggapan: “Ah, percuma bicara sama Ayah sama Ibu, nggak ada gunanya!”

Baca Juga: Tong Kosong Nyaring Bunyinya [Ternyata Ada Hubungannya dengan Ayam dan Kura-kura]

Solusinya? Lebih baik katakan, “Tunggu dulu ya, Sayang. Ayah rampungkan pekerjaan ini dulu ya…” Tambahkan dengan senyum manis boleh juga.. 🙂

9. “Jangan Suka Kentut Kayak Papa!”

Memberikan contoh yang jelek, tapi mencatut nama pasangan sendiri? Hem, ini jelas kurang bagus buat anak. Atau mengambil contoh suami/istri Anda yang bersikap jorok, jarang mandi, buang ingus sembarangan, tidur ngorok dan lain sebagainya, wah, anak jadi punya pikiran lain-lain terhadap orang tuanya itu.

10. Jangan Ini, Jangan Itu!

Melarang anak terhadap sesuatu yang sekiranya berbahaya memang wajar. Itu menjadi bagian dari pendidikan untuknya.

Namun, anak yang sering dilarang ini dan itu bisa tumbuh jadi anak yang tidak mandiri, bahkan tidak percaya diri pula. Tambahan lagi, anak jadi bingung dan tidak bisa mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Kalau hal itu berujung sampai dewasa, wah, dia akan jadi pribadi yang rapuh lho!

Lebih baik, berikan alasan mana yang dilarang dan mana yang boleh? Jika anak punya pendapat sendiri sehingga yang awalnya sesuatu itu dilarang, jadi boleh-boleh saja dilakukan, kenapa tidak? Siapa tahu anak lebih tahu daripada orang tuanya? Apalagi di jaman now, sesuatu seperti itu bisa saja terjadi, Ayah dan Bunda, Abi dan Ummi.

Kesimpulan

Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar karena itu memang menjadi tugas utama mereka. Namun, mereka tetaplah anak-anak dan bukan orang dewasa mini. Jadi, perlu pemahaman terutama bagi orang tua bahwa memperlakukan mereka berbeda dengan memperlakukan orang dewasa atau anak muda pada umumnya.

Dunia anak yang penuh dengan keceriaan dan kegembiraan itu, jangan sampai diruntuhkan atau dirusak oleh orang tuanya atau keluarganya sendiri. Biarkanlah mereka tumbuh kembang apa adanya, tentunya dengan pengarahan yang baik dari orang-orang terdekatnya.

Baca Juga: Mendidik Versi Kurikulum Para Binatang

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!