Makna dari Huruf “O” yang Sering Dipakai Juga Untuk Mengakhiri Chat di Whatsapp

Makna dari Huruf “O” yang Sering Dipakai Juga Untuk Mengakhiri Chat di Whatsapp

Share This:

“Ooo, gitu toh!” Itulah mungkin yang kamu pakai buat mengakhiri chat di Whatsapp? Mau ohh atau cuma o saja, ternyata ada makna positifnya. Bagus buat motivasi nih!

Namanya saja hubungan komunikasi, memakai media apapun tidak masalah asalkan bisa nyambung. Menurut teori kuliah komunikasi yang pernah saya ikuti, bahwa komunikasi itu mencakup empat faktor, yaitu: si pemberi informasi, penerima informasi, bentuk informasi itu sendiri dan media yang dipakai.

Keempat hal itu memang harus ada dalam setiap bentuk komunikasi. Salah satunya hilang, maka komunikasi tidak akan berjalan efektif. Pemberi informasi ada, penerimanya tidak ada. Nanti jadinya malah ngomong sendiri.

Pemberi informasi tidak ada, penerimanya ada, lalu si penerima ini dapat informasi dari mana? Bisikan jin?!

Pemberi dan penerima informasi tidak ada semua, tetapi isi pesan komunikasi ada, ini mungkin bentuk komunikasi antaralien, tidak bisa didengar oleh manusia.

Semuanya tidak ada, kecuali media saja. Ini berarti HP yang tidak sedang dipakai. Atau sedang dichas. Atau sedang dicuekin saja, karena ada pasangan suami istri yang sedang sibuk memadu cinta. Walah.. Eh, tapi sudah halal, kok! Bolah-boleh saja.

Kebutuhan Akan Chat di Whatsapp

chat-di-whatsapp

Sebenarnya, ada berapa sih pengguna Whatsapp di seluruh dunia. Ketika saya membuka di Google dan mencari jumlah pengguna media ini, ternyata sudah mencapai 2 miliar orang lho! Waow…!

Angka 2 milyar itu tersebut naik telah 500 juta dari 1,5 miliar pada 2018 lalu. Benar ya hitungannya, 1,5 miliar ditambah 500 juta.

Meskipun sudah dinyatakan banyak, ternyata masih kalah lho dibandingkan pengguna Facebook. Media biru ini sudah mencapai 2,5 miliar pengguna. Ini menurut laporan The Wall Street Journal. Silakan cek langsung sumbernya di sini.

Kalau penggunanya sebanyak itu, berarti bisa disimpulkan, tanpa harus ingat dengan simpul-simpul Pramuka, bahwa media hijau ini memang sangat disukai. Awalnya dulu saya juga langsung suka, ketika seorang teman mengajari. Bisa kirim teks tanpa batas seperti SMS, foto maupun video. Meskipun untuk video ini, ada batasnya sih.

Baca Juga: Sehat Q, Media Informasi Digital Lengkap Untuk Sehat A Sampai Z

Interaksi dengan orang melalui Whatsapp itu dalam bentuk percakapan atau chat. Tentang ini, saya pernah diremehkan oleh teman. Dia kaget, ternyata saya ini bisa mengecat dinding rumah juga. Sembarangan memang sindirannya. Tapi, saya balas saja, “Jangankan ngecat rumah, ngechat WA saja saya bisa kok!” Nah, tambah sembarangan komentarnya ‘kan?!

Pertama Dibuka, Lalu Ditutupnya Kapan?

membuka-percakapan-di-whatsapp

Mengherankan juga sih, jika ada orang membuka percakapan di Whatsapp dengan huruf P. Itu apa maksudnya sih? Huruf P itu kan banyak banget arti atau maknanya?

Seorang teman kantor, ibu dengan dua anak, pernah chat begitu. Pakai P. Langsung aku tanya saja: Poligami? Eh, dia malah ketawa. Bukan salah saya dong mengartikan P sebagai poligami. Karena memang tidak ada standar baku yang tepat untuk arti dari P itu. Coba kamu sendiri mengartikan P itu sebagai apa hayo?

Jika awal atau pertamanya dibuka, maka ditutupnya kapan? Kapan-kapan? Ini yang sebenarnya melalaikan betul. Mungkin bagi orang yang sedang dimabuk asmara, chat lewat Whatsapp ini bisa bikin lupa waktu, lupa makan, lupa minum, lupa istirahat, tetapi anehnya, tidak lupa untuk bernapas. Yang jelas, jadi lupa hakikat dirinya kaitan dengan rasa malu.

Meskipun lama, tetapi sangat perlu untuk mengakhiri chat di Whatsapp dengan elegan dan terkesan profesional. Jangan lupa juga, mengakhiri tersebut perlu melihat perasaan orang atau lawan chat kita. Jangan sampai dia merasa tersinggung atau malah tersungging. Halah, tersungging!

Ada beberapa cara untuk mengakhiri chat di Whatspp. Biasanya mungkin kita pakai “ya” atau “y”, “sip”, “oke” atau yang lainnya. Nah, berikut di antaranya yang mungkin akan berbeda daripada biasanya:

Baik

Orang Indonesia mesti cinta Bahasa Indonesia. Makanya, daripada memakai kata “oke” atau malah “alright”, lebih baik kata “baik”. Selain itu, “baik” juga bisa berarti siap.

Memang sih tidak harus tentara, polisi atau paskibraka yang bisa memakai kata “siap”, kita yang warga biasa ini juga boleh kok. Terlebih untuk orang asing, dari yang awalnya “siap” menjadi “siapa lu?”

Jika kita menggunakan kata “baik”, maka terkesan santun dan profesional pula. Lawan chat kamu pun akan merasa bahwa kamu memang cinta bahasa Indonesia. Dan, ditambah kamu memang dalam keadaan baik-baik saja. Semoga saja begitu terus ya.

Terima Kasih

Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Kata “terima kasih” memang pantas kita ucapkan kepada siapa pun, terlebih orang-orang yang sudah begitu baik kepada kita. Ke orang tua pasti. Mertua, oke juga, karena kita mendapatkan pasangan, yaitu: anak dari hasil didikannya. Kepada anak, bagus, karena anak itu sudah berusaha untuk taat dan patuh kepada kita orang tuanya. Siapa lagi? Ya, teman chat kita di WA.

Baca Juga: Kaum Rebahan Tetap Butuh Perubahan?

Mungkin dia sudah memberikan informasi yang sangat penting dan menunjang karir kita. Atau nasihat-nasihat berharga kaitannya dengan agama Islam. Mungkin juga mengirimi pulsa gratis kepada kita. Nah, ini yang mungkin sangat kita harapkan, di tengah pandemi tanggal tua. Hehe..

Terima kasih yang kita ketikkan di chat Whatsapp mungkin akan menjadi salah satu bagian terindah dari hidupnya. Karena bisa jadi, dia selama ini kurang merasa dihargai begitu. Hidupnya merana, sengsara dan penuh dengan penderitaan. Walah, kasihan banget ya! Tapi, setidaknya, terima kasih yang seperti itu dapat dianggap memanusiakan manusia. Siapa sih manusia yang tidak butuh dengan penghargaan dan pengakuan?

Iya

Beda lho ya, antara “iya” dengan “ya”saja. Bagi orang yang jawab “ya” kesannya itu cuek bebek. Padahal bebek juga tidak pernah chat di WA dengan cuma menjawab “ya” kan?

Sementara “iya” bisa memberikan kesan rendah hati. Lebih sopan juga. Dan tentunya, kesan formal profesional itu jadi muncul secara fenomenal (ini memaksakan “al” di belakang).

Jadi, gunakan kata “iya” untuk mengakhiri chat di Whatsapp. Maka, lawan chat kamu akan berpikir, oh, sudah saatnya memang dihentikan dulu chat untuk beberapa detik. Walah.. Tidak lama juga kalau begitu.

Mantap

Kata “mantap” mempunyai kesan kita mendukung apa yang baru saja disampaikan oleh lawan chat kita. Ini yang membuat orang senang. Pada akhirnya, ada juga yang menyetujui pemikirannya setelah mungkin sebelumnya dianggap tidak bisa berpikir. Hadeh….

Setelah semua yang dibicarakan oleh si lawan chat kita, menyebutkan “mantap” membuat percakapan bisa diakhiri dengan baik. Kalau sudah mantap begitu, apalagi coba mau diobrolkan? Selesai bukan?

Itu semua adalah ucapan-ucapan yang pas untuk mengakhiri chat di Whatsapp. Tapi, ada satu kata atau bahkan huruf yang bisa juga dipakai untuk mengakhiri, tetapi punya kesan jelek sebenarnya. Punya kesan menyetujui perkataan orang lain, tetapi dengan rasa berat. Huruf atau kata itu adalah “ohh…”

Jika kita menyebutkan “ohh” dalam chat kita, maka orang lain bisa merasa diremehkan. Panjang nulisnya, tetapi kita cuma menjawab dengan “ohh”. Kan kesannya gimana gitu!

Dan, itu bisa membuat dia jadi marah lho! Bahkan, bisa sampai menghapus akunnya karena jengkel luar biasa.

Nah, meskipun kesannya negatif, tetapi kata “ohh” atau huruf o punya makna yang positif. Ada hubungannya dengan motivasi kita pada hari ini. Apa itu?

Ternyata, o adalah kepanjangan dari opportunity. Arti bahasa Indonesianya adalah kesempatan. Kalau bicara kesempatan, tentunya berbeda dengan kesempitan ya! Apalagi kesempitan celana di bagian perut. Waduh, melar!

Kesempatan itu pertanda waktu yang masih bisa digunakan di masa depan. Jangan cuma bicara masa depan itu setahun lagi, dua tahun lagi atau belasan tahun lagi! Kelamaan. Masa depan bisa dalam bentuk satu detik ke depan, satu menit berikutnya dan seterusnya.

Lalu? Selanjutnya?

Dari arti opportunity dengan arti kesempatan itu kita bisa menemukan tempat tertempelnya huruf tersebut. Pakai bahasa Inggris juga dong! Masa yang tadinya opportunity jadinya opor ayam? Kan tidak nyambung.

Dalam kehidupan kita, dikenal ada tiga jenis waktu: kemarin, hari ini dan besok. Kemarin adalah yesterday, hari ini adalah today, sementara besok disebut tomorrow.

Yesterday

Jadi, di mana saja letak huruf o yang artinya kesempatan itu? Kita lihat pada yesterday. Adakah huruf o di situ? Ternyata memang tidak ada. Beneran? Coba cek lagi, siapa tahu terselip di bawah celana? Oooo…

Bila opportunity tidak ada pada yesterday, berarti memang tidak ada kesempatan lagi untuk diubah pada masa lalu kita. Namanya saja masa lalu, pastilah sudah berlalu. Lalu yang terus ada dalam kehidupan kita hanyalah lalu lintas. Terlebih polisi lalu lintas ketika ada razia. Hehe..

Sedetik yang lewat sudah jadi masa lalu. Pasti tidak akan bisa kembali lagi. Mau diapakan dengan cara yang bagaimana, tetaplah itu masa lalu. Kita tidak bisa seperti film “Back to the Future” yang bisa menciptakan mobil untuk sarana pindah ke berbagai masa.

Today

Hari ini adalah hari apa sekarang ya? Oh, Jum’at! Ingat ya, laki-laki yang sholat Jum’at itu namanya laki-laki sholeh. Sedangkan laki-laki yang tidak sholat Jum’at namanya laki-laki sholehah. Whehehe…

Hari ini adalah kesempatan kita untuk menikmati kehidupan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tadi, bahasa Inggrisnya apa? Ya, betul, today! Huruf o cuma ada satu. Apakah itu berarti kesempatan cuma ada satu?

Baca Juga: 7 Tips Sukses Memulai Bisnis Online

Bila dicermati memang iya. Cuma ada satu kesempatan, maksudnya ya hari ini saja. Tidak kemarin, tidak juga besok. Apa yang mau kamu lakukan buat hari ini, Sobat? Mau berbuat kebaikan atau sebaliknya, kejelekan? Kan kesempatan itu tidak selalu positif. Kesempatan untuk jadi orang jahat juga bisa ‘kan? Mau pilih yang mana? Terserah kita saja.

Tomorrow

“Besok ya, aku mau ke rumahmu!”

Ada sebuah kalimat untuk orang malas. Begini kalimatnya: “Pekerjaan yang bisa kita lakukan hari ini, kita lakukan besok. Dan, pekerjaan yang bisa kita lakukan besok, kita kerjakan besok!”

Kata besok memang bisa menjadi alasan bagi kita untuk menunda-nunda pekerjaan atau tugas. Coba lihat dari kata “tomorrow”, huruf 0 ada tiga. Berarti, kesempatan itu ada tiga kali lebih banyak daripada hari ini.

Di sinilah jebakan Batman dan Spiderman itu muncul. Kalau lihat besok dengan lebih banyak kesempatan, akhirnya tidak dilakukan hari ini. Besok saja. Toh, masih ada waktu. Toh masih ada kesempatan.

Apa iya akan selalu begitu? Besok, besok, besok, mau sampai kapan? Contoh nyatanya begini. Persepsi tentang gaji. Bulan ini dapat 5 juta. Belanja segala macam, sampai nominal yang lumayan, bahkan mau habis, karena punya persepsi, ah, bulan depan juga masih gajian kok!

Hal itu terjadi selama lima bulan. Eh, pada bulan keenam, tiba-tiba dia dipecat! Pasti ada penyebabnya. Kena PHK. Pada bulan itu, dia mungkin dapat pesangon, tetapi sudah tidak lagi dapat gaji. Bulan-bulan seterusnya, uang pesangon makin lama makin habis. Terus, apa yang mau dilakukan?

Coba seandainya dia punya prinsip ketika mendapatkan gaji, bahwa siapa tahu pada bulan-bulan depan terjadi perubahan. Siapa tahu kena PHK? Siapa tahu perusahaannya bangkrut? Siapa tahu juga perusahaannya dibeli perusahaan lain dan mengganti semua karyawannya? Siapa tahu dan siapa tahu? Keadaan di luar sana adalah di luar kewenangan manusia seperti kita.

Kesimpulan

Antara yesterday, today dan tomorrow selalu ada kaitannya. Kemarin apa yang sudah kamu lakukan? Hari ini apa yang kamu lakukan? Dan, besok, apa yang akan kamu lakukan?

Masa lalu tidak akan bisa diubah. Biarlah itu menjadi kenangan saja. Nostalgila namanya. Nostalgia kalee…

Ada yang mengatakan bahwa manusia itu sebenarnya cuma hidup satu hari. Kemarin tidak mungkin kembali, besok belum terjadi. Seorang sholeh bernama Hasan Al Basri rahimahullah mengatakan bahwa, “Manusia itu memang cuma kumpulan hari-hari. Jika satu hari itu hilang, maka hilang pula sebagian dirimu.”

Meskipun today diartikan di atas punya satu kesempatan, sedangkan tomorrow punya tiga kali kesempatan lebih banyak daripada hari ini, tetapi tetap saja bohong kalau kesempatan itu lewat begitu saja, hingga terpepet dan menjadi kesempitan.

Orang yang positif, jelas bukan positif covid-19, maksudnya positif, aktif dan penuh semangat, akan serius menjalani hari ini dan menatap masa depan dengan optimis. Sedangkan yang tidak, hidupnya mengalir begitu saja macam air di selokan, dia mungkin hanya akan mengatakan, “Ohh…” Ditambahi lagi menjadi: “Ohh, gitu toh….!”

Membaca tulisan ini mungkin juga dengan tanggapan “ohh…” karena yang tadinya bahas tentang mengakhiri chat di Whatsapp sekarang bahasnya malah lain.

Baca Juga: Apakah Perlu Ada Pelatihan Khusus Untuk Admin Grup Whatsapp?

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

nine + 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!