Bicara Jumantara, Bicara Tentang Cinta

Bicara Jumantara, Bicara Tentang Cinta

Share This:

Tersebutlah sebuah kisah antara Ridwan dengan istrinya. Mereka hidup cukup bahagia dengan beberapa anak. Seperti apa kisahnya?

Pagi itu, jumantara memang sedang cerah sekali. Bahkan cenderung panas. Matahari bersinar dengan tanpa terhalangi awan. Pokoknya cuaca yang sangat cocok untuk menjemur segala sesuatu. Waktu yang dicari untuk mengeringkan pakaian, karena hari-hari kemarin jumantara sedang mendung, bahkan menangis. Maksudnya sedang hujan begitu.

Tunggu, Mas, jumantara? Perasaan baru baca dan dengar kata itu? Apa sih artinya? Jumantara itu beda dengan Jumanji. Kalau Jumanji itu nama judul film jaman jadul, bintangnya Robbie Williams. Bisa juga sih jumantara itu diartikan: jauhi mantan agar tidak tambah sengsara. Walah…

Jemuran

Namanya menjemur pakaian, pastilah di tempat jemuran. Di rumah Ridwan dan istrinya, jemurannya cukup unik. Terbuat dari pipa yang disusun sedemikian rupa. Ternyata, kuat juga untuk menahan jemuran lho! Ridwan memasangnya demi istri tercinta.

Baca Juga: Kisah Nyata: Ucapan Berbalik Kepada Diri Sendiri

Oleh karena jumantara cerah itu tadi, jemuran itu dikeluarkan dekat jalan. Di depan garasi mobil. Kalau hujan, ya, tinggal dimasukkan ke dalam garasi. Mobil yang ada ditaruh di luar dulu. Di situ, jalan depan rumahnya memang masih luas. Masih jalan tanah. Bukan sebuah kompleks perumahan yang padat dan sumpek.

Ridwan yang berada di kantornya merasa senang. Dia memang sangat perhatian dengan dunia jemur-jemuran. Dia paling ingin, agar jemuran itu cepat kering dan bisa dipakai lagi. Kalau tidak begitu, maka cucian akan makin menumpuk. Pernah dia lihat istrinya mencuci banyak sekali. Betul-betul banyak sekali, hampir satu lemari dicuci semua.

Rupanya, sang istri melakukan itu, karena ibunya Ridwan datang dari jauh. Mau berada di situ beberapa hari. Makanya, pakaian-pakaian harus bersih. Kira-kira hubungannya apa ya?

Tanpa Diduga

jumantara-gambar

Cuaca memang milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan hanya Dia yang berhak mengaturnya. Kita sebagai manusia berharap agar cuaca cerah terus, kenyataannya bisa berbalik bukan? Atau berharap hujan saja, seperti harapan para jomblo di malam Ahad atau Minggu agar mereka yang berpacaran tidak pada ke luar di jalan-jalan. Yeee, mending menikah saja, Mblo, daripada mengurusi orang lain!

Begitu juga di hari itu. Sore hari, Ridwan masih di kantornya, belum pulang. Dia masih asyik dengan hapenya. Ah, hape Ridwan memang lebih sering dipegang daripada istrinya. Betulan lho! Bagaimana dengan kamu sendiri? Lebih sering pegang hape atau pegang istri? Ini istri sendiri, bukan istrinya orang. Kalau istrinya orang dipegang, siap-siap dilempar hape. Haha..

Dikira Ridwan tadi, jumantara akan cerah terus sampai Maghrib, rupanya tidak, Saudara-saudara! Mendung tiba-tiba, lalu hujan tiba-tiba. Langsung keras lagi. Langsung deras lagi. Sama sekali tidak disangka-sangka. Jumantara berubah total. Matahari bersembunyi di balik awan mendung tebal.

Tadi, istri Ridwan minta izin mau ke rumah mamanya. Ridwan menyetujui karena si istri memang rutin ke sana. Apalagi lokasinya tidak jauh-jauh amat. Tidak seperti jarak Bumi ke Planet Jupiter, lah.

Ternyata, saat mengetahui hujan deras itu, Ridwan langsung menelepon istrinya. Ridwan sempat panik. Yang dipikirkannya bukan istri atau anak-anaknya yang mungkin kehujanan saat perjalanan, tetapi jemurannya! Ya, jemuran itu yang paling dipikirkannya. Waduh, sudah menunggu dari tadi agar kering, masa mau basah lagi?

Telepon tidak diangkat-angkat. Ridwan makin panik. Di meja kerjanya, dia mengetuk-ngetuk. Waduh, kok nggak diangkat sih? Ke mana ini istriku?

Beberapa kali mencoba, akhirnya diangkat juga.

“Halo, lagi di mana ini?”

“Lagi di rumahnya mami.” Jawab istri Ridwan.

“Eh, cepat pulang! Jemuran nggak ada yang ngurus.”

“Oh, iya, mau pulang juga ini.”

Laki-laki berusia 30-an lebih itu sebelumnya menelepon mertua, apakah istri di rumahnya? Nyatanya tidak. Mertuanya sedang perjalanan ke luar kota. Menyeberang laut, untuk menghadiri acara pernikahan keluarga besarnya.

Setelah putus telepon tadi, Ridwan berpikir, nanti bagaimana dengan istri dan anak-anaknya ya? Bukannya kalau mereka pulang dari rumah mertua Ridwan, akan kehujanan? Bahkan jadi sangat basah kuyup?

Ah, Ridwan tidak terlalu peduli hal itu. Dia lebih peduli jemurannya! Dia lebih peduli pakaian-pakaiannya yang dijemur! Hem, ada juga suami macam begitu ya?

Sementara dia santai-santai saja di kantor, menunggu hujan reda. Tidak reda juga. Masih cukup keras untuk pulang. Ridwan hanya mengendarai motor, bukan pesawat terbang. Sebenarnya ada juga mantel atau jas hujannya sih. Tapi, dia tunda dulu, nanti saja pulangnya. Khawatir air hujan akan membasahi sepatunya. Halah, sepatu murah juga.

Sampai adzan Maghrib, Ridwan belum pulang. Dia pun jadi gelisah sendiri. Akhirnya, hujan mengurangi kuantitas tembaknya. Dia nekat saja pulang. Tanpa jaket, karena seragam kantornya sudah lengan panjang. Tidak juga pakai mantel, karena tanggung. Antara kantor dengan rumahnya cuma sekitar lima menit. Wow, dekat juga!

Dia merasa bersyukur, karena jemuran sudah dimasukkan ke dalam garasi oleh istrinya. Waktu pulang itu, sebelumnya dia merasa jengkel juga.

Terakhir, setelah dia minta istrinya pulang, ditelepon lagi. Bagaimana perkembangannya? Apakah istrinya benar-benar pulang? Namun, tidak diangkat-angkat. Ridwan jadi emosi. Plus jengkel. Apakah jengkel ini obatnya adalah jengkol?

Datang ke rumah dalam keadaan lumayan basah, dia tanya ke istrinya, “Kok tadi saya nelpon nggak diangkat-angkat?”

“Iya, tadi hapeku ketinggalan di rumahnya mami.”

Ohh, rupanya, persangkaan Ridwan salah. Telepon tidak diangkat-angkat tadi karena istrinya buru-buru mau pulang sampai hapenya tertinggal. Itu gara-gara Ridwan yang ingin istrinya cepat-cepat pulang. Istrinya memang takut dengan suaminya yang bertipe suka marah-marah itu.

Ridwan pun sholat Maghrib munfarid atau sendirian saja di rumah, karena istrinya sudah sholat. Setelah sholat, dia merenung. Jumantara yang cerah berubah jadi gelap, ternyata bisa membuat hatinya yang tadi cerah juga berubah gelap. Hanya gara-gara jemuran, dia sampai mau marah lagi ke istrinya, sementara sang istri sudah berusaha untuk memenuhi permintaan suaminya.

Malam itu, dia belajar dari jumantara yang masih saja memberikan cintanya untuk makhluk bumi. Jumantara yang melindungi bumi dari ultraviolet matahari, meskipun kondisinya sekarang mulai banyak lubangnya akibat global warming. Jumantara yang bisa menjadi tempat “pameran” paling artistik. Apalagi kalau bukan pameran bintang-bintang indah di gelap malam? Mana bisa sih manusia membuat bintang-bintang yang super cantik itu?

Ah, jumantara, jumantara. Dari situ, dia belajar tentang cinta. Bahwa, suasana hati memang bisa berubah-ubah. Asal cintanya kepada sang istri jangan berubah. Eits, boleh saja berubah, asal berubahnya menjadi lebih cinta, dan lebih cinta dari hari ke hari.

Tonton Juga: 

#SuakaMargaKata #KamisMenulis

jumantara

Share This:

29 Comments

  1. Pagi ini jumantara cerah
    Semoga terus cerah.
    Karena sekarang aku tidak di rumah
    Jika seperti kisahmu jumantara berubah
    Sungguh!, aku khawatir jemuran pakaianku akan basah
    Salam kenal
    Salam literasi

    1. Ya, tergantung sih. Biasanya karena uang. Ada uang, abang disayang, tidak ada uang, abang ditendang. Haha…

  2. Wah ternyata ide-ide nya sangat bagus hanya dengan kata jumantara seabrek-abrek pengembangan paragraphnya luar biasa jadi menginspirasi saya

  3. Junantara hampir sama dengan perasaanku. Jumantara pagi ini cerah sekali ingin rasanya aku jalan-jalan hanya sekadar menikmati hari. Namun apa yg terjadi kerjaanku banyak jadi walaupun jumantara sedang cerah tetapi tidak sebanding dengan diriku yg sedang sibuk di depan laptop memantau PJJ.
    Tulisannya selalu keren

  4. point of view dari jumantara yang aduh hai… keren tulisannya. Blognya juga bagus, harus belajar nich aku. Gimana ya itu pasang “share dan related post” nya, bisa nge-link juga.

  5. Ternyata jumantara bertemu dengan jemuran bisa panjang ceritanya. Salut deh….penulisnya fasih merangksi kata…. salam literasi

  6. Seru cerita jumantara. Lebih mikir jemuran daripada yang seperti sekarang. Karena jumantara lagi sering menangis

  7. Jumantara, jemuran, cinta, suasana hati menjadi sebuah cerita yang menarik hingga akhir.
    Jadi boleh nih cinta kepada istri berubah…

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!