Dua Angsa

Dua Angsa

Share This:

Firasatku memang mengatakan tidak enak. Pasti akan ada masalah kali ini. Dan, masalah itu akan menyangkut aku sebagai orang yang tinggal di situ, dan tidak luput pula keluargaku.

Kulihat mobilnya memang sudah pergi. Sebuah mobil merek terkenal berwarna putih. Mungkin mereka meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang gembira. Senang. Karena akan tinggal di ibukota provinsi. Ibukota yang punya fasilitas jauh lebih lengkap dan modern daripada tempat tinggalku sekarang.

Namun, mereka meninggalkan sebuah masalah. Bukan sebuah, melainkan dua buah masalah. Bukan berupa benda mati, justru hidup. Ya, makhluk hidup. Jenis hewan yang jarang dipelihara orang. Angsa. Lebih tepatnya adalah dua angsa.

Dari Kecil

Mereka adalah tetanggaku, samping rumahku. Paling dekat pintunya denganku. Sebuah keluarga kecil juga, ayah, ibu dan dua orang anak. Bedanya adalah di jenis kelamin anak. Aku punya dua anak juga, tetapi laki-laki, sementara dia perempuan semua.

Nah, mungkin karena ingin tampil beda, mereka memelihara angsa. Betul-betul dari kecil. Sepasang jantan dan betina, dan anak-anaknya empat ekor. Enam ekor angsa itu memang awalnya tidak terlalu jadi masalah. Karena hewan-hewan itu sering nongkrong di rumah mereka. Tidur juga di sana, di halaman depan
sepertinya.

Baca Juga: Memeluk Hidayah, Merangkul Ukhuwah

Seiring berjalannya waktu, angsa-angsa yang ada pun mati. Aku juga tidak tahu matinya karena apa? Sepertinya karena sakit. Puncaknya adalah ketika tinggal dua angsa. Dan, mereka berdua ditinggalkan begitu saja, waktu pemiliknya mengosongkan rumah.

Yang perempuan, pindah kerja di ibukota provinsi. Yang laki-laki, pindah juga, mencoba peruntungan di tempat yang baru, karena di situ dia gagal menjadi caleg. Dahulunya, dia wartawan koran lokal.

Karakter Pelit

Menghadapi tetangga, memang berbagai macam karakter. Begitu juga tetangga samping rumahku itu. Ah, iya, aku belum sebutkan namanya. Inisial saja ya? Pak S dan Bu J. Pasangan usia lumayan tua. Anaknya akrab sekali dengan anakku.

Awalnya, mesin bor yang dipakai oleh kami berdua mengalami kerusakan. Sebenarnya bukan berdua, tetapi bertiga. Kamu tahu, mesin bor di tempatku itu mahal sekali. Sebab letak kompleks perumahan kami agak tinggi. Otomatis butuh kemampuan mesin bor yang lebih besar untuk menyerap air bawah tanah yang mencari tempat lebih
rendah.

Harga mesin bor plus pasangnya bisa mencapai delapan juta rupiah. Makanya, Pak H, yang punya mesin bor memberikan kesempatan kepada aku dan Pak S untuk ikut memakainya. Pipa-pipa ke rumah kami sudah dibikin dan dipendam di tanah.

Aku mengajak Bu J untuk patungan memperbaiki mesin bor. Waktu itu, Pak S ada urusan pekerjaan ke pulau seberang. Bu J mengatakan, “Perbaiki saja, Mas! Nanti uangnya saya ganti.”

Diberitahu seperti itu, aku pun merasa senang. Berarti bisa patungan. Sedangkan yang punya mesin bor, tempat mesin itu berada, tidak kutarik patungan karena di sanalah sumbernya.

Baca Juga: Berbeda Karena Cinta, Bersatu Karena Cinta Pula (Resensi Novel Kambing dan Hujan)

Mesin sudah diganti, sebab diperbaiki sudah susah karena mesin lama. Mulai kutagih janji Bu J. Bilangnya, “Nanti aja ya, Mas!”

Hem, nanti? Sepertinya kok ada semacam rasa bagaimana itu ya? Rasa yang tidak nyaman di hatiku. Ya, sudah, aku mau menagih di hari lain saja.

Pada kesempatan lain, aku menagih lagi. Kali ini ke Pak S. Sama dengan istrinya, dia mengatakan nanti saja. Wah, kompak betul ini ya! Apa memang karena mereka berjodoh sehingga punya jawaban yang hampir sama? Mulailah aku menyimpulkan bahwa mereka punya sifat pelit.

Dan, begitu aku tahu bahwa Pak S punya mobil baru, apalagi cash, aku menagih lagi ke Bu J. Bilangnya nanti juga! Aku makin yakin pada kesimpulan bahwa mereka berdua memang pelit luar biasa! Padahal, hanya sekitar sejuta saja aku minta. Sebab harga mesin itu mencapai dua juta lebih.

Sudah punya mobil baru, harga di atas 200 jutaan, tetapi untuk patungan satu juta rupiah saja kok tidak mampu? Kalaupun tidak bisa satu juta, ya, berapa saja, lah?!

Masa sama sekali tidak ada sepeser pun? Aduh, aku pun mengelus dada! Sepertinya harus dielus-elus dengan cukup kasar ini.

Beralih ke Rumahku

Dua angsa itu kini menjadikan rumahku sebagai sasaran markasnya. Sebab, rumahnya sudah kosong melompong. Memang sih, beberapa kali aku memberikan sisa makanan ke dua hewan itu waktu mereka berdiri mengiba di depan rumah.

Nah, dari kesan pertama itu, mereka menjadikan aku majikannya yang baru. Alhasil, garasiku yang baru, samping rumahku yang sudah kusemen, menjadi tempat tidur mereka. Aku memang belum memasang pagar karena halaman yang memang sempit di kompleks perumahan itu.

Paginya aku selalu menemukan kotoran mereka yang menjengkelkan. Kamu tahu ‘kan kotoran angsa itu berbeda dengan ayam? Kotoran angsa lebih banyak, lebih berlumpur dan bau lebih menyengat.

Bahkan di teras pun mereka dengan santainya membuang kotoran. Aku mulai merasa tersiksa. Pemiliknya sudah merasa enak tinggal di ibukota provinsi, sementara aku terganggu dengan peliharaan mereka.

Sifat pelit mereka juga masih terus dipertahankan. Harusnya sebagai pemilik binatang yang benar, paling tidak mengamanahkan orang untuk merawatnya. Bisa memberi orang itu sejumlah uang untuk membeli pakan. Tapi, ini tidak sama sekali. Mereka tidak mau mengeluarkan uang itu dan membiarkan saja hewannya berkeliaran.

Komunikasi Lewat Messenger

Masalah harusnya terpecahkan. Bagaimana caranya agar masalah dua angsa itu bisa cepat selesai? Aku mencoba berkomunikasi dengan Bu J. Lewat messenger saja, cukup praktis juga. Toh juga bisa chat layaknya Whatsapp.

Aku mengajukan opsi untuk membunuh hewan itu dengan cara menyembelihnya. Sebab, cara tersebut termasuk aman karena tidak membiarkan hewan itu terlalu menderita, aku lebih nyaman dan rumah-rumah tetangga lainnya juga bisa terbebas dari ancamannya. Hewan angsa itu bisa menyosor lho! Kamu sendiri pernah
disosor angsa belum?

Rupanya bukanlah persetujuan dari pemiliknya, tetapi justru malah caci maki ke aku. Katanya aku malah dibilang sombong. Lho, kok bisa?

Menurutnya, aku yang sudah perbaiki bagian samping rumah, yang tadinya tanah biasa dan terlihat kotor, ketika sudah jadi garasi mobil, malah aku yang disalahkan karena tidak mau menjadikan garasi itu tempat bernaung dua angsa itu. Lho, aneh juga mereka ini dalam pikiranku!

Baca Juga: Menciptakan Masjid Ramah Anak: Dua Kisah Nyata

Siapa juga yang mau tiap pagi garasiku kotor karena kotoran dari dua hewan itu? Aku bersihkan pagi sebelum kerja. Pulang kerja sudah kotor lagi. Selalu begitu setiap hari. Aku merasa capek terus menggosok lantai semen dengan air dan pembersih. Baunya sama sekali tidak bisa ditolerir.

“Baru bikin garasi mobil aja kamu sudah sombong, Mas?!” Masih kuingat perkataan Bu J sampai sekarang.

Ketika aku menyangkutpautkan dengan mesin bor yang dia belum memberikan uang patungannya, aku ikut kena caci maki lagi, “Dulu itu kenapa kamu langsung ganti mesin? Sementara masih bisa diperbaiki. Sini mesin yang lama, saya perbaiki!”

Ya Allah, mesin memang kuganti baru agar lebih lama dan awet. Kulihat mesin yang lama sudah tidak bagus lagi. Apa salahnya sih diganti, toh dirasakan manfaatnya juga, ya ‘kan?

Tanpa rasa malu, mereka ikut menikmati hasil dari mesin itu. Selama berbulan-bulan tinggal di situ, mereka dengan bebas menggunakan airnya. Untuk mandi, mencuci, memasak dan lain sebagainya.

Aku jadi puyeng, kok begini ya? Aku yang minta baik-baik untuk solusi dua angsa itu, malah aku yang disalahkan. Justru aku yang jadi sasaran tembak.

Bantuan Tetangga Lain

Ada seorang tetangga sekaligus kawan dekat, sebut saja namanya Pak R. Aku cerita tentang masalah ini dan dia berkenan untuk membantu.

Malam, setelah sholat Isya, dia datang dengan temannya untuk menangkap dua angsa itu. Cukup sulit awalnya, tetapi akhirnya bisa tertangkap juga. Alhamdulillah, perasaanku sedikit lega di malam itu, satu masalah bisa teratasi.

Sialnya, beberapa hari kemudian, dua angsa itu balik lagi. Nongkrong lagi di garasi mobilku. Wah, ada apa lagi ini?

Kutanya Pak R, kenapa bisa begini? Jawabannya, “Anu, Mas, saya sudah minta untuk beli dua hewan itu dua ratus ribu, eh, Pak S tidak mau. Katanya ada tetangganya di pulau seberang yang mau beli lima ratus ribu!”

Aku yakin, Pak S pasti berbohong lagi. Dia yang sudah tidak di situ, bagaimana mau mengirimkan dua hewan itu ke pulau seberang? Padahal dalam percakapan antara aku dan Pak R, sudah untung Pak S mendapatkan uang dari hewannya. Sudah lumayan itu. Mau cari lagi yang lebih tinggi? Aduh, selain pelit, dia juga punya jiwa serakah
rupanya!

Kalau Begitu, Begini Saja!

Aku minta agar dua angsa itu disembelih tidak boleh, orang lain yang minta beli juga tidak diperkenankan, hem, berarti aku mesti ambil tindakan sendiri. Atas saran tetanggaku yang tidak begitu jauh rumahnya, dia berkata begini, “Sudah, kasih racun saja, Mas! Beres itu! Tanpa perlu disembelih, nanti mati sendiri.”

Wah, ide yang bagus ini! Dua hewan yang sudah lama mengganggu aku dan keluarga, mesti diambil tindakan terpaksa dan Insya Allah bermanfaat pula untuk para tetanggaku yang lain.

Apalagi anak-anakku masih kecil, aku betul-betul khawatir waktu mereka main di depan rumah, salah satu angsa menyerangnya. Hiii, takut! Kamu juga pasti merasa begitu ‘kan kalau jadi aku?

Memakai racun tikus yang kumasukkan di dalam roti kacang ijo, itulah racun buat mereka. Tentu saja, roti-roti itu disantap dengan sangat lezat oleh mereka.

Sebenarnya, mereka berdua memang sangat kelaparan. Paruh angsa berbeda dengan ayam. Jika ayam, dengan paruh yang lancip, bisa mengais-ngais makanan di balik batu dan sejenisnya. Tapi angsa, susah dengan paruh yang pipih.

Kutunggu matinya, ternyata mereka masih nongkrong saja di garasiku. Karena sangat jengkel, kupukul saja salah satunya agar pergi. Ya, mengusirnya. Teriakan mereka cukup membahana dan dilihat serta didengar oleh tetanggaku, istri pejabat daerah.

Besoknya dua angsa malang itupun mati. Namun, kali ini aku yang jadi tumbalnya, karena aku dilihat oleh tetangga istri pejabat itu membunuh kedua angsa. Maka, laporlah dia ke Pak S.

Sebelumnya aku komunikasi ke istrinya lewat messenger, sekarang Pak S yang menelepon lewat media itu juga. Aku takut dan cukup khawatir untuk mengangkat telepon itu karena pasti ada sangkut-pautnya dengan kematian dua hewannya.

“Mas, angkat dulu teleponnya!” Begitu bunyi chatnya.

Setelah Maghrib, kuangkat telepon itu. Kali ini aku dicaci maki lebih dalam lagi. Aku dikatakan sebagai orang yang sok kenal agama Islam, belajar dari mana, kok berperilaku layaknya teroris? Ya, memang di lingkungan itu, Alhamdulillah, aku dikenal suka sholat berjamaah lima waktu di masjid. Tapi, itu ‘kan memang memenuhi
kewajiban sebagai laki-laki muslim.

Nah, memang ada sih yang memanggilku dengan sebutan “ustaz”. Hem, tapi ustaz teroris, kata Pak S! Dia protes keras hewan kesayangannya mati. Mengulang perkataan istrinya, aku dibilang sombong. Baru punya garasi begitu saja, aku sudah merasa orang kaya, kalau tidak salah begitu katanya.

“Harusnya kau ini pasang pagar biar nggak ada yang masuki rumahmu!” Ini aneh, kok bukan dia yang bikinkan pagar untuk rumahku agar dua angsanya tidak masuk, ya ‘kan? Seenaknya saja dia bicara!

Puncak dari kemarahannya adalah aku mau diadukan ke polisi!

“Kita ketemu saja di kantor polisi, Mas! Pokoknya saya masih gak bisa terima kau bunuh angsaku!”

Aku merasa panik. Waduh, mau dilaporkan di polisi?! Aku membalasnya, “Apa nggak bisa dibayar ganti rugi saja?”

“Nggak bisa, Mas! Tunggu, he, saya lapor polisi!”

Ya, sudahlah, kalau memang dia maunya begitu. Aku menyesal. Bukan karena membunuh dua hewan itu dengan racun tikus, melainkan mengapa aku tidak bersabar saja menunggu kematian mereka berdua? Bukankah nantinya mereka akan mati juga dengan sendirinya karena pengaruh racun itu? Untuk apa juga mereka kupukul agar
pergi? Hem… Payah juga!

Atas saran seorang ibu, tetangga juga, menanggapi ancamannya, aku disuruh untuk menghubungi pihak kepolisian lebih dahulu. Oh, ya, aku punya teman di polres! Kuceritakan masalah ini. Tentu saja, dia mendukungku dan siap membelaku.

“Tenang saja, Mas. Biarkan dia melapor saja. Orang punya hewan begitu kok nggak mau pelihara?! Dia nggak tahu kalau di aturan pemda itu, bagi yang punya hewan ternak dan itu mengganggu tetangga, bisa kena denda lima juta rupiah lho!”

Aku merasa lebih lega kalau begini. Eh, kutunggu-tunggu tidak ada sama sekali laporannya di kepolisian. Aku sudah menyiapkan barang bukti bahwa dua hewannya sangat mengganggu lewat foto-foto kotoran dan bulu-bulunya yang besar-besar itu di bagian rumahku.

Ketika Dia Datang

Kaget. Terkejut. Dia sempat datang lagi dengan keluarganya. Wah, apakah betul-betul mau lapor di polisi atau bagaimana? Atau mau menantang aku berkelahi?

Boleh saja aku berkelahi sama dia, tetapi untuk apa? Atas saran temanku, jangan diladeni jika sampai dia menantang untuk bikin masalah yang lebih besar.

Alhamdulillah, tidak sampai ke kantor polisi. Oh, berarti ini semakin menunjukkan bahwa dia memang suka berbohong. Tapi, bukan itu yang jadi masalah selanjutnya.

Baca Juga: 5 Negara dengan Jumlah Buku Paling Banyak Setiap Rumah

Kabel untuk menyalakan mesin air bor di tetangga, yang kupasang di atap rumahnya, diturunkan besoknya. Wah, ini betul-betul gila! Kabel itu ‘kan tidak mengganggu sama sekali, tidak juga menghalangi dia dan keluarganya masuk ke dalam rumah, tetapi tetap dicopot juga. Subhanallah.

Kalau cara berpikirnya begini, kabel listriknya dari PLN juga lewat di atas atap rumahku. Mestinya jangan lewat di situ dong! Ah, pusing! Makin susah aku menghadapinya. Sabar dan sabar adalah kunci untuk masalah ini.

Eh, tidak cuma berhenti di situ. Waktu dia datang lagi, dia dengan terang-terangan mencuri air dari PDAM di rumahku. Dia putar keran penghalang antara rumahku dengan rumahnya. Alhasil, dari pipa yang menyambung antara rumah kami, airku pun masuk ke rumahnya. Asyik ya, ada orang brengsek macam begitu! Dia yang
pakai airnya, aku yang mesti bayar!

Sebetulnya, dia ada kabel sendiri untuk menyalakan mesin bor tetangga, yang kubeli dengan uangku itu tanpa patungan darinya. Namun, sepertinya kabel itu bermasalah. Buktinya, tidak dipakai!

Momen Lebaran Jadi Hanya Angan-angan

Pada lebaran tahun ini, waktu masih pandemik corona, dia datang lagi di hari kedua. Sebenarnya, menjadi momen yang pas untuk bisa bermaaf-maafan dengannya.

Tapi, aku sudah tidak enak perasaan. Lihat mobilnya, aku sudah merasa sakit hati. Bahkan dendam. Dia datang sendiri. Mungkin juga karena protokol kesehatan yang tidak mengharuskan untuk membawa penumpang banyak, apalagi dengan anak-anak kecil dalam perjalanan antardaerah.

Momen lebaran justru saling bermaafan ke orang yang belum tentu ada salah dengan kita. Tapi, untuk yang ini, masalah ini, betul-betul ada masalah, justru aku tidak mau menyapa dan menegurnya, apalagi bermaafan dengannya. Begitu pula dengannya.

Ah, sampai kapan kondisi wabah permusuhan ini akan berakhir? Entahlah, aku juga bingung. Padahal dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, anjuran untuk berbuat baik kepada tetangga itu banyak sekali. Misalnya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tetangganya.” (Hadits
Bukhari dan Muslim).

Yang lainnya, silakan kamu cari sendiri di Google ya! Jangan
malas mencari, lah!

Tapi, bagaimanapun dan sudah jadi kenyataan yang ada, aku masih tetap merasa berat untuk memaafkannya. Lebih berat lagi untuk meminta maaf kepadanya.

Lha wong dia yang salah pertama kali kok gara-gara dua angsa itu! Masa aku yang lebih dahulu minta maaf? Ada sebab, ada pula akibat.

Dua hewan yang malang. Mereka mencari makan dengan susah payah, meninggalnya pun masih membawa masalah. Namun, yang jelas mereka berdua mengajarkan bahwa berteori dalam agama, membaca dalil-dalil tentang bertetangga yang baik itu lebih gampang daripada prakteknya.

Bombana, 10 Juni 2020

Baca Juga: Awalnya Sakit Berlubang, Rupanya Malah Nyawa Melayang

cerpen-dua-angsa

pengumuman-lomba-cerpen-dua-angsa

Share This:

7 Comments

  1. Cerpen nya bagus. Pemakaian kata kata juga ringan dan memaparkan kisah hidup yang menang ada di sekitar kita 👋 jadi pengen ikut nulis cerpen.

    1. Terima kasih Mbak atas komennya dan buat kunjungannya. Iya, Mbak, semoga bisa ikut juga menulis cerpen, yang isinya inspirasi bagi orang lain. Semangat!

  2. Cerpennya bagus dan penggunaan bahasa yang mudah dipahami . Di dalam ceritanya kita banyak mengambil pelajaran dan sesuai dengan keadaan yang biasa ada dilingkungan masyarakat.

  3. Menurut saya, cerpen tersebut sangatlah menarik untuk di baca. Karena di dalamnya kita dapat mengambil pelajaran yang berharga bahwa dalam bertetangga itu, diperlukan adanya rasa peka terhadap terhadap tetangga kita. Jika tidak, maka akan terjadi masalah yang kita tidak tahu bagaimana cara untuk menyelesaikannya. Dan juga pada cerpen tersebut, penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembacanya sehingga inti yang ingin disampaikan oleh penulis dapat diterima dengan mudah.

  4. Tanggapan saya mengenai cerpen diatas adalah menurut saya, sangat menarik untuk dibaca.
    Kritik saya mengenai cerpen diatas adalah menurut saya, cerpen ini kurang begitu menarik dan sulit untuk dipahami.

  5. Cerita ini bagus.Kata-katanya jelas dan mudah di pahami,dan bisa membuat pembaca seakan terpesona dengan kalimat yang ada.

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!