Memeluk Hidayah, Merangkul Ukhuwah

Memeluk Hidayah, Merangkul Ukhuwah

Share This:

Berbicara mengenai merantau memang membuatku cukup ketakutan. Apalagi kalau bukan karena harus berpisah dengan kedua orang tua dan saudara-saudaraku.

Sejak lahir sampai lulus kuliah, aku tinggal di Jogja. Sebuah kota yang Anda tahu sendiri punya banyak sebutan. Paling terkenal adalah kota pelajar. Aku memang sudah terlanjur lengket dengan kota kelahiranku. Aku pun berharap bisa meraih masa depan yang gilang-gemilang di kota penuh romantika itu. Namun, salah satu ucapan Bapak suatu kali membuatku harus mengubur impian dalam-dalam untuk tinggal di kota Jogja lagi.

buku-aku-dan-wahdah-islamiyah-cover-belakang

Pokoke kowe kudu ning Kendari, Riz. Merantau. Dadiyo wong sukses ning kana!” (Pokoknya kamu harus di Kendari, Riz. Merantau. Jadilah orang sukses di sana!)

Kalimat itu mulanya tidak terlalu dalam kupikirkan. Sebab, keinginanku waktu itu adalah ingin menjadi pengusaha, tetapi Bapak mengharapkan aku menjadi PNS seperti beliau. Aku pun berusaha untuk mencari, memilah, lalu memilih keputusan yang terbaik. Ujungnya, aku memang harus menuruti keinginan Bapak, dan juga Ibu. Toh, aku berharap dengan menuruti kemauan orang tua, Allah akan memudahkan rezekiku di sana. Aamiin.

***

Impian kedua orang tuaku telah tercapai, meskipun cuma setengahnya. Pada tahun 2008, aku sudah menginjakkan diri di kota Kendari. Itu beberapa bulan setelah aku diwisuda dari UGM dan menerima ijazah sarjana. Bapak melepasku setelah kira-kira dua hari menemani. Aku pun tinggal bersama paman dan tentu saja keluarganya. Hem, Kendari menyambutku dengan mati lampu! Ya, waktu itu memang sedang gencar-gencarnya pemadaman. Yah, kumaklumi saja. Beda toh, Kendari dengan Jogja!

Nah, setengah impian lagi tercapai pada tahun 2009. Alhamdulilah, aku berhasil mewujudkan kebahagiaan besar dalam pikiran mereka. Aku lolos tes CPNS. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerimaku sebagai pegawainya. Aku mengira penempatannya di Kota Baubau sebagaimana di daftar lowongan. Ternyata, aku malah “terlempar” ke Kabupaten Bombana. Waduh, di mana itu, ya? Setahuku waktu itu, Bombana sedang booming tambang emas. Waow, emas! Apakah aku juga akan menjadi pengusaha emas?

***

Ketika masih di Jogja dulu, aku hobi sekali mendengarkan siaran radio. Aneka acara pernah kunikmati dengan baik. Alhamdulilah, aku juga sering mendapat hadiah dari kuis-kuisnya. Selain itu, aku juga mengenal, memahami dan bisa mempraktekkan gaya siaran. Mengikuti sebuah tes, aku menjadi penyiar radio lokal di kampusku.

Ternyata, di Bombana, ada satu radio swasta yang sedang tidak aktif. Namanya adalah Radio Cakrawala dengan frekuensi 100 FM. Pemiliknya adalah Pak Ashari Usman. Ketika itu beliau adalah Anggota KPU Kabupaten Bombana. Atasanku. Nah, suatu saat, aku mengatakan kepada teman kantorku, “Saya ingin mengelola radio, Wan.”

“Nanti kalau kau kelola radio, akan tersita waktumu, lho, Riz!” Sanggahnya.

Aku tahu itu benar, bisa menyita waktu. Namun, tunggu dulu, tersita untuk hal yang positif ataukah negatif? Nah, aku baru tahu jawabannya dalam beberapa tahun kemudian.

***

Namanya orang baru, pasti membandingkan tempat sekarang dengan yang dulu. Tinggal di Bombana memang harus banyak bersabar. Maklum, usianya terbilang muda. Terbentuk pada tahun 2002. Pemekaran dari Kabupaten Buton.

Nah, ada satu hal yang kucari saat itu, yaitu: apakah ada kajian agamanya? Ketika dulu di Jogja cukup banyak kajian atau taklim yang diselenggarakan di masjid-masjid. Kebetulan, kostku di Bombana dekat sekali dengan Masjid Nurul Iman. Masjid raya istilah lainnya. Kalau di masjid sebesar itu saja tidak ada kajiannya, waduh, bagaimana dengan di masjid-masjid lain yang lebih kecil?

Rupanya, Allah telah memberikan jawaban yang sangat tepat. Tanpa sengaja, aku menemukan sekelompok kecil orang yang duduk melingkar. Saat itu, masjid sudah sepi. Kalau ada beberapa jamaah yang seperti itu, aku yakin mereka sedang mengadakan kajian!

Benar saja, waktu aku ikut duduk, langsung kurasakan suasana taman surga. Iya, aku tidak bohong! Rasa dahagaku akan kajian ilmu syar`i telah hilang. Saking semangatnya, aku malah kembali ke kostku. Lho, kok malah pulang? Aku cuma sementara, kok, karena mengambil sebuah buku catatan. Aku telah terbiasa untuk menulis atau mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh pemateri.

Awalnya, aku mengenal sang pemateri bernama Ustadz Akbar. Beliau pandai bahasa Arab. Bagaimana aku tahu? Tentu saja karena aku melihat beliau membaca buku tebal yang isinya tulisan Arab gundul semua. Hah? Subhanallah! Jelas bukan ustadz sembarangan.

Alhamdulilah, aku terus mengikuti taklim-taklim berikutnya dengan cukup istiqomah. Tidak hanya di Masjid Raya Nurul Iman, tetapi juga di Masjid Pesantren As-Sulaimaniyah. Juga di Masjid Nurul Hidayah, Kelurahan Kampung Baru. Sempat pula di Masjid At-Taqwa. Masjid itu berada dalam “pelukan” nama wilayah yang sama dengan Masjid Pesantren As-Sulaimaniyah, yaitu: Kelurahan Lauru.

Selain taklim, ada juga yang namanya tarbiyah. Memang terlihat mirip dari kegiatannya, namun tarbiyah lebih khusus untuk membahas materi secara lebih dalam. Pesertanya tidak terlalu banyak agar lebih fokus atau terarah. Membaca Al-Qur`an sesuai dengan kaidah yang benar sangat ditekankan dalam kegiatan itu. Setelah mantap bacaannya, barulah mulai menghafal dari Juz Amma. Kebersamaan yang ada membuatku semangat.

Materi-materi yang ada pun sangat menarik. Hal yang luar biasanya adalah buku panduan tarbiyah (mawad) disusun dari berbagai kitab ulama. Bermacam hal seputar Islam diulas secara lengkap dengan dalil-dalil yang jelas dan terpercaya. Ah, membuatku jadi semakin mendalami agama Islam. Banyak hal baru kutahu dari tarbiyah itu. Alhamdulilah.

***

Rupanya, Wahdah Islamiyah adalah sebuah organisasi massa (ormas) Islam. Waktu itu, belum ada pengurus harian atau intinya. Makanya, pada tahun 2011, dibentuklah pengurus di tempat tinggalku. Waktu itu, aku sudah mengenal Ustadz Jamuddin, Jamaaludin, Pak Amborappe, Pak Mursidin, Irlan dan Darlan. Dari kalangan remaja ada Daus dan Reza. Mereka sudah sering aktif dalam kajian atau taklim, termasuk tarbiyah dari Ustadz Akbar. Sebutan untuk mereka adalah ikhwah.

Tersusunlah pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Wahdah Islamiyah (WI) di Kecamatan Rumbia yang merupakan ibukota Bombana. Seiring berjalannya waktu, DPC WI Rumbia dilebur menjadi Dewan Pimpinan Daerah (DPD) WI Bombana dengan alasan efisiensi organisasi. Toh, para pengurus inti DPD memang sebagian besar berdomisili di ibukota kabupaten dan sekitarnya. Jadi, lebih bagus langsung mengurus lingkup atau level pimpinan yang lebih luas.

Kinerja dakwah DPD WI Bombana makin mentereng setelah berhasil membangun masjid di atas tanah wakaf dari seorang tokoh masyarakat Bombana, Pak Aras Tarika, yang dimulai tahun 2011. Kami benar-benar merasakan kesenangan demi kesenangan saat larut dalam keringat untuk membangun masjid kami. Menuangkan tanah timbunan, membantu menyusun batu bata, mengecat plafon yang memang harus dicat justru setelah terpasang di atas, membersihkan jendela, mengepel keramik baru dan lain sebagainya. Tentu dengan tawa-tawa kami yang selalu mengiringi. Kami bertekad bulat untuk membangun markas dalam menyebarkan dakwah, sampai nanti bisa membangun peradaban Islam pula dari situ.

Masjid tersebut sudah berdiri dengan cukup gagah pada tahun 2012. Mengenai namanya, diusulkanlah An-Nur. Harapannya agar bisa menjadi bagian dari cahaya kepada umat Islam, terutama yang berada di wilayah Bombana. Selain masjid, pada tahun 2013, didirikanlah sebuah pesantren, masih di atas tanah tersebut. Format awalnya adalah untuk tingkat SMP. Kini ada pula TK dan SD. Semuanya berupa sekolah Islam terpadu. Kami memang ingin mencetak generasi penerus dan pembawa Islam sedini mungkin.

***

Sebagaimana pertanyaan seputar waktu di atas yang berkaitan dengan radio, maka akhirnya aku diberikan karunia atau nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Apakah itu? Pak Ashari Usman yang sudah mendapatkan hidayah, menghibahkan radionya untuk DPD WI Bombana. Hal itu terjadi sekitar akhir tahun 2013. Pak Ashari pernah berpandangan bahwa radio yang dulu dikelolanya secara umum malah membuat dosa bagi diri sendiri dan orang lain. Salah satunya karena menyiarkan musik. Beliau telah berdiskusi cukup banyak dengan Ustadz Zezen Zainal Mursalin, Lc, yang merupakan pendiri radio dakwah sunnah pertama di Sulawesi Tenggara bernama Radio Muadz bin Jabal dengan frekuensi 94,3 FM. Akhirnya, Radio Cakrawala FM bertransformasi menjadi radio dakwah ahlus sunnah wal jamaah. Namanya pun berubah menjadi Radio Cakrawala Muslim dan masih di 100 FM.

Menara pemancar setinggi sekitar tiga puluh meter, dipindahkan dari Kelurahan Talabente, tempat studio radio dulu.Tentu saja dengan segala macam peralatannya. Mengenai materi-materinya, kami ambil sebagian besar dari Radio Muadz, sisanya dari internet. Lalu, siapakah pengelolanya? Siapa yang menjadi Station Manager-nya? Nah, itulah yang menjadi wujud dari impianku dulu. Kedekatanku dengan radio di masa belum mendapatkan hidayah, kini didekatkan lagi dengan format yang jauh berbeda. Benar-benar 180 derajat! Sebuah radio dakwah yang pertama kali meluncur di udara Bombana. Aku ditunjuk sebagai Station Manager yang merupakan jabatan operasional tertinggi dalam struktur organisasi radio. Ustadz Akbar yang sudah menjadi Ketua DPD WI Bombana memberiku amanah itu.

Sebelum ada pemindahan pemancar dan peralatan, sudah dibangun studio yang bangunannya menyatu dengan Masjid An-Nur. Ketika awal mengudara, memang muncul beberapa masalah. Listrik yang sering mati menjadi musuh terbesar bagi radio kami. Soalnya, kami takut peralatan-peralatan yang ada akan rusak. Kalau mati lampu, langsung mematikan peralatan, maka mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun, bila tiba-tiba menyala sendiri secara bersamaan, maka itulah yang berpeluang besar untuk merusak peralatan.

Masalah kedua adalah belum ada orang yang tinggal di kawasan Masjid An-Nur. Otomatis pengelolaan masjid lebih banyak dilakukan beberapa saat sebelum dan sesudah sholat berjamaah. Makanya, radio juga dikelola seperti itu. Aku menyetel program-program mulai dari pagi hari. Menggunakan software khusus radio yang bisa memasukkan dan menyetel beragam program ceramah, spot maupun murottal Al-Qur`an pada waktu yang sudah ditentukan. Setelah itu, ya, kutinggalkan! Kukunci pintu studio, lalu kulanjutkan dengan aktivitas yang lain. Ketika mati lampu, sementara aku sedang sibuk di kantor, maka kuserahkan saja kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Aku juga tidak nyaman kalau sampai menyuruh ikhwah yang lain karena kutahu mereka sedang sibuk bekerja. Kalau toh nanti peralatan audio maupun komputer rusak, maka itu sudah ajalnya.

***

Memang terlalu sempit ruang untuk menceritakan semua kisahku bersama Wahdah Islamiyah. Aku dulu memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang berjenggot, bercelana cingkrang dan berpakaian gamis. Itu kalau yang laki-laki. Sedangkan yang perempuan berjilbab besar sampai bercadar. Bahkan pernah aku lihat di kampus, ada yang matanya tertutup. Hanya melihat melalui jaring-jaring kecil di depan matanya. Kata salah seorang temanku, “Itu susah dibedakan, lho! Yang mana depan, yang mana belakang?”. Astaqfirullah, saat itu aku malah ikut tertawa.

Nyatanya kini aku menjadi bagian dari semua itu. Kutinggalkan cara berpakaian yang kurang sesuai dengan syariat Islam. Begitu pula dengan yang dialami oleh istriku. Sekarang, yang kuperlukan adalah istiqomah di atas jalan sesuai Al-Qur`an dan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Aku telah mengalami berbagai kejadian bersama ikhwah di Wahdah Islamiyah. Beraneka kegiatan yang ada telah membuatku lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala.

Persaudaraan dengan sesama ikhwah sungguh indah. Bersaudara dengan mereka lebih menguatkan ruhiyah dan mengingatkan akan akhirat. Itulah persaudaraan yang sangat mahal harganya. Yang jelas, Wahdah Islamiyah telah mengajarkan banyak hal. Kalau orang bisa berbangga dengan organisasi duniawinya dan mendapatkan keuntungan yang juga duniawi, lalu mengapa tidak berbangga dengan organisasi yang orientasinya akhirat? Organisasi yang bisa menjadi wasilah untuk meraih jannah. Insya Allah.

 

Penulis adalah Station Manager Radio Cakrawala Muslim dan Bendahara Masjid An-Nur Kompleks Pondok Pesantren Al-Wahdah Bombana.

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

ten + eleven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!