Pantun Bale, Selasa 13 September 2022

Pantun Bale, Selasa 13 September 2022

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Sudah berhari-hari cuaca di tempat tinggal saya memang panas. Tanpa ada hujan yang turun, membuat debu beterbangan di mana-mana. Sementara Bedu, saya tidak tahu dia ada di mana?

Bagi laki-laki, buka baju di atas wajar-wajar saja. Asal tidak sampai terlihat pusar. Aurat laki-laki ‘kan antara pusar dengan lutut. Jadi, kalau bagian selain itu tidak ditutupi, masih tidak dihitung dosa. Begitu pun dengan saya sekarang, menulis dalam keadaan seperti itu. Memangnya kelihatan dari situ ya?

Baiklah, kali ini saya akan mengupas tulisan para guru yang sempat mampir di Senin Blogwalking grup WA Lagerunal. Mengupas tentu saja tidak perlu pakai pisau, memangnya mengupas mangga? Cukup dengan tanggapan singkat terhadap tulisan mereka. Bukan untuk mengkritik, apalagi pakai singkong. Kalau itu nama makanannya sudah tahu ‘kan?

Tentang Guru yang Pensiun

Pada urutan atau list pertama, ada Pak D Susanto dengan link tulisannya: https://www.kompasiana.com/susantogombong/631e16d74addee6ffe58aa22/bolehkah-kami

Sebuah cerita tentang Pak Eko yang akan memasuki masa pensiun sebagai guru. Ditemui oleh dua anak SD, Tiara dan Ines. Mereka bertanya tentang Pak Eko yang akan pensiun dan benar adanya. Namun, mereka punya permintaan untuk jangan dulu pensiun, tunggu sampai mereka lulus kuliah, eh, lulus SD. Lulus kuliah mah kelamaan.

Ada nuansa haru memang ketika guru yang kita sayangi dan cintai meninggalkan kita. Bagi yang mengalami, mungkin akan terasa sangatlah singkat. Bertahun-tahun mengajar, suka dan duka, kini tiba di penghujung masa bakti. Setelah masuk pensiun, maka secara otomatis, bukan manual, tidak masuk sekolah lagi. Mungkin lebih banyak di rumah, kebun, sawah, atau tempat-tempat lain yang bisa digunakan untuk menghabiskan waktu.

Bapak saya sudah pensiun. Namun, beliau tetap beraktivitas. Bahkan kabar terakhir, beliau sampai ke NTT ikut perjalanan dinas organisasi lansia. Pensiun memang tidak menghalangi seseorang untuk selalu produktif. Buktinya, pendiri KFC, Kolonel Sanders, justru mulai merintis bisnisnya setelah jadi purnawirawan. Namun, ayam KFC-nya bukan ayam tua lho. Masa ayam tunggu jadi purnawirawan juga baru jadi ayam KFC?

Jika pensiun terus meratap, merasa sedih, bingung mau bikin apa, tidak ada aktivitas yang berarti, maka di situlah kesehatan bisa menurun. Bukan menurun dari kepala ke kaki. Para pensiunan bisa menjalankan aktivitas yang positif dan menggerakkan badannya. Seperti olahraga atau bergabung di komunitas-komunitas positif. Yah, daripada menganggur di rumah, kurang bermanfaat, apalagi menganggur, tidak ada anggur di sebelahnya. Soalnya anggur cukup mahal sih. Kalau pengangguran? Kalau itu sih, entahlah.

Platform Merdeka Mengajar Sebagai Teman Setia

Setelah membahas guru pensiun, kali ini membahas tentang platform Merdeka Mengajar. Platform ini sama plat nomor beda apa tidak ya?

Tulisan yang akan diulas masih memakai Kompasiana, linknya: https://www.kompasiana.com/lelysuryaniofficial8799/631e5f364addee72314f0904/ingin-paham-kurikulum-merdeka-platform-merdeka-mengajar-solusinya

Meningkatkan kompetensi guru. Itulah inti dari platform Merdeka Mengajar ini. Dalam meningkatkan kemampuan guru dalam belajar dan mengajar, maka platform ini memang sangat membantu. Kalau dilihat, di dalamnya ada video inspirasi, pelatihan mandiri, bukti karya saya, dan komunitas. Masih ada dua produknya, yaitu: asesmen murid dan perangkat ajar.

Platform tersebut dapat diakses lewat HP Android. Tentunya tidak usah HP yang terlalu mahal, cukup yang ada layarnya saja, itu sudah cukup.

Jika gampang diakses lewat HP, maka belajar bisa dilakukan di manapun. Itulah keunggulan teknologi jaman now. Belajar sesuai suasana hati saja. Jika sedang mood, maka silakan belajar dengan suasana hati yang lebih baik. Sebaliknya, jika tidak sedang mood, maka bisa ditinggalkan dulu. HP-nya mungkin bisa dijual dulu, sampai moodnya nanti kembali lagi.

Tidak bisa tidak, bahwa guru selain sebagai pengajar, juga harus belajar. Itulah uniknya dan nikmatnya menjadi guru. Selalu saja ada ilmu yang bertambah. Justru ilmu yang diberikan bukannya berkurang, malah makin bertambah. Yang belum bertambah, mungkin statusnya, honor, dan gajinya. Kalau itu memang sudah dipatok. Termasuk guru atau pembina Pramuka. Tempatnya sudah dipatok, apalagi jika sedang kemah. Pas bikin tenda lagi.

Sandaran Bagi Manusia

List ketiga, ada tulisan dari Bu Ovi dengan link: https://www.kompasiana.com/mawarsofia8785/631e77e24addee5daa1beed4/kecewa-jadikan-tuhan-sebagai-sandaran

Membahas tentang perasaan manusia, salah satunya ada kecewa. Ya, perasaan yang satu ini memang masih wajar, sebab manusiawi. Kalau ada manusia yang suka makan sawi, maka namanya mungkin manusisawi.

Jika kecewa melanda manusia, maka yang harus diingat adalah rasa itu tidaklah selamanya. Sebab, dunia ini memang perpaduan dua hal, ada bahagia, ada sedih. Ada kecewa, ada tidak kecewa. Ada suka, ada benci. Yang lain, ada waria, ada banci.

Jadi, ketika muncul kecewa, maka solusinya yang tepat menurut Bu Ovi adalah kembali ke sandaran, yaitu: Tuhan. Kalau saya sih lebih terasa nikmat jika menyebutnya dengan Allah. Sebab, definisi Tuhan itu juga dimiliki agama lain, secara umum begitu. Namun, kalau Allah memang lebih lekat kepada Islam, apalagi ditambah jadi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kepergian Guru Tercinta 

Membaca puisi Pak Damar tentang meninggal guru SD-nya yang bernama Bu Umtini membuat saya ikut sedih. Link puisinya ada di sini: https://www.kompasiana.com/dailmarufpty6118/631dbf394addee318b3c3212/bu-guruku-telah-tiada

Bagaimana tidak sedih, guru di kelas 1 SD tersebut menimbulkan kesan yang mendalam. Canda tawanya, ramahnya, semangatnya untuk anak-anak, sangat membekas sampai dengan sekarang.

Itulah uniknya guru yang kembali saya ulang di sini. Rasa-rasanya tidak ada profesi yang semulia ini. Ketika di dunia diingat terus, saat sudah meninggalkan dunia, jasanya tetap dikenang. Ilmunya pun abadi. Tidak hanya itu, tetapi juga akhlak mulianya yang Insya Allah jadi amal jariyah.

Tidak sia-sia ketika kita menjadi guru. Sebab, pada dasarnya kita ini memiliki ilmu dan bisa mengajarkannya ke orang lain. Ajarkan yang kita bisa, semoga orang lain mendapatkan manfaatnya. Asal mengajarkan di sini bukan pas ujian atau ulangan. Kalau itu namanya memberi contekan!

Karnaval dan Sampah yang Nakal

Sangat menarik kegiatan karnaval dalam rangka menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-48. Linknya: https://suyatibinyo.blogspot.com/2022/09/karnaval-jelang-muktamar-muhammadiyah.html

Tulisan ini dibuat oleh Bu Suyati. Mengambil tema kegiatan karnaval tersebut “zero sampah”. Itu zero ya, bukan Zorro. Kalau yang disebutkan terakhir ini menimbulkan sampah adalah dari kotoran kudanya! Cek saja!

Biasanya memang karnaval meninggalkan sampah. Namun, dari tulisan tersebut saya baca justru sebaliknya. Membersihkan sampah di jalan yang dilalui peserta karnaval. Apalagi Muhammadiyah yang merupakan ormas terbesar di Indonesia. Akan menjadi contoh yang luar biasa baik bagi organisasi Islam lain atau masyarakat secara umum.

Pada dasarnya sampah ini memang sangat mengganggu. Tiap hari berton-ton sampah dikeluarkan oleh manusia. Tempatnya pun makin terbatas. Dan, suatu saat pasti akan penuh. Jika sudah begitu, bagaimana solusinya? Kita tunggu solusinya setelah pesan-pesan berikut ini! Kita rehat sejenak! Lho, kok malah ikut-ikutan gaya Karni Ilyas?

Bunga yang Indah

Tulisan keenam di list Senin Blogwalking Lagerunal. Sebuah tulisan puisi tentang bunga dengan judul “Bunga Indah”. Di situ benar-benar bunga yang dibahas, bukan Bungatimin, Bungatijo, apalagi Bungatinah. Ingat, itu nama-nama orang!

Link tulisannya: https://www.kompasiana.com/sumarjiyati/631d8ee84addee57b44f32a3/bunga-indah?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile

Pada dasarnya setiap perempuan itu mengagumi keindahan bunga. Seperti Bu Sumarjiyati dengan puisinya tersebut. Bunga yang indah bisa membuat pandangan mata jadi lebih sejuk. Meskipun ada pula yang berkata, kalau mau pandangan lebih sejuk, kasih dekat matanya ke AC.

Bunga juga menjadi simbol adanya rasa cinta. Bunga selalu jadi hiasan yang menarik dan artistik dalam pesta pernikahan. Pesta tersebut memang simbol kebahagiaan yang dalam, walaupun mungkin di antara yang hadir ada yang patah hati. Itu wajar juga dan manusiawi. Jodoh sudah diatur oleh Allah. Kalau ada orang belum dapat jodoh, mungkin saja orang itu memang susah diatur!

Nasi Goreng di Tengah Gerimis

Judulnya kok malah kurang nyaman ya? Nasi goreng di tengah gerimis. Itu nasi gorengnya basah dong? Atau malah yang makan nasi goreng sengaja makan di bawah gerimis? Ah, bukan keduanya, link tulisan yang membahasnya ada di sini: https://aljaelanigen.blogspot.com/2022/09/gerimis-mengundang-lapar.html

Penulisnya, Al-Jaelani Gen, bercerita tentang gerimis hujan ketika sore menjelang Maghrib. Ini sudah jelas, yang aneh itu kalau ditulisnya sore menjelang siang!

Suasana gerimis nan dingin, membuat perut jadi lapar. Akhirnya masak nasi goreng. Tidak cukup satu, tetap malah ditambah jadi dua. Ini cukup luar biasa. Wajar kok bagi seorang laki-laki dan itu manusiawi. Lho, nasi gorengnya tidak ditambahi sawi?

Saya sendiri juga suka dengan nasi goreng. Dari perbincangan di medsos, penjual nasi goreng itu bekerja mencari sesuap nasi. Namun, ada nasi yang dia punya, justru dijual dan diserahkan ke orang lain. Ini bagaimana ya?

Nasi goreng memang lebih enak jika pedas. Kata guru saya, rasa pedas itu meningkatkan nafsu makan. Sedangkan, jika ada orang kata-katanya pedas, kita jadi nafsu juga untuk memukulinya, haha. Jangan ya, lebih baik belikan nasi goreng yang pedas sekali. Setelah dia huh-hah, huh-hah, kepedasan, lalu sampaikan ke dia, “Lebih pedas mana? Nasi goreng ini atau kata-katamu yang tadi?”

Pemekaran Provinsi Secara Lengkap 

Bagi yang ingin mengetahui provinsi-provinsi apa saja di Indonesia ini, termasuk yang terbaru, silakan membuka link berikut: https://www.kompasiana.com/brianprasetyawan/631bc98c4addee536e201a92/perkembangan-pemekaran-provinsi-di-indonesia-masa-reformasi-1999-sekarang

Saya dulu sempat salah dan ngeyel. Saya kira penulisan yang benar itu profinsi, rupanya yang benar adalah provinsi. Baiklah, saya mengikut saja, termasuk kalau ada teman yang mau traktir saya, ya, saya mengikut juga.

Pemekaran pada dasarnya adalah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Mungkin jika wilayahnya terlalu luas, maka pelayanan akan kurang karena terbatasnya SDM. Nah, adanya provinsi baru, membuat munculnya banyak tenaga baru pula. Selain itu, fasilitas juga akan berkembang dibandingkan masih menempel di daerah induk.

Oleh karena itu, saya setuju jika ada pemekaran. Toh, hal itu demi masyarakat juga ‘kan? Intinya, jika kebijakan atau keputusan pemerintah itu baik, mesti kita ikuti. Termasuk pemekaran ini. Provinsi boleh mekar, sedangkan cinta di hati jangan dulu mekar. Soalnya, kalau sudah mekar, berarti istrinya lebih dari satu. Dari yang tadinya mekar, eh, malah ujung-ujungnya jadi saling bertengkar!

Efek Kembali ke Sekolah Setelah Pandemi

Mencengangkan dan mengagetkan. Itulah yang saya baca dari tulisan Bu Sri Yamini tentang akibat yang timbul setelah dua tahun. Ada 11 hal yang diungkapkan oleh sang penulis. Link lengkapnya ada di sini: https://www.kompasiana.com/sriyamini/631a1fd75886fe2ae65de1e5/murid-kembali-ke-sekolah-pasca-dua-tahun-pandemi-covid-19?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile

Sebenarnya, jangankan efek setelah pandemi, saat pandemi saja tidak bagus kok. Murid harus belajar secara daring, hanya lewat HP atau laptop. Metode seperti itu ‘kan tidak pernah terjadi di zaman Belanda. Kalau sekarang memang bukan zaman Belanda, yang lebih tepat adalah zaman belanja. Paket, paket!!

Efek pandemi tidak hanya menghantam dunia pendidikan, tetapi juga bidang ekonomi, pariwisata, dan kuliner. Pokoknya semua hal bisa terdampak pandemi. Kita berharap semoga pandemi tidak terjadi lagi, apalagi bagi dunia pendidikan. Jika terjadi lagi, maka pembelajaran akan dikembalikan ke daring. Bukankah kalau sudah daring, maka perlu dibasahi lagi ya?

Melindungi Diri dari Kejahatan Siber

Link untuk pembahasan subjudul di atas adalah: http://www.cikgurita.com/2022/09/lindungi-diri-dari-kejahatan-siber.html?m=1

Bicara tentang kejahatan di dunia siber, maka ini termasuk kejahatan yang canggih. Seperti tiga paragraf di atas, kejahatan siber tidak pernah terjadi di zaman Belanda. Nah, kalau di zaman belanja, maka itu wajar terjadi.

Disebut wajar karena banyak di antara masyarakat kita yang belum paham literasi keuangan. Kalau bikin sambal terasi untuk gorengan, itu sudah sering. Literasi keuangan jauh lebih kompleks dan sangat menyesuaikan dengan perkembangan teknologi zaman sekarang.

Kita memang tidak mau kejahatan orang lain menimpa kita. Misalnya: orang lain kehilangan sampai 1,1 milyar rupiah, kita tidak mau begitu ‘kan? Lebih tepatnya bukan tidak mau, melainkan karena memang tidak punya uang sebesar itu!

Orang yang punya uang banyak memang akan menyimpannya di bank, sebab tempat ini dirasa yang paling aman. Jika menyimpan uang di bawah bantal, itu jelas salah. Jangan sampai nanti bantalnya dicuri orang! Ya ‘kan?

Alangkah lebih baik, menghadapi kejahatan siber ini, kita harus waspada. Belajar dari orang lain, para pakar, membaca artikel tentang literasi keuangan, serta yang tidak kalah pentingnya adalah saling mengingatkan. Ingat lho, kejahatan bukan terjadi karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan. Itu kata siapa? Yak, benar, kata Bang Napi. Sementara kalau kita, bukan Bang Napi, melainkan, “Bang, nasi gorengnya dua saja!”

Ditanya sama abangnya, “Nasi gorengnya pedas apa tidak?”

Kitanya menjawab, “Ya, nggak tahu pedas apa nggak, ‘kan belum dicoba!”

Password dalam Permainan dan Pelajaran

Kata “password” tentunya akrab di telinga kita, apalagi bagi kita yang punya banyak akun media sosial. Ada yang mengatakan bahwa orang yang punya password sama untuk banyak media sosial itu disebut pemalas. Lebih tepatnya, malas mikir, malas ribet.

Tulisan Pak Sim Chung Wei memang sanggup untuk memotivasi anak-anak belajar Matematika. Menyiapkan password berupa soal Matematika di depan kelas, bahkan di depan sekolah sebelum anak-anak masuk. Namun, yang jelas, yang tidak bisa mengerjakan soal, tetap disuruh masuk ‘kan, Pak?

Bentuk pengajaran yang kreatif memang menjadi dambaan agar tidak muncul rasa bosan. Apalagi pelajaran Matematika yang sering menjadi momok, padahal murid-murid sudah bukan bayi lagi. Jika disampaikan pelajaran Matematika dengan menyenangkan seperti itu, saya rasa mereka akan lebih cepat masuk. Selain itu, dari yang tadinya mungkin benci Matematika, sedikit demi sedikit bisa menyukai.

Pelajaran Matematika tidak perlu dianggap sulit, sebab memang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari jadikan Matematika sahabat kita, bukan lagi musuh, atau bahkan saat menerima hasil nilai Matematika, malah misuh-misuh.

Setengah Sebelas

Menulis sampai 2.000 lebih karakter sampai jam setengah sebelas malam. Tempat saya memakai WITA. Jadi, di belahan daerah lain bisa sama, bisa juga berbeda. Semangat menulis untuk para guru di grup WA Lagerunal. Semoga selalu jadi inspirasi, baik itu untuk sesama guru maupun murid-murid. Boleh saya tutup dengan pantun:

Kalau ada sumur di ladang, 

boleh kita menumpang mandi. 

Kalau ada inspirasi datang, 

biasanya memang sedang di kamar mandi. 

pantun-bale

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

7 Comments

  1. 😂😂😂👍👍👍
    Keren pak Rizki Pantun balenya .

    Nah ini baru pantun bale
    Ya meski pantunya nyempil dikit di penutup ga apa deh ,😁

    Canda pak

  2. Ngalir enak di baca dan semua tulisan di bahas tuntas.. mantab.. kali ini ada tambahan pantunnya..hehe.. smakin kereen… 👍🏻👍🏻

  3. Masya Allah, Hebat banget nih merangkum tulisan dari sekian banyak orang menulis dan dijadikan satu, Excellent👍👍👍

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.