Awalnya Sakit Gigi Berlubang, Rupanya Malah Nyawa Melayang!

Awalnya Sakit Gigi Berlubang, Rupanya Malah Nyawa Melayang!

Share This:

Mungkin di antara kamu, siapa sih yang tidak pernah merasakan sakit gigi? Bagi yang tidak pernah merasakan, apalagi sampai sakit gigi berlubang, mungkin giginya sudah tidak ada. Hehe…. Tapi kejadian berikut ini lebih sakit daripada sakit gigi.

Awalnya, memang karena sakit gigi berlubang yang dialami seorang remaja. Sakit gigi itu bukan biasa lho, karena sampai lehernya bengkak. Sampai di sini, sudah terdengar ngeri saja. Rupanya, karena saran yang sotoy (tidak enak sama sekali dibandingkan sotoy ayam maupun kambing), temannya kasih saran untuk obat sakit gigi berlubang dan ngilu, ditetesi saja pakai minyak rem ke gigi yang sakit itu. Mungkin itu dianggap temannya sebagai obat sakit gigi paling ampuh.

Nah, si remaja itu yang memang sepertinya tidak mau merepotkan orang tuanya dengan cara mengatasi sakit gigi berlubang tanpa obat, maka tanpa pikir panjang, betul-betul dicoba! Minyak rem motor ditetesi tepat pada sakit gigi berlubang itu. Hem, apakah berhasil?

Bikin Infeksi Mendadak

Yang namanya infeksi mendadak, pastilah berbeda dengan inspeksi mendadak ya, Gaes! Kalau lagi infeksi, masa sih mau inspeksi juga?

Baca Juga: Berhenti Merokok Karena Diomeli Istri, Apakah Berhasil?

Nah, ternyata, dari minyak rem itu yang dianggap bisa mengatasi sakit gigi tanpa obat dokter, malah membuat si remaja jadi semakin parah. Dia terkena infeksi saluran leher atau istilah lainnya adalah abses parafaring. Cukup sulit dicerna, ya kan? Apalagi abses, apa itu abses? Bukankah itu sejenis bahan bangunan? Sepertinya kalau itu namanya asbes, deh!

Hasil terlihat parah dari rontgen (begini nulisnya ya?). Kata Pikasa Retsyah Dipayana, orang yang mengunggah kejadian itu di Facebook, hasil rontgen kok bercak-bercak? Pasien remaja itu juga malah demam.

sakit-gigi-berlubang
Status Facebook yang Cukup Mengerikan

Solusi Lewat Operasi

Dokter mengambil jalan lewat operasi setelah dikomunikasikan dengan orang tua. Pada operasi pertama, keadaannya belum bertambah baik, malah kena penyakit lainnya. Dilakukan operasi kedua, malah semakin banyak nanah ke luar. Rupanya, dua operasi tersebut tidak mampu menyelamatkan nyawa anak remaja itu. Dari yang awalnya sakit gigi berlubang, sekarang malah nyawa yang melayang. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun

Bercanda Atau Tidak Sih?

Kata orang sih, masa remaja adalah masa yang paling indah. Padahal indahnya sebenarnya dari mananya ya? Waktu saya SMA itu, justru pelajaran-pelajarannya lumayan berat. Kita dibebani berbagai pelajaran yang notabene belum tentu kita butuhkan di masa yang akan datang.

Baca Juga: Pengasuhan Anak: Ayah Jangan sampai Lengah

Tapi, masa remaja juga termasuk masa yang paling bodoh. Ini jelas tidak semua. Apa kebodohan sebagian remaja sih? Ya, seperti kasus di atas tadi, karena sakit gigi, malah akibatnya nyawa bisa sampai terlepas. Mati.

Sebetulnya, kejadian kebodohan remaja itu bisa kamu lihat di sini. Kejadian paling terakhir sepertinya balapan di kuburan. Gundukan makam, dijadikan arena tanding mirip motocross. Dua orang pengendara itu tidak ambil pusing, mau penghuni kubur terganggu atau tidak, bukan urusan mereka. Yang penting, bisa membalap di tempat yang anti mainstream.

Jika ada saran temannya untuk meneteskan minyak rem ke gigi yang sakit, itu dapatnya dari mana ya? Dari Mbah Google? Atau dia punya mbah yang lebih pintar daripada Google? Mungkin alat pencari baru ya?

Atau mungkin di pikirannya, minyak rem itu gunanya untuk mengerem sakit pada gigi itu? Kalau ini jawabannya, minyak rem tidak cuma dipakai menghentikan motor atau mobil, apalagi cuma sakit gigi, maka ya bagaimana ya? Masuk juga sih, tapi masuk ke gang buntu. Apalagi gara-gara masuk ke gang buntu, malah jadi usus buntu. Walah…

Hal yang jadi pertanyaan adalah temannya remaja yang meninggal itu, kasih saran dengan serius atau bercanda sih sebenarnya? Ini yang tidak diterangkan di link beritanya. Dan, perlu kita cari jawaban pertanyaan itu, karena menentukan untuk masuk ke babak selanjutnya. Lho kok? Dari pertanyaan apakah bercanda atau tidak, ke pertanyaan bagaimana nasib temannya yang kasih saran itu? Sama orang tuanya remaja yang meninggal bagaimana juga?

Remaja memang punya keingintahuan yang cukup tinggi. Makanya, ada yang belajar merokok, meskipun awalnya tidak enak sama sekali. Namun, karena didorong dan terus begitu, akhirnya merokok juga. Jadi pecandu juga.

Begitu pula dengan minuman keras. Teman kerja saya juga bingung dengan penamaan istilah ini. Minuman keras, kerasnya di mana? Mungkin keras efeknya. Atau tempatnya biasanya keras? Bisa jadi yang minum termasuk keras kepalanya. Karena sudah tahu efek negatifnya, eh, masih diminum juga. Setuju?

Sampai yang paling parah sekarang adalah narkoba. Ini adalah barang haram yang betul-betul harusnya jangan ada di pikiran remaja, apalagi sampai mau pakai. Tidak ada untungnya sama sekali. Baru bawa sedikit saja, hukumannya sudah lumayan berat. Tambah berat, hukuman mati menanti.

Ketika Sakit Gigi Merasuk ke Dalam Diri

Untuk urusan sakit gigi, tidak cuma remaja yang pernah mengalami. Saya sendiri juga pernah, tepatnya lebaran Idul Fitri yang lalu. Malam harinya, saya merasakan sakit yang luar biasa. Ternyata karena gigi sudah agak goyang, terkena daging terus, wah, mantap sakitnya!

Tapi apakah saya terpikir untuk pakai minyak rem motor juga? Terbayang pun tidak, karena benda yang seperti itu, ketika sehat saja, tidak boleh dimasukkan mulut, apalagi sakit. Kotor. Mungkin minyak lain? Minyak wangi misalnya? Walah, mulut sementara bau, itu ya masih wajar. Sakitnya itu hilang dulu, baru berpikir mau menghilangkan bau mulut.

Jadi, apa yang saya lakukan? Cuma berbaring di kasur, diam dan mencoba untuk bersabar. Pipi ikut sakit dan kepala jelas juga ikut. Pokoknya seluruh tubuh ikut merasakan sakit. Tidak ada obat apa-apa, karena waktu itu klinik jelas banyak yang tutup. Saya berada bukan di daerah kota.

Pada akhirnya, ketika saya berada di ibukota kabupaten dan ada dokter gigi yang bagus buka praktek, langsung diperiksa saja. Gigi saya yang pernah sakit itu malah pecah. Diberikan pilihan, mau dicabut atau dirawat saja? Saya memilih dirawat saja. Ibaratnya cinta bukan? Mau cinta palsu atau merawat cinta yang sudah ada? Hehe…

Biayanya sampai 1,3 juta rupiah. Lumayan, lah. Untuk perawatan gigi sampai ke syarafnya. Namun, hasil yang saya dapatkan memuaskan. Alhamdulillah, kini gigi saya tidak sakit lagi. Alhamdulillah, nyawa saya juga masih ada, buktinya masih bisa nulis ini. Minyak rem, mah, untuk rem motor saja.

Untuk berita lainnya, seputar minyak rem untuk sakit gigi, boleh simak di sini. Ternyata, ada juga yang pakai minyak rem untuk sakit giginya. Hem…

Sedangkan untuk mengerem hawa nafsu, tidak pakai minyak rem motor. Cukuplah dengan mengerem jiwa yang kotor. Jangan sampai di akhirat, kita malah yang tekor!

Sumber: Suara.com

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!