Cerpen Fiktif: Telunjuk Kanan

Cerpen Fiktif: Telunjuk Kanan

Share This:

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Herannya, dia tidak pernah dimarahi karena keterlambatannya itu! Meskipun begitu, penyesalan ini telah menyerang banyak orang.

Sudah banyak yang menjadi korbannya. Anehnya lagi, sampai sekarang dia tidak pernah diproses oleh hukum! Betul-betul menyebalkan bukan makhluk yang bernama PENYESALAN ini?

Nah, salah satu korbannya adalah Asdar Munawar. Dia ini masih terhitung remaja. Masih kelas tiga SMA. Wah, sebentar lagi akan kuliah, dong? Ya, begitulah alur kehidupan orang pada umumnya. Setelah SMA, kuliah. Meskipun ada juga yang memilih bekerja.

Antologi Cerpen Pertama Saya dengan Penulis Lain dalam Ajang Lomba Menulis Tingkat Nasional Tahun 2011

Asdar sedang dihinggapi rasa penyesalan yang cukup dalam (entah siapa yang mengebornya? Kalau Inul jelas tidak mungkin!). Saat dia terbang ke masa lalunya, dia justru tidak sedang naik pesawat terbang. Laki-laki berjerawat lembut itu sedang melaju di dalam sebuah mobil mewah. Jenisnya APV. Harganya mungkin lebih dari 100 juta.

Lho, apakah dia memang punya mobil seperti itu? Oh, rupanya tidak! Keren sekali kalau dia sampai punya. Remaja yang jenggotnya gerimis alias tidak terlalu lebat itu sedang menaiki mobil angkutan umum!

Tahu sendirilah, Kawan, di Kendari, gaya hidupnya tinggi, meskipun ekonominya tidak terlalu bagus. Jadi, mobil angkutan umum pun dibuat nyaman dan terlihat menawan. Dia mau pulang ke kampungnya di Kabupaten Bombana. Mau bertemu dengan ibu tercintanya.

Baca Juga: Cerpen CPNS

Asdar bersekolah di SMA 6 Kendari. Sekolah itu memang terkenal nakal luar biasa. Mempunyai julukan Namche. Artinya, dahulu sekolah itu sebagian besar kelasnya adalah IPS, jadi diberi kode C.

Kenakalan para siswanya sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Hobinya tawuran dan bikin onar sehingga dibenci oleh sekolah-sekolah lain. Sekolah itu terletak di daerah Mandonga, jadi masih masuk kawasan pusat kota Kendari.

Berdasarkan persentase, sebenarnya anak-anak nakal di Namche tidak terlalu banyak. Namun, anak-anak yang tergabung dalam geng sekolah “GNB” atau Gerakan Namche Belakang itu, termasuk pandai menguasai sekolah. Mereka menggunakan ancaman kekerasan kalau perlu. Siapa sih yang mau menjadi korban kekerasan? Oleh karena itu, banyak siswa yang takut. Bahkan termasuk guru pula.

GNB memulai pengkaderannya sejak masa ospek. Anak-anak nakal masuk ke dalam kepanitiaan ospek menjadi Garda. Tugas sebetulnya adalah menjaga keamanan peserta dan panitia. Akan tetapi, kau pasti tahu sendiri, Kawan, mereka menawarkan ketakutan, ketidaktenteraman dan ketegangan bagi para peserta.

Anak-anak yang ditarget, pura-puranya diberikan hukuman, padahal tidak ada kesalahan. Mereka dimasukkan ke dalam sebuah ruang di pojok aula yang sering disebut ruang eksekusi, lalu dipukuli di sana. Hah, dipukuli?!

Selain itu, juga ditelanjangi. Hah, ditelanjangi?! Iya, begitulah “sistem” yang diterapkan oleh para anggota GNB. Mereka butuh darah-darah segar untuk menjadi amunisi tawuran.

Berikutnya, anak-anak yang sudah masuk sasaran itu diwajibkan untuk ke luar malam. Ke luar kemana? Hanya di sekolah, kok! Sejak maghrib, mereka diharuskan datang di sekolah. Kerjanya “nongkrong” saja. Menjaga sekolah, agar jangan sampai sekolah diserang malam-malam.

Begitulah yang dikatakan oleh anak-anak GNB senior. Padahal, sebenarnya itu hanya pesta penuh dosa. Ada minuman keras di sana. Mau tidak mau, anak-anak kelas satu terpaksa ikut pesta haram itu. Sekali lagi, karena takut dengan ancaman kekerasan!

Asdar sering ikut mereka. Kalau Asdar, sesuai dengan kata hati. Dia suka hal-hal yang negatif seperti itu. Dia benar-benar berniat untuk menjadi anggota aktif GNB. Meskipun masih semester awal kelas satu, dia sudah rajin membolos. Dia sudah tidak terlalu memikirkan pelajarannya. Asdar termakan oleh doktrin-doktrin anak-anak GNB senior.

“Kamu itu di sini nggak hanya belajar saja, tapi juga harus gaul, sosialisasi.”

“Sekolah ini harus dijaga tiap malam. Itu tandanya kamu cinta sama sekolah!”

“Jangan peduli sama guru! Mereka itu cuma nyari duit saja di sini. Kita di sini yang nentukan sekolah kita sendiri.”

“Jangan sampai sekolah ini dikuasai sekolah lain!”

Pada akhirnya, Asdar betul-betul menjadi anggota GNB. Pengangkatan anggota barunya di Pantai Nambo, Kendari. Acaranya luar biasa gila! Calon anggota baru disuruh kencing, ditampung dalam botol, lalu disuruh lagi meminumnya!

Aksi lainnya, mereka meminum jus lalat serta jus-jus menjijikkan lainnya. Mereka meniru acara televisi “Fear Factor”. Hanya bedanya, acara ajang keberanian itu sudah disertai dengan obat penawar maupun dokter untuk menjaga efek buruk yang menimpa para peserta. Sedangkan acara pengangkatan itu? Silakan jawab sendiri, lah!

Mobil melaju dengan mulus. Menembus hutan jati di daerah Konda, Kabupaten Konawe Selatan. Kabupaten itu menjadi penghubung atau “makcomblang” antara Bombana dengan Kendari. Jalanan berkelok-kelok.

Baca Juga: Sepeda Cinta [Terinspirasi Dari Kisah Nyata]

Asdar membagikan pandangannya ke para penumpang. Mobil itu tidak terlalu penuh. Jalannya jadi terasa ringan. Asdar menatap tajam, jangan sampai ada yang mabuk di sini! Kalau ada yang sampai mabuk, dia akan sangat marah. Bisa jadi, dia akan memukuli orang itu. Dia tidak takut. Anggota GNB kok takut?!

Kebanggaan menjadi anggota GNB memang membuat dia punya power di antara teman-temannya. Jalannya sudah gagah sekali. Biasanya, anak-anak GNB mudah untuk mendapatkan pacar.

Asdar juga begitu. Dia punya empat orang pacar dari empat sekolah yang berbeda. Tiap dia mau menjemput pacarnya di sekolah lain, meskipun tahu dia dari Namche, anak-anak tempat sekolah pacarnya itu tidak berani mengganggu. Wah, benar-benar powerful GNB ini! Dia jadi makin bangga. Makin pula dia sombong.

Seiring perjalanan kariernya sebagai “tukang tawuran”, dengan “perjalanan dinas” ke banyak sekolah untuk menyerang, menerima “penghargaan” dari GNB senior berupa minuman keras yang lumayan mahal dan sedikit narkoba, membuat dia benar-benar lupa akan tugas utamanya sebagai pelajar! Dia lupa dengan perjuangan ibunya di Bombana yang hanya penjual mainan di pasar.

Sementara, biaya hidup di Kendari tidaklah murah. Sekali makan, rata-rata sepuluh ribu. Hanya ibunya yang membiayai sekolah Asdar. Bapaknya tidak jelas ke mana? Kerabat yang lain juga tidak jelas pergi ke mana? Asdar memang berasal dari keluarga yang tidak jelas!

Pelajarannya makin sulit bercinta mesra dengan Asdar. Nilai-nilai ulangannya jarang sekali naik di atas lima. Tugas-tugas pun banyak yang terlewatkan. Meskipun kondisinya begitu, dia tidak terlalu risau.

Dia sudah tidak terlalu suka sekolah. Pikirannya sudah benar-benar milik GNB. Cuci otak mereka benar-benar berhasil untuk Asdar. Anak ini siap untuk menjadi “pengantin” yang membawa “pesan perdamaian” ke sekolah-sekolah lain. Tentu saja, “pesan perdamaian” itu disebarkan melalui jalan kekerasan. Lho?

Asdar menerima akibatnya. Nilai semester pertamanya jeblok luar biasa! Dia rangking terakhir alias 40! Tidak ada nilai enam di raportnya, apalagi tujuh, delapan sampai sepuluh. Semuanya lima ke bawah. Raportnya kebakaran. Melihat hasil itu, Asdar juga tidak ambil pusing. Biasa-biasa saja.

***

Tadi, sebelum naik mobil, dia bertemu dengan empat orang berjenggot, berjubah putih dengan songkok dan surban, membawa tas ransel, salah satunya membawa kompor. Asdar terkejut melihat mereka. Siapakah mereka? Baru sekali Asdar melihatnya.

Oh, itukah yang dikatakan sebagai jamaah dakwah? Oh, merekalah yang pergi meninggalkan keluarga untuk berdakwah dan mengajak orang kepada kebaikan di jalan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Anehnya, Asdar malah terkesan dengan orang-orang itu. Muka-muka mereka terlihat cerah, meskipun menghitam karena dielus matahari.

Aura mereka terasa damai dan sejuk. Beda sekali dengan aura teman-temannya di GNB yang berbau busuk, pengap dan membuat mual. Hatinya terasa menemukan air kasturi sebagai obat hausnya selama ini.

Salah satu dari jamaah itu bertanya kepada Asdar dengan sangat sopan. Senyumnya mengembang indah dan mempesona. “Assalamu`alaikum, Kak. Boleh kami bertanya?”

Asdar tidak menjawab salamnya saking terkejutnya. “Oh, iya, boleh, boleh!”

“Di manakah masjid sekitar sini? Bisa beritahu kami, Kak?”

Kebetulan, Asdar tadi buang air kecil di masjid yang tidak terlalu jauh dari terminal. Dia menunjukkan arahnya hanya dengan sebuah telunjuk. Yang dipakai adalah telunjuk kanannya. Ya, hanya telunjuk kanannya yang memberitahukan arah masjid.

“Di sana tempatnya. Itu dekat warung soto. Kalau sudah ketemu itu warung, belok kanan sedikit, lalu ke kiri. Masjidnya dekat rumah kosong. Kiri jalan.”

Para jamaah itu mengucapkan terima kasih. Mereka menyalami Asdar. Tidak lupa, senyum terus terhampar dari wajah-wajah lembut mereka. Asdar ikut tersenyum. Sebelum berpisah, mereka mengucapkan salam lagi sambil berdoa, “Assalamualaikum. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberi keselamatan untuk Anda, Kak.”

Asdar hanya mengangguk. Dia lupa membalas salam. Setelah ingat, dia langsung berkata, “Wa`alaikumsalam. Amin.”

Kesan itulah yang dibawa dalam perjalanannya sekarang. Kesan yang sangat berbeda dengan kehidupannya di Namche. Kesan yang sering disuntikkan oleh orang barat sebagai teroris, fundamentalis, bom jihad, bunuh diri dan antibarat.

Padahal, Asdar tidak menangkap kesan itu. Justru yang dia dapatkan tadi adalah nuansa cahaya. Terasa membawa aura surga. Susah memang jika dijelaskan dengan kata-kata pertemuan singkat itu. Ada keinginan untuk berbicara lebih lama dengan mereka.

Baca Juga: Tong Kosong Nyaring Bunyinya [Ternyata Ada Hubungannya dengan Ayam dan Kura-kura]

Kok sekarang tiba-tiba Asdar jadi ingat akhirat? Betapa nakalnya selama ini jelas bisa membawanya ke neraka. Dia sangat jarang beribadah. Dia lupa kapan terakhir kali sholat. Bahkan, sepertinya ketika sholat Idul Fitri pun sepertinya tidak.

Mengapa dia baru sadar sekarang? Dia jadi menyesal, buat apa sih tawuran segala? Menakut-nakuti murid-murid sekolah lain. Menikmati mereka lari, khawatir dan berpikir di mana akan menyelamatkan diri, sementara dia beserta teman-temannya berlari mau menyerang.

Lalu, ketika malam hari tiba, apa saja yang Asdar kerjakan bersama anak-anak GNB itu? Hanya duduk “nongkrong”, bicara tidak jelas, malah sampai mabuk miras dan sedikit mencoba narkoba.

Ah, untung saja tidak sampai tertangkap polisi. Bila sampai tertangkap, seperti apa nasibnya? Akan bagaimanakah sekolahnya? Bagaimana pula perasaan ibunya? Masya Alloh. Lho, ternyata dia bisa mengucapkan kalimat itu! Meskipun hanya di dalam hati.

Pandangannya menerawang saat melewati kawasan padang rumput yang sering disebut PPA. Kawasan itu berujung di Bombana. Sepi luar biasa. Tidak ada rumah, apalagi perkampungan. Hanya padang rumput yang setia menemani.

Padang itu dibelah oleh jalanan yang sangat rusak. Sebentar lagi dia akan mendaki bukit. Air matanya tiba-tiba berlinang. Dia rindu ibunya. Dia rindu ibadah. Dia rindu untuk kembali berakrab-akrab dengan Tuhan.

Ketika dia kecil dulu, sempat mengaji sampai jilid enam. Mengapa dia berhenti? Ah, pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Sebuah pertanyaan penyesalan.

Mobil pun mendaki bukit. Pagi tadi, hujan turun dengan cukup deras. Inilah yang jadi masalah besar bagi angkutan umum semacam mobil yang ditumpangi Asdar. Apalagi penumpangnya sedikit.

Jalan naik akan terasa licin dan mudah menyebabkan mobil tergelincir. Namun, sang sopir tampak sangat percaya diri karena sudah sering dia melewati jalan itu.

Tanpa sopir itu tahu, ada lubang baru yang tercipta di pinggir bukit. Lubang itu muncul setelah kemarin ada truk tronton pembawa pasir. Mobil tetap berjalan mantap. Jalan licin terus diterjang.

Dalam sekejap, tiba-tiba, sopir itu melihat sesosok bayangan hitam yang terbang dari langit. Terlihat cepat, namun jelas. Sopir yang hanya tamatan SD itu terpesona dan terpana. Padahal, dia masih mempunyai amanah untuk menjaga keselamatan para penumpangnya.

Oleh karena konsentrasinya terpecah, mobil pun terperosok ke dalam lubang dengan cukup keras. Disambut dengan jalan licin, mobil jadi oleng ke kanan. Sementara, di kanan itulah, jurang tersenyum menganga. Mau melahap orang-orang itu.

Para penumpang panik. Termasuk Asdar. Pintu tidak sempat terbuka. Kejadian berlangsung cepat. Seperti para penumpang lain, Asdar menduga akan jatuh dan mati di situ. Dia menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Ke luar juga kalimat suci itu. Apakah sudah terlambat taubat?

Mobil meloncat ke jurang dengan cepat. Rem tidak mempan untuk menahan.  Terjun bebas, meluncur menuju dataran berbatu dan keras di bawah.

Teriakan penumpang membumbui peristiwa itu. Asdar sudah pasrah. Inilah hidupnya yang akan segera berakhir. Dia ingat ibunya. Ingat masa lalunya. Air matanya semakin deras dan semakin….

BRAKKK!!! Mobil menghantam dataran berbatu. Hancur dengan keras. Setelah itu terbakar. Mengusap badan mobil beserta para penumpangnya. Semuanya mendapatkan jatah. Tidak ada saksi yang melihat kejadian itu. Hanya suara kecelakaan itu saja yang menghamtam dinding-dinding bukit.

Sehari kemudian, tim SAR beserta kepolisian mencari para korban. Dalam dua hari, seluruh korban berhasil ditemukan. Isak tangis menjadi penyedap upaya penyelamatan yang jelas sudah tidak selamat itu.

Salah seorang anggota tim SAR, mengangkat jenazah Asdar. Hampir hitam seluruh tubuhnya. Gosong. Namun, ketika matanya tertumbuk pada tangan Asdar, dia terheran-heran. Tangannya sudah hangus, namun hanya jari telunjuk kanannya yang tidak hangus. Ya, jari itu masih utuh, tidak tersentuh api sedikit pun. Dia memanggil rekan-rekannya.

“Hey, lihat! Ini ada orang telunjuk kanannya utuh, nggak terbakar sama sekali!”

Orang-orang yang dipanggil berdatangan. Sebuah fenomena yang aneh dan luar biasa. Bagaimana mungkin, api tidak menyentuh jari telunjuk kanan itu? Mereka pun bertanya-tanya.

*Bombana, April 2011*

Baca Juga: Balada Sebuah Koran

Share This:
error: Content is protected !!