Sebuah Cerpen: CPNS

Sebuah Cerpen: CPNS

Share This:

Tertarik untuk jadi seorang Pegawai Negeri Sipil atau PNS? Mungkin itu menjadi cita-cita Anda? Ataukah orang tua Anda? Bisa salah satu, atau keduanya. Sebelum ke sana, silakan dibaca cerpen saya berikut ini. 

Kegalauan sedang bertamu di ruang pikiran Nia sejak tiga hari yang lalu. Meskipun dikatakan bertamu, tetapi Nia tidak pernah mau membuatkan makanan atau minuman kepada si kegalauan itu. Lalu, apa yang menyebabkan Nia menjadi galau begitu? Apakah karena gadis itu masih belum menikah? Belum ada kumbang yang datang, tetapi malah lebah yang datang tiap malam dan mengerubungi lampu? Apakah karena gadis itu belum dapat pekerjaan?

Ya, bisa jadi inilah sebab kegalauannya. Namun, ada yang lebih hebat daripada itu, yaitu: adanya rencana moratorium CPNS! Moratorium? Apakah itu sejenis model baru dari akuarium?

Gadis yang berusia dua puluh tiga tahun itu sempat membaca harian Kendari Pos yang dibelinya dari sebuah toko swalayan besar. Judul beritanya adalah tentang rencana moratorium atau penghentian sementara penerimaan CPNS untuk lima tahun ke depan. What`s? Nia langsung membeli koran itu dengan harga lima ribu rupiah. Padahal uang lima ribu itu rencana akan dibelikan susu coklat instan yang menjadi kesukaannya sejak kecil. Namun, demi informasi yang penting itu, urusan susu coklat terpaksa dipinggirkan dulu. Urusan CPNS inilah yang lebih penting, soalnya Nia memang sangat menggila-gilai pekerjaan itu. Meskipun, dia tidak sampai mengatakan, “Gila, gila!” kepada setiap PNS yang dilihatnya.

“Hey, lihat, Dewi! Ini ada berita penting untuk kamu juga!” Seru Nia setelah tiba di kostnya. Nia memang anak kost bersama beberapa cewek lain. Ada Dewi, Rika, Susilo, eh, maksudnya Susilowati alias Wati, Panda – dan ini bukan jenis hewan, meskipun mirip namanya, serta Nagita – yang sejak pernikahan Raffi Ahmad, juga minta dipanggil Gigi. Memang sih, Nagita ini cukup pantas dipanggil Gigi, karena giginya yang kuning. Yah, supaya gadis itu lebih teringat untuk rajin menyikat gigi!

“Apaan sih? Kok teriak-teriak begitu?” Dewi muncul dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang cukup minim atau seadanya. Tahulah sendiri, kira-kira apa yang baru saja dilakukan Dewi di kamar mandi? Tidak mungkin lah, Dewi mencuci sepeda motor matiknya di kamar mandi, `kan?

“Ini lho! Coba kamu lihat! Nih, baca nih! Moratorium CPNS! Lima tahun, coba bayangkan itu!” Nia masih berbicara dengan volume yang cukup kencang. Meskipun, kencang suara Nia tersebut tidak karena diikat tali rafia, lho!

“Busyet, dah!” Mulut Dewi monyong, pertanda dia sedang merasa sebal dan sial. Seperti Nia, Dewi adalah penggemar setia profesi sebagai PNS. Meskipun, tidak sampai dia minta foto bareng antara dirinya dengan banyak PNS atau minta tanda tangan mereka!

“Nah, bener, `kan? Kita akan makin susah hidup ini!” Keluh Nia lagi. Dia sudah membayangkan kalau dia akan menjadi penganggur selamanya jika tidak menjadi PNS. Dia juga tidak membayangkan kalau dia harus bekerja selain menjadi PNS. Oh, tidak! Jangan sampai!

“Iya, ya, kenapa Presiden Jokowi bikin kebijakan begitu, ya? Padahal `kan baru-baru jadi presiden, kok kebijakannya kontroversial gitu?” Sambung Dewi.

“Nggak tahu juga tuh! Mending kamu tanya langsung saja sama Jokowi. Kan kamu dulu yang pilih dia, `kan?” Goda Nia sambil tersenyum.

“Yee…” Dewi mengibaskan tangan. Untunglah, angin yang ditimbulkan tidak sampai menerbangkan Nia.

***

Berita tentang rencana moratorium itu terus diceritakan oleh Nia kepada kawan-kawannya. Kepada Agus, penjual pulsa di pinggir jalan yang katanya pernah meraih omset ratusan juta rupiah. Dalam satu hari? Tentu tidak! Itu dalam satu tahun. Namanya juga penjual pulsa di pinggir jalan, yang hanya bermodalkan satu HP dan beberapa kartu perdana. HP itu pinjaman, sedangkan kartu perdana itu titipan, sementara Agus itu bujangan.

“Kamu itu jangan hanya terpaku untuk jadi PNS terus, Nia! Masih banyak pekerjaan lain kok di luar PNS. Ini seperti aku ini. Meski cuma penjual pulsa, tapi aku ini bos, lho! Bisa mengatur jam berapa aku kerja. Kalau PNS `kan diatur jam kerjanya!” Nasihat Agus sok bijak. Padahal, menurut sebuah slogan, orang bijak, taat bayar pajak. Sementara pajak sepeda motor Agus sudah dua tahun belum dibayar!

“Ah, kamu itu, Gus. Nasihatmu itu sudah basi! Sekarang ini lagi zamannya masuk PNS.” Kilah Nia. Oh, ya, Nia ketika itu sedang membeli pulsa dari Agus. Dia perlu untuk menelepon orang tuanya di tempat yang jauh sana untuk sekadar curhat. Niatnya untuk menjadi PNS seperti harapan orang tuanya bisa terganjal karena rencana pemerintah itu. Tentu saja, sebelum menelepon, dia harus mendaftar terlebih dahulu. Namun, tidak sampai mendaftar sampai ke kantor kelurahan seperti pendaftaran untuk mendapatkan kompor gas!

“Ya, kamu akan susah sendiri nanti. Kan ini mau ada moratorium CPNS toh?” Agus mencoba mengutip dari berita di koran. Padahal, berita di koran tersebut disampaikan oleh Wahyu, tetangga Agus. Tapi `kan tetap berita dari koran, ya?

“Pokoknya, sekali mau jadi PNS, tetap PNS!” Itulah tekad dari Nia. Tekad yang memang sudah bulat, seperti pizza. Hem, yummy!

“Ya, sudahlah, kalau begitu. Ini saja pulsamu kamu bayar! Pulsa sepuluh ribu, harganya dua belas ribu.” Pinta Agus sambil tersenyum. Dia siap menerima uang. Matanya tampak hijau.

Nia juga ikut tersenyum. Dia mulai berdiri, berjalan mundur sedikit sambil mengatakan, “Oke, akan kubayar kalau aku sudah jadi PNS!”

Nia langsung lari seketika. Ambil langkah seribu.

“Wey, tunggu Nia! Aduh, kok malah lari sih?” Seru Agus dengan panik.

***

Pada malam Jum`at, Nia menelepon bapaknya. Sebelum menelepon, gadis yang lumayan cantik itu mengecek pulsanya, lalu menekan kode-kode tertentu supaya dapat paket menelepon murah. Tentunya, dengan kombinasi bintang dan pagar.

“Pak, bagaimana ini? Mau ada moratorium CPNS selama lima tahun. Aku takut nggak bisa jadi PNS nantinya.” Nia benar-benar merasa sedih dengan adanya rencana moratorium itu.

“Lho, itu kan baru rencana, Sayang. Siapa tahu nanti berubah lagi?” Hibur bapaknya Nia yang bekerja sebagai kepala subbagian di sebuah instansi pemerintahan. Tiap hari, beliau harus datang pagi untuk absen sidik jari, begitu pula di sore harinya. Untung saja, yang ditempelkan di mesin absensi itu adalah ibu jari tangan. Beda halnya atau sangat merepotkan bila yang dipakai adalah ibu jari kaki! Repot harus lepas sepatu!

“Tapi, Pak, itu sudah muncul di koran, lho! Biasanya, yang sudah muncul di koran itu selalu benar.”

“Ah, kata siapa, Nak? Banyak sekarang koran yang beritanya tidak benar. Koran apa yang kau baca itu, Nak?”

“Kendari Pos, Pak. Kendari Pos.” Jawab Nia dengan cukup mantap.

“Oh, Kendari Pos. Bapak pernah baca koran itu. Ya, benar itu! Beritanya bagus-bagus dan lebih banyak benarnya.”

“Tuh, `kan, Bapak juga bilang begitu.”

“Iya, Sayang. Jadi, bagaimana itu? Benar ada moratorium CPNS, ya?”

“Iya, Pak. Lho, bukannya Bapak sudah tahu beritanya di tivi?” Tanya Nia.

“Belum. Nak. Pas yang sering Bapak tonton tidak ada beritanya semacam itu.”

“Memangnya, apa yang Bapak tonton?”

“Anu, Nak, HBO sama Animal Planet!” Bapaknya Nia tersenyum dengan panjang dan lebar.

“Yah, Bapak…” Nia menepuk jidatnya. Dia mengaduh, rupanya ada jerawat kecil yang pecah, korban kenakalan tangannya itu.

***

Nia sedang melamun di depan pagar kost-kostannya. Dia melihat beberapa PNS yang lewat, entah dengan berjalan kaki, sepeda motor maupun mobil. Nia tidak menemukan ada PNS yang naik truk ke kantor! Dia melihat mereka yang sangat gagah dan tampak elegan serta berwibawa dengan seragam PNS yang khas itu. Apalagi ditambah dengan tanda pangkat yang disematkan di atas bahu mereka. Wuih, semakin membuat kesan yang membanggakan! Lho, tapi kok ada yang pakai pakaian dinas tidak memakai tanda pangkat? Setelah ditelusuri, ternyata mereka adalah PHTT alias Pegawai Honor Tidak Tetap. Asalkan jangan sampai kepanjangannya menjadi Pegawai Honor Terus-terusan!

Namun, pikirannya dilanda lagi dengan moratorium. Ah, kata itu lagi yang muncul! Dia pun menjadi pesimis jika betul-betul ada moratorium seperti itu selama lima tahun. Meskipun alasan pemerintah adalah untuk evaluasi, tetapi dia merasa kebijakan itu kurang tepat. Ah, tepat atau tidak tepat, itupun bukan kewenangan Nia. Dia hanyalah warga biasa, penduduk biasa, manusia biasa dan juga makan nasi biasa, meskipun kadang suka dengan nasi goreng juga.

Ketika pikirannya terus dilanda lamunan dan entah sudah sampai berapa kilometer panjang lamunan itu, Dewi datang. Dia menepuk bahu Nia dengan cukup keras. Membuat ada baut dan sekrup Nia yang sedikit bergeser. Lho, memangnya Nia itu sejenis terminator apa?

“Weis! Sahabat baikku ini melamun terus! Mikir apa sih sayang?” Goda Dewi seraya mencolek dagu Nia. Ingat, ya, meskipun dicolek, dagu Nia bukanlah sabun, yaitu: sabun colek!

“Ah, kamu, Wi! Bikin kaget saja! Aku lagi mikir, nih!” Balas Nia sambil mengusap dagunya setelah dicolek Dewi. Bisa jadi, ada najis dari tangannya Dewi. Wuih, segitunya, sih!

“Halah! Mikir, mikir terus. Kayak kamu ini presiden saja, banyak mikir.” Dewi tertawa. Terlihat gigi-giginya yang diberi kawat gigi. Tentunya itu kawat khusus untuk gigi, bukan kawat untuk mengikat besi yang biasa digunakan untuk mengecor itu.

“Memangnya kamu tahu apa yang kupikir?”

“Ya, pasti tahu, lah! Aku lihat dari bahasa tubuhmu.”

“Wuih, bahasa tubuh?” Nia tersenyum.

“Kamu pasti mikir CPNS lagi, ya?”

Nia hanya mengangguk. Memang, cuma itu yang menjadi bahan pemikiran dan lamunannya sehari-hari.

“Sudahlah, Nia. Jangan mikir sesuatu yang belum pasti, ah! Lebih baik, kamu ikut aku saja kerja. Ada tempat kerja baru, lho! Masih butuh pegawai. Itu, ada toko HP yang baru saja dibuka di pinggir jalan itu. Nggak terlalu jauh dari sini, kok!”

“Toko HP? Punya siapa, ya? Kok aku baru tahu?”

“Yah, kamu ketinggalan pesawat! Itu tokonya Agus yang dulunya jual pulsa di pinggir jalan itu. Nah, sekarang dia sudah punya toko sendiri. Bagus nggak itu?”

Nia membelalak matanya. Tidak sampai ke luar dan lepas dari lubangnya, sih!

“Apa?! Agus yang itu? Yang jual pulsa pinggir jalan itu?” Nia masih tidak percaya. Memang kalau yang ini dia masih belum percaya. Namun, untuk urusan lain dia percaya, seperti kalau satu ditambah satu sama dengan dua, dia percaya itu!

“Betul itu! Ternyata ada juga orang yang bisa sukses meski bukan PNS. Ayolah, cepat ikut aku!”

“Hem, okelah. Tapi aku mandi dulu, ya?” Nia sudah lupa kalau dia pernah tidak membayar pulsa dari Agus.

“Sudah, cepat sana!” Dewi sedikit berteriak.

~ Selesai ~

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Kendari Pos, Minggu, 9 November 2014

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!