Qalbu yang Sedang Kelabu

Qalbu yang Sedang Kelabu

Share This:

Kisah ini memang pada dasarnya fiktif. Meskipun kisah ini fiktif, tetaplah bukan fakta yang senyatanya. Ya, iyalah.

Perempuan itu baru saja melepas jilbabnya. Digantungkan di tempat gantungan. Hari ini capek sekali. Menerima setoran hafalan murid-muridnya.

Hanya dengan cara itulah, dia menghibur diri. Menghabiskan harinya dengan mengajar Al-Qur’an. Menghadapi para santri akhwat mulai SMP dan SMA. Menghadapi mereka yang sedang tumbuh puber itu. Kadang senang, kadang pula bikin jengkel setengah mati. Terlebih jika mereka melakukan pelanggaran.

Sambil Jualan

Honornya sebagai tenaga pengajar memang minim. Pas-pasan banget buat kebutuhan sehari-hari. Beruntung, dia tinggal di asrama pesantren. Makan dan minum ditanggung pihak pesantren. Jadinya, lebih hemat daripada harus tinggal di luar, seperti di kost atau bahkan hotel. Alamak, hotel ya jelas lebih boros!

Penghasilan minim itu masih kurang kalau harus beli sesuatu. Misalnya mau beli Rolls Royce jelas kurang banyak. Ini sih keterlaluan juga mau belinya ya?

Agar ada tambahan uang saku, perempuan itu pun berjualan baju. Apakah sembarang baju? Oh, tentu tidak. Jelas baju jualan asli, bukan bajunya sendiri yang dijual.

Sebagai seorang muslimah yang baik, masa mau jualan baju-baju seksi? Jelas tidak bisa. Walaupun nanti yang pakai baju-baju itu seksi konsumsi atau seksi pembinaan muslimah, dan sungguh tidak cocok untuk dipakai seksi keamanan!

Baca Juga: Cerpen: Dua Angsa

Dia menjual baju gamis. Eits, ini hari Sabtu, bukan gamis. Dia juga jual jilbab panjang. Nah, itu namanya jilbab syar’i, jilbab yang menutupi tubuh sampai ke bawah, biasanya sih pantat ke bawah. Tidak menerawang, tidak penuh corak aneh, dan tentunya tidak juga panas.

Warnanya pun biasanya polos. Biru tua, hitam, coklat tua, abu-abu, seperti itulah. Warna abu-abu ini juga tidak ada kaitannya dengan Abu Sulaiman, Abu Malik, maupun Abu Yusuf. Jangankan si perempuan itu, saya sendiri yang menulis ini juga tidak kenal kok!

Lewat Whatsapp

qalbu-1

Sarana promosinya lewat FB, WA, dan IG. Pajang foto produk sewajarnya, sekadarnya. Yang penting posting saja, lah. Mau ada yang lihat terserah, tidak juga terserah. Orang lain bilang terserah, dia pun lebih terserah. Kalau begitu, saya yang menulis ini juga bisa terserah dong?

Katanya, berjualan online itu perlu yang namanya copywriting. Itu lho bahasa-bahasa penjualan. Pakai headline yang memikat, paragraf-paragraf yang menggerakkan orang untuk buka dompet, terserah dompetnya sendiri, atau dompetnya orang. Eh, copet itu!

Lumayan juga hasil jualannya. Terlebih teman-temannya cukup banyak. Teman-teman dulu di kampusnya yang merupakan perguruan Islam terkenal di negeri ini, meskipun swasta. Lho, kampusnya negeri atau swasta sih? Maksudnya kampus swasta di negeri Indonesia gitu. Ohhh…

Dari hasil penjualan, tentu saja disimpan untuk kebutuhan masa depan, tidak mungkinlah untuk kebutuhan masa lalu. Ditambah dengan honor sebagai pengajar pesantren, sudah lebih dari cukup. Untuk saat ini lho ya, karena dia masih gadis ting-ting. Hem, berarti perempuan yang sudah menikah atau tidak gadis lagi namanya emak tong-tong ya?

Dilihat Terus

Ada satu teman WA-nya, laki-laki, yang sempat berkomunikasi dengannya. Seharusnya sih tidak usah komunikasi macam begitu, tetapi karena ada keperluan, maka komunikasilah di antara keduanya.

Sekarang, sudah jarang sekali komunikasi. Urusannya sudah selesai. Tapi, tunggu dulu! Urusan perasaan masih belum selesai. Masih belum finish. Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Aldebaran jadi mudik lebaran? Malah bahas sinetron!

Laki-laki itu sering melihat status WA-nya. Dan, si perempuan itu memang cukup rajin membuat status. Tentang kegiatan para santrinya, dia upload, dengan editing seadanya. Jadinya, wajah santri jadi blur, jauh banget lho ya, dari babak blur. Itu mah mengerikan.

Baca Juga: Cerpen Fiktif: Kaki-kaki Hasan

Ketika dia upload atau bikin status WA, laki-laki itu cepat melihatnya. Awalnya biasa saja, lama-lama jadi saja biasa, wah, cuma kebalikan doang! Dia mulai disergap perasaan yang – hem – aneh. Statusnya yang sering dilihat, menjadikan dia merasa diperhatikan. Merasa diikuti terus aktivitasnya. Foto-foto jualannya pun ditonton. Bahkan, dia memberikan saran agar foto tersebut lebih dipermantap lagi. Wuih, segitu perhatiannya!

Adanya denyut-denyut asmara, menyusup perlahan ke dalam hatinya. Ke dalam qalbunya. Istilah qalbu memang lebih enak dipakai daripada kalbu yang berarti anjing dalam bahasa Arab.

Saat posting foto, laki-laki itu juga memberikan saran agar membuat beritanya saja. Oh, ini maksudnya foto kegiatan santri. Namun, perempuan itu cuek saja. Cuek bebek. Ngapain itu dibalas? Eh, ketika hatinya memberontak ingin membalas, jarinya kelu untuk mengetikkan suara hatinya.

Malam yang Tanpa Matahari di Jumantara

qalbu-2

Sudah tahu malam itu tidak ada matahari di langit atau jumantara, kenapa ditulis juga di subjudul sih?

Sebelum cerita ini ditutup, perempuan itu rencananya mau tidur. Mau memejamkan mata. Istirahat total, bukan istirahat pertamina, meskipun total dan pertamina itu sama-sama pom bensin. Sama-sama SPBU. Nah, singkatan SPBU memang cocok untuk perempuan itu, artinya: Sering Posting, Butuh Uang! Mau lucu, mau tidak, tolong ketawa dong?! Iyak, makasih.

Antara iya dan tidak, qalbunya berkata begitu. Apakah ini nanti ujungnya akan terjebak pada cinta yang tak pasti? Seperti temannya, dan dengan laki-laki itu juga! Ternyata, laki-laki itu memang playstation, eh, kok playstation? Maksudnya playboy.

Kalau sudah tahu begitu, si laki-laki itu termasuk tidak benar, kenapa mesti direspon chat-chatnya? Dia mestinya sadar bahwa korban tidak cuma dia. Iya, itu teorinya. Namun, hatinya tetap merasa ada yang aneh. Ada rasa-rasa gimana gitu?

Hem, pastilah itu karena dia belum mendapatkan jodoh. Belum mendapatkan suami yang sholeh. Makanya, dia hampir larut ke laki-laki yang salah, meskipun memang termasuk laki-laki yang mapan dan berpenghasilan lumayan. Hem, daripada qalbu yang terus menjadi kelabu, lebih baik dia menambah tilawahnya, menambah hafalannya. Itu lebih membantu.

qalbu-3

Baca Juga: Aku Bukanlah Pelakor [Diangkat Dari Kisah Nyata]

Share This:

17 Comments

  1. Waaw cerita luar biasa pak.. . InsyaAllah Allah telah persiapkan seorang laki-laki terbaik yang akan mengidi qolbu mu gadis.. Semangat terus untuk mengisi hari-hari dengan hal positif..

  2. Betul sekali saya setuju jika Qalbu sedang kelabu kita harus mendekat dengan yang Maha Pencipta Qolbu

  3. Wah harus jaga hati ini Pak. Biar tidak masuk perangkap play station eh playboy. Karena sering pasang status. Bisa saja Pak Rizky.

  4. Cerita yang menarik. Jangankan ke perawan kalau playboy ke ema-ema juga pasti genit dia. 🤭🤭🤭

    1. Namanya juga playboy, mungkin ke nenek-nenek saja yang tidak genit, atau malah si nenek yang genit? Halah..

  5. Menarik juga ceritanya. Semoga yabir kelabu yg menyelimuti qalbunya segera sirna, dan mendapatkan jodoh pilihan Allah, aamiiin

  6. Cerita inspiratif yang dikemas dengan gaya khas Pak Ketua. Senyum-senyum tanpa sadar dirasuki nilai-nilai positif.

  7. Pak Rizki ini isi artikelnya dan tata letak tulisannya luar biasa bagus kapan kita diajari Pak.

    Mohon kritik dan saran pada tulisan saya di blog

    1. Ohh, website saya ini bukan blogspot, Bu. Saya pakai wordpress berbayar. Ada memang pengembangan yang saya biayai sendiri juga. Kalau mau ajari boleh saja, semoga ada kesempatan, Bu.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!