Tidak Terbayangkan Sebelumnya, Ada Pemuda Mengecat Tembok Kreatif

Tidak Terbayangkan Sebelumnya, Ada Pemuda Mengecat Tembok Kreatif

Share This:

Kalau dalam Bahasa Indonesia, kata yang cuma satu suku kata, maka kalau disambung mesti dengan kata “menge”. Contoh: mengecat, mengepel, mengelap, mengelas dan lain sebagainya. Tapi, sungguh tidak terpikir, ada pemuda mengecat tembok kreatif dengan huruf Hijaiyah dan ilmu lainnya!

Saya dapat foto-fotonya dari Facebook. Dari teman Facebook Saya, seorang emak-emak yang sudah menikah. Pujian banyak ditujukan kepada pemuda itu. Banyak like sampai ribuan. Idenya sih sederhana, menggunakan tembok kosong yang cuma putih. Kalau kondisi putih begitu, bisa-bisa jadi tempat grafiti anak-anak remaja yang iseng. Betul ‘kan?

Bikin Status

Remaja yang cuma corat-coret tembok itu jelas remaja tidak kreatif. Asal jadi saja. Mereka bikin status di situ, demi menunjukkan eksistensinya sebagai anggota geng motor misalnya. Padahal, ikut geng apa untungnya sih? Uang juga tidak ada, malah sering ke luar uang. Cuma buang-buang waktu yang sangat tidak bermanfaat. Meskipun memang ada manfaat positifnya ikut anggota geng motor.

Baca Juga: Semua Orang Mau Jadi PNS? Adakah yang Tidak Mau?

Terus, kalau itu masuk di temboknya orang, berarti ‘kan menggunakan milik orang lain tanpa izin. Ah, pokoknya susah juga kalau mental remaja sudah seperti itu. Biasanya sih terpengaruh lingkungan. Terus, apa saja yang biasanya dijadikan obyek grafiti?

Klub Sepakbola

Sekadar menunjukkan bahwa cinta tim sepakbola, bisa dengan bikin grafiti di tembok. Apalagi pendukung fanatik. Padahal tim sepakbola itu dalam bertanding kadang menang, kalah atau seri. Wajar ‘kan? Namun, mereka memaklumi. Yah, tim sepakbola kan manusia juga. Jadi, buat apa jadi terlalu fanatik? Contoh grafiti tim sepakbola berikut ini:

Nah, PSIM kepanjangan dari Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram, berlokasi di Yogyakarta. Keren juga sih grafitinya, asal dijaga saja kondisinya jangan sampai ada tim lawan yang merusak. Hehe….

Geng Remaja

Kalau remaja, ada yang tergabung dalam sebuah geng. Baik itu remaja laki-laki maupun perempuan. Kalau remaja laki-laki, mungkin masuk di geng motor. Terus, kalau perempuan, geng mobil gitu?

Baca Juga: 5 Tips Agar Tetap Sehat dan Segar, Meskipun Sering Kerja Malam

Adanya geng remaja, menjadikan remaja seakan-akan bisa mengungkapkan harga dirinya. Selama ini, dia mencari jati diri, eh, menemukan tempat yang cocok. Meskipun geng motor itu belum tentu positif juga, yang penting gabung dulu, lah…

Seperti corat-coret geng remaja di bawah ini, sama sekali tidak tampak keindahannya:

Beda memang sih antara mural dengan grafiti. Jika mural lebih bisa berwujud gambar, tidak hanya tulisan, sedangkan grafiti, lebih banyak tulisan.

Patah Hati

Remaja dan cinta memang bagaikan dua sisi mata uang. Apalagi jika awalnya sudah mulai naksir, kalau diteruskan, walah, malah jadi pacaran.

Terus, karena pacaran itu hubungan yang tidak jelas, atau karena suatu masalah, maka mereka berdua putus begitu saja. Patah hatilah yang satu. Bisa jadi yang laki-laki, jadi membuat grafiti yang isinya adalah mengungkapkan patah hati tersebut. Seperti gambar di bawah ini, apa manfaatnya ada gambar itu ya?

Masih ada yang lain lagi, misalnya: nama sekolah, nama kampus, nama fakultas, maupun nama diri sendiri. Masih banyak contoh lainnya. Namun, bagaimana jika ada yang anti mainstream. Membuat grafiti tapi dengan pesan dan makna dakwah serta untuk belajar Islam?

Lain halnya, kalau begini:

pemuda-mengecat-tembok-kreatif
Masih Kosong, Tapi Sudah Mulai Berwarna

Lho, gambarnya mana? Katanya ada gambarnya. Tunggu, Bro, ini dia:

pemuda-mengecat-tembok-kosong-kreatif

Nah, gambar huruf Hijaiyah. Waow, ini termasuk pemikiran yang “radikal”! Di saat orang lain yang mengajar mengaji anak-anak membacakannya lewat Iqra jilid 1, ini malah digambar di tembok. Hayo, kamu sendiri sudah hafal belum dengan huruf-huruf itu? Itu baru huruf-huruf saja, kalau yang ini lebih panjang:

pemuda-mengecat-huruf-hijaiyah-di-tembok

Dua gambar di atas sebelumnya itu, huruf Hijaiyah, ini jadi amal jariyah yang luar biasa bagi pemuda tersebut lho! Ketika ada orang lewat di gang itu, mau tidak mau, mesti membaca huruf-huruf itu meskipun dalam hati. Dan, ini luar biasa. Kaidahnya, membaca satu huruf Al-Qur’an sama dengan satu pahala yang bisa digandakan menjadi sepuluh kebaikan. Kan ngono toh?

Tidak Hanya Ilmu Agama

Pemuda kreatif ini tidak cukup dengan ilmu Al-Qur’an, tetapi juga ilmu penting bagi anak-anak. Apa itu? Matematika. Ada yang mengartikan: makin tekun makin tidak karuan. Haha… Makanya, perlu dibikin cara belajar yang kreatif dong…! Salah satunya seperti di bawah ini:

pemuda-mengecat-tembok-tabel-perkalian

Itu adalah gambar saat dia mulai membuat tabel perkalian.

Hey, halo, tabel perkalian! Ini adalah sesuatu yang mungkin dulu kita hafalkan cuma dari tabel bentuk kertas. Tabel itu ditempel di dinding kamar kita. Daripada ditempel begitu, mending langsung dibikin di temboknya sekalian. Hasilnya seperti ini:

pemuda-mengecat-tembok-kreatif-tabel-perkalian-matematika

Kesimpulan

Menjadi kreatif itu memang bisa terbagi menjadi dua jenis, satu kreatif jelek, satunya kreatif bagus. Kreatif jelek seperti corat-coret sembarangan di tembok. Yah, daripada kosong. Begitu pikir mereka. Tulis sembarang nama geng, atau bahkan sesuatu yang cuma diketahui oleh si pencoret. Terus, yang didapatkan apa dong?

Lain lagi dengan kreatif yang bagus. Seperti bikin huruf Hijaiyah itu, paling tidak orang yang lewat akan membaca dalam hati. Pahala lagi… Perkalian, bisa dihafal anak kecil. Bahkan kamu kalau lupa, langsung cek saja ke temboknya.

Dan, untuk nama si pemuda mengecat tembok kreatif di atas, saya juga tidak tahu namanya. Karena belum pernah ketemu langsung sih. Hehe…

Menjadi seperti pemuda mengecat tembok kreatif mungkin masih banyak dibutuhkan di negara ini. Sebab tembok bukanlah sekadar tembok. Kita tahu, hakikatnya tembok adalah sebuah dinding. Sekian.

Baca Juga: 5 Cara Pinter Atasi Minder

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Share This:
error: Content is protected !!