Yuk, Terima Kekurangan Pasangan, Karena Kamu Sendiri Juga Ada Kekurangan!

Yuk, Terima Kekurangan Pasangan, Karena Kamu Sendiri Juga Ada Kekurangan!

Share This:

Sudah punya pasangan? Kalau sudah, maka tulisan ini cocok buat kamu. Bagaimana kalau belum? Tulisan ini juga cocok. Karena topiknya tentang menerima kekurangan pasangan.

Ketika kekurangan pada pasangan ini muncul, maka bisa jadi akan muncul konflik. Namun, perlu disadari bahwa kekurangan itu akan selalu ada, bahkan untuk yang sudah menikah lama sekali.

Menerima kekurangan pasangan yang menyebabkan jengkel, kecewa dan sakit hati tentu bukan perkara yang gampang. Jelas butuh yang namanya proses penerimaan yang terus-menerus. Akan tetapi, jika kamu mencintai pasangan dengan cinta yang luar biasa dan mau hidup selamanya, maka perlu mengecek dan melihat kiat-kiat di bawah ini agar nantinya kamu bisa menerima kekurangan pasangan. Yuk, simak!

Lah Kamu Sendiri Juga Ada Kekurangan Loh!

Ketika mau mengkritik pasangan karena banyak kekurangan, semestinya ngaca dulu dong bahwa kamu juga ada kekurangannya. Dan, itu hukumnya pasti. Tidak ada manusia yang sempurna ‘kan?

Boleh juga agar lebih adil, renungkan dan ingatlah kekurangan-kekurangan kita yang mengganggu pasangan. Misalnya, sering kentut, justru ketika sedang makan bersama. Kita anggap itu mungkin biasa-biasa saja, karena kentut adalah nikmat dan nikmat perlu untuk disebarkan. Wah, beneran ini pemikirannya?

Baca Juga: 9 Alasan Tanpa Pakai Adat Pernikahan

Bila pasangan kamu bisa menerima kekurangan-kekurangan kamu, maka perlu diingat bahwa dia adalah pasangan yang terbaik. Kekurangan kamu saja bisa dia terima, semestinya begitu pula dengan dirimu yang melihat kekurangannya.

Coba Cek Kembali Kekurangan Pada Pasangan

Terkadang kekurangan pasangan tidak sebesar yang dipikirkan, tetapi Anda bisa saja merasa kesal dan merasa bahwa keburukan pasangan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Padahal, sifat positif yang dimilikinya jauh lebih besar dibandingkan kekurangannya.

Temukan Alasan Ketidaksukaan Pada Diri Kamu

Ketika kamu merasa tidak suka pada pasangan, cek lagi apakah itu cuma gejala atau ada faktor lain? Bisa jadi karena ada masalah di pekerjaanmu, terus kamu timpakan jadi rasa tidak suka pada pasangan. Bisa saja ‘kan? Misalnya kamu habis dimarahi bos, terus ujungnya ditimpakan mula rasa jengkelmu ke istri, atau suami.

Mungkin pula, dulu pasangan kamu pernah kelihatan kurang nyata di depan, terus sekarang muncul lagi, jadinya marah lagi. Faktor seperti ini akan terus muncul selama kamu tidak sadar bahwa kekurangan itu terus melekat pada diri pasangan.

Awalnya di Sini

Ustadz Firanda pernah mengatakan dalam salah satu ceramah bahwa akhlak seorang suami itu paling terlihat ketika berakhlak kepada istrinya. Berhadapan dengan teman, atasan, bawahan, tetangga atau malah mungkin mantan, kalau akhlak baik, maka itu hal yang biasa. Semua orang juga bisa.

Namun, di dalam rumah, suami yang berakhlak baik kepada istri dan anak-anaknya, maka itu luar biasa. Aslinya kelihatan di situ. Coba kita lihat hadits berikut ini:

Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan,

“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (H.R. Tirmidzi dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan gharib sahih, sedangkan Ibnu Hibban dan al-Albani menilai hadits ini sahih).

Ketika suami berakhlak baik di kantor atau tempat kerjanya, maka itu hanya beberapa jam. Mungkin malah tidak sampai delapan jam, karena datang terlambat dan pulang sebelum waktunya. Hehe…

Baca Juga: [Temukan di Sini] 5 Hal Positif Saat Kamu Diblokir Mantan di Whatsapp

Alasan lainnya adalah dia mengharapkan jabatan yang lebih tinggi atau minimal mempertahankan yang sudah ada. Jika berperilaku buruk, maka akan dinilai buruk oleh atasan atau rekan kerja. Ujung-ujungnya, penilaian akan tidak sempurna. Efeknya akan menghalangi naik pangkat misalnya.

Tersiksa

Jika memang aslinya bukanlah orang yang ramah, halus tutur katanya atau sopan, maka ketika di kantor, dia akan tersiksa. Menampilkan wajah yang menyenangkan, sementara batin menderita, sungguh tidak nyaman. Aslinya sih, dia suka teriak-teriak di rumah. Teriak kepada siapa saja, suami, anak-anak, atau bahkan teman anak-anaknya yang bermain di rumah.

Menunjukkan rasa marah itu di kantor, dia akan mengalami ketakutan. Rikuh, bahasa Jawanya. Jangan-jangan, atasannya malah lebih galak daripada dia? Kalau atasan sudah marah dan jengkel, maka alamat karier yang rusak sudah di depan matanya.

Lalu ke Sini

Ada sebuah kalimat yang pernah saya tulis di Facebook, tepatnya begini: Istrimu bukan bidadari, kamu bukan malaikat dan anakmu bukanlah setan!

Jadi, kamu, istri/suami, juga anak-anak memang semuanya terbuat dari tanah, berbentuk manusia. Memang, manusia yang sempurna itu cuma Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kita sebagai manusia biasa, sering berbuat dosa, lupa beribadah, kurang dzikir dan lain sebagainya. Selalu saja ada kekurangan.

Begitu pula dengan istri yang tercipta dari tulang rusuk. Wujudnya tetaplah bengkok, mau diluruskan malah nanti akan patah. Bahkan yang paling bengkok adalah bagian paling atasnya. Maksudnya ada yang mengartikan itu adalah lisannya.

Istri berbicara marah itu kadang bukanlah maksud yang sebenarnya. Dia cuma menumpahkan kekesalan, beban yang tersimpan mengurus rumah tangga, siapa lagi kalau bukan kepada suaminya? Jika tidak ke suaminya, maka akan merembet ke medsos.

Semestinya, sebagai suami, biarkan saja dulu istri sampai marah begitu. Mengatakan yang selama ini telah bercokol kuat di dalam dadanya. Mungkin pula dia sambil menangis dan bersandar di bahu suaminya. Berikan saja dia kesempatan seperti itu. Setelah puas, maka perasaannya akan kembali nyaman dan enak. Seterusnya, berhubungan intim deh. Hehe…

Lebih lengkap tentang itu, cek saja di video berikut ini!

Kesimpulan

Dunia ji ini! Begitu kata orang Makassar. Bahwa dunia itu memang seperti ini. Selalu saja ada dua sisi. Baik dan buruk. Bahagia dan sedih. Tidak akan mungkin salah satunya dominan terus.

Menerima kekurangan pasangan menunjukkan bahwa kita punya kelebihan. Dan, kelebihan itu sewajarnya menutupi kekurangan kita sendiri. Kita kurang, dia juga kurang. Dari yang awalnya sama-sama kurang menjadi saling melengkapi. Ah, indahnya pernikahan kalau begitu. Semoga kamu selalu berbahagia dengan pasanganmu, di dunia dan akhirat. Aamiin…

Baca Juga: Aku Bukanlah Pelakor [Diangkat Dari Kisah Nyata]

Share This:
error: Content is protected !!