[Yuk, Cermati] 7 Manfaat Bermain Untuk Anak Usia Dini

[Yuk, Cermati] 7 Manfaat Bermain Untuk Anak Usia Dini

Share This:

Namanya saja anak-anak, jelas bermain adalah menjadi keseharian dan pekerjaan mereka. Tahukah kamu, apa saja sih manfaat atau fungsi bermain bagi anak usia dini?

Puaskanlah masa anak-anak dengan bermainnya. Begitulah ungkapan bijak yang menjadi perhatian bagi setiap orang tua dan keluarga. Jika anak-anak masih belum puas dengan masa bermainnya, bisa jadi nanti ketika dewasa akan main-main lagi. Termasuk dalam hal ini adalah bermain perasaan. Kan repot jika sampai menimbulkan korban.

Jenis Permainan Anak-anak Usia Dini

Kita mengenal permainan anak-anak usia dini itu banyak sekali. Aneka benda bisa dijadikan permainan. Bahkan, tubuh orang tuanya bisa jadi sarana permainan yang menyenangkan. Makanya, ada anak-anak bergelayut di punggung hingga kepala kita, tidak perlu marah dan jengkel. Bisa jadi dulunya kita lebih parah daripada itu.

Penjabaran Manfaat Bermain Untuk Anak Usia Dini

1. Berlatih Menghadapi Keadaan Permainan

manfaat-bermain-untuk-anak-kondisi-permainan

Ada kalanya mainan anak tidak seperti yang diharapkan. Mungkin saja, mobil-mobilan merah kesukaan rusak, bannya hilang satu. Sementara tidak ada bengkel khusus untuk mobil mainan anak-anak, terlebih usia dini.

Ketika anak dihadapkan kepada kenyataan yang mungkin menyakitkan itu, apakah dia akan memilih untuk tetap memainkan mainan itu atau pindah ke mainan yang lain? Jangan-jangan, dia lebih memilih meminta saja mainan baru ke orang tuanya? Eits, jangan langsung dipenuhi! Selama mainan tersebut tidak rusak-rusak amat.

Baca Juga: Fenomena Anak Kecanduan Game Online

Anak boleh diajarkan untuk menerima keadaan bahwa mainannya memang tidaklah seperti baru. Mungkin salah si anak juga merusakkan mainan. Namun, hey, tidak bisa dong anak disalahkan karena merusakkan mainan itu bagian dari proses permainan itu sendiri.

Jika anak sudah suka dengan mainan tersebut, dia tetap akan memainkannya meskipun ada yang rusak. Seperti anak-anak saya yang tetap bermain dengan mainan kesukaannya, boneka Iron Man. Padahal kakinya hilang satu. Atau malah tidak kakinya saja yang hilang, kepalanya juga. Toh, dia tetap asyik bermain juga. Bagaimana dengan kondisi anak Ayah dan Bunda?

2. Mengasah Keterampilan Sosial

Manfaat bermain bagi anak usia dini berikutnya adalah berlatih dengan kemampuan sosialnya. Yah, meskipun anak usia dini belum pernah kuliah di fakultas sosial atau mengambil jurusan sosial di perguruan tinggi, tetapi dari bermain itu sendiri, anak meningkatkan interaksi sosialnya. Dengan siapa? Ya, jelas dengan teman sebayanya, lah. Masa dengan kucing tetangga? Hehe…

Mungkin saja anak bermain dengan saudaranya, baik itu kakaknya maupun adiknya. Nah, di sinilah biasa muncul konflik. Tapi, konfliknya tidak sampai seperti sinetron Indosiar itu lho, yang ujungnya “kumenangis, membayangkan”.

Anak-anak konflik dengan sesamanya itu biasa sekali, Ayah dan Bunda. Meski tetap harus diawasi dan diberikan pengertian, konfliknya karena apa dulu nih? Jangan sampai betul-betul berkelahi hingga membahayakan tubuh teman mainnya!

Kalau cuma menangis sih masih wajar. Menangis mengeluarkan air mata juga masih wajar. Lho, kan memang menangis itu mengeluarkan air mata? Air apalagi selain air mata yang ke luar?

3. Bikin Anak Berbahagia

manfaat-bermain-untuk-anak-usia-dini-bahagia

Rasa bahagia memang selalu ada pada diri setiap anak. Jarang sekali kita temukan ada anak sedih karena memikirkan inflasi negara ini, kurs dolar yang masih tinggi, sulitnya mencari pekerjaan, bisnis online yang tidak laku-laku dan pertikaian antara Korea Utara dan Selatan. Jarang sekali bukan? Hah, bukan?!

Sebelum bermain, anak-anak sudah bahagia. Lihat saja senyum hingga tawa mereka. Alhamdulillah, anak saya sering menyambut saya ketika pulang dari kantor. Dari dalam, mereka berlari dan menyambut saya sambil teriak, “Abiii….!!” Masya Allah, langsung hilang capeknya. Padahal, tidak capek-capek amat juga sih. Kebanyakan duduk, bagaimana mau capek?

Kaitannya dengan menemukan kebahagiaan ini, manfaat bermain bagi anak usia dini sekaligus bisa mengeksplorasi lingkungan sekitar. Mungkin pot-pot kita bisa dijadikan mainan mereka. Misalnya, dengan dilempar ke selokan. Potnya hancur, bunganya musnah. Eits, jangan marah dulu, Bunda! Sebab, bunga yang hancur itu juga tidak berteriak kesakitan kok! Bisa saja, dia merasa senang sudah membuat anak Bunda senang. Hehe…

Biarkanlah si anak bermain-main dan puas dengannya. Bukankah antara Ayah dan Bunda juga selama ini merasa puas dengan kehidupan rumah tangga? Ya ‘kan? Terlebih puas yang itu, tuh!

4. Merangsang Tumbuh Kembang Otak Anak Usia Dini

Otak pada anak-anak jelas masih bisa berkembang. Itu dari kualitasnya lho, bukan kuantitasnya. Meskipun ketika anak mulai besar nanti, otak bisa menjadi lebih dari satu. Contohnya: otak utang, otak-otak, atau otak sapi yang tersaji dalam masakan padang. Hem, nyummy…

Baca Juga: Gangguan Mental Pada Anak

Dalam manfaat bermain untuk anak usia dini di poin ini, saya mau mengutip dari penelitian para psikolog. Mereka jelas lebih berpengalaman dalam ilmu psikologi. Ya, iyalah. Namanya saja psikolog.

Yang pertama, namanya Edward Fisher. Dalam penelitian Om Erward ini, dinyatakan bahwa 33-67 % anak yang aktif bermain ternyata dapat menurunkan masalah sosial dan emosionalnya.

Bagaimana dengan pendapat psikolog lain? Ada Om Donald Hebb yang menyimpulkan bahwa bermain layaknya latihan bagi otak. Dari dua penelitian tersebut, sudah sewajarnya dipahami bahwa manfaat bermain untuk anak usia dini itu memang tidak main-main. Sebab, pertumbuhan otak anak memang harus dalam laju yang baik. Salah satunya lewat bermain yang maksimal ini.

5. Memberi Anak Kesempatan Bagus Untuk Belajar

“Sudah belajar belum?”

“Sudah bikin PR belum?”

“Kamu sudah bikin skripsi belum?” Masa pertanyaan ini untuk anak usia dini?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kemungkinan akan membuat anak bosan. Kalau sudah bosan, anak bisa menjauh dari orang tua lho! Ini yang gawat, karena kalau anak menjauh dari orang tua, terus mau mendekat sama siapa?

Biasanya, di persepsi orang tua, belajar itu adalah mengenal huruf, berlatih hitung-hitungan, membaca buku yang disarankan oleh guru, menggambar sampai mewarnai. Lalu, dianggapnya, bermain itu hanya membuang-buang waktu saja. Anak yang main-main terus cenderung tidak disukai orang tua.

Okelah, anak usia dini memang perlu belajar juga, tetapi caranya bagaimana? Jelas tidak mungkin dengan rumus-rumus Matematika yang rumit. Jangankan si anak, orang tuanya saja bisa bingung setengah mati kok! Ya ‘kan?

Lewat bermainlah, anak usia dini bisa belajar. Dan ini menjadi manfaat bermain untuk anak usia dini selanjutnya. Bermain sambil belajar. Belajar sambil bermain. Belajar sambil belajar. Bermain sambil bermain. Lho, kalimatnya?!

Contoh belajar sambil bermain itu bagaimana? Misalnya nih, anak main-main lego. Ini benar-benar lego lho, ya, bukan legowo. Kalau yang disebutkan terakhir ini erat kaitannya dengan menerima apa adanya, terlebih dalam konteks politik tingkat tinggi. Halah, bikin pusing itu!

Ketika anak main lego itu, maka dia akan mengasah cara berpikirnya, bagaimana caranya bikin mobil misalnya? Atau yang lebih sederhana lagi adalah rumah-rumahan. Tidak perlu dibantu orang tua terlebih dahulu, biarkan anak mencari cara mewujudkan keinginannya tersebut.

Mungkin ketika anak tidak berhasil membuat sesuatu yang dia inginkan, dia akan menangis. Bisa keras, bisa tidak pelan. Orang tua perlu melihat dulu, apakah perlu dibantu atau tidak? Kakaknya bolehlah untuk membantu, tidak harus orang tua yang turun tangan. Dari percobaan berkali-kali gagal itu, anak usia dini akan mendapatkan pembelajaran yang sangat menyenangkan.

6. Kemampuan Bahasa Dapat Meningkat

manfaat-bermain-untuk-anak-usia-dini-bahasa

Anak pertama saya, pada umur tiga tahun, belum mampu mengucapkan kata-kata dengan jelas. Sementara adiknya, pada usia yang sama, sudah lancar bicara, kata-katanya cukup jelas dan enak didengar. Apa perbedaan di antara keduanya?

Saya mengamati bahwa dulu anak pertama kurang ada teman mengobrolnya. Memang sih, bicara dengan saya dan istri, tetapi sebayanya masih kurang. Lebih tepatnya adalah belum ada saudara kandungnya.

Baca Juga: Mendidik Versi Kurikulum Para Binatang

Ketika lahir adiknya, si sulung mendapatkan teman bercerita sekaligus teman bermain. Nah, adiknya tersebut ikut-ikutan pula bicara. Seiring interaksi permainan mereka yang sangat intens, maka kemampuan bahasa anak kedua meningkat pesat. Bahkan sudah bisa menghitung angka dalam bahasa Indonesia, maupun Inggris.

Meskipun jangan dibandingkan dengan anak yang lebih besar. Hitungannya masih sering salah atau terbalik. Namun, secara umum, saya mengamati sudah bagus, kok! Alhamdulillah.

Kaitannya dengan manfaat bermain untuk anak usia dini dari segi bahasa menjadi lebih lancar karena sambil bermain, anak-anak usia dini juga sambil bercerita. Mereka menggabungkan dari tontonan atau kehidupan sehari-harinya. Mungkin pula mainannya diberi nama yang unik. Otak mereka yang berpikir membuat cerita, lalu ke luar menjadi ucapan itu jelas membuat bahasanya meningkat.

7. Mengajarkan Makna Kehidupan

Tokoh-tokoh yang dilihat anak berasal dari berbagai macam profesi. Entah itu dokter, pegawai negeri, internet marketer, tukang becak, bahkan presiden dari layar televisi mereka.

Profesi yang berbeda mengajarkan kehidupan yang berbeda pula. Orang tua perlu mengajarkan hal tersebut, meski dengan cara yang sederhana. Kalau sudah begitu, anak-anak bisa terbayang seperti apa nanti besarnya? Lalu, muncul deh, di permainan mereka. Boneka-boneka kesukaannya bisa dilabeli aneka profesi tersebut.

Selain itu, orang tua mesti menasihati anak jika sampai ada yang berkelahi karena berebut mainan. Bagaimana rasanya berkelahi? Bagaimana rasanya menangis? Tentu capek ‘kan? Tidak nyaman bukan? Makanya, lain kali jangan sampai berebut mainan. Kakaknya perlu mengalah dengan mainan yang ada.

Kalau adiknya mainan mobil-mobilan warna merah, kakaknya juga jangan dengan mainan yang sama. Karena itu bisa membuat mereka saling berebut.

Ada juga lho contohnya, kakak yang sengaja membuat menangis adiknya karena memang ingin mendengar adiknya menangis. Dia merasa puas begitu saja. Hal itu dialami oleh anak sulung saya. Hehe…

Tips Bermain Untuk Anak

Bermain dengan anak diselingi dengan belajar akan menjadi amal kebaikan dari orang tua bila dipadu dengan nilai-nilai Islam. Contohnya, ketika anak usia dini main pedang-pedangan dengan saudaranya. Orang tuanya bisa bercerita bahwa di zaman dahulu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan para sahabatnya, berperang dengan orang-orang yang bukan beragama Islam demi menegakkan Islam.

Boleh juga dengan kisah para sahabat yang terkenal jago perang, macam: Khalid bin Walid, Hamzah, Umar bin Khattab, Usamah bin Zaid, Mus’ab bin Umair dan lain sebagainya. Masih lebih baik menceritakan kisah-kisah orang sholeh, daripada pahlawan-pahlawan khayalan Amerika yang digembar-gemborkan lewat media itu.

Seorang ustadz pernah mengatakan bahwa mengapa Amerika menciptakan tokoh-tokoh fiktif seperti itu dan dianggap sebagai pahlawan betulan karena sejatinya memang negara itu tidak punya tokoh pahlawan yang sebenarnya. Bandingkan dengan Islam, begitu banyak pahlawan yang sangat berjasa.

Tidak cuma pahlawan di medan perang, dalam pemerintahan, kedokteran, Matematika, sampai dengan ilmu-ilmu duniawi lain, semuanya ada. Ilmu-ilmu mereka menjadi dasar bagi ilmu-ilmu sekarang, termasuk dalam penerapan teknologi. Tinggal Ayah dan Bunda saja yang mencari referensi tepat tentang sejarah Islam.

Ketika anak bermain dengan senangnya, orang tua memang perlu hadir dalam momen tersebut. Ayah mungkin sibuk luar biasa, hingga tidak atau kurang sempat menemani anaknya bermain. Namun, ibunya? Apakah sibuk juga hingga lupa dengan keadaan di rumah?

Alangkah menyenangkannya jika Ayah dan Bunda menemani anak-anak bermain. Melihat tumbuh kembang mereka dari hari ke hari, bahkan jam ke jam. Momen menjadi anak-anak memang singkat, bahkan sangat singkat. Tahu-tahu sudah besar saja. Tahu-tahu sudah SD. Tahu-tahu sudah SMP. Dan, tahu-tahu sudah menikah, berkeluarga sendiri, punya anak. Ah, masa memang sangatlah singkat.

Baca Juga: Hubungan Antara Dampak Rokok dengan Berita Balita Memeluk Jenazah Ayahnya

Sumber: Kemdikbud dan Fimela

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.