Membangun Komunikasi Orang Tua dan Anak Pada Jaman Now

Membangun Komunikasi Orang Tua dan Anak Pada Jaman Now

Share This:

Apakah membangun komunikasi orang tua dan anak pada era milenial atau jaman now ini terasa susah? Sebelum menemukan jawabannya, boleh baca dulu yang satu ini ya!

Selain disebutkan pada masa sekarang adalah era milenial juga disebut dengan BDR alias Belajar Dari Rumah. Jadi, BDR itu bukan berarti Candi Borobudur ya! Hehe…

Tanpa terasa atau terasa sebenarnya ya, bahwa BDR ini sudah berlangsung hampir selama lima bulan lho! Nyatanya, tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi jika menyangkut komunikasi orang tua dan anak. Susah-susah gampang, gampang-gampang susah.

Untuk membantu orang dewasa, terutama kaitannya dengan komunikasi orang tua dan anak, maka sekolah Global Sevilla dari kampus Puri Indah dan Pulomas, menyelenggarakan webinar parenting dengan tema “Membangun Percakapan Bermakna dan Ikatan Kuat dengan Anak”. Kegiatannya berlangsung pada Sabtu tanggal 1 Agustus 2020.

Pembicara utama yang dihadirkan adalah Ferlita Sari, Psikolog PCC. Orang tua juga dihadirkan sekadar untuk sharing pengalaman. Adapun dari kalangan orang terkenal adalah Ferry Salim sebagai public figure dan Kania Sutisnawinata, seorang jurnalis senior. Tentu sudah pernah dengar nama yang terakhir ini ya?

Baca Juga: Penyebab Depresi Pada Remaja Karena Media Sosial

Ketika di awal, Ferlita memotivasi orangtua untuk menerima keadaan. Ya, apalagi kalau bukan keadaan atau kondisi pandemi seperti saat ini? Kondisi yang bisa menimbulkan stres bagi sebagian orangtua.

Menurut Lita, orang tua merasakan stress atau tidak nyaman itu normal alias wajar. Manusiawi kok. Mesti menerima kondisi dan kenyataan. Tapi, apakah cuma berhenti di situ? Seharusnya sih tidak. Karena Lita mengajak orangtua untuk bisa fokus pada sesuatu yang dapat dilakukan orang tua.

Hal positif yang dapat dilakukan orang tua adalah membangun kualitas dan kuantitas komunikasi orang tua dan anak agar tercipta ikatan yang kuat. Pertanyaan selanjutnya, pentingkah ini?

Ya, pentingnya sebab anak memang harus disiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan yang makin menantang. Ya, iyalah, namanya juga tantangan.

Riset Ekonomi

Berdasarkan data atau riset dari World Economic Forum, Lita mengatakan ada bekal-bekal kemampuan yang harus dipunyai anak ketika abad 21. Apa sajakah itu? Lita menyebutkan berupa: kemampuan berpikir kritis, analitis, fleksibel dan adaptif, mampu berkolaborasi, bekerja sama, kreatif, serta memiliki kemampuan komunikasi efektif.

Dijelaskan Lita lagi bahwa komunikasi orang tua dan anak yang bermakna bukan saja anak berbicara dan/atau orangtua berbicara, tetapi juga perlu untuk saling mengembangkan kemampuan mendengarkan.

Anak perlu dipenuhi 5 kebutuhan emosionalnya, yaitu: dicintai, dimengerti, dihargai, bernilai dan rasa aman. Remaja stres atau masalah, baik itu ringan maupun tidak berat, eh salah, maksudnya ringan maupun berat, biasanya ada salah satu kebutuhan emosional yang tidak ada atau tidak terpenuhi. Selain itu komunikasi orang tua dan anak yang bermakna tidak akan tercipta seandainya tidak ada ikatan yang kuat.

Baca Juga: Perlu Cara Cerdas Pakai Media Sosial, Karena Sejatinya Kita Memang Cerdas

Sebagai orangtua memang harus terus latihan membangun ikatan yang kuat. Caranya dengan mendengar penuh empati dan mengajukan pertanyaan bermakna. Apa maksud mendengarkan dengan empati tersebut? Kenapa juga langsung empati, bukan satuti, keduati, atau malah ketigati terlebih dulu?

Ternyata, jawabannya, mendengar dengan empati melalui proses komunikasi orang tua dan anak, empati itu artinya fokus, menerima, hadir, sabar, tidak menginterpretasi, dan tidak menghakimi.

Menjaga Anak Lewat Komunikasi dengan Orang Tuanya di Era Digital

Salah satu orangtua siswa yang bernama Ferry Salim alias public figure tadi, sadar bahwa teknologi tidak hanya memudahkan, tetapi juga bisa menjadi tantangan dalam membangun ikatan dengan anak. Kenyataan yang ada, anak-anak sekarang lebih sering main game daripada main dengan orangtuanya sendiri. Wah, repot juga kalau begini!

Nah, solusi dari tantangan tersebut adalah harus semakin didorong untuk mendekatkan diri melalui komunikasi orang tua dan anak. Kata Ferry, komunikasi orang tua dan anak termasuk hal penting yang harus dibangun. Baginya, hal tersebut merupakan transfer of emotion. Harus ada cinta, perhatian dan kasih sayang agar pola komunikasi orang tua dan anak dapat terbangun dengan baik.

Ferry juga mengajak orangtua untuk mendekati anak. Caranya dengan turut menemani anak saat bermain tanpa mengganggu privasi anak itu sendiri. Tambah Ferry, dengan mendengarkan, mereka lebih merasa dihargai dan terbuka dengan orang tua.

Jangan Berhenti Belajar Bagi Orang Tua!

Membangun komunikasi orang tua dan anak memang harus didasarkan pada semangat belajar dalam diri orang tua itu sendiri. Jangan sampai orang tua malah kalah dengan anak, apalagi menyangkut perkara teknologi jaman now. Kata Ferry Salim, masih dia lagi, bahwa anak tidak dapat terlalu disalahkan kaitan atau hubungannya dengan teknologi, tetapi juga tidak bisa diputuskan tiba-tiba pada teknologi tersebut.

Baca Juga: Fenomena Anak Kecanduan Game Online

Uniknya, zaman dahulu, anak tidak boleh membawa HP ke sekolah, sekarang justru sekolah mesti dari HP. Orang tua boleh juga memiliki akun IG alias Instagram demi menjaga anak-anaknya. Jangan lupakan juga dengan jejak digital. Jangan anggap sekarang bukan hal yang penting, karena bisa jadi di masa depan hal tersebut akan membahayakan anak-anak, apalagi jika sampai melakukan hal-hal yang negatif.

Sedangkan kata Kania Sutisnawinata, ada dampak positif dalam proses BDR selama pandemi ini, yaitu: kuantitas komunikasi orangtua dan anak yang meningkat. Orang tua bisa punya banyak waktu dengan anak. Setiap hari beri berkomunikasi dengan anak, termasuk usaha agar bisa membuat komunikasi bermakna, berdampak dan membangun bonding/ikatan dengan anak, demikian ujar Kania.

Salah satu hal atau kegiatan atau bisa dikatakan semacam ritual begitulah, momen yang pas untuk menjalin komunikasi orang tua dan anak dengan lebih mesra adalah lewat makan malam bersama. Ketika itu, orang tua jadi punya kesempatan untuk mendengarkan anak dengan lebih berempati, menggali dan meluangkan waktu dengan anak secara lebih bermakna. Ini juga ujar Kania.

Jurnalis senior tersebut mengingatkan bahwa anak nantinya akan tumbuh berkembang sendiri. Artinya akan menjadi individu yang memiliki pandangan dan perspektif berbeda dengan orangtuanya. Kania mengungkapkan tantangannya adalah bagaimana cara agar orang tua tetap ada untuk mereka. Orang tua jangan hanya satu arah. Anak cuma disuruh sama dengan orang tua, ini belum tentu harus semacam itu.

Menurut pengamatan dari Kania, bahwa anak-anak justru punya ketangguhan yang luar biasa lho! Dalam menghadapi perubahan ini, ternyata anak-anak bisa jauh lebih tangguh dan fleksibel dibanding dengan orang dewasa, bahkan orang tua. Antara orang tua dan anak memang bersama menghadapi situasi yang kurang menguntungkan.

Meskipun begitu, tetap yang harus dijaga adalah komunikasi orang tua dan anak. Mau pandemi atau tidak, hal itu jangan lelah untuk dilakukan. Sebab, jika tidak, anak akan mencari komunikasi dengan orang lain, atau bahkan media lain. Ya, kalau orang atau media tersebut benar, kalau tidak? Siapa yang rugi? Ya ‘kan?

Baca Juga: Menciptakan Masjid Ramah Anak: Dua Kisah Nyata

Sumber: Kompas

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!