Press "Enter" to skip to content

Mau Resign Dari Pekerjaan? Sudah Dipertimbangkan 7 Hal Berikut Ini?

Admin
Share This:

Manusia adalah makhluk yang berakal. Otomatis bisa berpikir. Apalagi bagi kamu yang berniat mau resign dari pekerjaan. Apa saja yang perlu dipertimbangkan? Coba simak 7 hal di bawah ini agar resign kamu tidak jadi pahit seperti jamu! Kecuali jamu kuat. Hehe…

1. Pengalaman Kerja Sudah Banyak Atau Belum?

Pengalaman Kerja
Terlatih dan Serius Menghasilkan Pengalaman Kerja, Selain Itu Membuat Tidak Sadar Sedang Difoto.

Bagi kamu yang pintar Bahasa Indonesia, pengalaman itu dari kata dasar apa ya? Hehe… Ini adalah kata yang pernah saya tulis kata dasarnya waktu masih sekolah, yaitu: alam! Tentu saja tidak ada kaitannya dan salah besar.

Namanya orang bekerja, pastilah punya pengalaman. Artinya, dari kerja-kerja yang dilakukan, tidak cuma gaji atau honor yang kita terima, tetapi juga berwujud kemampuan makin meningkat. Misalnya, kerja sebagai cleaning service. Mungkin awalnya, debu di lantai 1.000. Lalu mulai berkurang jadi 500, 350, sampai tinggal 10. Itu namanya ada peningkatan. Begitu kan cara menghitungnya? Namun, sanggupkah kita menghitung debu di lantai? Mungkin susah, apalagi bila kita merasa bagaikan butiran debu. Halah…

Sebelum memutuskan mau resign dari pekerjaan, hargailah pengalaman kamu di tempat kerja lama. Karena toh tidak mudah untuk menambah pengalaman itu. Bila ada keinginan kamu kepada bos atau atasan dan sampai sekarang belum terkabul, maka bisa jadi masih butuh banyak waktu. Masih ada proses-proses yang boleh jadi masih panjang.

Meskipun penghasilan tidak banyak, tetapi pengalaman kerja jadi banyak, maka itu juga bagian dari proses kesuksesan. Bukankah pengalaman orang lain adalah guru yang terbaik? Rupanya kalimat motivasi itu lebih benarnya menjadi: Pengalaman sendiri adalah guru yang terbaik! Apalagi jika Pak Alam adalah nama guru kamu dulu. Nah, kembali lagi ke “kata dasar” pengalaman adalah alam! Disambung-sambungkan saja sih.

Baca Juga: Mau Resign Kerja? Ingat Dulu Kalimat Sederhana Ini!

Kalau ada kalimat sederhana yang mudah dipahami, mengapa harus cari yang njelimet? Temkan kalimat sederhana itu di sini!

2. Dibalik Niat, Apa Kondisi Selanjutnya Setelah Resign?

Kondisi Selanjutnya Setelah Resign
Bayangkan dan Pikirkan Setelah Resign, Kira-kira Akan Seperti Apa? Pertanyaan Selanjutnya, Apakah Orangnya Sudah Benar-benar Resign Sehingga Tidak Muncul di Gambar?

Mengutip perkataan orang: Natsir telah menjadi tukang bubur. Setelah melakukan niat mau resign dari pekerjaan, selanjutnya apa? Bagaimana nasib kamu selanjutnya? Memutuskan untuk resign dari pekerjaan alias mengundurkan diri itu memang tidak gampang, salah satunya karena kondisi ini. What’s next?

Bagaimana pun, begitu kamu sudah mengajukan dokumen atau surat yang isinya mau resign dari pekerjaan, biasanya itu tidak bisa ditarik lagi, karena bisa robek! Namanya saja surat dari kertas, kalau ditarik kan bisa robek. Hal ini terutama setelah bos atau atasan kamu setuju kamu mundur. Dia juga ibaratnya ingin “membuang” kamu. Wah, jangan ada penyesalan di sini ya!

Hal yang harus diingat adalah kamu mesti punya pekerjaan baru setelah resign. Dan, tentunya dong, pekerjaan baru itu sudah sesuai dengan yang kamu inginkan. Jangan menganggur ya! Mencari pekerjaan baru yang cocok buat kamu itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Meskipun ternyata lebih susah lagi membalikkan telapak kaki. Bikin pegal. Begitulah.

Baca Juga: 5 Perasaan yang Muncul Setelah Resign Dari Pekerjaan

 

Tentang perasaan, itu termasuk sensitf. Namun, perasaan apa saja yang bisa ke luar setelah resign dari pekerjaan? Temukan di sini!

3. Bagaimana dengan Uang Kamu?

Uang Kamu
Mau Uang Kertas atau Receh, Janganlah Dianggap Remeh, Pastikan Cukup dan Membiayai Hidup

Mungkin saja, pengeluaran kamu dan keluarga akan meningkat setelah resign. Mengapa begitu? Ya, boleh jadi karena kondisi ekonomi yang tidak menentu. Misalnya, kamu mau bisnis setelah resign, eh, ternyata dari penghasilan bisnis kamu belum mampu memenuhi kebutuhan hidup. Harga-harga mulai naik. Biasanya, kalau sudah naik, susah turun. Kalau sudah di atas, lupa yang di bawah. Begitu katanya.

Pastikan kondisi keuangan kamu tetap stabil dan aman. Jangan sampai keinginan sebelumnya mau resign dari pekerjaan justru bikin kamu bangkrut atau malah mendekati ke sana. Sekali lagi, pastikan uang di dompet tercukupi mulai dari ruangan pertama, kedua, ketiga sampai masuk ke dalam basement.

Baca Juga: 5 Strategi Aman Secara Finansial

Aman dan nyaman, tentunya ini menjadi harapan. Lalu, bagaimana dengan finansial alias keuangan? Langsung meluncur saja ke link tersebut!

4. Jadilah Profesional, Jangan Jadi Kutu Loncat yang Bikin Sial!

Jadilah Profesional
Profesional Itu Menjadi Hal yang Esensial, Sedangkan Kutu Loncat Bisa Membuat Fatal

Sudah cuma jadi kutu, loncat-loncat lagi. Ini ‘kan perumpamaan orang yang selalu tidak pernah puas. Orang yang seperti ini, jelas dapat dikatakan tidak profesional. Terlalu sering pindah pekerjaan, itu akan berbahagia, eh, berbahaya untuk karier masa depan.

Oleh karena itu, sebelum ada niat mau resign dari pekerjaan, lebih baik tingkatkan profesionalitas kita. Bertahan di suatu pekerjaan bila membuat kita makin profesional, maka tidak usah dulu resign. Soalnya, jika kamu sering resign, maka akan dicap jadi kutu loncat. Ujung-ujungnya kamu akan disuruh cari kutu di kepala bos atau atasan kamu. Kan repot!

5. Masuki Garis Finish dengan Manis

Garis Finish
Rossi Bisa Berhasil Masuk Garis Finish, Maka Setelah Resign, Pekerjaan Harus Tuntas dan Habis.

Bagi kamu yang sudah memulai, maka jadikan itu bisa diakhiri. Termasuk dalam hal ini adalah berbagai macam pekerjaan kamu. Meskipun kamu mau resign dari pekerjaan, tetap dong harus profesional dan bertanggung jawab. Selesaikan semua pekerjaan kamu sebelum ke luar. Harapannya apa? Ya, jelas supaya kesan baik kamu bagi perusahaan lama tetap terjaga dengan baik.

Janganlah membuat kesan jelek terhadap mantan! Tentu yang dimaksud di sini adalah mantan tempat kerja kamu, bos kamu, rekan kerja kamu dan kantin tempat kamu biasa mengutang! Selesaikan semua dan nikmati kenangan yang mungkin indah. Bila kurang indah, maka sempurnakanlah di kerjamu yang baru yah!

Baca Juga: Posisi Siap Sebenarnya Untuk Siapa?

Siap grak! Bolehlah mengambil inspirasi dari baris-berbaris. Namun, siap itu apakah untuk sembarang orang? Buktikan jawabannya di sini!

6. Sampaikan Kepada Atasan, Resign Karena Suatu Alasan

Sampaikan Kepada Atasan
Apa Alasan yang Bagus Disampaikan? Dipikir Dulu Baik-baik, Agar Hasilnya Tetap Menarik

Menyampaikan keinginan mau resign dari pekerjaan, tidaklah cukup dengan surat lho! Mesti bicara langsung dengan atasan. Tatap muka. Empat mata. Jangan langsung kembali ke laptop!

Ini kaidah atau etika yang lebih sopan. Eits, tapi menyampaikan alasan mundur itu yang lebih tepat apa ya? Jangan sampai kita bilang ke atasan, “Bos, saya resign karena sifat bos yang tidak baik!”

Waduh, bisa gawat itu! Jelas bos bisa tersinggung. Apalagi karena alasan gaji. Kamu bisa dianggap tidak bersyukur. Meskipun yah, sebenarnya gaji di tempat itu kurang, tetapi sepertinya tidak etis dijadikan alasan resign. Kamu bisa cari alasan lain dan jangan lupa untuk latihan di rumah. Lebih bagus kamu berlatih di depan kaca atau cermin. Kamu akan lihat, eh, ternyata, kamu yang lebih pantas jadi bos! Cocok?

Baca Juga: Kamu Cocok Jadi Atasan Atau Bawahan?

Nah, mau lihat jawabannya, langsung segera klik di atas ya!

7. Menjadi Adaptor Alias Mampu Adaptasi di Tempat Baru

Mampu Adaptasi di Tempat Baru
Ketika Ada Halangan, Harus Ada Adaptasi.

Bicara adaptor, selalu kaitannya dengan elektronika. Sedangkan adaptasi, ya, kaitannya dengan poin 7 ini. Namanya saja lingkungan atau tempat kerja baru, pastilah butuh adaptor, eh, adaptasi.

Melakukan adaptasi tidak gampang. Butuh mental sekuat baja dan setangguh besi untuk menghadapi suasana baru. Entah itu jenis pekerjaan, rekan kerja, apalagi bos atau pimpinan. Mungkin saja, kamu beralasan pindah kerja atau resign dari kantor lama karena faktor bos di tempat baru. Katanya sih baik hati, tidak sombong dan rajin menabung, setia kepada nusa dan bangsa. Eh, begitu kamu masuk, lho kok?! Bosnya diganti atau malah dimutasi ke tempat lain. Yah… Berganti dengan bos yang mungkin saja lebih buruk daripada di tempat kerja lama. Waduh!

Bisa terjadi bukan yang seperti itu? Yah, bisa saja. Kemungkinan itu selalu ada. Makanya itu, adaptasi memang tidak mudah. Kalau untuk hal-hal yang sepele, ya, gampangnya seperti Sule. Tapi, kalau sulit dan bikin memble? Masa seperti Andre? Hehe…

Intinya, tetap harus hindari sifat suka galau, baper sampai mudah menyerah. Hidup ini harus jalan terus, Guys! Apalagi di era sekarang ini. Kalau mau jalan terus dan lancar, ya, pakai jalan tol, yang katanya sudah 191.000 kilometer itu. Jelas dong, ide dan harapan kita untuk kerja yang lebih baik, lebih jauh dibandingkan jarak itu. Kalau tidak percaya, silakan hitung sendiri. Haha…

Baca Juga: Cara Buat CV Jaman Now dengan 5 Website Khusus

KIni buat CV bukan lagi hat yang sulil, alias hal yang sulit. Yuk, temukan apa saja 5 website tersebut untuk buat CV? Dijamin hasilnya keren itu!

7 hal di atas memang menjadi bahan pertimbangan ketika kita mau resign dari pekerjaan. Namanya saja pertimbangan, ya, harus ditimbang-timbang dong. Sudahkah dan perlukah resign itu? Bila sudah siap, silakan lakukan! Namun bila belum atau tidak siap, lebih baik jangan coba-coba. Apalagi jika kamu sudah berkeluarga. Nantinya jika resign dan membuat keluarga lebih menderita, maka alangkah lebih enak bertahan di tempat kerja lama.

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!