Press "Enter" to skip to content

Mau Resign Kerja? Ingat Dulu Kalimat Sederhana Ini!

Admin
Share This:

Kerja, kerja, kerja! Sebuah semboyan penyemangat dari presiden kita, Pak Jokowi. Bangsa Indonesia ini tidak boleh malas, harus selalu siap dan mau kerja. Tapi, ada sebagian orang yang malah mau resign kerja. Tidak mau kerja lagi di situ.

Mengambil keputusan buat kerja, memang bagian dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang menganggur, ‘kan? Ketika dia tidur saja, jantungnya bekerja. Paru-parunya bekerja. Bahkan mulutnya juga bekerja, memproduksi iler. Hiii… Waduh!

Mau resign kerja, memang bisa dilandasi banyak faktor. Bisa dari atasan, tempat kerja itu sendiri, lingkungan atau memang muncul dari dalam diri. Mau resign kerja atau tidak, pilihan ada di tangan masing-masing. Terserah, tangannya itu mau kapalan atau tidak, resign kerja boleh diambil bila memang diperlukan.

Alasan Pekerjaan

Saat Sendirian, Mau Resign Kerja Bisa Muncul Tiba-tiba
Ingin Menyendiri dari Dunia, Ternyata Masih Bekerja Juga! Sumber: https://unsplash.com

Salah satu alasan orang untuk mau resign kerja pastilah karena alasan pekerjaan. Sibuk, kerja terus, hingga hampir sampai lupa waktu. Berangkat pagi, sampai maghrib. Pulang hanya untuk mandi dan ganti baju, berikutnya malam kerja lagi sampai larut. Pulang, keluarga sudah tidur semua. Akhirnya, jatuh kelelahan dan ikut tidur. Mata sudah 5 watt. Dan, untungnya mata itu bukanlah merek Philips. Karena Philips 5 watt masih cukup terang-benderang.

Ada sebuah kisah tentang seorang pegawai. Sebut saja namanya, hem, Heru saja. Dia mengeluh dengan pekerjaannya yang seabrek-abrek. Belum selesai yang satu, sudah muncul yang satunya lagi. Pokoknya, sambung-menyambung menjadi satu. Sepertinya, yang memberikan pekerjaan memang di rumahnya pakai pipa Wavin. Alhasil, pekerjaan itu mengalir terus sampai jenuh, bukan jauh.

Bahkan pekerjaan itu dirasakan semuanya kejar tayang. Semuanya dibenturkan dengan deadline alias garis kematian yang bisa membuat mati bila sampai terlewat. Akhirnya, membuat Heru stres hingga seperti gunung es. Ada goncangan sedikit saja, terasa kepala itu layaknya kapal Titanic yang menabrak gunung es dan bukan tembok es. Kalau tembok es itu biasa diartikan dengan Walls, merek es krim!

Terpikirlah keinginan untuk mau resign kerja pada diri si pegawai itu. Dia mengutarakan kepada beberapa rekan kerjanya. Dan, si rekan kerja tidak bisa memberikan banyak solusi. Karena mereka sendiri sudah banyak masalah, di antaranya kredit di bank. Pegawai itupun menjadi bingung. Mau resign kerja, apakah benar-benar mau atau bagaimana? Sudah dipikirkan dengan sangat matang, meskipun kepala jangan juga diguyur air yang matang!

Baca Juga: 10 Ciri Kamu Mesti Resign Kerja

Ucapan Salah Seorang Atasan

Jika ada yang mau resign kerja, mungkin karena atasan, maka yang dihadapi pegawai itu berbeda. Salah seorang atasannya, datang ke kantornya. Heru mengeluhkan tentang banyaknya pekerjaannya. Lalu, apa kata atasan itu? Cukup kalimat pendek: “Sudah begitu mi!”

Tunggu, kok sepertinya kalimatnya asing dari segi Bahasa Indonesia ya? Mi apa maksudnya di situ? Ternyata, percakapan itu memang terjadi di daerah Sulawesi, tepatnya Sulawesi Tenggara. Pakai logat Makassar. Kebetulan, kisah nyata ini memang terjadi di bumi Anoa. Sudah begitu? Ya, memang sudah begitu!

Ketika Sibuk, Bisa Muncul Keinginan Mau Resign Kerja

Ketika Sibuk Bisa Muncul Pikiran Mau Resign Kerja
Duduk Berjam-jam Kerja di Depan Komputer, Pegal, Sudah Begitu Mi.

Memang tidak semua pekerjaan itu bagus. Kalau toh pekerjaan itu bagus, tidak semua akan lancar terus. Selalu saja ada hambatan dan halangan di sana-sini. Dan, inti dari penyelesaian itu adalah: Sudah begitu mi! Begitulah pekerjaan. Itu dunia kerja. Berbeda dengan saat sekolah. Yang dipikirkan hanyalah soal Matematika yang tentu tidak diberikan bocoran oleh gurunya.

Oleh karena itu, ketika muncul dalam pikiran untuk mau resign kerja, cobalah untuk berpikir lebih jauh. Pekerjaan ini memang susah sekali membuat kita kaya, tetapi membuat cukup. Ada juga yang penghasilan masih kurang, tetapi itu masih lebih baik daripada tidak ada penghasilan sama sekali.

>>> Sudah begitu mi!

Ya, sudah begitulah dunia kerja. Ada juga seorang pengajar yang merasa resah dengan anak didiknya. Padahal yang diperlukan hanyalah sedikit ketegasan. Pengajar atau guru memang memegang otoritas yang lebih tinggi daripada anak didik.

Jadi, ada kalanya kita merasa marah, jengkel dan bete, apalagi kalau ditambah dengan jengkol dan pete, otomatis perasaan kita bisa berbau layaknya mulut. Mau resign kerja atau tidak, jangan lupa kalimat ini dalam menghadapi pekerjaan kita: Sudah begitu mi!

Baca Juga: Tong Kosong Nyaring Bunyinya [Ternyata Ada Hubungannya dengan Ayam dan Kura-kura]

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!