Kotoran Telinga Antara yang Nyata dan Gaib

Kotoran Telinga Antara yang Nyata dan Gaib

Share This:

Jangan berpikir jijik ya dengan tulisan ini! Sebab, kalau kamu berpikir jijik, masa saya tidak? Lho? Kali ini kita akan berbicara tentang kotoran telinga.

Apakah telinga kita selalu kotor? Atau telinga kita selalu bersih? Nyatanya, selama produk cutton bud yang ujung satu dan satunya putih itu masih dijual, maka kebutuhan untuk membersihkan telinga akan selalu ada.

Alat Pembersih Kotoran Telinga

Zaman sekarang beda memang dengan zaman dahulu. Ya, iyalah, tahunnya juga tidak sama. Yang membedakan kalau zaman dahulu, adalah membersihkan telinga dengan penjepit rambut yang warna hitam itu. Tapi jelas bukan pas ujung jarumnya, melainkan ujung melengkungnya. Itu asyik sekali buat membersihkan telinga. Kotoran telinga pun bisa nyangkut di ujung lengkung itu. Dengan selembar kapas, kotoran telinga dipindahkan.

Baca Juga: Sebuah Kisah Tentang Pengendalian Diri (Jangan Mau Terpengaruh Orang Lain)

Katanya, cutton bud itu malah mendorong kotoran telinga jadi tambah masuk ya? Ya, mungkin bisa saja. Sebab, lubang telinga sangat sempit, ujung dari cutton bud justru bisa mendorong kotoran makin ke dalam.

Kalau kamu lihat di marketplace, maka ada alat yang mirip bor. Bentuknya lembut dan lentur, ujungnya runcing juga, tetapi berulir. Nah, prinsip kerjanya seperti di iklan, kotoran akan berputar menjauhi telinga saat sudah menempel di alat itu. Seperti alat bor yang menggali gua. Kira-kira begitulah.

Namun, saya tidak sedang mau bicara alat pembersih telinga bentuk lain. Seperti cerita berikut.

Setelah Sholat

Biasanya, orang setelah sholat itu ngapain sih? Tentunya, sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, yang paling utama adalah berdzikir. Rampung berdzikir, bisa sholat sunnah kalau memang diperbolehkan dalam agama ini. Nah, untuk Subuh dan Ashar tidak boleh sama sekali sholat sunnah setelahnya, kecuali ada udzur. Misalnya: sholat jenazah dan sholat memasuki masjid (tahiyatul masjid).

Tadi saya sebutkan sholat Subuh dan Ashar, lebih bagus memang yang terakhir. Lho, kenapa? Ya, memang karena ceritanya ini terjadi waktu sore. Bukankah sore itu adalah waktunya Ashar? Hem, apakah orang yang bernama Ashar lahirnya pasti sore ya? Hehe…

Pada sebuah masjid, saya dan teman mengobrol setelah sholat Ashar. Ini sudah di luar masjid. Jangan bayangkan masjid yang saya singgahi itu sebesar Masjid Istiqlal. Widih, mana ada masjid sebesar itu di tempat tinggal saya?!

Meskipun tidak terlalu besar, tetapi tetaplah nyaman dipakai. Apalagi beberapa teman rutin berjamaah di situ. Saya berbicara dengan teman yang sering menjadi imam.

Membicarakan tentang sebuah pesantren yang ada di daerah saya tersebut. Bicara sana-sini, ngalor-ngidul, sampai akhirnya, dia mengambil kunci motornya. Bukan untuk langsung pulang, tapi dimasukkan ke dalam telinga. Hiiii…

Ke luarlah sejumput kotoran telinga. Lebih nggilani lagi, kotoran tersebut dioleskan di pijakan tangan belakang motor dinas saya. Itu lho, yang melingkar di bagian jok belakang. Bisa dipakai untuk berpegangan, meskipun yah, tangannya harus ke belakang.

Dia oleskan kotoran telinganya ke situ. Dengan tanpa akhlak. Jari tangannya masih kena kotoran telinga, seingatku dilanjut lagi. Kotoran telinga dioleskan lagi ke pegangan motor dinas saya.

Mau saya tegur, ternyata sudah terlanjur. Dan, pada sesi berikutnya, tangannya ikut teroles di jok motor. Bagian depan lagi. Tempat yang biasa saya duduki waktu naik motor. Waduh, di bagian belakang ada, di depan ada sedikit!

Saya tidak bisa langsung mencuci motor karena tidak bawa air, selang, sabun cuci, dan lap. Jadi, saya biarkan saja motor seperti itu, sampai pulang kantor. Di bagian depan tadi terpaksa saya duduki, karena mau duduk di mana lagi? Mungkin sedikit bekasnya itu menempel di pantat celana saya. Ah, mau diapakan juga, kecuali motornya dicuci.

Merenung Lebih Dalam

Melihat kotoran telinga sejumput kecil begitu saya sudah merasa jijik, soalnya itu ‘kan dari orang lain. Punya orang lain. Kalau kotoran telingaku sendiri ya tidak terlalu menjijikkan. Baunya juga berbeda dan khas kok. Weleh.

Ternyata, kotoran telinga yang bau dan bercampur sedikit lendir itu justru sering saya masukkan. Namun, di sini jelas makna yang gaib alias tidak tampak nyata seperti kotoran telinga teman itu.

Kotoran telinga yang bagaimana ini? Rupanya, ini bisa jadi perumpamaan ketika kita mencari obrolan-obrolan yang seharusnya tidak boleh kita dengarkan. Contohnya: membicarakan orang lain. Nah, ini adalah kotoran telinga yang mungkin paling kita gemari saking asyiknya. Ya, obrolan apalagi yang mengasyikkan kalau bukan menyangkut orang lain? Apalagi jika kita punya sifat kepo. Ini bukan berarti keponakan atau malah kepolisian lho! Hehe…

Baca Juga: Alternatif Lain Menggambar Pemandangan

Kotoran telinga hasil ghibah alias gosip itu sering kita masukkan mungkin dan makin banyak menutupi lubang telinga. Namun, justru karena bentuknya gaib, maka lubang telinga kita masih terus terbuka. Masih terus bisa menerima kotoran-kotoran telinga berikutnya. Dan, dengan sasaran orang berikutnya.

Apalagi Selanjutnya?

Yang berikutnya adalah obrolan pembicaraan agama, tetapi bukan ahlinya. Tentang ini, saya pernah punya tetangga kost. Tetangga kamar kost sepasang suami istri. Suami seorang tentara, sedangkan istrinya ibu rumah tangga biasa saja.

Kata si istri, suaminya itu tahu semua tentang agama Islam. Mendengar itu, batin saya langsung bertanya, “Oh, ya?”

Apanya yang paham agama Islam? Lha wong suami itu merokok kok! Sedangkan istrinya jangankan bercadar atau berjilbab besar, justru tidak pakai jilbab. Jadi, yang dimaksud tahu semua tentang Islam itu, yang bagaimana?

Itu salah satu contohnya. Kenyataan yang lain masih banyak. Obrolan-obrolan nongkrong yang awalnya bahas dunia, menyerempet bahas agama. Namun, karena di antara pengobrol itu bukan orang yang ahli ilmu, akhirnya jadi waton nylekop. Ngawur ngomongnya.

Saya punya seorang teman perokok yang protes merokok dikatakan haram. Dia berpendapat bahwa rokok itu makruh saja. Aduh, dasar perokok! Selalu mencari alasan agar bisa terus merokok, termasuk dengan memutarbalikkan dalil kalau perlu.

Dia tidak tahu bahwa makruh itu artinya sesuatu yang dibenci Allah. Bahkan, dia menantang saya untuk menunjukkan di mana Al-Qur’an disebutkan bahwa rokok itu haram? Ini jelas bikin kotor telingaku saja. Seharusnya bisa kubalikkan kalimat itu dengan mengatakan: “Pada bagian mana di Al-Qur’an mengatakan bahwa rokok itu halal?”

Kesimpulan

Saya tidak mau menulis terlalu banyak, karena pas kata ini, sudah 922 kata. Itu ada alat penghitungnya di bagian kotak untuk mengetik.

Yang jelas, kotoran telinga berupa ghibah maupun pembicaraan ngawur seputar agama Islam akan selalu kita jumpai. Kira-kira, solusi apa yang lebih tepat? Tentunya yang terbaik adalah menghindarinya. Buat apa kumpul dengan manusia-manusia semacam itu? Telinga kita ini belum tentu bersih sekali dari kotoran fisik, lha kok sekarang ditambah dengan kotoran bentuk gaib? Ya ‘kan?

Baca Juga: Hari Senin? Kok Banyak yang Tidak Ingin?

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.