Kebhinnekaan Global

Kebhinnekaan Global

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Judul yang cukup sulit dipahami sebenarnya. Namun, meskipun mungkin sulit dipahami, saya akan membuatnya menjadi: lebih sulit dipahami!

Begini, saya mencoba untuk menjelaskan sesuai dengan tingkat pemahaman saya. Kebhinnekaan itu dapat berarti macam-macam. Mungkin yang paling gampang diingat adalah baliho-baliho yang tulisannya: Kepak Sayap Kebhinnekaan. Ada yang mengubahnya menjadi Kepak Sayap Kebonekaan. Wah!

Bhinneka berasal dari Bhinneka Tunggal Ika. Artinya: berbeda-beda, tetapi tetap satu juga. Ini menjadi penting dalam segala hal. Sesuatu yang berbeda, tetapi dapat disatukan juga.

Misalnya: dalam urusan pernikahan. Muka jelas beda. Latar belakang, depan, dan samping juga berbeda. Begitu pula pekerjaan. Yang laki-laki adalah pengacara artinya pengangguran banyak acara, sementara yang perempuan adalah ibu rumah tangga. Di rumahnya cuma ada tangga.

Hal yang menjadi masalah adalah pernikahan beda agama. Ini jelas sudah menyalahi syariat Islam yang saya anut. Pertanyaan besarnya adalah: Apakah dalam satu agama sudah tidak ada lawan jenis yang menarik lagi? Kenapa harus beda agama?

Pernikahan yang satu agama saja bisa konflik kok, apalagi kalau berbeda agama. Masa dalam satu rumah sesembahannya berbeda? Jika menu makanan beda tidak masalah. Satunya nasi goreng bagi bapaknya, satu lagi nasi goyeng bagi si anak karena anaknya memang cadel. Bila tidak cadel, mungkin disebutnya cader.

Apalagi menyangkut anak-anak. Bapaknya Islam, ibunya nonmuslim. Terus anaknya pilih yang mana? Bikin bingung ‘kan? Masa Senin sampai Rabu ikut bapaknya, terus Kamis hingga Ahad ikut ibunya? ini lebih lucu lagi. Jadi, alangkah baiknya jika menikah satu agama saja.

Dalam kenyataannya, ada yang laki-laki dan perempuan sebelum menikah beda keyakinan. Wah, ini memang nasib! Maksudnya di sini adalah beda keyakinan, yang laki-laki yakin bisa menikah dengan si perempuan, sementara yang perempuan sangat yakin untuk menolaknya. Hadeh…

Menyangkut Global

Kalau “global” cenderung identik dengan rayuan. Ah, kamu rayuannya global! Dan, rayuan model begitu memang betul-betul global, bisa menyerang berbagai perempuan. Hayo, siapa yang bisa begitu ya?

Global juga identik dengan TV. Sebuah stasiun TV yang sudah tidak pernah saya tonton lagi. Lho, kok bisa? Jelas, karena di rumah sudah tidak ada TV lagi. Bagi saya, menonton TV itu menghabiskan waktu. Apalagi tayangannya sudah tidak menarik lagi sekarang. Kalau mau tayangan lebih menarik, mungkin akan lebih bagus presenternya keluar dari layar kaca. Nah, itu baru sangat menarik!

Pada jaman now, global sudah menjadi makanan sehari-hari. Ini ada kaitannya dengan dunia medsos. Kita bisa mengetahui kejadian di berbagai belahan dunia. Contohnya: perang antara Rusia dan Ukraina. Kita dapat mengetahui lebih jelas lewat media TikTok. Sebab, kalau lewat Facebook atau Instagram seringnya tidak netral lagi. Konten-kontennya sering diblokir atau dibanned.

Menggabungkan Keduanya

Kebhinnekaan global dapat dipahami menyatukan berbagai hal yang berbeda dalam satu kesatuan secara global. Kalau yang ini, lebih pas adalah lewat agama. Dan, saya mengambilnya dari Islam.

Lihat saja, tatkala ibadah haji dan umrah. Aneka bangsa, suku, warna kulit, rambut, mata, dan tidak lupa gigi, disatukan dalam satu ritual menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ada satu video dari seorang muslim yang membanggakan komando sholat berjamaah di Masjidil Haram. Dia berkata kepada temannya yang nonmuslim. Muslim itu bertanya, “Berapa lama kira-kira bisa mengatur ribuan orang di masjid tersebut?”

Yang nonmuslim jelas tidak tahu. Menurutnya akan membutuhkan waktu yang lama. Ternyata, dia merasa kagum dan takjub. Tidak sampai lima menit, aneka aktivitas orang di Masjidil Haram, thawaf, sholat, mengaji, menjadi satu kesatuan ibadah, yaitu: sholat berjamaah. Ini jelas luar biasa dan sangat mengesankan bagi si nonmuslim. Akhirnya, nonmuslim tersebut pun masuk Islam. Alhamdulillah.

kamis-menulis

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

2 Comments

  1. Alhandulilah tulisan yang begitu renyah, semoga banyak para pemuda yang berwawasan globsl dengan tetap pertahankan keyakinan hingga tak mudah pindah haluan,hanya kareba cinta seseiran reka korbankan akidahnya. Iman dan taqwa sebagai pondasinya.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.