Jadikan Ini Sebagai Panduan dalam Teknik Negosiasi dengan Anak

Jadikan Ini Sebagai Panduan dalam Teknik Negosiasi dengan Anak

Share This:

Dalam sebuah keluarga, tentu derajat orang tua lebih tinggi daripada anak. Tapi, ada kalanya, dalam hal-hal tertentu, butuh yang namanya teknik negosiasi dengan anak.

Mungkin bagi orang tua yang kolot, dan sering pakai celana kolor, anak tidak usah diberikan kesempatan untuk berpendapat. Anak harus nurut orang tua.

Bahkan, dengan dalil-dalil agama sekalipun, anak yang membantah orang tua disebut anak durhaka. Nah, apakah mau dikutuk jadi batu? Apakah nanti akan jadi Sangkuriang? Eh, kok salah legenda. Malin Kundang maksudnya.

Ya, persepsi anak harus nurut dan ikut terus kemauan orang tua adalah persepsi lama. Sekarang adalah zaman ketika anak perlu dihargai, dimanusiakan, bukan dibonekakan meskipun dia punya boneka mainan.

Orang tua perlu membuka dirinya agar teknik negosiasi dengan anak ini bisa berjalan mulus. Orang tua punya keinginan, anak punya keinginan, sedangkan saya juga punya keinginan, agar tulisan bisa selesai. Halah.

Agar teknik negosiasi dengan anak bisa berhasil, maka perlu ada panduan-panduannya. Berikut saya bagikan beberapa di antaranya. Seandainya ada yang kamu tahu juga, boleh share di kolom komentar ya!

Stay Cool, Men!

teknik-negosiasi-dengan-anak-1

Banyak di antara orang tua yang punya kulkas di rumah. Mungkin ada yang satu pintu, dua pintu, tiga pintu kalau perlu. Tapi, tidak ada yang punya jendelanya. Ya ‘kan?

Harga kulkas itu bisa mahal. Entah belinya baru, second, atau bahkan trisecond alias bekas-bekasnya orang. Kasihan banget ya?

Kenapa harga kulkas bisa cukup mahal? Jawabannya, mending kita beli, daripada bikin sendiri. Hayo, pilih mana? Pilih beli ‘kan?

Terus, apa hubungannya dengan tulisan ini? Yah, jawabannya sih hubungannya baik-baik saja. Tapi lebih pas jawabannya lagi adalah kulkas itu sebagai pertanda dan perlambang sesuatu yang dingin di rumah kita. Makanya, cocok dengan subjudul di atas: Stay Cool, Men. Cool akhirnya menjadi kulkas. Begitulah kira-kira.

Baca Juga: Kupas Tuntas Blog Susanto Dotcom

Nah, karena kulkas adalah perlambang kedinginan, namun belum tentu hal itu berlaku bagi para orang tua. Terlebih jika sedang menghadapi anak sendiri.

Masih cukup banyak orang tua yang menghadapi anaknya dengan emosi dan reaktif. Marah-marah, bahkan sampai memberikan hukuman fisik kepada anak. Mungkin dengan memukul, menendang, atau tindakan lainnya. Ihh, mengerikan!

Contohnya, saat anak kita memegang benda yang akan kita pakai, eh, dia tidak mau menyerahkan benda itu. Kalau mau cepatnya, orang tua tinggal membentak saja si anak. Dia akan kaget bin terkejut, ujung-ujungnya takut hingga menangis. Barang yang dipegangnya pun dengan mudah bisa diambil orang tua.

Pertanyaan selanjutnya, apakah mau seperti itu terus? Anak dibentak-bentak, padahal sebelumnya pernah batuk-batuk.

Solusi yang gampang ditulis dan dikatakan, tetapi belum tentu mudah dilakukan adalah tetap tenang. Ketika pikiran orang tua tenang, maka tindakan yang adem, bukan adem sari lho, akan lebih gampang dilakukan. Anak pun terhindar dari emosi-emosi negatif orang tua. Tapi, bagaimana caranya?

Jika anak memegang benda-benda yang akan kita perlukan, misalnya: laptop, buku, kunci mobil, motor, sepeda atau bahkan kunci eskavator kita, termasuk HP bisa jadi, maka carilah benda-benda lain yang mampu mengalihkan perhatiannnya. Buatlah kata-kata rayuan bahwa benda-benda pengganti tersebut lebih menarik dan membuatnya penasaran.

Hal itu bisa dilakukan dengan mengambil mainan-mainan lama si anak. Mungkin, si anak sudah bosan dengan mainan itu, tetapi kalau kita memberikan cerita yang berbeda pada si mainan, maka anak jadi tertarik kembali.

Pintar-pintarlah kita dalam membuat cerita. Boleh juga disesuaikan dengan tokoh kartun favoritnya atau cerita yang disukainya di TV. Masih banyak pilihan kata yang bisa diambil dalam teknik negosiasi dengan anak pada poin ini. Lanjut ke pion, halah, poin berikutnya.

Bagaimana Kalau Anak Merengek?

Menghadapi anak merengek, sungguh tidak lucu kalau orang tuanya juga ikut merengek. Nanti anak akan bingung, ini yang jadi anak siapa, yang jadi orang tua siapa sih? Ya ‘kan?

Biasanya, penyebab anak merengek itu ya tidak jauh beda kok, begitu-begitu saja. Contohnya: ingin jajan di kios terdekat atau bahkan di Indomaret atau Alfamart/Alfamidi. Ingin membeli mainan. Maunya mengganti barangnya yang lama dengan yang baru. Ingin makanan yang sedang dimakan orang lain juga. Seperti itu.

Baca Juga: 7 Cara Menggambar Pemandangan Alam yang Bagus

Perlu dipahami, bahwa tidak selamanya anak yang merengek itu betul-betul meminta sesuatu. Bisa jadi itu hanyalah ekspresi.

Betapa banyak kita temukan anak merengek minta sesuatu, tidak lama kemudian, dia berhenti. Ternyata, ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya lagi.

Huh, batin kita jadi lebih tenang, karena dia berhenti merengek. Eh, nyatanya masih merengek lagi karena minta sesuatu yang baru itu tadi. Hadeh..

Intinya, orang tua tetap mesti tenang. Stay cool seperti di atas tadi. Jika anak terus merengek, tanggapi saja dengan “iya, oke, baik”. Tujuan kita bukan untuk bohong, melainkan agar dia menjadi bosan. Selain itu, untuk lebih menenangkan perasaannya bahwa kita peduli kepadanya.

Teknik Empat Mata

Ini bukan membahas acara yang terkenal dengan “kembali ke laptop” itu. Bagaimana mau kembali ke laptop, kalau laptop kita saja belum dikembalikan? Waduh..

Teknik empat mata ini dapat dipakai orang tua saat menemukan anaknya merengek luar biasa. Istilahnya tantrum. Terjadi di depan umum, dilihat banyak orang. Ada perasaan malu atau tidak enak pada diri orang tua, akhirnya dituruti saja kemauan si anak.

Eits, kalau begitu caranya, maka di kesempatan lain, anak akan menerapkan strategi yang sama. Dia akan hafal, ohh, orang tuanya akan luluh kalau dia berteriak dan merengek keras. Apalagi di depan orang banyak. Siap-siap orang tua akan “diserang” dengan amunisi yang sama.

Solusinya? Pakai teknik empat mata ini. Meskipun orang tua pakai kacamata, seperti saya, tetap namanya empat mata, bukan enam mata, apalagi mata-mata. Yah, malah bahas film action.

Orang tua dapat mengajak anaknya ke kamar anak, sampaikan ke anak bahwa tantrumnya itu tidak baik. Orang tua perlu merendahkan badan agar setara dengan tinggi si anak.

Tambahkan dengan pegang telapak tangannya, tatap matanya baik-baik, rendahkan suara kita, senyum tidak perlu kita tampakkan, tetapi yang harus tidak boleh ada adalah emosi dan amarah.

Menjanjikan Sesuatu

teknik-negosiasi-dengan-anak-2

Bila orang tua mampu dan punya kesempatan, bisa dengan menjanjikan sesuatu kepada anak. Ini juga bagian dari teknik negosiasi dengan anak. Janji ini tidak sembarang diberikan, harus ada konsekuensi dari dirinya.

Contohnya, kalau dia sudah hafal surah-surah tertentu di Al-Qur’an, kita bisa membelikannya mainan. Jika hafal doa-doa yang diajarkan guru, orang tua akan mengajaknya jalan-jalan. Atau bila sudah bisa membaca dua buku, akan dibuatkan kue seperti yang dilihatnya di buku resep masakan.

Tentang janji ini, juga perlu diperhatikan, jangan sampai sembarang mengobral janji. Soalnya itu nanti akan jadi bumerang buat kita. Menjadi senjata makan tuan, dan senjata makan nyonya. Ternyata, tidak semua janji bisa menjadi senjata yang ampuh dalam teknik negosiasi dengan anak.

Kesimpulan

Melakukan teknik negosiasi dengan anak memang menjadi suatu tantangan bagi orang tua. Pada satu sisi, orang tua adalah pihak yang harus dituruti oleh anak, tetapi perlu juga membuka ruang komunikasi dan alternatif dari anak sendiri. Siapa tahu usulan dari anak lebih baik dan tidak terpikirkan oleh orang tua selama ini.

Keputusan akhir memang berada di tangan orang tua. Semakin bertambah angka usia orang tua, memang seharusnya semakin bijak dalam mendidik, terutama teknik negosiasi dengan anak ini.

Semoga berhasil, selamat mencccooooobbaaaaa…..

NB: Gabung yuk, nulis bareng yuk, di grup Cakrawala Blogger Guru. Caranya, klik saja gambar di bawah ini ya!

teknik-negosiasi-dengan-anak-3

Baca Juga: Kecantikan dari Hati, Kesehatan pada Diri, Tercermin dari Komoditas Lokal Terasi Udang Bombana

Share This:

16 Comments

  1. Bernegosiasi adalah kepiawaian orang tua, bagaimana meyakinkan anak tanpa mengabaikan eksistensi anak. Terima kasih sudah berbagi tips bernegosiasi.

  2. Wah harus dicoba ini jurus kulkas, adem sari, dan empat mata saat bernegosiasi sama anak. Terima kasih Pak ilmunya.

  3. Parenting bisa juga diselipi joke lucu. Inilah ciri tulisan Bung Rizky yang semakin menunjukkan jati sdiri

    1. Biar tidak tegang dibacanya, Pak, karena biasanya tentang parenting itu sesuatu yang cukup berat dibaca. Kira-kira begitu apa ya? Eh, kok malah tanya lagi? Hehe…

  4. Untuk bisa bernegosiasi membutuhkan kesabaran dan kreativitas orang tua. Beruntung Opin termasuk anak yang suka dengerin cerita. Saya dan mamaknya biasa bernegosiasi dengannya lewat cerita, apa saja.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.