[Hanya 10 Detik] Rahasia Menjadi Bahagia Setiap Hari

[Hanya 10 Detik] Rahasia Menjadi Bahagia Setiap Hari

Share This:

Menjadi bahagia setiap hari memang menjadi harapan bagi banyak orang. Namun, tahukah kamu, tidak butuh waktu lama lho! Cukup 10 detik saja, Insya Allah hal itu sudah terwujud.

Bicara tentang waktu selama 10 detik itu, saya teringat dengan teman kuliah saya. Inisialnya adalah A. Dia itu punya pacar dengan inisial L. Pacarnya juga saya kenal. Berarti teman saya juga.

Sekitar Tahun 2005

Saya lulus kuliah pada tahun 2008, menempuh pendidikan tinggi sarjana selama lima tahun. Tidak cumlaude memang, karena saya sih berbaik hati memberikan kesempatan bagi teman-teman saya untuk cumlaude. Silakan, posisi saya digantikan mereka. Saya ikhlas. Hehe..

Nah, si A tadi satu jurusan, satu kelas, satu angkatan, serta satu jenis kelamin pula dengan saya. Tepatnya di jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fisipol UGM. Waktu itu, gedung Fisipol UGM masih mirip kampus kerakyatan betul. Gedungnya sederhana, tampilan dindingnya juga sederhana. Anak-anak kuliahnya pun sederhana. Pakai kemeja murah, jins murah, sering juga saya lihat pakai sandal, itupun murah pula.

Beda memang dengan fakultas ekonomi yang tas mahasiswinya mirip salon berjalan. Ke kampus bawa mobil, eh, naik mobil, kalau bawa mobil mah berat. Mereka pakai HP terbaru, bahkan sepertinya belum diproduksi di pabrik, mereka sudah pakai. Wah, gimana itu ceritanya?

Kampus lain, semacam kedokteran juga mentereng. Gaya hidup atau lifestyle yang tinggi, bonafid. Saya sih tidak terlalu iri dengan mereka. Meskipun dari harta dan gaya hidup saya kalah, tetapi lihat dari kemampuan berpikir dong. Ternyata, saya kalah juga!

Baca Juga: Nafsu Terkendali di Bulan Ramadhan Karena Ini, Sudah Tahu Belum?

Oke, sekarang kembali lagi ke teman saya tadi. Mana dia ya? Oh, ya, ini masih ada. Jadi, antara A dan L itu pakai kartu yang sama, Indosat, mereknya IM3. Kartu itu sangat laris dipakai, sekarang sih lebih banyak Telkomsel di tempatku.

Hal yang menarik dari IM3 waktu itu adalah bisa dua detikan. Bicara dua detik, tidak terpotong pulsa. Waktu itu belum ada Whatsapp yang bisa telepon pakai paket data. Jadi, sebagai mahasiswa dan mahasiswi yang ngirit, tetapi pacaran juga, mereka memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh perusahaan tersebut.

Oleh karena dua detikan tidak kena biaya, saya mendengarnya jadi lucu. Ada nada dering, telepon, si A, bilang, “Ya?” Dibalas si L, “Di mana?” Tutup telepon lagi. A jawab lagi, “Di kampus. Kamu?” L jawab, “Jemput dong!”

Begitulah kira-kira. Percakapan yang hanya menghabiskan maksimal dua detik menghasilkan kalimat yang terpotong-potong layaknya martabak. Kalau dengan cara begitu, pulsa 10 ribu jadi lebih hemat. Berkurangnya sedikit banget. Bahkan, kalau cuma antara dua orang itu, mengisi pulsa hanya sebatas memperpanjang masa aktif.

Dari percakapan singkat-singkat itu, apa yang bisa disimpulkan? Bukankah mereka berdua tidak ikut Pramuka sehingga tidak main simpul-simpul?

Rupanya, saya pun menyimpulkan bahwa meskipun hubungan pacaran yang jelas tidak legal dan halal itu, tetapi ternyata waktu sedemikian berharganya. Walaupun hanya satu atau dua detik, itu sudah menjadi tanda komunikasi. Tanda perhatian. Tanda ikatan. Tanda tangan. Sebentar, yang terakhir ini, tanda tangan pencairan THR ya? Oh, ya, Alhamdulillah kalau sudah cair.

Memang Tersusunnya Seperti Itu

Waktu hidup manusia itu memang tersusun dari detik, ke menit, menit ke jam, jam ke jam tangan maupun jam dinding. Seperti tadi yang saya tulis, fitur gratisan percakapan dua detikan itu sudah cukup mewadahi. Saya sih tidak mau begitu. Selain karena saya malu, masa menelepon dua detik-dua detik, saya juga tidak punya pacar. Jadi, lebih nyaman di hati, lah. Meskipun mungkin banyak yang mau sama saya, setelah dicek, eh, malah mau muntah. Kan repot.

Seperti yang termuat pada judul di atas, menjadi bahagia setiap hari itu memang tidak mudah. Mana ada sih manusia yang berbahaya, maksudnya, berbahagia terus setiap hari? Bukankah manusia itu juga akan diliputi kesedihan, kegalauan, gusar, gundah gulana, gundah karena naik gulanya? Hidup ini seperti roda pedati. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang juga menginjak kotoran kuda di depan pedati itu.

Rasanya kok tidak wajar bisa menjadi bahagia setiap hari. Apalagi sekarang begitu banyak informasi yang masuk ke pikiran kita. Tidak semuanya berita yang menyenangkan, malah lebih banyak yang menyedihkan, ditambah mengerikan. Berita sampah. Misalnya, berita tentang penumpukan sampah di perkotaan.

Makin sering mengonsumsi berita-berita semacam itu, pikiran kita jadi terasa sakit. Aduh, kenapa begitu? Duh, kok ada sampai begitu sih? Rasa khawatir kita bisa makin menjadi-jadi. Jangan-jangan yang di berita itu menjadi kejadian dalam kehidupan kita. Hii, ngeri!

Resep menjadi bahagia setiap hari ini saya ambil dari Ari Ginanjar Agustian, pengusaha sekaligus pemrakarsa ESQ. Saya sih belum pernah ikut trainingnya. Bukan karena biayanya mahal, bukan, melainkan lebih karena uang saya untuk bergabung di dalamnya yang tidak ada, hehe…

Ari Ginanjar memberikan tips menjadi bahagia setiap hari dari videonya di TikTok. Waktu bikin video itu, beliau sedang berada di mobil. Saya juga tidak tahu plat nomornya, apalagi nomor rangka hingga nomor mesinnya. Ah, beliau saja juga belum tentu hafal.

Namun, yang saya ingat adalah beliau memberikan kiat menjadi bahagia setiap hari yang bisa dimulai saat kita ke luar rumah. Ini rumah sendiri lho ya, bukan rumah sakit, apalagi rumah tahanan. Rumah sendiri, ya, begitu konteksnya dalam video tersebut.

Baca Juga: Berita Bom Bunuh Diri, Bulan Ramadan, Berlebaran, Berkaitan Atau Bukan?

Selanjutnya apa? Setelah ke luar rumah apa? Masuk rumah lagi? Kalau itu sih dari saya, Ari Ginanjar tidak mengatakan begitu. Kata beliau, dalam waktu 10 detik pertama, saat ketemu dengan orang lain, doakan yang terbaik untuk mereka.

Misalnya, ketemu dengan pemulung. Tahu ‘kan artinya pemulung? Kata seorang pelawak Jogja, pemulung itu altinya olang yang tidak pelnah gembila. Paham?

Melihat pemulung yang mungkin membawa hasil pulungannya pakai sepeda, bisa kita doakan, “Ya, Allah, semoga orang tersebut mendapatkan kelancaran rezeki. Mudahkanlah dia menafkahi keluarganya, ya Allah. Aamiin..”

Selain pemulung, mungkin kita akan melihat lagi tetangga kita yang sedang pakai seragam sekolah. Mau ke mana dia? Ya, jelas mau ke sekolah, masa mau pergi memancing?

Bisa kita doakan, “Ya, Allah, jadikan dia anak yang sholeh, yang bisa menjadi amal jariyah bagi kedua orang tuanya. Bisa membuka pintu surga dengan berbakti kepada kedua orang tuanya.”

Ketemu siapa lagi? Yang jelas ketemu manusia, tidak mungkin ketemu pocong maupun kuntilanak, juga kuntilbapak. Ketemu penjual jamu yang sering mangkal di kawasan perumahan kita, doakan juga, “Ya Allah, semoga penjual jamu ini bisa menjadi jalan kesehatan bagi banyak orang yang membelinya. Sehatkan terus penjual jamu ini, ya Allah, agar dia dapat terus bermanfaat bagi orang lain.”

Intinya, pada 10 detik pertama sejak kita ke luar rumah, kita akan bertemu dengan beberapa orang. Mungkin sepuluh orang, mungkin juga kurang dari itu. Doakan semua, walaupun kita tidak menyampaikan langsung ke orangnya, “Hey, Bro, aku udah doain kamu tadi lho! Gara-gara tulisannya Mas Rizky nih. Sini bayaran doaku mana, Bro?”

Wah, ini sih doa kok minta bayaran? Haha…

Terus, mengapa harus didoakan seperti itu tanpa sepengetahuannya? Bahkan kita juga belum tentu kenal dengan orang yang kita doakan itu. Jawabannya ada dalam hadits yang mulia berikut ini:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim).

Itu yang menjadi tujuan utama kita dalam berdoa untuk orang lain. Dan, menjadi bagian pula dari resep bahagia kita setiap hari. Semakin banyak yang kita doakan, pada dasarnya itu semua akan kembali ke diri kita kok.

Apalagi di pagi hari, waktu yang didoakan berkah khusus oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sudah paginya berkah, kita berdoa, eh, malaikat balik mendoakan kita juga. Apakah itu semua tidak menjadikan kita bahagia? Insya Allah, sudah pasti membuat kita bahagia dan semakin berbahagia.

Kesimpulan

Mungkin kita bukanlah miliarder. Mungkin kita bukan juga seorang jutawan. Lebih pas kita adalah ribuwan, artinya orang yang hanya punya beberapa ribu rupiah di dompet.

Namun, kita masih bisa punya kekayaan yang lain. Kekayaan di dalam hati dengan cara mendoakan orang lain. Memang, itu tidak langsung menjadikan kita tiba-tiba punya harta yang banyak, tetapi ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar harta.

Kekayaan hati, itulah yang lebih berharga. Sebab, banyak orang yang punya kekayaan harta, belum tentu punya kekayaan hati. Selain itu, kekayaan iman kepada Allah, karena kita meminta kepada Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Itulah resep menjadi bahagia setiap hari. Semoga bermanfaat.

Referensi: Muslim.or.id

Baca Juga: 4 Hal Penting yang Dipelajari Anak Perempuan dari Ayahnya

Share This:

26 Comments

  1. Selalu renyah tulisan Pak Rizky..terimakasih. bismilah kita coba bahagia hanya dengan 10 detik pwrtama kita keluar tumah fi pagi hati. Bismilah…

  2. Lucu, gaya tulisannya 😁
    Keren, gak menggurui 👍
    Tampilan blognya juga bagus bgt
    Sudilah kiranya mampir di blog saya, masih belajar 😊
    rerdinando.wordpress.com
    nitnoteunike.blogspot.com

  3. Saya pertama kali baca tulisan ini begitu asyik dan enak di baca nya, sederhana namun ngena sekali

  4. Akan kucoba mengingat dan melakukannya. Mendo’akan orang lain pada 10 detik pertama ketika di luar rumah. Tentunya setelah berdo’a untuk diri sendiri. Bismillahi tawakkaltu alallahi……..

  5. Thanks untuk remindernya. Bener banget ya mendoakan seseorang dengan doa yang baik-baik tentunya tidak akan rugi karena akan kembali kepada kita.

  6. Saya juga udah ikhlas kalo teman-teman cumlaude gantiin posisi saya, hahaha… Sa ae nih Pak Rizky. Maunya sih hidup bahagia terus, lah wong yang bikin bahagia atau tidaknya kan diri kita sendiri ya, tapi berhubung sudah diatur sama Allah, ya kita ngikuti aja skenarioNya.

    Itu pemurung, bukan pemulung. Aaaah plesetan bae Pak

  7. Wah Ary Ginanjar..saya ikut training ESQ pada awal training ini ada..jadi masih termasuk angkatan mula. Tahun 2002 saya ikutnya..
    Senang dari artikel ini saya diingatkan akan 10 detik rahasia menjadi bahagia. Sederhana ya tapi konsepnya juwaraaa

  8. Makasih pencerahannya nih dengan doa 10 detiknya. Mulai ah besok, kalau ketemu orang akan ku doakan…

  9. 10 detik dan orang pertama yang ditemui (lakukan hingga ke 10 orang) doakan yg terbaik… hmmm … bukan hal yang sulit untuk dilakukan… tinggal mau atau tidak aja sich sebenarnya

  10. Mas.. suka pake banget gaya tulisan kamu.
    Btw sebelum tau Ary Ginanjar ini, saya juga suka mendoakan orang lain bahkan yang tidak saya kenal.

    Lucunya saya tu dulu suka banget doain temen yang belum punya keturunan (dalam hati saya) agar mereka segera diberikan keturunan. Akibat doa itu saya yang rencananya punya anak dua sekarang malah jadi punya 5.

    Wkwkwk akibatnya sekarang Saya suka doain orang, semoga diberi kelancaran rezeki dan kesehatan. Alhamdulillah sejauh ini masih diberi kesehatan dan kecukupan mas.

  11. Ini pernah saya terapkan setaip berangkat dan plg kerja naik motor, jd org yg saya lihat selama perjalanan saya doakan. Tp sudah lama nih gak saya terapkan lagi. Tulisan ini seolah mengingatkan saya unt melakukannya lagi. Tq ya

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!