Resensi Buku Bagian Pertama: The Science of Success

Resensi Buku Bagian Pertama: The Science of Success

Share This:

Punya blog, tapi kok tidak bikin tulisan resensi buku? Pastilah akan sangat kurang. Nah, kali ini, saya mengulas sebuah buku hasil beli dari Yodhia Antariksa.

Buku ini saya beli bersama dengan dua buku lainnya berjudul Psychology of Money dan How to Build Strong Self Discipline. Mau tahu harganya berapa? Hanya 145 ribu rupiah lho! Itupun sudah gratis ongkir. Kesempatan terakhirnya tanggal 20 Agustus yang lalu.

Langsung Sikat!

Kendala ketika saya ingin membeli buku adalah ongkirnya yang lumayan mahal. Rata-rata ongkir mulai dari 60 ribu sampai 80 ribu. Harga bukunya mungkin di bawah itu, kok ongkirnya lebih mahal? Ya, begitulah. Sebab, saya tidak tinggal di Jawa, tetapi di Sulawesi. Lebih tepatnya Sulawesi Tenggara. Lebih tepatnya lagi Kabupaten Bombana. Nah lho, di mana lagi tuh?

Meskipun sekarang eranya adalah digital, tetapi saya tetap menyukai buku cetak. Kamu rasakan sendiri saja, berjam-jam lihat HP terus, apa mata kamu nggak sakit? Kalau sakit begitu, berarti perlu penyegaran dong. Buku cetak adalah solusinya. Tidak ada radiasi dari kertas macam radiasi dari layar HP. Tidak butuh dichas ke listrik, kecuali tetap pakai lampu listrik. Dan, tidak butuh pulsa atau paket data. Lebih murah sebenarnya ya?

Saya langsung membeli tiga buku tersebut karena membaca judulnya saja sudah sangat menarik. Tentang kesuksesan, disiplin, dan psikologi uang. Ketiganya lemah di diri saya. Jadi, saya harus bekali dengan ilmu-ilmu seperti itu.

Waktu Datangnya

Cepat juga datang buku-buku ini. Tadi sore datangnya. Saya ditelepon oleh pihak JNE. Dia sudah di dekat rumah, padahal saya sedang di klinik dokter. Kotoran telinga saya cukup banyak, minta dibersihkan oleh dokter. Rupanya, dokter tersebut tidak bisa membersihkan, dia hanya meresepkan sebuah obat tetes telinga. Mereknya Forumen. Obat tersebut tidak ditanggung BPJS lagi. Harganya lumayan, 50 ribu rupiah.

Setelah Isya, saya mulai membaca salah satu buku tersebut. Yang saya ambil pertama adalah yang bersampul merah. Judul lengkapnya The Science of Success: Strategi Meraih Sukses Sejati dalam 7 Dimensi Kehidupan. Wah, ini maksud dimensi apa ya? Apakah reinkarnasi begitu? Hehe… Tidak lah yauw!

Oke, mari kita mulai mengulas. Oh, ya, saya terpikir untuk tidak langsung mengulas semua. Bab pertama dulu saja ya!

Definisi Sukses

Tentunya sebagai buku yang baik, membahas sukses perlu dong diawali dari definisinya. Dari pengertiannya apa? Kamu sendiri membaca atau mendengar kata “sukses”, apa yang ada di pikiranmu? Hah, kepikiran makanan? Lapar ya? Waduh, makan dulu sono gih!

Dalam awal buku ini, definisi sukses itu ternyata sederhana kok. Intinya adalah saat kita berhasil mewujudkan harapan personal alias personal goal kita. Ya, iya dong, sukses itu pastilah selalu berarti berhasil dan tercapai. Sedangkan kalau tidak, namanya kegagalan!

Ada pula yang mengartikan sukses itu selalu kaitannya dengan harta, kekayaan, maupun finansial. Padahal ya tidak selalu begitu, lah. Finansial ini sepertinya dekat dengan sial ya, hehe. Buktinya banyak orang mengeluh dengan kondisi keuangannya sendiri. Mengeluh terus karena yang dilihat di atas, coba lihat juga ke orang-orang di bawah, Insya Allah akan membuat kita lebih bersyukur.

Berbagai hal bisa dikatakan sukses dalam buku ini. Seperti orang yang bisa menyelesaikan lomba maraton. Lari jenis ini memang panjang sekali, sangat melelahkan. Panas terik, jalan yang bisa menurun maupun mendaki, tetapi yang ikut banyak juga. Luar biasa memang atlit yang dapat bertahan di even semacam itu.

Sukses juga pas ketika ada orang yang mampu sholat Tahajud tiap malam. Sholat ini memang beratnya luar biasa. Hanya orang-orang pilihan yang sanggup.

Lucunya, terutama laki-laki, mereka bisa bangun untuk menonton pertandingan sepakbola di waktu dini hari juga, tetapi untuk sholat malam yang hanya 5-10 menit, tidak sanggup. Pertandingan sepakbola selama 90 menit sanggup, sedangkan sholat malam yang sangat singkat malah dibiarkan lewat.

Tujuh Dimensi Kehidupan

Tadi sudah saya tulis ada tujuh dimensi kehidupan dalam buku ini. Apa saja sih itu? Pertama, sukses kebahagiaan. Apakah orang yang sukses itu selalu bahagia? Dan, apakah orang yang bahagia sudah pasti karena sukses?

Menurut penulis buku ini, dasar dari sukses itu mestilah berbahagia dulu. Disebutkan juga, bahkan kita belum bisa dikatakan betul-betul sukses bila gagal dalam dimensti pertama ini. Orang yang suka merengut, stres, marah-marah, sedih, galau, dan teman-temannya itu tidak bisa dong dikatakan sukses. Sebab, dia sedang merasa tidak bahagia. Coba, masa tidak bahagia dikatakan sukses? Yah, ujungnya nanti jadi sukses menjadi orang yang tidak bahagia. Halah.

Kedua, sukses profesional. Ini tidak ada kaitannya dengan acara zaman dulu, Gelar Tinju Profesional di Indosiar lho ya! Profesional dalam buku ini bermakna kita bisa mewujudkan impian pribadi dalam keahlian atau keilmuan yang kita miliki.

Pilihan pekerjaan memang sangat banyak. Tidak bisa dong kita pilih semua. Pasti ada satu atau dua yang kita sukai. Yang kita cintai. Dari profesi ini, saat kita punya impian di dalamnya, menjadi sukses apabila terwujud.

Sukses finansial, ini yang menjadi dimensi ketiga. Mengacu di sini adalah kita bisa mencukupi banyak kebutuhan. Selain itu, berharap agar penghasilan kita bisa terus tumbuh, naik terus, dan naik terus. Bukankah harta itu memang disukai banyak orang? Bahkan, saya rasa, semua orang pastilah menyenangi harta.

Keempat, sukses sosial. Pastilah kita masih ingat bahwa manusia termasuk makhluk sosial. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri bukan? Bahkan seorang jomblo pun butuh bantuan orang lain dalam hidupnya.

Sukses sosial di buku dengan 294 halaman ini mengacu pada keberhasilan kita menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Bisa memberikan kebaikan ke orang lain, apalagi banyak orang. Wah, ini memang sukses luar biasa!

Kelima, sukses spiritual. Ini sudah jelas, mampu meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, jangan disamakan dengan tema acara ya! Saya teringat dengan teman saya, kalau bikin acara selalu kaitannya dengan iman dan takwa. Misalnya: Dengan Peringatan Isra Mi’raj, kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah. Nanti di acara lain, diganti depannya, belakangnya tidak. Wah, praktis banget ya!

Keenam, sukses keluarga. Siapa di sini yang tidak ada keluarganya? Jika ada orang yang mampu mewujudkan keluarga yang harmonis, maka dia orang yang betul-betul sukses. Tapi, hanya sukses keluarga lho! Yang lain, tunggu dulu!

Yang terakhir atau yang ketujuh, sukses kesehatan dan kebugaran. Mau pandemi atau tidak, kita tetap harus sehat dan bugar. Caranya pastilah sudah tahu, lewat olahraga, makan makanan bergizi, cukup istirahat, tidak stres, dan langkah-langkah lainnya.

Memang sih, ada yang mengatakan: Kesehatan itu bukankah segalanya, tapi tanpa kesehatan, segalanya tidak berarti apa-apa. Kalimat ini saya dengar waktu masih tinggal di Jogja, mendengarkan radio kesayangan.

Oh, ya, satu lagi tentang sukses yang ketujuh ini, kondisi tubuh yang prima dapat berakibat bagus untuk kecerdasan dan ketajaman otak kita lho! Makanya itu, kesehatan sangat perlu untuk dijaga. Oke?

Sukses di Masa Depan

Ada tiga prinsip yang berkaitan dengan sukses di masa yang akan datang. Pertama adalah kekuatan dari sukses-sukses kecil. Jangan remehkan sukses-sukses kecil lho! Sebab, itu menjadi cikal bakal dari sukses-sukses besar. Ambil contoh, tentang maraton tadi. Tidak akan mungkin ujug-ujug bisa lari sampai 42 kilometer. Pastilah di latihannya ada tahapan. Mulai dari satu kilogram setiap hari. Mulai meningkat lagi 3, 5, 10, dan seterusnya.

Kedua, kekuatan dari kebiasaan sukses kecil. Menurut James Clear, seorang pakar habit dalam bukunya, Atomic Habits (2018) menyebutkan bahwa untuk sukses, kita cukup melakukan kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk. Simpel dan sederhana bukan? Iya, memang simpel dan sederhana, tapi praktiknya? Hehe…

Prinsip yang ketiga, kekuatan dari efek pemenang. Ternyata, kemenangan dan kesuksesan kita bisa berimbas kepada kemenangan dan kesuksesan kita berikutnya. Kalau begitu, dapat juga sebaliknya. Gagal juga akan memunculkan gagal berikutnya.

Lho, kenapa dari sukses satu bisa menular ke sukses lainnya? Jawabannya, setelah berhasil di langkah pertama, hal itu akan membuat jadi makin percaya diri dan merasa bahwa kita memang mampu. Kalau yang mudah saja bisa, meningkatlah ke yang lebih sulit hingga yang paling sulit. Saat yang paling sulit berhasil ditaklukkan, maka percaya diri kita akan jauh lebih meningkat.

Untuk resensi buku selanjutnya, kita masuk ke bagian berikutnya ya..!

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.