Arti Lain dari LGBT

Arti Lain dari LGBT

Share This:

Kemunculan video podcast Deddy Corbuzier yang menghadirkan duo LGBT memang menimbulkan kontroversi yang luar biasa sampai sekarang.

Bagaimana tidak, dua tamu yang diundang itu adalah gay alias homo. Penyuka sesama jenis. Mereka laki-laki tidak mau dengan perempuan, tidak mau nikah dengan cewek, maunya sesama laki-laki.

Mereka dapat dikatakan sebagai pengikut kaum Nabi Luth alaihissalam. Nah, ketika diangkat dalam podcast tersebut, seakan-akan menjadi kampanye untuk masyarakat luas. Itu lho mereka kaum gay, bisa hidup rukun, tampak tidak ada masalah, dan tampak bahagia selalu.

Deddy sebagai presenter juga merasa senang-senang saja menerima kehadiran mereka. Dari ekspresi ketiganya, dapat dipahami adanya saling pengertian. Bahkan terkesan saling menghormati. Termasuk judul videonya adalah “Tutorial Menjadi Gay di Indonesia”, alamak!

Meskipun sekarang video itu kabarnya sudah ditake down, nyatanya yang lalu hampir membuat orang pada smack down. Walaupun, ya, walaupun nih ya, video itu sudah hilang, tetapi sudah terlanjur banyak yang download, save dan dijadikan konten mereka sendiri. Dipotong-potong layaknya kacang panjang. Nah, kalau sudah begitu, bukankah itu akan jadi dosa jariyah bagi Om Deddy sendiri ‘kan? Iya ‘kan Deddy Mizwar? Eh, salah, Deddy Corbuzier.

Dari Ustaz Bendri Jaisyurrahman

Ustaz Bendri adalah praktisi parenting Islami. Tiap kali mengikuti webinar atau seminar onlinenya, selalu saja ada ilmu baru yang didapatkan.

Beliau paham sekali dunia parenting, yah, namanya juga praktisi parenting. Hafal banyak dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Adanya dalil-dalil itu membuat perkataannya menjadi mantap. Ada dasar hukumnya, apalagi diambil dari agama Islam yang mulia ini.

Beliau bercerita, ini sekitar sepuluh tahun yang lalu. Eh, kamu sendiri sudah lahir belum sepuluh tahun yang lalu? Semoga sudah ya, soalnya kalau belum lahir sampai sekarang, mana bisa baca tulisan ini ya ‘kan?

Beliau didatangi oleh seorang laki-laki lugu. Ini benar-benar berwajah lugu bukan berarti lucu, tapi wagu. Atau malah kepanjangannya lutung gunung, hadeh.

Laki-laki penyuka lagu, aduh, laki-laki lugu itu mengaku sebagai gay alias penyuka sesama jenis. Bukan dimaksudkan di sini adalah sesama jenis manusia, kalau itu memang kita harus menyukai manusia juga. Namun, sesama jenis kelamin, jadi dia menyukai laki-laki juga. Lho, nggak laku di kalangan perempuan, Mas? Huss!

Ada Kekurangan

Walaupun dia mengaku gay, tetapi bukan gay yang diidam-idamkan sesama gay. Wajahnya ada kekurangan, ada mungkin cacatnya sedikit, jadi dia tidak diincar sebagai teman kencan. Aduh, kasihan! Lho, kok kasihan ya?

Lalu, bagaimana dia menjadi gay? Kok bisa? Kenapa bukan lesbi saja, tapi malah gay? Aduh, pertanyaannya deh!

Tadinya, dia memang memiliki keluarga yang harmonis. Ini tidak ada kaitannya dengan alat musik. Kalau itu namanya harmonika. Jangan diartikan apakah nanti akan harmonis kalau menikah dengan Agnes Monika? Halah…

Dia bukan berasal dari keluarga yang berantakan. Kalau suasana rumah mungkin pernah berantakan kali ya, tetapi secara umum, hubungan kedua orang tuanya baik-baik saja.

Dia merasa, apakah menjadi gay itu karena dibully “bencong” dari teman-teman SMP-nya? Itulah anggapannya semula. Ustaz Bendri bertanya, “Menurut kamu, bapakmu gimana?”

Laki-laki itu menjawab, “Bapak baik, pekerja keras.” Itu jawaban yang tepat dan singkat. Dia tidak mau memperpanjang lagi. Cukup sampai di situ. Sedangkan, kalau jawaban yang tidak tepat, maka akan seperti ini, “Bapakku laki-laki, Ustaz!” Ya, iyalah.

Sewaktu Ustaz Bendri menanyakan, “Apa kenangan yang paling membahagiakan ketika bersama bapak?” Ternyata, pertanyaan itu membuat si laki-laki diam dan mendadak menangis. Kalau kamu sendiri menangis apa tidak? Jangan-jangan menangis karena THR sudah habis? Yah, kondisinya hampir sama dengan saya, hehe…

Laki-laki itu mengaku bapaknya memang orang baik, suka memberi uang lewat ibunya. Namun, hal yang miris adalah bapaknya sibuk bekerja. Bukan sibuk menganggur seperti bapaknya siapa itu?

Ketika di dalam rumah, bapaknya kebanyakan diam. Jika bicara, justru nadanya tinggi. Mungkin nadanya sampai menembus genteng.

Itu bukan karena marah lho, melainkan karena kebiasaan saja. Laki-laki itu merasa cemas kalau mau bicara dengan bapaknya. Dia merasa tidak ada hal yang membahagiakan bersama bapaknya. Miris bukan?

Akhirnya, terjawablah sudah! Ada luka dari orang tuanya yang diterima oleh laki-laki itu. Namanya adalah diabaikan. Dicuekin. Dinengke dhewe kalau dalam bahasa Jawa.

Memang Ada kok!

LGBT-1

Ayah yang sibuk bekerja di luar rumah, ketika di rumah justru diam, malah main HP, melupakan anak seakan-akan anak itu tidak ada di rumah, membuat si anak jadi merasa kehilangan kasih sayang.

Sosok laki-laki dewasa yang diharapkan menjadi pengayomnya tidak bisa didapatkan dengan mudah. Tempat untuk curhat atau berkeluh-kesah selain ibunya tidak ada. Bapak sibuk dengan diri sendiri, teman-temannya, hobi, pertandingan bolanya, ikan cupangnya, dan lain sebagainya.

Anak-anak yang kehilangan sosok ayah seperti itu membuat dirinya merasa tidak diperhatikan. Merasa tidak dibutuhkan. Buat apa lahir di dunia ini jika mengalami dua kondisi tersebut? Apalagi lingkungan pertemanannya yang sering membully misalnya, membuat luka jiwanya makin parah, makin menganga, dan makin sulit tertolong.

Anak yang menjadi gay pada dasarnya punya jiwa yang menderita. Mereka tahu itu salah besar, tetapi mencoba terus menikmati lukanya. Bahkan menganggap penyimpangan seksualnya adalah hal yang wajar dan biasa-biasa saja.

Kalau dibuka hatinya, niscaya mereka membutuhkan pertolongan. Mereka membutuhkan uluran tangan kita. Mengembalikannya ke fitrah yang sebenarnya untuk menyukai, mencintai, dan menikahi perempuan secara baik-baik.

Kuncinya adalah di peran ayah. Tidak cukup hanya menjadi pencari nafkah, tetapi juga sebagai pengisi hati anak yang sedang resah. Itu memang berat. Itu memang tidak mudah. Namun, memang begitulah laki-laki diciptakan. Punya fisik dan pikiran yang lebih logis daripada perempuan. Tentu, ujiannya bakal lebih besar, apalagi jika sudah menjadi kepala rumah tangga.

Yang Ini Juga LGBT

Arti asli dari LGBT itu adalah Lesbi, Gay, Bisexual, Transgender. Waktu masih mahasiswa, saya bersama dua teman, berkunjung ke sebuah acara yang diadakan oleh LSM Jogja. Kalau tidak salah pemutaran film dan mengundang para bencong.

Ada seorang bencong yang suaranya jelek banget, laki-laki banget, tetapi dipanggil Yuni Shara. Teman saya bertanya ke dia, tetapi saya juga lupa apa pertanyaannya?

Ketika hadir di situ, saya ingin muntah. Tidak cuma satu, dua, tetapi banyak bencong yang mencari nafkah di jalanan kota Jogja. Mungkin sebagai pengamen, penjual, tukang salon, atau malah bisnis esek-esek. Saya ingin mengatakan, “Pezina kalian semua!” Tentu saja hal itu tidak saya lakukan, karena akan memancing keributan dan kekacauan. Dan, belum tentu pula saya bisa pulang dengan aman.

Saya juga pernah mendapatkan cerita dari teman kampus. Satu kelas, satu jurusan. Seorang bencong bernama Mbak Rita. Cukup terkenal di kampung teman saya itu.

Mbak Rita setelah mungkin cukup lama berprofesi sebagai bencong panggilan, menyatakan berhenti. Katanya, dia sampai menelan (maaf) sperma dari pelanggannya. Dia merasa tidak enak kalau tidak cocok. Idih, menjijikkan bukan? Setelah pensiun dari dunia hitam, Mbak Rita kabarnya membuka warung angkringan. Nah, itu lebih halal, Mbak. Ya ‘kan Mbak? Mbak, woy!

Begitulah dunia perbencongan yang notabene bagian dari LGBT juga. Perilaku buruk dan menjijikkan mereka membuat kita mau muntah. Laki-laki sama laki-laki, perempuan dengan perempuan. Itu ‘kan menyalahi fitrah.

Coba kalau ada gay yang datang ke dekat kita. Coba minta chas HP, tetapi colokannya ditusukkan ke hidungnya.

Kalau dia mengaduh kesakitan, maka kita ngotot saja. Dia tetap kesakitan, barulah kita bilang, “Oh, ini bukan pasangannya. Seperti kamu yang laki-laki dengan laki-laki, itu bukan pasanganmu.” Coba, bisa begitu? Kalau berani, cobalah, risiko tanggung sendiri, hehe…

Status Facebook

Pagi ini, saya membuat status tentang LGBT juga. Namun, saya menulis arti lain dari LGBT, yaitu: Laki-laki Gelap, Bininya Terang. Kalimat itu saya ambil dari Ustadz Wijayanto, waktu saya mengikuti rekaman webinarnya. Lucu artinya bukan?

Apa yang bisa diambil dari arti lain LGBT itu? Kalau laki-laki gelap, sementara bininya terang, itu dapat diartikan warna kulit. Dan, memang ada yang seperti itu. Bukan sebuah masalah, asal mau sama mau. Beda kalau cuma yang mau salah satu, gimana mau nikah?

Laki-laki bisa jadi gelap kulitnya juga wajar. Itu tanda bahwa dia adalah sosok pekerja keras. Sering berada di bawah sinar matahari, meskipun ada juga sih yang bekerja di dalam Matahari. Bukan panas, malah adem!

Laki-laki gelap juga bisa bermakna laki-laki itu lebih sering menyembunyikan masalahnya, dengan istri, orang tua, mertua, apalagi dengan anak-anak, apalagi lagi yang masih bayi. Laki-laki punya karakter untuk menyelesaikan sendiri masalahnya.

Sementara, bini atau istrinya punya kecenderungan terang, artinya gampang menceritakan masalah. Namun, harus dipastikan jangan ember ke mana-mana. Cukup dengan suami saja.

Makanya, menjadi suami itu seperti tukang sampah. Harus siap menampung segala keluh-kesah istri sepanjang hari. Ya, kerja rumah tangga, ya, kerja menjaga anak. Jika suami tidak bisa menjadi tempat penampungan curhatan istri yang baik, maka tempat selanjutnya adalah media sosial alias medsos. Tidak mau bukan para suami mengetahui aib rumah tangganya dibongkar istri di medsos? 

Mungkin itu saja makna lain dari LGBT. Kenyataan laki-laki gelap, bininya terang, memang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Bisa juga diartikan saat suami bekerja sering mati lampu karena di tempat terpencil, makanya sering gelap, sedangkan di rumah istri lampu menyala terus, terang! Mungkin ada lagi arti lain? Coba tulis komentarmu di kolom di bawah ini ya!

Share This:

8 Comments

  1. Inalilahi …semoga generasi penerus bangsa tidak terpancing atau mau mencoba jadi LGBT ???
    Tulisannya sangat menginspirasi kita…keren…

    1. Iya Bu, terima kasih banyak. Berawal dari kegelisahan terhadap fenomena jaman now tentang LGBT yang makin meluas, Subhanallah.

  2. Prihatin sekali terhadap eksistensi LGBT yg dilindungi demokrasi atas nama HAM. knp ats nama HAM hrs menghalalkan yg jls2 haram menjijikan mengundang azab Allah seperti yg ditimpakan kpd umat nabi Luth..😔

  3. Melihat fenomena ini jadi ngeri juga. Semoga kita bisa membentengi keluarga dan lingkungan kita dari penyakit ini

    1. Benar Pak Guru, anak-anak nanti kedepannya bagaimana jika tidak diajarkan tentang buruknya LGBT.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.