Kiat Jitu Menghadapi Anak Suka Melempar Barang

Kiat Jitu Menghadapi Anak Suka Melempar Barang

Share This:

Bagi seorang anak, melempar barang itu bisa menjadi sesuatu yang menarik. Dan, itu bisa kita temukan dalam kehidupan kita. Entah itu anak sendiri, anak kerabat, anak tetangga, atau anak teman. Terus, menghadapi anak yang suka melempar barang, bagaimana sih?

Sebelum membahas lebih suka, anak suka melempar barang apa sih? Bisa jadi itu mainannya sendiri, barang-barang yang ada di dekatnya, mainan. Tentunya, anak suka melempar barang tersebut pastilah barang-barang yang ringan bagi mereka. Masa mau lempar televisi, kipas angin, sepeda, rasa-rasanya tidak mungkin deh. Apalagi jika anak masih tergolong balita.

Jika dilihat dari usia, kenapa anak kecil suka melempar, itu terjadi pada anak dengan usia mulai 18 bulan. Berarti setahun lebih ya? Butuh sebuah keterampilan motorik halus agar jari-jarinya terbuka, lalu benda yang dipegang itu bisa terlempar. Dalam melempar tersebut, butuh juga lho kerja sama antara tangan dengan mata. Kira-kira, benda tersebut akan dilempar ke mana nih? Tangan melempar, mata mengawasi. Jangan sampai terbalik ya! Hehe…

Kata Psikolog Anak

Menurut Agstried Elisabeth, M.Psi, ada memang alasan-alasan tertentu anak suka melempar barang. Bisa dari sekadar senang dengan bunyi lemparannya, ketika marah sampai apa sih yang terjadi kalau barang itu dilempar.

Baca Juga: 10 Perkataan yang Merusak dan Meruntuhkan Dunia Anak

Wajar dong jika anak atau balita tersebut punya rasa penasaran yang cukup tinggi. Misalnya, melempar bola, eh, bolanya memantul kembali ke dia. Beda halnya dengan melempar mobil-mobilan. Jelas tidak mungkin melempar mobil mainan itu, lalu boom, jadi mobil beneran. Wah, kebanyakan nonton iklan ini!

Memberikan Pemahaman

Kalau balita di bawah dua tahun, diberikan pemahaman tentang urusan lempar-melempar ini, mungkin dia tidak terlalu tahu. Yang penting melempar begitu saja. Beda dengan di atas usia dua tahun, dia sudah mulai mengerti. Makanya kamu sebagai orang tua, cukup mengerti bahwa anak sudah usia berapa?

Selanjutnya, kata orang bule, yaitu: Roni Leiderman, dekan dari Family Center di Nova Southeastern University di Fort Lauderdale, Florida, AS, sebagaimana dikutip dari Baby Center, kalau barang-barang yang dilempar anak memang tidak berbahaya atau membuat luka, maka anak tersebut jangan dihukum ya! Kamu sebagai orang tua cukup membuat batasan konsentrasi si kecil dari barang-barang yang ingin dilemparnya.

Anak suka melempar barang selain karena ingin menarik perhatian orang lain, terlebih keluarga maupun orang tuanya, juga sebagai simbol bahwa dia sedang marah. Mungkin dia digoda oleh kakak-kakaknya sampai menangis meraung-raung. Atau mainannya dirusak oleh saudaranya, sehingga dilempar saja. Sekalian rusak. Tentunya, tidak mungkin dong balita usia 3-4 tahun marah dan menangis karena kondisi bangsa ini. Harga yang semakin naik, pekerjaan yang semakin sulit. Wah, cerdas amat kalau ada balita yang seperti itu ya!

Yang Dilakukan Orang Tua

Tadi disebutkan memberikan pemahaman kepada anak, meskipun pada usia rendah jelas tidak mungkin. Karena anak usia segitu juga belum tentu mengerti bahasa kita. Ya ‘kan? Apalagi kita orang Indonesia, mengajak anak usia di bawah dua tahun dengan Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Tambah hang lagi itu anak!

Baca Juga: Gangguan Mental Pada Anak

Orang tua jangan sampai terpancing kalau anak suka melempar barang. Soalnya kalau sudah terpancing, maka orang tua akan cenderung marah bin emosi binti kalut. Apalagi jika sampai berantakan rumah karena si anak yang hobi sekali membuang barang. Sudah dirapikan barusan, eh, hancur lagi kapal!

Tetap tenang, slowdown dan rileks, ya, Ayah dan Bunda, Abi dan Ummi. Wajar kok anak dengan perkembangan seperti itu. Sebab, jika sampai orang tua marah, maka jatuhnya adalah si anak dimarahi juga. Bahkan mungkin dengan pukulan, cubitan atau teriakan. Nah, si anak jadi makin tersiksa tuh. Sebab kalau sudah menangis karena dimarahi orang tua, jelas dong dia tidak bisa membalas. Alasannya takut. Eh, saat ditinggal sebentar oleh orang tuanya, barang dilempar lagi. Aduh!

Manfaatkan momen saja, untuk saling melempar bersama. Contohnya, bola mainan dilemparkan ke tembok. Orang tua jika ada waktunya bisa melakukan hal tersebut. Tentu, anak akan makin senang karena orang tuanya jadi ikut bermain. Setelah itu, ajak anak untuk merapikan mainannya. Barang-barang hasil lemparan tadi, dimasukkan lagi ke dalam kardus atau kotak mainan agar lebih rapi dan bersih dilihat.

Seni Menjadi Orang Tua

Siapa bilang jadi orang tua itu mudah? Wow, susahnya luar biasa! Namun, justru di situlah seninya. Di situlah sisi menariknya. Bukankah kita dulu juga dibesarkan orang tua dengan susah payah?

Mungkin anak kita terlihat nakal karena anak suka melemparbarang, tetapi bisa jadi, kita dulu yang lebih nakal. Boleh jadi, yang kita lempar barang-barang yang lebih berbahaya. Kita tidak tahu bukan, selama orang tua kita tidak kasih tahu.

Menghadapi anak suka melempar barang, jadikan itu sebagai penyegaran dalam hidup kita sebagai orang tua. Karena toh masa anak-anak atau balita itu sangatlah singkat. Betul apa benul nih? Halah, benul, pura-pura salah tulis nih! Hehe…

Baca Juga: Mendidik Versi Kurikulum Para Binatang

Sumber: Kumparan dan AyahBunda

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!