Tahukah Kamu, Kenapa Anak Jadi Pembohong?

Tahukah Kamu, Kenapa Anak Jadi Pembohong?

Share This:

Mengetahui alasan kenapa anak jadi pembohong tentulah sangat penting bagi setiap orang tua. Siapa sih orang tua yang tidak marah atau minimal jengkel jika anaknya berbohong?

Ada hal yang ternyata sangat diingat dari anak-anak kita. Saya sebutkan saja dari anak-anak saya. Meskipun ini candaan, tetapi jangan sampai menjadi kenyataan. Jangan sampai anak menjadi benar-benar pembohong.

Anak saya yang besar, Raihan, pernah bercanda dengan anaknya. Dia mengatakan sesuatu, saya lupa, terus di ujungnya bilang begini, “Tapi bohong!” Tertawalah adiknya.

Lain waktu, giliran adiknya yang begitu. Lain waktu juga, temannya yang juga anak tetangga bercanda seperti itu. Bohong yang disebut-sebut, sekali lagi meskipun itu bercanda, tetap kurang bagus dilakukan bukan?

Pendidikan Terlalu Keras

Masih banyak orang tua yang mengalami luka masa lalu. Mendapatkan pola pengasuhan yang keras dari orang tuanya, kini diteruskan untuk anak-anaknya.

Seperti dalam keluarga besar saya. Kakak dari bapak saya pernah marah kepada anaknya, lalu melepas sabuk atau ikat pinggang. Tentu tujuannya dipakai sebagai senjata untuk mencambuk anaknya sendiri.

Padahal dari segi fisik, bapaknya jelas lebih besar dong! Tapi kok masih pakai senjata ya? Terus, kalau sabuknya dilepas, jangan sampai celananya melorot, hehe…

Baca Juga: 5 Kiat Mengatasi Anak Susah Tidur

Luka masa lalu memang akan selalu menjadi luka jika tidak disembuhkan. Ketika kita menerima pengasuhan yang kasar, keras, bahkan kejam dari orang tua kita, hal itu akan berlangsung seumur hidup. Ya, bisa jadi begitu.

Akhirnya, terbawa juga ke dalam pikiran bawah sadar. Saat sudah ada anak, bahkan waktu anak masih kecil, kita mungkin melontarkan perlakuan yang kasar juga kepadanya.

Inilah yang menjadi alasan kenapa anak jadi pembohong. Lho, kok bisa? Ustadz Bendri Jaisyurrahman pernah mengatakan dalam webinarnya, bahwa anak jadi pembohong itu karena dikasari oleh orang tuanya.

Ambil contoh, dia memecahkan pot bunga. Namanya memecahkan, sudah pasti pecah bukan? Mendengar pot bunga jatuh, ayahnya langsung berteriak, “Siapa itu yang pecahkan?!” Menggelegar dan sangat membara, bahkan ada pula geledek di atas langit waktu dia marah. Wah, ini sih sinetron banget deh!

Anak jadi sangat ketakutan. Kalau dia mengaku, maka dia bisa kena damprat. Bisa kena azab, katakanlah begitu. Makanya, dia melindungi diri dengan berbohong. Perbuatan itu terpaksa dilakukan karena jika dia jujur, maka sang ayah akan menyiksanya. Kalau bukan disiksa fisik, ya, kata-kata. Atau bahkan perpaduan keduanya. Mengerikan bukan?

Hasil Penelitian

Ada sebuah penelitian tentang kenapa anak jadi pembohong. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Child Development tahun 2011. Ternyata, ditemukan kenyataan bahwa mendisiplinkan anak terlalu ketat dapat menyebabkan anak memiliki kebiasaan berbohong. Selain itu, membuat mereka menjadi pribadi yang tidak jujur.

Anak-anak yang diteliti memiliki usia 3-4 tahun. Peneliti bernama Victoria Talwar dan Kang Lee melibatkan anak-anak berusia 3-4 tahun dari dua sekolah yang berbeda. Dua sekolah tersebut punya aturan disiplin yang berbeda, satunya keras, satunya lembek alias lunak.

Respons orangtua ketika tahu anaknya berbohong juga diteliti. Sebagian besar mereka akan menggunakan hukuman fisik ringan. Contohnya: menampar, mencubit, atau memukul pantat.

Dalam serangkaian uji kebohongan, menguak hasil sekitar 80% anak-anak mengintip mainan objek penelitian. Saat ditanya, hampir semua anak dari sekolah dengan aturan ketat memang berbohong. Tidak cuma itu, mereka juga berusaha untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka berbohong. Jadi, bohongnya kuadrat alias dua kali.

Setelah mengetahui, kenapa anak jadi pembohong, lalu langkah apa saja yang bisa dilakukan?

Cara Menghindari Anak Jadi Pembohong

Mari kita coba ulik satu persatu solusi agar anak-anak kita tidak jadi pembohong.

1. Menjadi Orang Tua Teladan

Tidak bisa tidak, sosok orang tua adalah panutan bagi anak-anak. Jika anak jadi pembohong, kemungkinan besar ya mencontoh dari orang tuanya.

Misalnya, datang tukang kredit. Menagih kredit panci dari mamanya. Sang mama bilang ke anaknya, “Nak, tolong kasih tahu, mama lagi pergi ya? Lagi arisan.”

Anak itu penurut. Dia datangi si tukang kredit, mengatakan persis sama yang disuruh mamanya. Tukang kredit mengangguk-angguk. Pergilah dia. Orang tua merasa senang, anak pun antara senang dan tidak. Batinnya menjerit, ini kan bohong sebenarnya, kenapa mama suruh aku berbohong ya?

Meskipun berat dan bisa jadi sudah terbiasa bohong, orang tua tetap harus berusaha jujur. Ini ‘kan demi masa depan anak-anaknya juga, ya toh?

2. Memarahi, Eit, Tunggu Dulu!

Pas sudah tahu anak berbohong, orang tua jangan dulu memarahi. Apalagi ditambah dengan perlakukan keras dan kasar. Waduh, dia nanti akan tambah berbohong tuh!

Coba minta anak menjelaskan kenapa dia sampai berbohong seperti itu? Apakah ada alasan yang kuat? Ataukah hanya ikut-ikutan? Apakah ingin coba-coba saja?

Orang tua perlu menjelaskan konsekuensi dari berbohong itu. Anak akan mendapatkan hukuman dari orang tua. Namun, perlu dipikirkan lagi, apakah hukuman itu nanti akan membuatnya jera? Setiap hukuman memang bisa berbeda-beda untuk setiap anak.

3. Jangan Panggil Anak Pembohong!

Meskipun anak pernah berbohong, bahkan beberapa kali, usahakan untuk jangan pernah memanggilnya dengan sebutan “anak pembohong”. Hal itu akan membuat bekas di dalam hatinya. Dan, tentu saja, setiap kata adalah doa, apalagi orang tua yang mengatakan seperti itu kepada anaknya.

Baca Juga: 7 Kiat Pembentukan Karakter Anak dalam Keluarga

Jika anak dicap pembohong oleh orang tuanya, maka dia akan betul-betul membuktikan dalam kenyataan. Selain itu, dia akan merasa orang tuanya sudah tidak sayang lagi kepadanya. Jadi, buat apa jadi anak jujur? Buat apa jadi anak baik? Jadi anak pembohong saja! Nah, repot ‘kan?

Orang tua sendiri juga tidak mau ‘kan dicap oleh orang lain? Kalau memang tidak mau, begitu pula dengan anak-anak kita.

4. Jangan Ungkit Kesalahannya Lagi!

Hubungan yang sudah baik antara orang tua dan anak, seiring berjalan waktu, eh, anak melakukan kesalahan lagi. Hal itu membuat orang tua jadi emosi. Lalu, dia pun mengungkit lagi kesalahan anak, ditambah label lagi “anak pembohong”. Anak menjelaskan kesalahannya dan alasan kenapa melakukannya, eh, tiba-tiba orang tuanya tidak percaya, lalu teringat pada kesalahan anak di masa lalu.

Batin anak akan terluka lagi jika diungkit-ungkit masa lalu. Lebih baik fokus kepada yang sekarang. Bukankah bagus juga jika anak-anak juga ingin memperbaiki kesalahannya? Ya ‘kan?

5. Libatkan Seorang Profesional

Segala upaya secara halus sudah dilakukan agar mencegah anak jadi pembohong, eh, kok terus saja dilakukan ya? Nah, kini saatnya melibatkan pihak ketiga. Dalam hal ini bisa dari keluarga sendiri, ataupun orang luar, semacam psikolog anak.

Orang ketiga dapat membuat pandangan yang lebih objektif. Apalagi psikolog anak yang sudah berpengalaman menangani anak-anak yang bermasalah.

Apa? Mahal harganya? Ya, bisa jadi memang ada biaya khususnya yang cukup tinggi, tetapi demi anak-anak sendiri, kenapa harus dihemat-hemat banget? Jika psikolog tersebut mampu mengubah anak jadi jujur lagi, maka biaya yang dikeluarkan tidak ada bandingannya. Anak-anak yang jujur adalah harapan dan kecintaan orang tua.

Baca Juga: Berpikir Positif, Inilah 4 Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Anak Kita

Sumber:
Merdeka.com
Kompas.com
Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.