6 Alasan Pasangan Sejati Itu Seperti Sepasang Sepatu

6 Alasan Pasangan Sejati Itu Seperti Sepasang Sepatu

Share This:

Dari judulnya, pasangan sejati, antara suami dan istri bagaikan sepasang sepatu. Bagaimana penjabarannya? Meskipun pakai penjabaran, bukan berarti harus tinggal di Jabar alias Jawa Barat ya.

Ada yang mengatakan bahwa percuma beli sepatu, karena semahal apapun, tetap akan diinjak-injak dan letaknya di bawah. Ya, iyalah, mana ada sepatu yang ditaruh di kepala?

Eh, ternyata ada juga. Itu anak-anak SD yang melewati tanah becek atau genangan air yang luas, maka sepatunya akan diikat dan ditaruh di leher. Apakah kamu pernah mengalaminya juga?

Ketika memilih sepatu, ini juga perlu diperhatikan. Sepatu adalah bikinan manusia, sedangkan kaki adalah buatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika mencoba sepatu baru, terus dirasa sempit, kira-kira mau cari sepatu yang lebih besar atau kakinya yang dipotong? Jelas sepatunya yang akan dipotong ‘kan? Haduh, salah lagi. Cari sepatu yang lebih besar, lah. Tapi biasanya, tanya dulu, “Mbak, ini harganya berapa ya? Kalau yang lebih besar berapa?” Kalau ternyata lebih besar ukuran sepatunya mengakibatkan harga lebih mahal, tetap akan mau pakai sepatu yang lebih sempit?

Ah, pengantarnya sudah. Pembukaannya sudah. Sambutan juga sudah. Sekarang kita masuk ke inti dari tulisan ini, pasangan sejati yang seperti sepasang sepatu. Ini tidak menyebutkan merek, lho! Tidak ada namanya merek Maspion, Panasonic, maupun Hitachi di sini. Lho, kenapa, Mas? Kenapa tidak disebutkan? Ya, jelas, soalnya ketiganya itu bukan merek sepatu!

Makna Pasangan Sejati Seperti Sepasang Sepatu

1. Saat Berjalan Tidak Kompak

Generasi 90-an mungkin masih ingat dengan acara request lagu dan kirim-kiriman salam di radio. Mungkin sampai sekarang masih ada. Kita menghubungi penyair, eh, penyiar, lewat SMS atau telpon, memilih lagu kesukaan, lalu mau dikirimkan ke siapa gitu? Waktu itu, belum dikenal kirim-kiriman salam pakai COD lho ya! Soalnya nanti, khawatirnya, jika isinya tidak sesuai pesanan, dibilang “Gob**k” macam video yang lagi viral itu. Kan repot jadinya.

Baca Juga: 9 Motivasi untuk Rajin Menulis: Belajar dari Penulis Terkenal, Ustadz Cahyadi Takariawan

Ada satu salam yang khas waktu itu, yaitu: salam kompak! Ini biasanya dari seorang pendengar radio kepada teman-teman sekomunitasnya. Bisa jadi itu teman satu kelas, satu sekolah, satu gang, tetapi belum pernah tuh yang bilang teman satu kuburan!

Intinya, salam kompak itu ya salam kompak. Ingin pertemanan atau mungkin persahabatan dalam satu kelompok itu makin kompak. Namanya juga salam kompak.

Pasangan yang sejati sebenarnya memang tidak kompak, lho! Maksudnya begini, pemikiran yang ada antara suami dan istri selalu, tetapi lebih pas kata “sering”, berbeda. Suami maunya A, istrinya maunya Z. Kan jauh. Itu yang dinamakan tidak kompak.

Namun, hikmahnya, mereka punya tujuan yang sama. Ingin membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Itu semua nama istri ya?

Motivasi ingin menjadi keluarga yang bahagia dunia dan akhirat, mendidik anak-anaknya menjadi lebih sholih atau sholihah, punya perusahaan keluarga yang besar misalnya, dan lain sebagainya. Tujuan setiap keluarga bisa jadi berbeda-beda.

Ketidakkompakan dalam pemikiran, pandangan, sikap, dan perkataan itu, pada akhirnya nanti bergabung atau melebur menjadi satu tujuan. Sama dengan sepasang sepatu. Langkahnya terlihat tidak kompak, satunya dari sisi kiri, satunya dari sisi kanan. Akan tetapi, tujuannya sama, melangkah ke depan. Kecuali sepatu itu dipakai untuk joget ala Michael Jackson yang malah mundur ke belakang.

2. Bentuk Tidak Selalu Sama, Tetapi Serasi

Kita melihat sepatu, bentuknya memang tidak pernah sama. Antara yang kiri dengan kanan, memang berbeda, tidak sama. Namun, kok dilihatnya pas gitu lho ya! Serasi, selaras, seimbang. Ketiga hal ini mirip dengan pelajaran PPKn, deh!

Kalau dari sepatu sepasang saja bisa serasi, maka suami istri juga bisa begitu. Yang suaminya gemuk di bagian perut, sedangkan istrinya gemuk di bagian paha. Terlihat tidak sama bukan? Ketika berjalan, eh, kok serasi juga ya? Waktu menikah dulu, istri lebih pendek sedikit dibandingkan suami, dua-duanya kurus atau langsung. Sekarang, seiring usia yang terus bertambah, maksudnya angka usianya, tetap terlihat serasi.

Ini serasi dalam arti enak dilihat begitu lho, ya, bukan sambal! Kalau yang terakhir ini bukan serasi, tapi… Ah, kamu tahu sendiri, lah. Kan kesukaanmu juga toh!

3. Tidak Pernah Ganti Pasangan, Meskipun Dimakan Usia

pasangan-sejati-1

Warna sepatu ‘kan bermacam-macam tuh. Ada yang biru, hitam, merah, putih, pink, abu-abu, pokoknya masih banyak, lah. Warna gradasi atau pencampuran warna juga banyak. Tinggal pilah dan pilih saja.

Nah, sepatu yang warna merah, pasangannya ya merah juga. Tidak pernah ada ceritanya, sepatu merah mau berpasangan dengan yang biru! Kalau ada orang pakai begitu, coba tanya, “Mas, lagi ospek ya?!”

Sepatu yang kita pakai bisa bertahun-tahun lho. Ya, tidak sampai 100 tahun, sih, tapi paling tidak setahun lebih pastilah ada, lah. Saat sepatu itu mulai lama dan dimakan usia serta diminum umur, dia tidak pernah ganti pasangan dan tidak pernah minta ganti pasangan. Gimana mau minta? Bicara saja tidak bisa kok!

Sama dengan pasangan sejati, antara suami dan istri. Mulai dari 10 tahun, 20 tahun, hingga kakek dan nenek, tetap tidak mau ganti pasangan. Kita bisa melihat di video-video internet, cukup banyak kakek dan nenek yang masih terlihat mesra, meskipun sudah tuir. Bahkan, sakit pun bersama-sama. Ranjang mereka berdekatan.

Tidak hanya itu lho! Ada teman saya meninggal dunia karena kecelakaan. Selang beberapa bulan kemudian, istrinya meninggal juga. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.

Rupanya, dulu waktu mereka masih hidup, sering jalan berdua di acara-acara penting. Suaminya pun romantis abis. Pernah ada yang mendengar, dia menelepon istrinya, “Sudah makan, Dik?”

Aih, pasti ngiler ya jomblo ini! Padahal suami tersebut rambutnya sudah banyak memutih lho, tetapi romantisnya dengan istri tercintanya tidak pudar. Bahkan, terasa makin menjadi ketika sudah menginjak usia tua.

Baca Juga: Bicara Jumantara, Bicara Tentang Cinta

Mungkin itulah, Allah menyatukan mereka kembali di alam kubur agar hubungan cinta mereka kembali terjalin. Wa’allahu alam.

4. Tidak Pernah Saling Injak atau Malah Saling Tendang

Adanya KDRT itu biasanya terjadi karena adanya kekerasan dalam rumah tangga. Lho, memang namanya itu!

Maksudnya begini, perilaku kekerasan, baik itu suami menyerang istri atau sebaliknya, bisa saja terjadi karena hal-hal yang sepele. Namun, hal yang sepele itu tidak pernah terselesaikan dengan baik. Akhirnya, jadi makin membesar dan membesar. Semakin membesar, semakin tidak mengecil.

Dari yang awalnya kata-kata, menjadi perilaku fisik. Ya, memukul, ya, menampar, ya, menendang, bahkan sampai baku bunuh. Naudzubillah min dzalik.

Beda halnya dengan sepasang sepatu. Ketika berjalan, mereka tidak saling injak, secara normalnya lho ya. Mereka juga tidak saling tendang, ini juga secara normalnya. Akhirnya, karena tidak saling injak dan tendang, perjalanan mereka jadi lancar. Tidak ada gangguan maupun pemeriksaan. Ups, ini bukan perjalanan mudik. Dan, tentu saja cepat sampai ke tujuan.

5. Ketika Beristirahat, Mereka Selalu Berdekatan

pasangan-sejati-2

Pernah lihat ada orang yang baru pulang dari kantor, kampus, atau sekolah, lalu melemparkan sepatunya ke sana ke mari. Yang kiri dibuang ke planet Mars, yang kanan ke planet Venus? Pernah ada yang lihat seperti itu?

Biasanya sih, begitu kita tiba di rumah, sepatu ya ditaruhnya berdekatan. Yang kiri sebelah kiri, yang kanan sebelah kanan. Kenapa kita taruhnya seperti itu? Biar gampang dicari. Lumayan repot ‘kan kalau kita harus pergi ke planet Mars buat ambil yang kiri, dan ke planet Venus buat ambil yang kanan?

Sepatu yang ditaruh seperti itu, entah itu di rak sepatu, lemari khusus sepatu, atau bahkan di lantai saja dekat pintu, maka posisinya tetaplah berdekatan. Sama dengan pasangan sejati. Suami istri yang istirahat selalunya tidur di atas ranjang yang sama. Satu kamar. Sementara anak-anaknya tidur masing-masing di kamarnya.

Suami istri dari sejak kita kecil, bapak dan ibu kita, tidurnya ya begitu. Anak kecil lihatnya ya kedua orang tuanya di kamar yang sama. Dari satu tempat tidur itulah, tercermin perumpamaan seperti sepasang sepatu itu tadi.

Saat istirahat selalu berdekatan. Kalau tidak dalam posisi seperti itu, misalnya yang suami ada di planet Mars, sedangkan istrinya di planet Venus, maka bisa dianggap bukanlah pasangan sejati, kecuali memang dalam keadaan terpaksa seperti itu, misalnya: ada urusan di luar, perjalanan dinas, dan lain sebagainya. Nanti begitu kembali, bersama-sama lagi, berdekatan lagi.

6. Ketika yang Satu Hilang, yang Lain Menjadi Tidak Berguna

Bayangkan sepatu kita yang mahal, hilang sebelah. Mau hilang yang kiri atau kanan, pastilah akan menyusahkan. Kalau yang kiri saja hilang, masa kita mau pakai sepatu cuma kanan? Sebaliknya, yang kanan entah ke mana, apakah kita akan tetap pakai yang kiri?

Pasangan sejati yang saling mengisi dan mendukung, ketika hilang satu, lainnya menjadi susah. Biasanya bersama-sama kok, sekarang jadi berbeda. Makanya, seorang single parent itu berat. Bukannya tidak berguna sama sekali seperti sepasang sepatu itu tadi, tetapi kekuatannya memang berbeda. Kembali menjadi jomblo setelah sempat menikah itu sangatlah berat. Terlebih jika harus mengurus dan mengasuh anak-anak. Pastilah repot kalau cuma sendiri.

Kesimpulan

Enam perumpamaan pasangan sejati seperti sepasang sepatu itu pada dasarnya memang berasal dari teori, tetap praktiknya ya diserahkan ke sepatu, eh, pasangan masing-masing. Suami istri memang menjadi ikatan yang paling kuat di dunia ini. Ikatan jabatan, kontrak kerja, sekolah, masih kalah jauh dibandingkan dengan ikatan suami dan istri.

Makanya itu, suami dan istri ikatannya memang tidak main-main, sebab menyangkut dunia dan akhirat. Dan, untuk mempraktikkan tulisan ini, mari kita beli sepatu bersama suami atau istri kita. Diskon Ramadhan kemarin masih ada apa tidak ya? Hem..

Baca Juga: Bombana: Tidak Cuma Terasi, Tetapi Juga Literasi

Share This:

28 Comments

  1. Wah, artikel ini menyadarkanku bahwa pasangan bukan untuk teman hidup semata, tapi pelengkap penyeimbang dan penyempurna. Apalagi saling menguatkan kelemahan masing². Makasi sharinya mas bro q. Sedikit ekstra dariku. Bahasanya ringan enak dibaca. Mantap deh pokoknya.bravo.

  2. Tulisan yang sekalu renyah untuk di nikmati.. Terimakasih Pak Rizki.. Semoga pasangan kita tetap seradi sampi kaki nini…

  3. Terimakasih tulisannya sangat menarik, dan saya tidak pernah cape untuk membaca walaupun tulisannya panjang. Selalu ada kejutan yg kadang membuat saya senyum sendiri kalau baca tulisannya. Mantaaappp deh

  4. Ini sudah jika membaca artikel Bung Rizki jadi tersenyum-senyum sendiri. Makanya saya pilih sembunyi atau tutup pintu dulu kwartir ada fitnah. ….
    Kesimpulannta.lega yang jelas kita bukan sepatu…..apalagi dengan merek keliru .. hehehe. Mantap bung…. salam literasi

  5. Pasangan sejati seperti sepasang sepatu, perumpamaan yang pas menurutku. Dan penjabaran di artikel ini benar adanya. Kalau aku sendiri meneladani Bapak Ibuku yang sudah menikah selama 58 tahun dan Alhamdulillah sangat kompak hingga kini. Sementara aku dan suami baru 19 tahun nikah dan masih banyak PR buat penyesuaian diri

  6. Iyaa ihh soswit ya pasangan sepatu itu. Kalau satu belahan jiwa hilang, yang lain menjadi tidak berguna. Tidak pernah saling injak dan tendang, harus saling mendukung, Tidak pernah sisihan (sevisi semisi seharusnya eaaa), dan tentu saja yang paling penting adalah jangan melihat sepatu orang lain! Salam Kompak Selalu!

  7. Halaaaa, baca prolognya Mas Rizky, saya ngakak bingo. Ini komedian atau bloger sih? Kekeke.

    Filosofi sepatu dalam kehidupan berpasangan memang selalu pas dan menarik. Tuh, kan jadi pengen nyanyi lagunya Tulus. Hehehe

  8. Filosofi sepatu ya… menarik membacanya saya juga baru tahu.. padahal sering pakai… dan setidaknya ada 6 hal yg bisa dipelajari dari sepasang sepatu ya kak …

  9. Ribuan terimakasih saya ucapkan setelah membaca tulisan ini.
    Sungguh terpesona setiap membaca satu persatu tentang sepasang sapatu kehidupan.
    Sehat selalu Pak Rizki.

    1. Terima kasih yang banyak juga buat bapak, karena berkali-kali mengunjungi web saya ini. Salam sehatu juga untuk diri dan keluarga bapak.

  10. Bener juga ya, sepasang sepatu itu pas banget buat menggambarkan pasangan sejati. Jadilah filosofi sepatu, karena apapun yang ada di sekitar kita bisa diambil pelajarannya bagi orang yang mau membaca

  11. Tapi kan mas, ada juga suami istri yang tidur gak barengan tapi gak berantem. Saya dan suami mas. Wkwkwk
    Itu semua karena suami di samping tempat tidur, saya di tempat tidur barengan sama bayi. Khawatir suami tidurnya terlalu lasak. Jadi mending suami disingkirkan, eeh disuruh pindah lapak

  12. Inilah mengapa saya jarang membeli sepatu dikarenakan cocok banget bagi saya yg sepatu lama walaupun ya udah bertahun” memakai tapi gak lernah bosan memakainya karena sekali beli di pake terus hehe

  13. Filosofi yang sangat bermakna, untung saja diandaikan bagai sepasang sepatu, bukan sepasang sendal. Apapun itu, mestinya suami dan istri tetap rukun dan damai. Sakinah mawaddah warohmah, meskipun kehidupan rumah tangga tidak mungkin lepas dari konflik

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.