Tampil Perdana Ceramah Tarawih Ramadhan 1442 Hijriyah di Masjid Baru

Tampil Perdana Ceramah Tarawih Ramadhan 1442 Hijriyah di Masjid Baru

Share This:

Kemarin, Senin (19/04), saya cukup kaget, nama saya masuk juga didaftar untuk ceramah tarawih Ramadhan. Tadi malam, saya kebagian di Masjid Darul Ilmi. Di mana itu?

Itu adalah masjid baru di kompleks pesantren Al-Wahdah Bombana, Sulawesi Tenggara, tetapi yang khusus putranya. Sebelumnya sudah ada sih masjid, namanya An-Nur. Tapi letaknya di kompleks pesantren putri.

Dulu, antara santri laki-laki dan perempuan berada dalam satu kompleks. Namun, yah, namanya ABG, selalu saja ada kesempatan untuk melanggar, meskipun tidak semua. Pelanggaran paling berat adalah pertemuan khusus antara santri laki-laki dan perempuan, bahkan sampai pacaran. Kalau sudah begitu, tidak ada hukuman yang lebih pas, selain ke luar. Bukan ke luar dari bumi, melainkan ke luar dari pesantren tersebut.

Belum Jadi

Masjid Darul Ilmi, dibilang baru, tetapi masih belum sempurna. Masjid itu belum jadi utuh. Lantainya belum ditegel semua. Namun, sudah bisa dipakai sholat Tarawih kok.

Apakah bisa dipakai juga untuk sholat berjamaah? Ya, iyalah, jelang dos, eh, jelas dong! Sholat Tarawih saja bisa, masa lima waktu tidak? Hayo, siapa yang tidak sholat lima waktu, tapi rajin ikut tarawih? Kebalik euy!

Saya berangkat dari rumah bersama dua jagoan kecil saya. Yang besar namanya Raihan, umur tujuh tahun, sedangkan adiknya bernama Hafidz, usia tiga tahun. Mereka berdua memang sering ikut ke masjid. Alhamdulillah.

Tiba jam 19.15 WITA, bukan WATI, di lokasi kejadian sudah adzan, tetapi belum iqamat. Belum juga takbir, apalagi salam. Berarti masih ada waktu. Saya lihat-lihat situasi. Hem, besar juga masjid ini, meskipun masih kalah besar dibandingkan Masjid Istiqlal.

Baca Juga: Kotoran Telinga Antara yang Nyata dan Gaib

Biasanya, sebelum saya tampil, saya mencoba untuk melihat para audiens, kira-kira bagaimana nanti menghadapinya?

Sebelum tampil, rasa grogi itu pastilah ada. Bohong jika seorang pembicara tidak ada demam panggungnya. Hanya, pembicara yang berhasil harus bisa menaklukkan demam panggungnya itu. Sedangkan yang tidak berhasil, dari demam panggung menjadi demam beneran!

Memancing Perhatian

ceramah-tarawih-ramadhan-1

Teknik yang saya pakai untuk menangkap konsentrasi dari audiens adalah dengan memancing perhatiannya. Hal itu justru saya lakukan sejak sebelum naik. Saat nama saya disebutkan, saya malah tolah-toleh ke sana-ke mari. Seakan-akan saya sedang mencari penceramah yang dimaksud. Eh, ternyata memang saya sendiri!

Maju beberapa langkah, dekat memang mimbarnya. Pas sudah di atas mimbar, saya memasang mikropon yang dikalungkan di telinga mengitari kepala itu lho. Lebih praktis daripada saya harus memegang mikropon. Terlebih materi yang akan saya bawakan hanya dari HP Vivo saya.

Pas sorenya, saya mencari materi apa ya yang kira-kira cocok bagi jamaah yang sebagian besar memang santri? Kalau materi tentang poligami, wah, pasti tidak akan cocok! Tentang siasat perang jihad para sahabat dulu juga saya rasa kurang cocok. Materi tentang Al-Qur’an sudah sering mereka terima. Namanya saja pesantren yang fokusnya memang menghafal Al-Qur’an.

Saya mencarinya di aplikasi Khutbah Jum’at dari Yayasan Yufid Network. Alhamdulilah, materinya banyak sekali. Lho, Mas, kok materi khutbah Jum’at? Bukankah mau tampil ceramah tarawih Ramadhan?

Ya, memang, ‘kan yang penting materi tentang Islam. Tinggal dikembangkan sendiri. Konteks ilmu dari materi apapun bisa masuk ke khutbah Jum’at maupun ceramah biasa.

Materi yang saya dapat adalah: Ucapan Dosa yang Dianggap Biasa. Nah, ucapan-ucapan tersebut seperti menghina Allah, bersumpah selain Allah, “menyuruh” Allah berbuat zalim kepada manusia, dan lain sebagainya. Selengkapnya bisa diakses di sini ya!

Terus, sesuai subjudul di atas, apa yang bisa bikin perhatian mereka tertarik? Oh, saya lempar dengan pertanyaan, “Hari ini sudah puasa ke berapa?”

Dijawab, “Malam kedelapan.”

“Siapa di sini yang dari hari pertama sampai hari ketujuh yang sudah batal puasanya?” Tanya saya kembali.

Mereka bingung! Batal puasanya? Mirip anak kecil begitu ya, puasa tidak full atau ada puasa yang bolong. Dari ekspresi mereka, ada yang menjawab, “Belum.”

Ketika ada yang menjawab belum seperti itu, saya cuma mengucapkan, “Masya Allah. Hebat ya kalau ada yang tidak pernah batal puasanya sampai sekarang, berarti dia puasa terus, tidak pernah berbuka!”

Bukankah berbuka puasa itu pada dasarnya membatalkan puasa? Nah, jadi tiap hari pastilah puasa itu dibatalkan. Kok bilangnya belum pernah? Mau tidak makan dan minum selama sebulan apa?

Ada yang hampir terlupa. Seperti ceramah tarawih Ramadhan pada umumnya, harus pula mengucapkan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya juga menyampaikan di situ. Salah satu nikmat yang perlu disyukuri adalah rasa panas atau dingin yang mungkin kita rasakan di masjid itu.

“Seperti di masjid ini yang panas karena memang belum ada AC-nya!”

Jangankan AC, Mas, bingkai jendelanya saja tidak ada kok!

Lho, tapi ‘kan jelas AC-nya belum ada, entah apakah nanti tidak akan dipasang atau justru tidak pakai AC?

Diawali dengan Cerita

ceramah-tarawih-ramadhan-3

Biasanya, dalam mengikuti lomba blog, saya sertakan cerita di dalam tulisan. Bisa satu cerita, bisa juga dua atau lebih. Konsep itu saya terapkan juga dalam ceramah. Saya mengambil cerita tentang seorang bapak buta huruf yang dikirimi surat oleh anaknya di daerah lain. Hem, hari gini masih ada juga yang buta huruf ya?

“Buta huruf di sini bukan berarti pakai kacamata hitam, terus pakai tongkat ya?” Kalau itu namanya buta beneran. Mereka tertawa sedikit.

Bapak tersebut karena tidak bisa membaca, minta dibacakan surat oleh temannya. Profesi teman si bapak adalah tukang bakso. Rupanya, tukang bakso itu membaca dengan intonasi yang keras, “Pak, minta uang. Uangku sudah habis di sini!”

Oleh karena saya membaca juga dengan keras, terbayang di benak audiens bahwa tukang bakso itu memang dengan suara yang keras. Seperti berteriak begitu. Apa respons bapak itu? Dia bilang, tepatnya saya yang membilangkan, “Dasar anak kurang ajar! Berani betul meminta orang tua macam begitu!”

Bapak itu tidak percaya anaknya kok tidak sopan? Makanya, dia mencari temannya lagi, seorang tukang siomay. “Nah, tukang siomay yang HP-nya Xiaomi ini, membaca surat tersebut.”\

Baca Juga: Resensi Buku: Novel HAMKA

Pas mendengar tukang siomay HP-nya Xiaomi, mereka tertawa. Berarti saya sudah mengambil perhatian mereka. Berhasil. Apalagi dengan ekspresi tertawa semacam itu.

Tukang siomay membacanya dengan lembut. Kalimatnya sama, tetapi nadanya berbeda. Respon si bapak juga tidak sama, dia bulang, tepatnya saya yang membilangkan, “Wah, anakku butuh uang sekali di sana. Baiklah akan segera saya kirimkan kamu, Nak!” Begitulah kira-kira.

Perumpamaan dari satu surat yang sama, tetapi nadanya berbeda. Tergantung siapa yang membawakan, maka hasilnya juga tidak sama.

Oh, ya, tadi saya sebutkan dua contoh saja tentang ucapan dosa yang tidak terasa. Satunya adalah menghina Allah, bahkan yang cukup parah, bercanda dengan mengatakan dia kafir. Padahal, kafir atau tidak itu bukan objek bercandaan.

Agama ini bukan untuk diolok-olokkan. Apalagi cuma buat konten di media sosial. Waduh, parah banget deh kalau sampai terjadi! Apalagi kalau anak-anak muda kita mengikutinya. Tambah parah.

Bersumpah juga tidak boleh untuk selain Allah. Misalnya demi jin, demi Rasulullah, atau bahkan demi kamu, aku bersumpah. Khusus yang terakhir ini, mereka tertawa lagi karena saya menyebutkan tentang orang yang mabuk kepayang akibat cinta. Akhirnya sumpah pun demi orang yang dicinta. Hadeh…!

Penutup dengan Kesan Lagi

ceramah-tarawih-ramadhan-2

Ceramah memang jangan lama-lama, soalnya masih ada shalat tarawih. Mungkin saja santri yang jadi imam nanti akan membaca surat agak panjang. Ya, silakan saja. Jadi, segera saya akhiri ceramah tersebut dengan mengatakan, “Selamat menunggu sahur!”

Padahal saat itu belum juga jam delapan malam! Masa menunggu sahur? Dari situ, mereka tertawa lagi.

Terakhir, saya turun dari mimbar, ada santri MC yang membacakan sesuatu, saya lewat di depannya, sedikit menunduk, mengangguk kepala dan bilang, “Permisi.”

MC itu jadi salah tingkah, dan tentu saja, tertawa lagi dari para santri. Pokoknya tertawa lagi dan tertawa lagi.

Tujuan saya ceramah dengan membawakan segar seperti itu, karena saya tahu, bahwa mereka diberikan target hafalan selama masuk Ramadhan ini. Mereka nanti baru bisa libur, pulang kampung pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Targetnya jelas berjuz-juz. Kesibukan mereka menghafal jangan sampai menjadikan jenuh atau bosan.

Selain itu, ceramah begitu memang ciri khas saya. Ada yang bilang, saya naik saja, sudah pada ketawa. Mungkin mereka melihat muka saya ini yang culun plus imut kali ya?

Membawakan materi agama yang cukup berat bisa kok dengan sedikit banyolan atau candaan, asal jangan terlalu banyak. Kalau banyolannya yang lebih banyak, lebih bagus ikut stand up comedy saja.

Dan, saya memang suka menghibur orang, membuat orang lain tertawa. Dengan demikian, paling tidak ada kegembiraan di hati mereka bertemu dengan saya. Bukankah salah satu amal yang terbaik adalah menanamkan kebahagiaan di hati seorang muslim?

Tentunya, berusaha menghindari banyolan dengan cerita-cerita yang sembarangan. Kalau toh cerita fiktif, ya, tinggal dijelaskan saja bahwa itu fiktif. Sekadar contoh. Sekadar perumpamaan. Begitu lho, Gaes, bukan tabung gaes. Hem, itu mah tabung gas!

Begitulah cerita saya tampil ceramah tarawih Ramadhan di tahun ini. Alhamdulillah, tahun-tahun sebelumnya juga pernah, sekarang tampil pertama di masjid yang baru milik pondok pesantren Al-Wahdah Bombana, Sulawesi Tenggara.

Bagi yang membaca ini sekarang, selamat menunggu buka puasa ya! Jika sudah malam dan masih membaca ini, selamat menunggu sahur. Antara siang dan malam juga masih membaca tulisan ini, saya mengucapkan, “Selamat menunggu hari raya Idul Fitri!”

ceramah-tarawih-ramadhan-oke

Baca Juga: Alternatif Lain Menggambar Pemandangan

Share This:

21 Comments

  1. Jamaah ga bakalan ngantuk krn selalu bisa membuat jamaah tertawa. Materi yang di sampaikan pun juga bisa masuk..

  2. Betul kata saya ternyata profesi Mas Rizky banyak ,termasuk jadi ustadz sangat oke,multi talenta mantap👍😊

  3. Ternyata pak Ustadz isi ceramahnya lucu juga seperti di tulisannya. Selamat Bung Rizky. Salam Literasi.

  4. Saya juga pikirnya nggak pernah batal he he. Terima kasih Pak Rizky. Jadi tdk ngantuk juga bacanya.

  5. Keren… Pak Ustad, Betul sekali sebagai penceramah/trainer/pembawa acara dll. Kadang2 rasa deg… deg.. degan… sangat terasa. Seperti… Emak kalau pulang diklat suka disuruh oleh Kepala Sekola menyampaikan materi diklat. Perasaan gerogi hanya beberapa menit. Asal kita tenang… Sukses dan lancar, Pak Ustad, Aamiin…

  6. Sip dan renyah sekali. Dari awal sampai akhir saya baca dengan saksama. O, ya. “keluar” nulisnya “ke luar” atau “kleuar” ya. Kadang saya jadi bingung. Bingung lagi malah ada yang bilang keluar kok di dalam. Keluar ya di luar, ya?

    1. Kan yang benar ke luar itu dipisah, Pak. Bukan keluar. Saya juga heran, kenapa mereka sampai berpisah ya? Apakah ada masalah? Haha…

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!