5 Tips Menulis Setelah 12 Materi Kelas Menulis Online Bersama Om Jay

5 Tips Menulis Setelah 12 Materi Kelas Menulis Online Bersama Om Jay

Share This:

Tanpa terasa, materi kelas menulis online bersama Om Jay sudah melewati 12 putaran. Tanpa terasa juga, kita mulai akrab satu sama lain. Nah, ada beberapa saran saya untuk Bapak/Ibu Guru yang saya hormati. Terutama menyangkut dengan tulisan resume yang sudah banyak ditayangkan. Seperti apa?

Namanya saja belajar dengan menyantap materi kelas menulis online melalui WA ini. Sejauh yang saya amati dari tulisan-tulisan dalam blog yang ada, ternyata ada pola yang hampir sama.

Ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan pola dalam menjahit baju. Namun, lebih khusus menjahit kemampuan menulis untuk bisa lebih baik lagi. Begini penjabaran dari saya:

1. Penyebutan Personal

materi-kelas-menulis-online-personal
Penyebutan Personal yang Perlu Diperhatikan. Gambar oleh Peggy und Marco Lachmann-Anke dari Pixabay

Pertama yang saya amati dari blog Bapak/Ibu Guru adalah penyebutan personal yang melekat pada diri seseorang. Jelas, yang saya maksud di sini, seseorang itu adalah pembicara atau narasumber atau pemateri.

Dalam materi yang ada, ketika narasumber mengatakan misalnya begini, “Saya mengikuti pelatihan bersama Om Jay, dan sebagainya..”

Atau:
“Saya telah membuat buku yang sudah terbit di penerbit mayor, dan sebagainya..”

Nah, di situ kata “saya” ‘kan menunjuk si narasumber atau pemberi materi tersebut. Semestinya jangan juga ditulis “saya” di blog Bapak/Ibu. Nanti “saya” di situ seakan-akan Bapak/Ibu Guru yang bicara, padahal bukan.

Lebih bagus begini: Beliau mengatakan bahwa bukunya sudah terbit di penerbit mayor.

Baca Juga: Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Sendiri Seperti Matahari Terbit Setiap Pagi?

Atau: Sejak ikut pelatihan menulis bersama Om Jay, narasumber kita yang satu ini merasakan manfaatnya dan sebagainya, dan sebagainya..

Kalimat langsung dari pembicara mesti diubah jadi kalimat tidak langsung. Kata “saya” diganti dengan beliau, sang narasumber ini, sebutkan namanya atau pemateri untuk tanggal ini dan lain sebagainya.

2. Susunan Paragraf

materi-kelas-menulis-online-paragraf
Paragraf dalam Buku Bisa Berbeda dengan di Blog

Saran berikutnya dalam materi kelas menulis online ini adalah bentuk paragraf. Kita tahu, sebuah paragraf pastilah tersusun oleh beberapa kalimat. Kalimat dari kata, kata dari huruf.

Untuk menjadi satu tulisan yang padu, dibutuhkan beberapa paragraf. Tidak mungkin dong, satu karangan, satu paragraf saja! Mungkin kita bisa muntah membacanya, apalagi sedang naik mobil dan mabuk darat sekalian.

Saya menemukan, masih cukup banyak blog Bapak/Ibu Guru yang terlalu padat. Cukup panjang dan penuh sekali.

Begini, memang beda sih format menulis antara di komputer/laptop dengan di HP. Kalau di komputer, satu paragraf dengan satu atau dua kalimat masih terlihat sedikit karena bentuknya memanjang alias horizontal.

Akan tetapi di HP karena formatnya vertikal, maka itu sudah lumayan panjang. Ini yang perlu diperhatikan, karena dua media yang berbeda, ibaratnya seperti dua hati yang tidak sama. Halah.

Ada paragraf yang panjang sekali. Saya sebagai pembaca jadi merasa kurang nyaman saking padat paragraf tersebut. Tidak tahu yang lain.

Memang, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, satu paragraf bisa empat atau lima kalimat, bahkan lebih.

Namun, ini ‘kan menulis online, kelas menulis online, maka perlu disesuaikan dengan format di HP.

Bukankah lebih banyak yang akses dari gawai? Kecuali nanti bila mau jadi buku, bisa diatur lagi, tetapi sekarang konteksnya menulis lewat blog alias online.

Saya biasa dalam satu paragraf sedikit jumlah kalimatnya. Hanya sekitar dua sampai tiga kalimat. Bahkan kurang dari itu, kalau kalimatnya panjang.

Ada komentar yang mengatakan bahwa tulisan saya memang panjang, tetapi tidak membosankan, Alhamdulillah. Mungkin karena saya menghindari paragraf-paragraf panjang.

Pada dasarnya, saat ini kita sedang menulis online. Pembacanya juga warganet. Karakter mereka mau yang ringkas, sederhana dan ringan.

Kalau perlu, dalam beberapa scroll sudah ada materi yang bisa didapatkan. Makanya itu, ada yang cuma skip-skip, yang penting bisa cepat selesai.

3. Penggunaan Tanda Baca dan Pemakaian Huruf Besar

materi-kelas-menulis-online-tanda-baca
Penggunaan Tanda Baca dengan Spasi dan Setelahnya dengan Huruf Besar

Kaidah awalnya, setelah tanda baca itu huruf besar, misalnya: titik, tanda tanya, tanda seru maupun tanda kutip dalam kalimat langsung.

Dan, mesti diberikan spasi setelah tanda baca tersebut. Bukan sebelumnya. Setelah koma, spasi satu, setelah titik begitu juga.

Jadi, tidak lengket kalimat berikutnya dengan tanda baca, tetapi ada jarak, yaitu: satu spasi.

4. Menemukan Gaya Sendiri

materi-kelas-menulis-online-gaya-sendiri
Mencoba Untuk Membuat Tulisan yang Lain daripada yang Lain

Ada satu studio foto di tempat saya, namanya Gaya Baru. Saya pernah mencetak foto di tempat itu, hasilnya cukup memuaskan. Sudah pernah ke sana?

Lho, Mas, kok tidak nyambung? Memang, tetapi saya melihat dari nama usaha tersebut: Gaya Baru. Termasuk dalam ulasan materi kelas menulis online yang saya ikuti ini.

Baca Juga: 7 Kiat Menulis yang Mudah [Resume Ketiga Pelatihan Menulis Online Bersama Om Jay dan PB PGRI]

Bapak dan Ibu Guru hebat, ini sudah resume ke-12, seperti yang saya katakan di awal. Sudah agak banyak. Semestinya sudah mulai menemukan pola atau gaya penulisan sendiri.

Nah, untuk itu, boleh dicoba menulis dengan gaya bahasa sesuai pribadi masing-masing. Mungkin pertama kali terasa bingung dan kaku, tetapi itu lebih baik daripada kita copas habis perkataan narasumber lewat chat WA.

Bukankah di sini namanya saja belajar menulis? Kalau begitu, ya, mari kita belajar menulis, bukan menyalin sepenuhnya kalimat dari narasumber.

Menulis dengan gaya sendiri memang butuh proses. Butuh waktu. Namun, sering dengan konsistensi kita menulis, Insya Allah, akan terbentuk dengan sendirinya kok!

Itulah yang menjadi keunikan kita masing-masing. Betapa indahnya, kalau masing-masing dari kita punya pemaparan yang sedikit berbeda.

Oh, ya, bukankah kita juga akan jengkel jika ada murid kita yang mencontek atau copas milik temannya? Nah, inilah kesempatan Bapak/Ibu Guru untuk tidak seperti itu juga.

Bukankah hasil pekerjaan sendiri itu lebih baik daripada meniru pekerjaan teman? Ya ‘kan? Setahu saya, itu diamini oleh semua guru. Kurang etis dong kalau kita melanggarnya sendiri.

5. Format Penulisan di Blog

materi-kelas-menulis-online-blog
Memperhatikan Kembali Format Penulisan di Blog

Beberapa kali saya menemukan paragraf yang terhambur atau tidak rapi. Ada yang maju, ada juga yang terbelakang. Wuih, seperti jenis negara saja!

Saya sendiri, menyamakan semua. Pokoknya paragraf baru itu muncul ketika sudah spasi.

Selalu lurus dari pinggir. Memang ini juga kurang tepat dalam bahasa Indonesia, tetapi sekali lagi, kita sedang menulis online.

Menurut saya, itu lebih rapi daripada ditulis dari Microsoft Word, dipindahkan ke blog, malah paragraf jadi tidak beraturan.

Resume itu tidak hanya menyangkut isi tulisan, tetapi juga tampilan tulisan. Kita tentu lebih suka dengan tulisan yang lebih rapi dan terlihat tertata bukan?

Baca Juga: Artikel Blog yang Paling Banyak Dicari

Untuk ini, saran saya, jangan buru-buru disebarkan ke grup. Coba diteliti dulu. Dicek dulu di HP Bapak/Ibu Guru.

Cara saya juga begitu. Selesai menulis, sudah ada linknya, saya buka di HP.

Mengapa di HP? Sebab, saya sering menemukan ada kesalahan penulisan ketika baca di HP. Saat bikin di laptop, sepertinya tidak ada yang salah. Eh, begitu di HP, kok masih ada lho!

Tidak perlu Bapak/Ibu Guru buru-buru. Karena ini ‘kan bukan perlombaan, seperti lomba blog.

Beberapa waktu yang lalu, saya cukup lama kasih link di sini. Ya, bukan karena saya sudah menulis, terus ditinggal, melainkan justru karena saya belum menulis sama sekali!

Namun, Alhamdulillah, begitu sudah hari kedua atau ketiga, bahkan menjelang materi berikutnya, saya langsung kebut.

Meski mengebut, tetapi saya tidak buru-buru. Waktu menulis itu, Alhamdulillah, saya tidak pakai catatan tertulis. Cukup lihat dari materi di WA atau blog Bapak/Ibu Guru, baru saya kembangkan sendiri.

Beberapa memuji hasil tulisan saya, Alhamdulillah. Namun, sebenarnya kalau dilihat ke belakang, saya juga cukup banyak kegagalan dalam menulis.

Termasuk ketika berguru ke seorang penulis cerpen terkenal dari Jogja. Ketika saya menyodorkan tulisan dalam bentuk printout, selesai baca, dia bilang sambil melempar bundel kertas, “Jelek semua!”

Ya, begitulah, dunia menulis. Prosesnya bisa panjang. Ini malah kesempatan curhat, hehe.

Bakat mungkin bisa jadi faktor, tetapi pada intinya tetap kerja keras, konsistensi latihan, rajin membaca, menemukan kesalahan, belajar lagi dan seterusnya.

Apakah untuk pintar menulis merupakan domain dari guru bahasa? Oh, tidak selalu begitu!

Membaca dan menulis adalah kemampuan dasar yang diajarkan sewaktu kita SD. Semua orang berpendidikan pastilah mengalami hal ini.

Oleh karena itu, tidak bisa dilihat latar belakang sekarang, misalnya guru IPA, guru Matematika atau bahkan guru olahraga, lalu beralasan tidak bisa menulis.

Sebab, menulis itu lebih kepada kebiasaan. Kalau kita melihat dalam situs atau aplikasi menulis, sudah banyak bermunculan penulis baru.

Banyak pula dari mereka yang masih muda. Masih bersekolah. Namun, sudah menghasilkan tulisan yang cukup hebat.

Inilah keuntungan dari materi kelas menulis online bersama Om Jay. Berbagai tingkat atau latar pendidikan serta profesi guru terpadukan di sini.

Oleh karena berbagai perbedaan itulah, mungkin saja materi kelas menulis online yang ada disesuaikan dengan pengalaman Bapak/Ibu Guru dalam mengajar.

Atau kehidupan sehari-hari, atau apalah yang kita perlu ceritakan ke publik. Saya juga beberapa kali menampilkan pengalaman atau masa lalu saya.

Selain untuk berbagi atau sharing, yah, untuk eksistensi juga, lah. Seperti yang dikatakan Cikgu Tere, bahwa menulis itu untuk membuat jejak digital.

Jadi, penting sekali membuat jejak digital yang baik, melalui media internet ini. Tidak perlu juga sampai malam-malam ikut Pramuka, termasuk mencari jejak. Pas ditanya orang, “Sudah besar kok ikut mencari jejak, Pak?”

“Ya, saya ingin membuat jejak digital seperti yang dibilang Cikgu Tere! Siapa tahu lewat mencari jejak ini, saya bisa!”

Pastilah anggota Pramuka atau pembina di situ akan tepuk jidat. Selain bingung dengan pernyataan kita tersebut, juga karena ada nyamuk di jidatnya, hehe.

Kesimpulan

Mungkin itu saja analisis saya terhadap resume-resume yang sudah ditampilkan di sini. Saya juga masih merasa kekurangan dalam menulis, makanya itu saya ikut belajar di sini bersama Bapak dan Ibu Guru.

Meskipun saya diangkat jadi ketua, tetapi bukan juga yang terbaik, karena siapa tahu di sini ada yang lebih baik daripada saya?

Bisa jadi, ada yang masih beranggapan bahwa menulis itu berat. Makanya, tidak mengumpulkan resume seperti yang lain, menjadi pembaca yang setia saja.

Tidak apa-apa, karena manfaat dari kelas menulis online ini dikembalikan ke diri masing-masing. Siapa yang tekun belajar, maka Insya Allah dia akan mendapatkan manfaat positifnya. Begitu pula sebaliknya.

Bagaimana kalau ada yang mengatakan bahwa tidak bisa menulis? Sebenarnya, ini kembali perkataan kita sebagai guru saat ada murid yang bilang seperti itu.

Apa yang kita katakan biasanya?

“Ayo, Nak, terus belajar!”

“Ayo, kamu pasti bisa!”

“Coba dulu, dong, pelan-pelan ya!”

Nah, bagaimana jika semua kalimat itu dikembalikan kepada kita sebagai guru?

Memotivasi diri bahwa kita pasti mampu, kita pasti bisa menulis! Yang penting, kita mau tekun belajar. Itu saja kuncinya kok.

Menulis itu pada dasarnya tidak berat. Cukup angkat pulpen, ambil kertas, lalu menulislah. Atau buka HP, buka aplikasi catatan, juga bisa langsung menulis.

Nah, apakah semudah itu? Apakah segampang itu? Kalau sekadar menulis, anak SD juga bisa.

Namun, untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat, mengalir, renyah, dan tidak membosankan itu tidak mudah.

Tulisan-tulisan yang semacam itu sangat kita butuhkan di tengah arus informasi yang sangat cepat, padat, membanjiri luar biasa, hingga kita bingung, yang mana benar, yang mana salah?

Seperti yang dikatakan oleh Iqbal Aji Daryono, seorang penulis yang berfokus memproduksi esai tentang budaya dan media sosial, saya ikut juga di kelas onlinenya, tulisan yang baik itu bagaikan rest area.

Artinya, sarana istirahat, renungan, refleksi dan kontemplasi, semacam itulah, ketika begitu banyak tulisan sampah yang masuk ke gawai kita.

Sampah rumah tangga saja jika tidak dibuang, akan menyebabkan bau tidak sedap dan rumah yang tidak sehat, apalagi tulisan-tulisan sampah yang masuk ke pikiran kita.

Mari kita ciptakan tulisan bermanfaat! Mari kita buat tulisan yang bisa menjadi semacam oase di tengah padang pasir. Dan, melalui materi kelas menulis online bersama Om Jay ini salah satunya.

Yuk, semangat untuk membaca, menulis dan berbagi ke banyak orang! Sekian dan mohon maaf jika ada pernyataan yang sekiranya menyinggung. Wassalam. Salam literasi!

Baca Juga: Menulis Untuk Media Massa: Antara Kondisi Krisis dan Semangat Untuk Terus Eksis

Share This:

26 Comments

  1. Terina kasih sudah memberikan refkeksi dari proses menulis di kelas ini, semiga ini akan menjadi acuan kita, khususny saya untuk melakukan interospeksi terhadap tulisan-tulisan saya demi.mencapai tulisan yang baik dan benar serta menarik. Sukses selalu pak Ketua…..

  2. Ini yang dibutuhkan oleh para blogger pemula. Mencari gaya menulis memang sulit, sama sulitnya dengan mencari jejak, saya malah sedang belajar “Menghapus Jejak” seperti Peter Pan. Terkadang, kita sulit untuk obyektif dlm menilai tulisan diri sendiri apalagi tulisan orang lain. Rasa malu, baru belajar, dll menjadi penghalangnya. Semoga ke depannya, Bpk/Ibu bisa lebih obyektif dalam menilai karyanya. Jangan sampai, bertemu penerbit mayor lalu naskahnya ditolak mentah – mentah dan trauma untuk menulis lagi.

    1. Bener Cikgu. Menjadi penulis itu memang berat, tetapi sebenarnya menyenangkan lho. 😀
      Terima kasih atas kunjungan ke sini Cikgu. 🙏

  3. Aiih Terima kasih banyak Pak Ketua, luar biasa, saya jadi tahu kesalahan2 saya. Mantaap Pak, terus menginspirasi ya Pak, thank you…

  4. Pak Rizky ini memang kerenn. Tulisannya renyah dan bernas. Terima kasih sudah mengingatkan saya banyak hal mengenai kepenulisan. Saya banyak belajar dari apa yang bapak tulis.

  5. Saya baca semuanya dari awal hingga akhir karena rasa ingin tahu sejauh mana perkembangan yang dialami selama empat pekan. Alhamdulillah. Terima kasih atas sajiannya. Tadinya saya mau bertanya di grup tentang ini. Eh pak ketua memang sudah melakukan tupoksinya secara proporsional. Berpengalaman namun tetap membimbing. Semoga manfaat. Barakallah 🙏

  6. Enak dibaca. Membaca dari awal mengalir saja. Terimakasih informasinya. Poin yang saya ambil ternyata gaya bahasa sendiri itu menunjukkan kekhasan walau dengan materi yang sama.

    1. Pak ketua kita ini sungguh luar biasa.. Tulisannya sangat mengalir dan ringan untuk dibaca. Banyak belajar dari Pak Rizki. Di atas langit, masih ada langit. Intinya terus belajar dan mengasah diri. Semoga kita semua bisa produktif menulis dengan gaya kita sendiri dan berkarya untuk negeri. Aminn

  7. Siap p ketua, saya siap menerima saran dan masukkan dri siapa pun demi tercapai tujuan yg kita harapkan, menjadi penulis yang baik

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!