Ibu Bunuh Anak di Kediri, Seandainya Nanti Dia Normal Kembali, Akan Seperti Apa?

Ibu Bunuh Anak di Kediri, Seandainya Nanti Dia Normal Kembali, Akan Seperti Apa?

Share This:

Aduh, membaca berita semacam ini, kok ngeri juga ya! Ada anak bunuh orang tuanya, kali ini ibu bunuh anak di Kediri. Patut diduga, bahwa ibu tersebut mengalami gangguan jiwa. Tapi jangan sebut dulu dengan gila ya.

Tanpa bermaksud untuk membuka aib orang, berita ini memang perlu ditayangkan tentang kondisi kok bisa sampai ibu bunuh anak di Kediri, Jawa Timur itu. Pelakunya bernama Lasi, usia 63 tahun. Sama kamu sendiri, lebih tuaan mana? Mungkin saja dia lebih tua daripada kamu, atau kamunya yang lebih muda daripada dia. Kan gitu toh?

Rumah Berdarah

Kalau membaca subjudul ini, mungkin bisa dianggap judul film horor. Sebuah rumah yang di dalamnya ada pembunuhan, lalu yang terbunuh itu bergentayangan. Meskipun namanya bergentayangan, tidak selalu ada kaitannya dengan tayangan TV lho, meskipun sama-sama pakai kata “tayangan”. Terus, dari yang awalnya rumah berdarah, menjadi rumah hantu. Wah, kalau yang terakhir ini, lebih cocok dipakai buat wahana di pasar malam atau arena hiburan!

Baca Juga: Fenomena Anak Kecanduan Game Online

Oke, lanjut, karena kita tidak bahas rumah hantu, meskipun isinya hanya manusia. Bu Lasi sebagai seorang ibu tinggal Dusun Jambean, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Lengkap kan alamatnya? Karena lengkap begini, tidak perlulah kamu sampai mau kirim surat ke sana atau kirim barang, toh buat apa? Mau COD? Hehe…

Dia telah menghilangkan nyawa anak anak gadisnya sendiri yang masih berusia 18 tahun. Kejadiannya pada hari Jum’at (27/12/2019) tepatnya sore. Jadi, dilakukan beberapa jam setelah sholat Jum’at. Eh, Jum’at yang lalu, khotibnya menyampaikan khutbah tentang apa? Masih ingat?

Dari rumah Lasi, pembunuhan terhadap Putri Ulandari atau anak kandungnya tadi itu dilakukan Lasi justru di kamar rumah. Polisi sudah jelas telah mengusut alias menangani kasus KDRT tersebut. Kapolsek Puncu, Ajun Komisaris Yusuf, mengatakan, “Kita amankan tersangka,” pada Sabtu (28/12/2019) pagi.

Polisi juga telah menyimpan beberapa barang bukti, di antaranya: pisau sampai baju korban yang berlumuran darah. Sedangkan ada pula pegawai yang bajunya berlumuran tinta. Rupanya dia habis mengisi tinta printer. Aduh, kasihan deh! Eh, tapi justru itu tanda bahwa dia betul-betul sedang kerja di kantor. Barang bukti telah bekerja berupa tinta printer. Jadi, bisa dibanggakan ke istri rumah. Ya, kalau bangga. Kalau tidak, suaminya yang disuruh nyuci sendiri gimana? Tambah repot dong!

Korban yang telah tewas dan meninggal dunia itu telah dibawa ke RS Bhayangkara Kota Kediri untuk dilakukan proses otopsi. Lalu, bagaimana kok kejadian ini bisa terungkap?

Pengungkapan peristiwa itu bermula saat Rini Astuti, kakak korban, datang ke kamar korban. Dia curiga kok adiknya itu sudah tidur tanpa minum obat penenangnya. Korban memang diduga ada gangguan jiwanya. Ketika di kamar tersebut, Rini melihat korban ditutup selimut di atas ranjang. Ibunya ada di samping korban.

Rini curiga karena melihat ada darah pada selimut adiknya. Lalu, dia pun membuka selimut. Rupanya, adiknya ditemukan sudah tewas! Tanpa basa-basi lagi, Rini ke luar rumah, meminta pertolongan warga, tidak lupa pula melapor ke polisi.

Sama-sama Gangguan Jiwa

Sebenarnya, kalau ada kasus semacam ini, memang bisa langsung diduga bahwa ada gangguan jiwa pada diri pelaku. Secara umum, tidak mungkin ‘kan ada orang tua tega membunuh darah dagingnya sendiri. Apalagi seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Kalau anaknya dimarahi sih wajar, namanya juga orang tua. Tapi, kalau sampai dibunuh. Hadeh… Nyawa itu tidak ada gantinya. Tidak ada suku cadangnya. Meskipun memang yang dibunuh jelas ada sukunya.

Bagaimana dengan keterangan para saksi? Korban memang mengalami sakit mental dan fisik. Akibatnya korban sering berbaring lemas di tempat tidur. Tidak cuma itu, korban juga mesti meminum obat penenang sebelum istirahat atau tidur.

Baca Juga: Gangguan Mental Pada Anak

Antara korban dan pelaku adalah pasien di RSJ Kediri. Dalam perawatan dokter spesialis kejiwaan. Lalu, apa yang menjadi alasan ibu bunuh anak di Kediri tersebut? Rupanya, berdasarkan keterangan dari pelaku sendiri, anaknya itu susah diatur sehingga jengkellah sang ibu. Tidak cuma gangguan jiwa, tetapi juga sang putri adalah anak atau remaja berkebutuhan khusus. Jadi lengkap sudah alasan dari ibu membunuh putrinya itu.

Memang Menyedihkan

Gangguan jiwa bisa dicegah atau dikurangi penyakitnya dengan minum obat secara teratur dari dokter spesialis kejiwaan. Perlu ada kesadaran dari pihak keluarga sedini mungkin terhadap gangguan semacam itu. Bagaimana seandainya ibu tersebut sudah pulih atau sembuh dari gangguan jiwanya? Lalu, mendapati anaknya yang sudah menjadi mayat gara-gara kesalahannya sendiri? Mungkin akan tambah terluka. Dan mungkin pula, gangguannya akan muncul lagi.

Berobatlah! Berobatlah! Gangguan jiwa memang nyata adanya. Dan ingat, gangguan itu muncul bukan karena dosa masa lalu. Atau karena si penderita kurang iman kepada Allah. Tambah lagi kurang bersyukur. Ikhlas masih setengah-setengah. Ibadah masih kurang. Yang lebih ekstrim lagi karena santet, pelet, gangguan jin, karma, dosa turunan, azab, dan sebagainya. Waduh! Lha, terus kalau bukan karena itu, karena apa dong Mas?

Begini, gangguan jiwa itu merupakan penyakit otak yang penyebabnya memang kompleks. Ini tidak ada kaitannya dengan penderita tinggal di kompleks perumahan lho ya! Gangguan jiwa bisa muncul karena ada faktor biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Ketika sudah muncul, maka penderita mesti dibawa ke psikiater di RSJ. Mesti diobati. Mungkin saja dalam waktu yang relatif lama.

Jangan Malu ke RSJ!

Mengapa jangan malu berobat ke RSJ? Ya, sebab gangguan jiwa ini bisa menyerang semua orang lho! Jangan dikira orang yang hari ini tampak biasa dan sehat, eh, besoknya perilakunya cenderung dianggap aneh. Itu bisa karena gangguan jiwa. Sama dengan penyakit fisik, semua orang bisa terkena bukan? Hah, kamu jawab bukan? Waduh…!

Obat-obatan untuk penderita gangguan jiwa sudah ditanggung BPJS. Sudah mulai ada pula layanan kesehatan jiwa di Puskesmas. Hindari omongan orang-orang yang tidak paham dengan penyakit ini! Kalau ada yang bilang mesti berobat, dikira jualan obat. Atau malah dituduh sok pintar, agar obat rumah sakit laku dan lain sebagainya. Wah, sepertinya mulut mereka belum pernah dijejali sandal jepit ya!

Ibu bunuh anak di Kediri jangan sampai terjadi lagi. Sebab, jika seorang penderita gangguan jiwa dibiarkan begitu saja, apalagi sampai dipasung, maka nanti bisa menimpa keluarga sendiri. Penderita yang makin menderita dan tidak ditangani dengan perawatan dokter maupun obat, kalau sampai berbuat nekat bagaimana? Siapa yang rugi? Seperti ada salah satu keluarga istri saya yang sampai mengacungkan parang ke keluarganya sendiri. Nah, kalau sudah begitu, mesti minum obat rutin. Mungkin saja selamanya minum obat terus. Hah, selamanya? Iya!

Sumber Berita: Detik.com

Share This:
error: Content is protected !!