Meskipun Hari Guru Nasional 2019, Tetaplah Untuk Ustadz dan Ustadzah

Meskipun Hari Guru Nasional 2019, Tetaplah Untuk Ustadz dan Ustadzah

Share This:

Wah, terlambat memang nulisnya tentang hari guru nasional 2019. Saat saya menulis ini, jam dinding di tembok menunjukkan pukul 22.30 WITA. Yah, mau berganti hari lagi, semoga tetap bisa mengejar menulis tentang hari guru nasional 2019 ini.

Guru…

Banyak sebutannya memang. Kalau di Bahasa Jawa, digugu dan ditiru. Bila di bahasa Indonesia, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Hem, kadang tanpa honor juga ya? Hehe…

Saya sendiri berprofesi juga sebagai seorang guru, mata pelajaran Bahasa Indonesia. Mengajar di sekolah pesantren, untuk kelas 7 SMP dan kelas 10 SMA. Berarti kelas 1 SMP dan kelas 2 SMA. Menghadapi hari guru nasional 2019 ini, batin saya kok biasa-biasa saja ya? Soalnya profesi utama bukan di situ sih.

Tidak Terpikir Mendaftar Jadi Guru

Sejak saya kecil, memang sudah suka membaca buku. Mulai SD, sudah menulis buku harian. SMP ikut ekskul Jurnalistik. SMA, bikin buletin humor. Kuliah, ikut beberapa lomba, seperti esay, resensi buku dan artikel. Dari dulu memang suka menulis.

Tapi, ketika lulus SMA, saya tidak terpikir mau jadi guru. Memilih jurusan pendidikan Bahasa Indonesia di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) atau UNY sekarang atau Universitas Negeri Yogyakarta. Entah kenapa, waktu itu saya menganggap jadi guru itu tidak berprospek. Kalau sudah kerja nanti, gaji kecil. Saya pilih saja Ilmu Administrasi Negara. Alhamdulillah, diterima di Fisipol UGM.

Baca Juga: Kaum Rebahan Tetap Butuh Perubahan?

Eh, setelah jadi PNS, sekarang betul-betul jadi guru. Ini seperti mimpi yang tertunda terwujud di masa lampau. Wah! Makanya buat kamu nih, jangan pendam mimpimu dalam-dalam ya! Seandainya memang mimpi atau impian kamu itu bisa bermanfaat, bagi diri sendiri dan orang lain, apa susahnya sih bagi Allah untuk mewujudkannya? Ya ‘kan? Percaya deh sama Allah.

Seperti Beda Jenis Guru

Nah, banyak yang memang mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional, entah itu langsung pakai tangan atau lewat tulisan di medsos, bisa juga dengan gambar meme. Padahal, biasanya juga nggak nurut sama guru kok. Sering bolos, belajar malas, kalau pelajaran nggak perhatikan. Eh, begitu hari guru, pura-pura jadi murid yang baik. Hayo, siapa itu ya?

Okelah, untuk semacam perayaan satu hari, mungkin masih banyak yang melakukan dan memakluminya. Padahal, esensinya kalau cinta itu mesti diungkapkan setiap hari. Mengucapkan selamat hari guru nasional, tetapi besok-besoknya kurang ajar lagi sama guru, hem, buat apa diucapkan selamat?

Pada bagian ini, seperti membandingkan dua jenis guru. Meskipun pada dasarnya sama, tetapi esensinya terlihat berbeda.

Satu adalah guru untuk pelajaran umum. Jelas di sini yang masuk adalah guru Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS, IPA dan lain sebagainya. Mungkin di antara pelajaran itu, ada yang kamu suka?

Satunya lagi juga termasuk guru, tetapi bukan untuk pelajaran umum. Khusus pelajaran agama Islam. Biasa dipanggil ustadz atau ustadzah. Guru pesantren di sini jelas tergolong.

Pola Pengajaran

Antara guru umum dengan ustadz atau ustadzah sedikit berbeda. Kalau guru umum, bisa terbagi menjadi PNS maupun non-PNS alias honorer. Ambil saja yang PNS. Ada jam kerja atau mengajarnya. Untuk persyaratan tunjangan sertifikasi, perlu lengkap jam mengajarnya.

Baca Juga: 5 Manfaat Membuat Catatan Kecil

Sedangkan ustadz atau ustadzah lebih luas, tidak selalu tergantung jam mengajar. Karena fokus ke pendidikan agama Islam, maka mereka mengajarkan Al-Qur’an, hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, ibadah, akhlak dan lain sebagainya. Semuanya menjadi bagian dari ajaran agama Islam.

Diucapkan Selamat Juga

Kalau untuk guru yang pelajaran umum, maka biasanya akan dipakai ilmunya untuk dunia saja. Matematika, untuk nanti bekal bekerja di dunia ini. Bisa juga sih ada kaitannya sedikit dengan ilmu agama Islam. Misalnya, untuk menghitung waris, penentuan waktu sholat, awal dan akhir puasa. Namun, yang lebih jelas, ilmu tersebut untuk kepentingan dunia.

Menguasai Bahasa Inggris karena diajarkan oleh guru Bahasa Inggris, maka itu juga cenderung urusan dunia. Bukankah untuk diterima kerja yang bonafit dipersyaratkan mesti ada kemampuan Bahasa Inggris? Atau untuk meneruskan pendidikan ke jenjang S2 maupun S3, perlu TOEFL. Bahasa Inggris lagi.

Ketika ada orang sukses di dunia, maka diucapkan selamat buat guru. Selamat Hari Guru Nasional 2019 sekalian dengan tahunnya. Tidak lupa dengan jasa-jasa para guru yang telah mendidik kita hingga jadi seperti ini. Yang begitu-begitu, lah.

Akan tetapi, jika mau berpikir lebih dalam, justru yang lebih harus diucapkan selamat adalah ustadz dan ustadzah kita. Dari merekalah, kita mulai mengenal Al-Qur’an. Mungkin ada yang memang anaknya ustadz, jadi langsung diajari. Tapi, yang orang tuanya umum, maka diserahkan pendidikannya ke ustadz maupun ustadzah. Biasanya dalam bentuk TPA atau Taman Pendidikan Al-Qur’an.

Coba bayangkan kita kalau kita belum bisa membaca Al-Fatihah sampai hari ini? Sudah dewasa tapi masih terbata-bata membaca Al-Qur’an. Sementara membaca Al-Fatihah itu wajib dalam sholat. Bagaimana jika masih belum lancar? Waduh…

Begitu juga dengan praktek ibadah kita yang lain. Tata cara wudlu, mandi wajib, tayammum, zakat, bukankah itu banyak diajarkan oleh ustadz dan ustadzah kita? Kenapa kita tidak ucapkan selamat pula ke mereka?

Dunia Akhirat

Sekilas, bisa jadi, penghasilan yang didapatkan oleh ustadz dan ustadzah kita tidaklah besar. Boleh jadi, untuk keseharian mereka masih kurang, karena perhatiannya terfokus pada pengajaran agama Islam ke orang lain.

Meskipun begitu, mereka tetap kehidupan dengan bahagia. Mereka tetap tersenyum. Bagi mereka, apalah arti dunia ini? Nilainya saja lebih rendah daripada sayap seekor nyamuk kok. Mereka lebih mendambakan kehidupan bahagia selamanya di surga kelak. Makanya itu, mereka sangat bersemangat untuk belajar, mengajar dan berdakwah.

Jadi, pada hari ini, sebelum berganti hari sesuai kalender Masehi, saya mengucapkan selamat untuk seluruh ustadz dan ustadzah yang telah mengajarkan ilmu syar’i ke anak-anak maupun generasi muda, eh, yang orang tua juga boleh deh. Sebab, kehadiran mereka di muka bumi ini bagaikan malaikat. Berusaha untuk selalu mengajarkan kebaikan dan akhlak yang mulia. Merekalah yang dicintai Allah.

Oh, ya, sebenarnya mereka tidak butuh diselamati seperti hari ini. Lebih penting bagi mereka, diri sendiri dan orang-orang yang diajarnya bisa selamat masuk ke dalam surga. Bukankah itu indah? Ya, sangat indah, sangat indah.

Baca Juga: Mendidik Versi Kurikulum Para Binatang

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!