Bertahan Atau Pergi Meninggalkan, Sebuah Pilihan yang Sulit?

Bertahan Atau Pergi Meninggalkan, Sebuah Pilihan yang Sulit?

Share This:

Sebagai remaja, tentunya kamu bisa dihadapkan pada dua pilihan yang mungkin sulit. Iya, apakah bertahan atau pergi meninggalkan? Bagaimana bagusnya?

Ini terutama menghinggapi kamu yang sedang memilih untuk pacaran demi mengisi masa muda kamu. Mungkin kamu melihat teman-teman kamu sudah punya pacar semua. Sementara kamu itu masih jomblo sendiri. Selalu, kena bully sendiri.

Berbeda dengan Menyerang

bertahan-atau-pergi-meninggalkan-bunga
Ibarat, bukan itimur, bunga yang bertahan di tengah keringnya daratan.

Dalam posisi bertahan, memang berbeda dengan menyerang. Ini kaidah dalam sepakbola. Bertahan berarti menunggu serangan dari lawan, meskipun bisa jadi ada serangan balik yang tidak terduga-duga.

Terus, kamu mau bertahan juga? Bertahan dengan status jomblo kamu yang masih membayangi sepanjang hari? Sebenarnya sih, ada keinginan kuat kamu untuk menikah. Tapi, rasanya sedemikian sulit.

Baca Juga: Alternatif Lain Menggambar Pemandangan

Untuk bisa bertahan, memang tidak mudah. Di tengah gempuran sesama teman yang memilih jalan berbeda dan mungkin tidak kamu sukai. Mereka menjalin cinta yang tidak terikat secara legal dan halal. Dan, itu membuat kamu bambang, eh, maksudnya bimbang, apakah kamu masih bisa bertahan?

Atau Ditinggalkan Saja?

orang-merenung-bertahan-atau-pergi-meninggalkan
Sampai di atas tebing begini, ngapain gitu ya?

Kegelisahan selanjutnya, apakah kamu sanggup untuk pergi meninggalkan? Apa yang ditinggalkan? Itu, teman-teman kamu yang memberikan kamu pengaruh supaya pacaran saja. Kamu sanggup tidak untuk jauh dari mereka? Sementara mereka sudah kamu anggap dekat sekali.

Hal ini juga sulit, terlebih jika kamu tipe anak muda yang tidak ingin selalu sendiri. Meskipun tidak punya pacar, tetapi teman-teman tetap kamu anggap penting. Bayangkan kalau kamu cuma sendiri di kamar, tanpa ada teman, rasanya hampa hidup kamu. Betul begitu?

Keduanya Berkumpul

Keadaan akan makin runyam, saat kamu memang ingin mengikuti jejak mereka. Pacaran. Ya, pacaran lagi, pacaran lagi. Mulailah kamu berburu target. Mengincar seorang lawan jenis demi mendapatkan hatinya. Ah, apakah betul hatinya bisa kamu peroleh? Bukannya hatinya masih milik orang tuanya?

Apa yang akan kamu lakukan demi mendapatkan keinginanmu itu? Mungkin saja, dan sepertinya cara ini lumrah adalah mendapatkan nomor Whatsappnya. Ini bisa diperoleh lewat media sosial, seperti Facebook atau Instagram.

Baca Juga: [Coba Simak] 3 Alasan Ijab Qabul Diulangi

Begitu kamu mendapatkan nomor keramat tersebut, betapa berbunga-bunga hatimu. Seakan-akan kamu mendapatkan surga dunia ini. Walah, lebay juga ini!

Terus, selanjutnya? Kamu lancarkan jurus-jurus pendekatan. Misalnya, tanya kabar, sehat-sehat saja atau tidak, dan yang sering adalah: lagi ngapain? Ya ‘kan?

Lihat Keadaan

lihat-keadaan-bertahan-atau-pergi-meninggalkan
Awalnya keadaan bisa setenang ini, tetapi selanjutnya?

Fitur Whatsapp punya fitur centang biru dua untuk menandakan chat kamu sudah dibaca oleh lawan bicara kamu. Nah, perhatikan apakah hal itu sudah terjadi pada aplikasi kamu? Di chat kamu apakah begitu? Kalau iya, berarti memang pesan kamu sudah sampai ke dia.

Nah, lihat selanjutnya? Apakah dia membalas? Bisa jadi dia akan membalas chat-chat kamu itu. Bisa jadi juga tidak. Jika sering chat seperti itu, mungkin dia memang ada respons buat kamu.

Keadaan dapat berbeda. Apa yang kamu bayangkan, dapat berubah kenyataannya. Seperti di WA itu. Centang biru dua kali sudah. Berarti memang betul terkirim. Tapi, ketika dia tidak menyampaikan balik, maka ini yang tidak sesuai kamu harapkan. Ya ‘kan?

Lama sekali chat kamu dibalas. Sudah sepuluh menit, 30 menit, satu jam, dua jam, bahkan lebih. Chat kamu cuma dibaca, tetapi tidak balas. Lalu, apa yang ada dalam pikiran kamu?

“Ah, mungkin dia lagi sibuk.”

“Nanti juga bakal dibalas.”

“Gak apa-apa, aku akan setia menunggu chatnya.”

Kira-kira seperti itulah kalimat-kalimat penghibur dari kamu. Ya, demi menghibur diri agar tidak terlalu galau. Lalu, apakah akan berguna?

Rupanya, kalimat motivasi beraneka rupa itu tidak mampu mengubah keadaan. Chat kamu tetap jarang dibalas. Dia online sebenarnya, terlihat dari keterangan di samping namanya.

Hal itu tidak terjadi dalam satu hari saja, tetapi dua hari, tiga hari, empat hari. Mau sampai kapan?

Sudahlah!

sudahlah-bertahan-atau-pergi-meninggalkan
Bagaikan ranting pohon seperti ini, tinggal kenangan saja, lebih baik pergi meninggalkan karena itulah yang terbaik.

Jika seperti itu keadaannya, kamu kembali dilanda dilema, apakah masih tetap bertahan atau pergi meninggalkan? Bertahan karena kamu masih berpikir positif dia suatu saat akan jadi pacar kamu. Atau pergi meninggalkan yang belum tentu sebaik si dia.

Realistislah, Gaes, bahwa apa yang memang kamu harapkan itu sulit terwujudkan. Untuk apa kamu terus mengharapkan dia buat jadi pacar kamu, kekasih kamu? Sementara dia saja tidak balas chat kamu kok.

Menghadapi kondisi itu, tidak perlulah kamu sampai terlalu banyak berpikir positif. Sebab, kenyataannya memang tidak seindah bayangan di pikiranmu. Intinya, dia tidak mau sama kamu.

Jangan terlalu memprioritaskan orang yang tidak memprioritaskan kamu dalam hidupnya juga! Untuk apa? Jadi, daripada galau apakah bertahan atau pergi meninggalkan, lebih bagus yang terakhir saja. Tinggalkan dia, beserta semua harapanmu.

Lebih baik fokuskan pada kehidupanmu sendiri. Pada masa depanmu yang masih suci, belum ternoda. Jangan lagi berpikir mau dapatkan orang lain, lewat jalur pacaran, sebagaimana teman-temanmu. Ah, teman-temanmu itu juga bermasalah sih Bro! So, jalani hidupmu dengan gembira, ceria dan optimis. Bahwa kamu bisa jauh lebih baik tanpa harus bersama dengan orang lain.

Baca Juga: [Temukan di Sini] 9 Alasan Bosan dengan Pasangan

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.