Emosi dan Suasana Hati: Bagaikan Botol Soda yang Dikocok

Emosi dan Suasana Hati: Bagaikan Botol Soda yang Dikocok

Share This:

Pada masa lebaran ini, botol soda menjadi minuman yang sering tersedia di meja tamu. Saya beberapa kali meminumnya. Rasanya memang tidak langsung menghilangkan haus. Tapi, ya, segar saja gitu.

Rupanya, botol soda yang biasanya bermerek Coca-Cola, Fanta, atau Sprite itu sama-sama akan muncrat jika dikocok terlebih dulu. Botol yang dikocok naik dan turun, atas bawah, langsung kamu buka, maka akan langsung ke luar isinya. Langsung luber di lantai, dan akhirnya isi jadi berkurang. Belum sempat kamu minum, eh, sudah tumpah duluan. Belum sempat kamu minum, eh, kamunya yang disuruh ngepel. Hadeh..

Suka Merek Apa?

Di antara minuman soda itu, yang paling saya suka adalah Fanta merah. Minuman ini paling manis dibandingkan kamu, eh, salah, maksudnya lebih manis dibandingkan saudaranya, Coca-Cola dan Sprite.

Nah, minuman-minuman tersebut juga dianggap sebagai senjata zionis. Katanya sih begitu. Setiap kita membelinya, maka ada uang yang mengalir ke orang Yahudi atau Israel sana. Dipakainya untuk menyerang Palestina. Jadi, pada dasarnya, orang Islam sendiri yang ikut menyerang Palestina. Naudzubillah min dzalik.

Baca Juga: Penulis Harus  Siap Dikritik

Makanya itu, tidak perlulah kita terlalu sering minum soda. Cukuplah di momen lebaran, jangan dijadikan seperti air putih, delapan gelas setiap hari. Masih jauh lebih sehat air putih. Tapi, dengan catatan, air putihnya harus yang matang ya? Masa air mentah?

Sesuai dengan Emosi dan Suasana Hati

emosi-dan-suasana-hati-1

Siapa sih di antara kita yang tidak pernah emosi? Mungkin ada di antara kita yang pandai menahan emosi, tetapi pasti ada saatnya kita marah. Meluapkan emosi. Botol soda tadi erat kaitannya dengan emosi dan suasana hati, lho! Kok bisa?

Bayangkan saja, kita marah seperti botol soda yang dikocok-kocok itu. Bukankah marah atau emosi itu pada awalnya berasal dari gangguan? Ketika kita tenang, tahu-tahu ada yang ganggu. Itulah yang membuat muncul emosi dan suasana hati yang marah. Kita ingin menghilangkan gangguan itu, akhirnya emosilah yang ke luar.

Ketika botol soda dikocok-kocok, lalu kita buka isinya, maka sebagian besar isinya akan ke luar. Menyerang si pemegang botol. Jelas dia akan basah tangannya. Bisa juga kena mukanya. Yang jelas, tumpahnya ke lantai, mengenai tangan dan pakaian bisa menimbulkan emosi dan suasana hati yang marah.

Bagaimana dengan yang Ini?

emosi-dan-suasana-hati-2

Bandingkan dengan botol soda yang dikocok-kocok, tetapi tidak langsung dibuka. Ibaratnya, emosi dan suasana hati pada si pemarah itu tidak langsung ke luar. Memang sih, ada di dalam tubuhnya, ada di dalam pikirannya, tetapi ditahan dulu. Didiamkan dulu. Diendapkan dulu. Dipikir baik-baik dulu.

Pekan ini, kita bisa menyaksikan aneka macam parade kemarahan. Mulai dari ibu-ibu yang tidak mau berputar balik hingga mengatakan, “Anjing!” Padahal saat itu, dia sedang memangku seorang balita. Apa tidak terpikir itu, suatu saat balitanya akan merekam perkataan ibu itu?

Baca Juga: Pertemuan, Perpisahan, dan Air Mata Karena Luka di Hati

Ada juga ibu-ibu yang mengatakan “Goblok” pada kurir COD. Keduanya mengenakan jilbab, keduanya kalangan emak-emak. Kalangan yang seharusnya menjadi contoh baik untuk anak-anaknya. Nyatanya, berkat divideokan, mereka jadi viral. Namun, sayangnya bukan viral yang positif, melainkan sangat negatif.

Video mereka jadi jejak digital yang memalukan. Bahkan itu akan tersimpan lama di kalangan warganet. Suatu saat, bisa dimunculkan lagi, bisa dijadikan obyek bullyan lagi, meskipun si pelaku sudah klarifikasi dan meminta maaf. Namun, begitulah warganet kita. Terlalu kreatif hingga melewati batas. Yah, namanya juga terlalu, pastilah melewati batas.

Dalam konteks yang lebih luas, emosi dan suasana hati marah membara tampak pada serangan Israel terhadap Jalur Gaza. Lagi dan lagi, mereka membombardir kawasan padat penduduk Palestina tersebut. Akhirnya, korban pun berjatuhan. Korban yang sebenarnya tidak perlu jatuh karena mereka bukanlah sasaran perang. Anak-anak dan kaum perempuan menjadi ikut terkena serangan. Itu yang menyerang dengan rudal apakah pernah berpikir? Bagaimana seandainya serangan itu balik menyerang anak-anaknya sendiri dan ibunya sendiri?

Kesimpulan

Emosi dan suasana hati yang panas memang harus dikontrol, jangan sampai tumpah lalu menyerang hati orang lain. Terlebih kepada keluarga tercinta kita sendiri. Botol soda yang dikocok-kocok, pikiran kita yang digoyang-goyangkan dengan aneka macam gangguan, menimbulkan emosi, tunda dulu, jangan langsung dibuka tutupnya. Janganlah langsung ditumpahkan.

Lebih pas tutup botol soda itu seperti tutup mulut kita. Emosi menggebu-gebu, ke luar asap dari telinga, mulut langsung terbuka, maka bermuntahanlah kata-kata kasar, kotor, kebun binatang, dan sama sekali tidak enak didengar. Dicampur dengan nada tinggi dan wajah yang sangat buruk. Ini apa-apaan sih?

Botol soda akan bisa dinikmati dengan tenang, seandainya dikocok dulu, lalu dibiarkan beberapa detik saja. Baru nanti dibuka, lalu dituangkan di gelas kaca. Nikmat dan menyegarkan, apalagi kalau dingin.

Mau emosi dan suasana hati jadi dingin? Bukan, bukan dengan cara masuk ke dalam kulkas. Namun, dengan pembiasaan dan latihan. Emosi itu akan selalu ada, tetapi hendaknya pembiasaan dan latihan untuk mengendalikan emosi juga harus selalu ada.

Baca Juga: Sebuah Kisah Tentang Pengendalian Diri (Jangan Mau Terpengaruh Orang Lain)

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.